Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.
Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.
Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah besar di sudut kota
Pesawat yang kami tumpangi akhirnya mendarat dengan mulus di bandara ibu kota saat langit malam sudah sepenuhnya gelap. Gemerlap lampu kota yang tak terhitung jumlahnya terlihat berpendar dari balik jendela kaca, menyajikan pemandangan megah yang sangat asing bagi mataku.
Aku berjalan mengekor di belakang Mas Arkan menyusuri lorong bandara yang sangat luas dan ramai. Di tangannya, koper biru pudarku yang tampak kontras dengan penampilannya yang rapi kembali berada dalam genggamannya. Beberapa kali aku menawarkan diri untuk menyeretnya sendiri karena merasa tidak enak, namun Mas Arkan hanya membalasnya dengan satu gelengan kepala tegas tanpa sepatah kata pun.
Di area pintu keluar kedatangan, seorang pria paruh baya mengenakan seragam safari rapi sudah berdiri menyambut kami sambil memegang papan nama kecil bertuliskan Arkananta.
"Selamat malam, Mas Arkan," sapa pria itu ramah sambil membungkuk sopan, lalu segera mengambil alih koper dari tangan Mas Arkan. "Mobil sudah siap di depan, Mas."
"Malam, Pak Joko. Kakek sudah di rumah?" tanya Mas Arkan sembari melepas jaket tebalnya, menyisakan kaos polo hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya.
"Sudah, Mas. Bapak dari sore tadi sudah menunggu kedatangan Mas Arkan dan Non Karin," jawab Pak Joko dengan senyuman hangat yang tulus ke arahku.
Mendengar sebutan "Non Karin", aku refleks meremas tali ranselku dengan canggung. Rasanya sangat aneh dipanggil dengan sebutan sehormat itu, mengingat statusku yang hanya menumpang kosan sederhana milik Mbak Rika di kota seberang.
Perjalanan dari bandara menuju rumah keluarga Dewangga memakan waktu hampir satu jam karena kemacetan jalan tol yang luar biasa padat. Sepanjang jalan, aku hanya bisa menempelkan dahi ke kaca jendela mobil, menatap deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi menembus langit malam.
Di sebelahku, Mas Arkan tampak sibuk membalas beberapa pesan penting di ponselnya. Cahaya biru dari layar ponsel menerangi raut wajahnya yang kembali terlihat serius dan dingin, sangat berbeda dengan sosok yang tadi sore membiarkanku mencengkeram lengan jaketnya saat pesawat lepas landas.
Mobil akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan elit yang sangat sunyi dan asri. Kendaraan kami berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Begitu gerbang terbuka otomatis, sebuah rumah bergaya kolonial modern dengan halaman rumput yang sangat luas langsung terpampang di depan mata.
"Kita sudah sampai. Ayo turun," ajak Mas Arkan pelan setelah mobil berhenti sempurna di lobi depan rumah.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Rumah ini benar-benar sangat besar, jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Lampu gantung kristal yang mewah terlihat berpijar terang dari balik jendela kaca lantai dua yang tinggi.
"Mas... saya mendadak mules," bisikku panik saat kaki kami baru saja menapak di anak tangga pertama menuju pintu utama.
Mas Arkan menghentikan langkahnya, menoleh menatapku yang sedang memegangi perut dengan wajah pucat. Sepasang matanya yang tajam menatapku dari atas sampai bawah sebelum akhirnya ia mengembuskan napas pendek.
"Karin, tidak ada yang perlu kamu takuti di dalam sana. Kakek saya tidak akan menggigit kamu, dan tidak akan ada ujian dadakan yang harus kamu jawab malam ini," ujarnya dengan nada menyindir yang khas, namun entah kenapa sukses membuat rasa gugupku sedikit berkurang. "Tarik napas, embuskan. Bersikap biasa saja."
Sebelum aku sempat membalas, pintu kayu ganda yang besar di hadapan kami sudah lebih dulu terbuka dari dalam.
"Arkan! Karin! Akhirnya kalian sampai juga, Nak!"
Suara bariton yang sangat ramah dan bersemangat itu milik Pak Danu. Beliau berjalan keluar dengan langkah yang sangat bertenaga untuk ukuran orang tua berumur kepala enam, didampingi oleh seorang wanita paruh baya berpakaian rapi yang tampaknya adalah kepala pelayan di rumah ini.
"Malam, Kakek," sapa Mas Arkan, melangkah maju untuk mencium punggung tangan kakeknya.
Aku segera menyusul di belakangnya, membungkuk sopan dan mencium tangan Pak Danu dengan sangat takzim. "Selamat malam, Pak Danu."
"Eh, kok masih panggil Pak Danu? Panggil Kakek saja mulai sekarang, Karin," potong Pak Danu cepat sambil menepuk-nepuk bahuku dengan lembut. "Ayo, langsung masuk ke dalam. Kalian pasti lelah setelah penerbangan sore tadi. Makan malam sudah disiapkan."
