Gue sebenarnya suka sama Lo, Lo mau gak jadi pacar gue?
Mata Zea terbelalak rasa bahagia tak terkira saat mendengar ucapan Fero
Namun hanya seketika rasa bahagia itu hilang saat mendengar kelanjutan ucapan Fero
Kira-kira kalau gue ngomong begitu diterima apa gak ya sama Shena?"
"Hah, Shena?"
"Iya gue suka sama Shena, Ze. Gue mau jadiin dia pacar gue. Gimana menurut Lo?"
Zea menelan salivanya dengan susah payah. Lagi-lagi dia tertipu dengan ucapan sahabatnya yang selalu menggantung itu.
Zea gadis cantik berhidung mancung yang mencintai sahabatnya sendiri. suatu hari dia pernah tidak sengaja mengucapkan perasaannya tapi malah ditertawakan oleh Fero.
Sahabat tetaplah akan menjadi sahabat tidak pernah berubah menjadi cinta. itu yang selalu Fero usapkan pada Zea
Fero yang tidak peka terhadap perasaan Zea malah berusaha mengejar cinta Shena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAHABAT 24
Fero sudah berdiri di depan gerbang SMA Antariksa sejak lima menit yang lalu. Seperti katanya tadi pagi, dia akan menunggu Zea saat jam pulang sekolah.
“Ze, pulang sama siapa?” tanya Deral, hari ini dia tidak melihat keberadaan Fero, itu artinya Zea tidak pulang dengan pemuda itu. Deral pikir dia punya kesempatan untuk dekat dengan Zea.
“pulang bareng gue saja yuk,” sambung Deral sebelum Zea menjawab
Kepala Zea tertoleh kepada pemuda itu, “Gue pulang bareng Fero, Ral. Fero jemput gue”
Bahu Deral melemah, sepertinya sulit sekali mendapatkan hari Zea ini. Apalagi keberadaan Fero selalau mengganggu menurut Deral
“Oh, ta sudah deh. Kirain nggak ada teman pulang. Kalau memang Fero sudah jemput ya sudah”
Zea tersenyum tak enak. Bagaimanapun Zea sadar kalau dia itu kemarin sudah membuat anak orang baper. Ya, dia yakin Deral baper.
“Ayo Ze,’’ ajak Boni
Zea mengangguk, rencananya Zea akan nebeng bareng Boni samapi depan gerbang sekolah karena hari ini Rini pulang agak sedikit telat, ada remedial katanya.
Cukup jauh Zea dan Boni berjalan meninggalkan kelas, tiba-tiba Aura beteriak memanggil keduanya
“Hari ini latihan, Woy! Mau kemana lo berdua?” teriak ketua kelas yang merangkap ratu gosip itu.
Zea menghela napas, kenapa dari tadi tidak ada pemberitahuan kalau pulang sekolah ada latihan drama Cinderella yang memuakkan itu.
“Bagaimana ini, Bon? Lo latihan pa nggak?”
Boni mengedikkan bahu, dia tergantung Zea karen di dalam drama pun dia Cuma berperan sebagai labu yang berubah menjadi kereta kencana tanpa ada dialog sama sekali.
“Kalau lo latihan gue ikut, kalau nggak latihan gue juga ngikutin lo. Semua terserah padamu, aku begini adanya”
Zea merotasikan bola matanya, ternyata Boni bisa lebay juga.
“Tapi si Fero sudah nungguin gue di gerbang Bon” Zea tampak gelisah, lebih tepatnya dia tak mau latihan, tapi berhubung ini latihan pertama kalinya, tidak mungkin dia tidak hadir. Apalagi dia berperan penting dalam drama tersebut.
“Kan gue sudah bilang terserah lo, Zea. Lo mau nggak latihan? Kalau lo mau tinggal kasih tahu Fero saja kalau lo latihan bentar. Gue yakin Fero mau kok nungguin lo”
Zea binggung, dia pun menoleh pada Aura yang berdiri sambil berkacak pinggang di depan kelas.
