#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#
Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.
Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.
Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang harus disembuhkan
“Aku pulang dulu.”
Rara berbalik melangkah pergi.
Dan kali ini, ia benar-benar pergi.
Tanpa menoleh lagi.
Meninggalkan malam, kenangan, dan seorang laki-laki yang baru menyadari kehilangan setelah semuanya terlambat.
Dhian masih berdiri ditempat yang sama. Sambil menatap punggung yang sudah tidak terlihat dengan air mata yang sudah mulai jatuh.
Kadang, cinta tidak hilang karena tidak ada perasaan.
Tapi karena terlalu lama disimpan dalam diam.
Dan malam itu, kebenaran akhirnya terucap.
Tapi tidak semua kebenaran datang tepat waktu.
Meninggalkan Dhian dengan satu kenyataan yang baru benar-benar ia sadari malam itu
Bukan perjodohan yang menghancurkan segalanya.
Melainkan kebohongan yang dipelihara terlalu lama.
Dhian ingin menahan. Ingin berkata ia akan berjuang. Tapi semua kata terasa terlambat.
Sesampainya dikos, Pintu kos tertutup pelan di belakang Rara.
Tidak dibanting.
Tidak juga ditutup dengan emosi.
Hanya bunyi klik kecil yang terdengar di ruang sempit itu.
Dan justru suara kecil itulah yang membuat Rara berhenti melangkah.
Ia berdiri beberapa detik di dekat pintu, tas masih menggantung di bahunya, sepatu belum dilepas. Pandangannya kosong, menatap lantai keramik yang sudah sangat ia kenal lantai yang biasanya menjadi saksi pagi-pagi terburu-buru, tawa kecil bersama Nayla, dan rutinitas yang terasa aman.
Malam ini, semuanya terasa asing.
Rara perlahan melepas sepatunya, meletakkannya sembarang. Tas dijatuhkan di dekat kursi tanpa peduli isinya. Ia melangkah menuju tempat tidur, lalu menjatuhkan tubuhnya begitu saja.
Kasur itu empuk.
Terlalu empuk untuk menahan berat perasaan di dadanya.
Begitu punggungnya menyentuh kasur, pertahanannya runtuh.
Tangis itu datang tanpa aba-aba.
Bukan isak keras, bukan juga tangisan yang meledak-ledak. Tapi air mata yang mengalir terus, tanpa suara, seperti hujan yang jatuh pelan tapi tidak berhenti.
Rara menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dadanya naik turun cepat, napasnya tersendat.
Bayangan Dhian masih terlalu jelas. Tatapannya. Suaranya. Kata-kata yang akhirnya keluar terlambat.
“Kenapa harus begini…” bisiknya pada diri sendiri.
Ia menggulung tubuhnya ke samping, memeluk bantal seerat mungkin, seolah benda itu bisa menahan hatinya agar tidak runtuh sepenuhnya.
Tangisnya semakin pecah.
Bukan hanya karena Dhian.
Tapi karena semua yang telah ia beri, ia tunggu, dan ia percaya ternyata tidak cukup untuk membuat seseorang jujur tepat waktu.
Beberapa menit berlalu.
Atau mungkin lebih lama.
Rara tidak tahu.
Tangisnya perlahan mereda, berubah menjadi napas berat yang tersengal. Matanya perih, kepalanya terasa berat.
Ia bangkit perlahan, duduk di tepi kasur.
Tangannya meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di samping bantal.
Layar menyala.
Galeri terbuka.
Dan di sanalah semuanya tersimpan.
Foto-foto kecil dari masa yang kini terasa jauh.
Dhian tersenyum sambil memegang es krim.
Foto mereka di pinggir jalan, selfie sederhana dengan cahaya lampu motor.
Potret candid Dhian yang ia ambil diam-diam karena suka melihat wajah itu saat tidak sadar kamera.
Rara menatap satu per satu.
Tidak ada amarah di matanya.
Hanya sedih.
Sedih karena ia benar-benar pernah bahagia.
Ibu jarinya gemetar saat menekan foto pertama.
Tandai. Hapus.
Notifikasi kecil muncul: Foto akan dihapus permanen.
Rara menutup mata sesaat.
Lalu menekan Ya.
Satu foto hilang.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Ia tidak menangis saat menghapusnya.
Air matanya sudah terlalu lelah untuk jatuh.
Galeri itu akhirnya bersih.
Tidak ada lagi wajah Dhian.
Rara meletakkan ponselnya, menatap layar kosong itu lama.
“Ini lebih baik,” katanya pelan pada dirinya sendiri. “Aku harus mulai dari sini.”
Tapi begitu kata itu terucap, dadanya kembali terasa sesak.
Tangannya kembali meraih ponsel.
Bukan untuk membuka galeri.
Tapi untuk menelepon satu nama yang selalu ada saat ia tidak tahu harus ke mana.
Nayla.
Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu terangkat.
“Ra?” suara Nayla terdengar santai. “Kenapa kamu ngga balas cht aku? Kamu sibuk atau--”
“Nay…” suara Rara langsung pecah.
Hanya satu panggilan nama.
Tapi cukup.
“Nayla langsung terdiam. “Ra? Kamu kenapa?”
“Aku… aku tadi ketemu Dhian.”
Hening sejenak di ujung sana.
“Ketemu?” suara Nayla naik. “KETEMU? Sekarang? Kamu di mana?”