Kami dibawa masuk menuju ruang makan yang sangat megah. Meja makan kayu panjang di tengah ruangan sudah dipenuhi oleh berbagai macam hidangan hangat yang aromanya sangat menggugah selera perutku yang sejak tadi siang belum sempat diisi dengan benar.
"Karin, duduk di sebelah Arkan," perintah Pak Danu ramah sembari mengambil posisi duduk di ujung meja utama.
Aku segera menarik kursi di sebelah kiri Mas Arkan dan duduk dengan posisi tubuh yang sangat tegak karena canggung. Peralatan makan di depanku yang terdiri dari garpu, pisau, dan beberapa sendok dengan ukuran berbeda sempat membuatku bingung harus mulai memakai yang mana terlebih dahulu.
Mas Arkan yang duduk di sebelahku tampaknya menyadari keraguanku. Tanpa bersuara, ia menggeser sendok dan garpu berukuran standar ke dekat piringku, lalu mulai mengambilkan beberapa lauk pauk ke atas piringnya sendiri seolah hal itu adalah hal yang biasa ia lakukan sehari-hari.
"Terima kasih," bisikku sangat pelan agar tidak terdengar oleh Pak Danu.
Mas Arkan hanya membalasnya dengan satu kedipan mata pendek tanpa ekspresi, lalu mulai menyantap makanannya dengan tenang dan sangat rapi.
Setelah makan malam selesai, Pak Danu mengajak kami untuk mengobrol santai di ruang keluarga yang hangat. Di atas meja marmer, sudah tersaji cangkir teh hangat beraroma melati yang sangat menenangkan.
"Arkan, Karin, semua persiapan untuk akad nikah hari Sabtu besok sudah beres," buka Pak Danu dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi lebih serius. "Penghulu dari KUA setempat sudah dikonfirmasi. Acara akan kita adakan jam sembilan pagi di masjid kecil dekat kompleks ini. Hanya akan ada Kakek, bibi kamu yang sedang di perjalanan dari Bandung, dan beberapa saksi dari pihak kita."
Mendengar kata "besok", dadaku rasanya seperti dihantam oleh palu besar. Besok? Berarti besok pagi statusku secara hukum agama akan resmi berubah menjadi seorang istri dari dosen pembimbingku sendiri.
"Bagaimana dengan berkas-berkas dari pihak Karin, Kakek?" tanya Mas Arkan tenang.
"Semua sudah beres, Arkan. Berkas wali hakim dari pihak Karin sudah diurus dengan bantuan keluarga besarnya di sana. Jadi besok semuanya tinggal berjalan sesuai rencana," jelas Pak Danu. Beliau lalu menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan rasa haru sekaligus terima kasih. "Karin, terima kasih banyak ya, Nak. Kakek tahu ini bukan hal yang mudah untuk kamu jalani. Tapi Kakek berjanji, keluarga besar Dewangga akan menjaga kamu dengan sangat baik."
"Iya, Kek. Karin juga berterima kasih atas semua kebaikan Kakek untuk kesembuhan Ibu," jawabku tulus, mengabaikan rasa cemas yang masih bergelayut di sudut hatiku.
Pukul sepuluh malam, obrolan kami akhirnya selesai. Pak Danu menyuruh kami untuk segera beristirahat agar besok pagi tidak terlambat bangun.
Seorang pelayan mengantarku menuju sebuah kamar tamu yang sangat luas di lantai dua. Kamar itu memiliki tempat tidur berukuran king size dengan sprei putih bersih yang sangat lembut, sebuah kamar mandi dalam yang mewah, dan balkon pribadi yang menghadap langsung ke arah taman belakang rumah.
Aku meletakkan ranselku di atas sofa, lalu berjalan menuju balkon luar. Angin malam yang dingin langsung menyapu wajahku, menerbangkan beberapa helai rambutku yang terurai bebas dari jilbab.
Aku menatap langit malam Jakarta yang tidak menampilkan satu pun bintang karena tertutup oleh polusi cahaya kota. Pikiranku mendadak melayang memikirkan nasibku besok pagi. Bagaimana mungkin aku, seorang mahasiswi ceroboh yang selalu panik setiap kali menghadapi revisi skripsi, besok pagi harus berhadapan dengan meja akad nikah bersama dosen paling menakutkan di kampusku?
Cklek.
Suara pintu balkon di sebelah kananku yang terbuka membuatku refleks menoleh.
Di sana, hanya dibatasi oleh sekat tembok beton setinggi dada, berdiri Mas Arkan. Pria itu tampak sudah berganti pakaian mengenakan kaos santai berwarna abu-abu dan celana panjang hitam. Ia sedang memegang sebuah cangkir kopi putih hangat yang masih mengepulkan uap tipis.
Kami berdua saling terdiam sejenak di bawah temaram lampu balkon, menatap satu sama lain dalam keheningan malam yang terasa sangat canggung.