“Ya sudah latihan bentar saja” putus Zea pada akhirnya. Dia pun mengeluarkan ponsel dari saku roknya lalu mengirimkan pesan pada Fero.
...ΩΩΩΩΩ...
Fero menghela napas saat membaca pesan dari Zea, dia sudah ngebut semangat seperti orang kesetanan agar tidak telat menjemput Ze, tapi pesan yang baru saja dia dapat malah mematahkan semangatnya tadi.
“Sialan lo Ze, untung gue nggak kecelakaan pas ngebut tadi” rutuk Fero kesal.
Pemuda itu naik ke atas motor miliknya, rencananya dia akan pulang terlebih dahulu untuk berganti baju. Risih juga dia lama-lama memakai baju semi resmi seperti ini. Kebetulan juga kata Zea tadi dia kemungkinan latihan satu atau dua jam kedepan. Jadi sempat lah Fero mandi dan berganti baju lalu kembali ke sekolah.
“Woy!’
Fero yang baru saja akan memakai helm itu langsung meolah ke sumber suara.
Nando dan Evan menghampiri Gero. “Lo kenapa nggak masuk njir?”
“Gue sibuk,”
Evan mencibir lalu menuding wajah Fero “Sok sibuk lo, paling juga telat bangun”
“Hooh, gue juga yakin kayak begitu. Begadang lo?” sambung Nando.
Fero berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Nggak baik suudzon mulu. Lo pikir gue laki-laki lemah, Cuma karena begadang nggak sekolah?”
“lah, terus? Liat saja mata lo noh, hitam tahu nggak? Kelihatan banget begadangnya.” Nando nyolot, dia yakin bener Fero idak sekolah karena begadang semalaman. Paginya mengantuk dan berakhir bolos.
“Sudah gue bilang kalau gue itu sibuk, makanya nggak sekolah hari ini. Sudah ah gue mau balik dulu, nanti kesini lagi kalau Zea sudah selesai latihan”
Fero memakai helmnya, tapi baru saja dia akan menghidupkan mesin motornya, Nando kembali bertanya. Bukan bertanya sih, lebih tepatnya memberi teka-teki pada pemuda itu.
“Fer. Lo tahu nggak hewan apa yang paling setia?”
Fero mengernyit lalu menjawab dengan malas, “Anjing”
“Ya, bener lo memang anjing, Fer.”
Fero mendelik dan memberikan jari tengahnya pada Nando. “Sialan lo!”
Nando tergelak dan memukul-mukul stang motornya. “lo kan setia sama Zea”
“Setan! Gue bukan binatang!”
Nando tancap gas meninggalkan Fero yang masih mengomel, jangan sampai tangan panjang milik Fero menjambak rambutnya.
...ΩΩΩΩΩ...
“Eh, Boni seharusnya lo jongkok, pura-pura jadi labu” Kata Clara yang berperan sebagai ibu tiri Cinderella.
“Gue nggak bisa jongkok, kalau duduk saja bagaimana?” kata Boni yang memang kesulitan berjongkok.
Clara berdecak dan melemparkan sebuah pena pada Boni “Masa sih jongkok doang nggak bisa. Lo bisanya apa? Makan doang? Kesel deh gue lama-lama, gara-gara lo latihannya lama kelarnya nih”
Telinga Zea panas mendengar suara cempreng Clara. Belum lagi ia kesal melihat jari tangan Clara yang dari tadi menuding Boni dan pemuda itu hanya diam saja.
“Oh ya, Clara. Kenapa nggak lo saja yang jadi labunya? Kayaknya lo lebih paham daripada Boni” kata Zea sambil menunjuk wajah Clara.
“Dih kan dia yang dapat peran jadi labu sama kereta kencana, kalau gue mah ibu tiri. Lagian Boni itu cocok jadi labu kan badannya gembul.”
Zea terkekeh, bukan terkekeh karena ucapan Clara tadi. Tapi Clara itu tidak sadar diri. Clara itu termasuk gemuk dibanding cewek-cewek yang lain, tapi sayangnya gadis itu tak sadar kalau badannya gemuk dan menganggap dia itu langsing.