“Udah di kos.” Jawab Rara
“Ya Allah, Ra…” Nayla menarik napas panjang. “Kamu oke?” karena mendengar suara tangisan sahabat nya
Pertanyaan itu membuat air mata Rara jatuh lagi.
“Nggak,” jawabnya jujur. “Aku nggak oke, Nay.”
Nada suara Nayla langsung berubah. Tidak ada lagi nada bercanda. Tidak ada lagi kemarahan yang ditahan.
“Habis ini aku ke kos kamu,” katanya tegas.
“Nay, nggak usah—”
“Ra,” potong Nayla. “Kamu jangan sendirian sekarang.”
Rara terdiam.
Lalu mengangguk, meski tahu Nayla tidak bisa melihatnya. “Iya.”
Telepon ditutup.
Rara kembali merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar kos yang catnya mulai mengelupas di sudut. Lampu redup menyala, membuat bayangan bergerak pelan.
Ia membiarkan dirinya menangis lagi.
Kali ini tanpa menahan.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Tidak keras.
Tapi cukup cepat.
Rara bangkit, menyeka wajah asal-asalan, lalu membuka pintu.
Nayla berdiri di sana. Sambil menenteng bungkusan makanan.
Masih mengenakan jaket, rambutnya sedikit berantakan, napasnya agak terengah.
Begitu melihat wajah Rara yang sembab, Nayla tidak berkata apa-apa.
Ia langsung memeluknya.
Erat.
Tanpa pertanyaan.
Tanpa nasihat.
Dan itu membuat Rara kembali menangis.
Ia menempelkan wajahnya di bahu Nayla, bahunya bergetar hebat.
“Udah… udah… aku di sini,” bisik Nayla sambil mengusap punggungnya pelan. “Kamu nggak sendirian.”
Mereka masuk ke dalam.
Nayla menutup pintu, lalu menarik Rara duduk di kasur.
Beberapa saat mereka hanya diam. Nayla membiarkan Rara menangis sampai lelah.
Setelah napas Rara mulai teratur, Nayla baru bicara.
“Ceritain.”
Dan Rara pun bercerita.
Tentang Restoran itu.
Tentang kejujuran yang datang terlambat.
Tentang perjodohan.
Tentang pertunangan.
Tentang bagaimana ia akhirnya memilih pergi.
Nayla mendengarkan tanpa menyela.
Matanya berkaca-kaca, rahangnya mengeras menahan emosi.
“Dia keterlaluan,” ucap Nayla akhirnya, suaranya tertahan marah. “Ra, kamu terlalu baik buat orang yang nggak berani jujur.”
Rara tersenyum lemah. “Aku nggak marah, Nay.”
Nayla menatapnya. “Justru itu yang bikin aku sedih.”
Rara menarik napas panjang. “Aku cuma capek.”
Nayla mengangguk pelan.
Ia meraih tangan Rara, menggenggamnya erat. “Besok weekend.”
Rara mengangguk kecil. “Iya.”
“Kita pergi.”
Rara menoleh. “Pergi?”
“Iya,” Nayla tersenyum kecil, hangat. “Entah ke mana. Keluar kota dikit. Atau ke pantai. Atau cuma nginep di penginapan murah dan tidur seharian.”
Rara terdiam.
“Aku nggak mau kamu terjebak di kamar ini sambil nyalahin diri sendiri,” lanjut Nayla lembut. “Kamu perlu udara. Kamu perlu lihat dunia masih luas, Ra.”
Air mata kembali menggenang di mata Rara.
“Kamu capek banget,” lanjut Nayla. “Sekarang giliran kamu diselamatkan.”
Rara tertawa kecil di sela tangisnya. “Kamu lebay.”
“Biarin,” balas Nayla. “Aku sahabat kamu. Tugas aku lebay waktu kamu runtuh.”
Rara akhirnya mengangguk.
“Iya,” katanya pelan. “Aku ikut.”
Nayla tersenyum puas.
“Bagus. Sekarang mandi. Habis itu kita makan.” Ia menunjukkan makanan yang Ia beli tadi saat perjalanan menuju ke kos sahabat nya.
Rara menatapnya. “Aku nggak laper.”
“Aku nggak nanya,” Nayla berdiri sambil menunjuk kamar mandi. “Ayo.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Rara tertawa kecil sungguhan.
Bukan karena bahagia.
Tapi karena ia merasa… tidak sendirian.
Malam itu, Rara tidur lebih cepat.
Dengan mata sembab.
Dengan hati yang masih sakit.
Tapi dengan satu hal yang mulai tumbuh pelan-pelan di dadanya.
Harapan kecil.
Bahwa meski cinta itu pergi, ia masih punya dirinya sendiri.
Dan seorang sahabat yang siap menariknya kembali ke permukaan.
Esok hari, mungkin masih berat.
Tapi setidaknya…
Ia tidak harus menghadapinya sendirian.
(BERSAMBUNG…)
Ikuti terus kisahnya di bab selanjutnya ✨
Jangan lupa beri komentar, saran, dan like
Karena dukungan kalian merupakan semangat untuk author membuat cerita. Terima Kasih sudah membacanya❤️
Maaf kalau menurut kakak alurnya terasa terlalu berliku. Aku memang mencoba membuat cerita dengan beberapa konflik dan kejutan supaya perjalanan para tokohnya lebih terasa ✨
Tapi aku tetap menerima kritik dan sarannya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku 🤍