“Gue sebenarnya nggak mau ngomong ini ke elo, Cla. Tapi, ya, kayaknya lo makin lama makin nggak sadar diri. Mau nggak gue fotoin biar lo sadar kalau badan lo juga gembul”
Raut wajah Clara berubah, selama ini dia merasa pede saja karena memang tidak ada yang membully- nya di sekolah ini. Para siswa malas berurusan dengan pak Ridwan jika ada yang melapor. Belum lagi hukumannya tidak main-main jika ketahuan membully.
Kini Clara sudah duduk di pojokan sambil menekan dada seperti orang yang sesak napas. Kata-kata Zea tadi menusuk sampai ke relung hatinya.
“Lebay,” kata Zea pelan. “Makanya kalau nggak mau disakiti jangan nyakitin. Lo pikir Boi nggak sedih lo bilang gembul? Lo nggak perlu bilang dia gembul juga dia bakal tahu diri kalau dia memang gembul!”
“Iya memangnya lo pikir Boni nggak bisa nangis kayak lo?” sambung Deral “Nangis juga Bon!”
Boni memutar bola matanya malas. Sebenarnya dia biasa saja dibilang gembul, gentong atau apalah itu, Zea saja yang berlebihan. Tapi, kalau boleh jujur Boni suka mendapat pembelaan dari temannya.
“Sudah-sudah kalau kayak gini bagaimana bisa selesai latihannya Cla, sudah dong. Sampai kapan lo nangis terus? Lo mau kelas kita banjir gara-gara air mata Lo itu? Lo mau kelas kita jadi danau toba?” Aura mencoba melerai dengan celotehannya yang absurd.
“Ze. Minta maaf sama Clara. Lo mau cepat kelar nggak latihannya?” kata Aura sambil menunjuk ke arah Clara menggunakan dagunya.
Zea berdecak, tentu tidak semudah itu untuk memerintah Zea untuk meminta maaf.
“Suruh dia minta maaf ke Boni dulu, baru gue minta maaf ke dia”
Aura menghela napas berat, tugasnya sebagai ketua kelas memang seberat itu. “Cla lo denger, nggak? Lo yang mulai, lo juga yang harus minta maaf”
Clara akhirnya bangkit dan berjalan ke arah Boni dengan mata sembabnya.
“Bon, gue minta maaf, sesama gembul seharusnya gue nggak boleh ngejekin lo. Sorry ya Bon”
Boni mengangguk tidak tega juga melihat wajah Clara yang memerah akibat menangis tadi. ‘’ Santai saja, Cla. Bagusnya kita memang diet.” Kekehnya.
Setelah Clara meminta maaf pada Boni, Zea juga minta maaf kepada Clara.
Latihan kembali di lanjutkan, kali ini tidak ada lagi hal yang membuat latihan tertunda, semuanya berjalan lancar.
“Pas latihan kedua nanti semua sudah hafal bagian masing-masing. Kita Cuma punya waktu latihan paling 3 atau empat kali lagi. Semoga semuanya berjalan lancar” kata Aura menutup latihan kali ini.
Semuanya bubar dan kembali ke rumah masing-masing.
“Bon, gue nebeng ya.” Kata Zea karena Fero tidak membalas pesan yang dia kirim sebelum latihan tadi.
“Fero nggak jemput?”
Zea mengedikkan bahnya. “Kayaknya sih enggak
Sesampainya di gerbang sekolah ternyata Fero memang tidak ada di sana, sepertinya Fero memang sibuk, begitu pikir Zea.
“Itu kan apa gue bilang, untung saja gue nebeng lo Bon”
Boni mengangguk lalau melajukan motornya meninggalkan sekolah. Tak lama setelah kepergian Zea dan Boni, Fero tiba di sekolah. Dia tidak tahu bahwa Zea sudah pulang diantar Boni. Salah dia juga kenapa kenapa harus ada acara ketiduran segala.
udah serius eh malah ngakak