Bayangan orang-orang untuk status putri tunggal keluarga pengusaha ternama, adalah gadis anggun yang penuh pesona dan wibaya seorang penerus tahta.
Tapi nyatanya, itu tidaklah berlaku untuk Larissa Moretti. Meskipun ayahnya seorang pengusaha kaya raya yang tersohor di Kolombia, serta memiliki ibu yang anggun dan lemah lembut.
Gadis itu sama sekali tidak mewarisi sikap ibunya, gadis itu adalah gambaran gadis jalanan yang urakan, suka membuat masalah hingga membuat sang ayah menggeleng-gelengkan kepalanya yang hampir pecah.
Puluhan bodyguard yang di sewa ayahnya selalu mengundurkan diri bahkan sebelum mereka bekerja satu Minggu mengawal gadis urakan itu.
Hingga untuk terakhir kalinya, sang ayah menyewa bodyguard melewati agensi terbaik di Kolombia, dan menyewa seorang bodyguard yang memiliki reputasi terbaik disana.
Gavin Kingsley, pria berumur 30 tahun dengan perawakan super atletis dan yang paling membuat Larissa tertegun adalah wajahnya yang tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Amukan Monster Berdarah Dingin
...Larissa Moretti tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya....
...Meskipun Gavin telah berteriak agar dia tetap diam di bawah, rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan luar biasa memaksa Larissa untuk perlahan-lahan merayap naik dan mengintip melalui celah di antara pecahan kaca antipeluru yang retak....
...Apa yang dia saksikan di luar sana adalah pemandangan yang akan menghantuinya dalam mimpi, namun sekaligus mengukir rasa kagum yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata....
...Medan pertempuran itu telah berubah menjadi panggung eksekusi....
...Hujan rintik-rintik mulai turun, bercampur dengan kabut tebal pegunungan Medellin, menciptakan latar yang kelam....
...Di sana, di antara pepohonan cemara yang berdiri tegak, Gavin bergerak bukan seperti manusia, melainkan seperti bayangan yang memiliki nyawa....
...Kecepatannya tidak wajar....
...Setiap gerakan pria itu cepat dan akurat, mematikan, dan tanpa keraguan sedikit pun....
...Gavin tidak lagi berlindung di balik pohon, tapi dia memburu....
...Dia berpindah posisi dari satu titik ke titik lain dengan kecepatan seorang predator yang sedang mengasah taringnya....
...Larissa melihat salah satu penyerang mencoba menembak dari belakang pohon....
...Tanpa menoleh, Gavin memutar tubuhnya, melepaskan satu tembakan presisi yang menembus dahan kayu sebelum akhirnya merobek bahu musuhnya....
...Saat musuh itu jatuh dan mencoba merangkak, Gavin tidak memberikan kesempatan kedua....
...Dia tidak membuang amunisi. Dengan gerakan yang sangat cepat, Gavin menghampiri musuh tersebut dan mengakhiri perlawanannya dalam satu gerakan tangan yang patah dan dingin....
...Tidak ada raungan kemarahan, tidak ada teriakan....
...Hanya keheningan yang tajam, yang justru terasa jauh lebih menakutkan daripada suara senjata api mana pun....
...Ini bukan sekadar kemampuan seorang pengawal pribadi yang terlatih....
...Ini adalah kemampuan seorang pembunuh profesional, seseorang yang telah menempuh ribuan jam pelatihan di bawah pengawasan para instruktur paling kejam di dunia bawah tanah....
...Setiap gerakan Gavin adalah hasil dari pengalaman yang dilatih oleh darah dan pengkhianatan....
...Di dalam mobil, Larissa merasa tenggorokannya kering....
...Dia baru menyadari bahwa selama ini, pria yang selalu dia ejek dengan sebutan "Patung Lilin" atau "Robot Kaku" itu sebenarnya menyimpan monster yang tertidur di dalam dirinya....
...Dan sekarang, monster itu telah terbangun sepenuhnya....
...Dia bukan Gavin yang aku kenal, batin Larissa, jantungnya berdebar kencang....
...Siapa sebenarnya pria yang selama ini berdiri di sudut ruang tamuku?...
...Di luar, pertempuran mendekati puncaknya....
...Elias "The Spider" Moreno, sang pemimpin kartel Tarantula, menyadari bahwa rencananya untuk melakukan penyergapan telah berubah menjadi bencana....
...Anak buahnya berguguran seperti ranting kering yang dipatahkan....
...Elias, yang bersembunyi di balik sebuah tebing batu kecil, menyadari bahwa dia tidak akan bisa keluar dari tempat ini dengan membawa kepala Gavin Kingsley....
...Keputusasaan merasuki jiwanya. Jika dia tidak bisa membunuh Viper, maka dia harus menghancurkan apa yang paling berharga bagi pria itu....
...Matanya tertuju pada SUV hitam tempat Larissa bersembunyi....
...Elias merogoh tas kecil di pinggangnya, menarik keluar sebuah granat tangan model terbaru dengan pin yang sudah mulai longgar....
...Dia berdiri, berniat melempar granat itu tepat ke arah mesin mobil untuk meledakkannya bersama gadis Moretti di dalamnya....
..."Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, Viper, maka aku akan memastikan kau kehilangan satu-satunya alasanmu untuk hidup!" teriak Elias dengan suara parau yang penuh kebencian....
...Gavin, yang berada sekitar dua puluh meter dari sana, mendengar teriakan itu....
...Waktu seolah melambat bagi Gavin....
...Dia melihat tangan Elias yang terangkat, melihat pin granat yang terlepas, dan melihat lintasan parabola yang akan menghantam bodi mobil Larissa....
...Detik itu, dia tidak lagi memedulikan keberadaan musuh lain di sekitarnya....
...Yang dia lihat hanyalah nyawa Larissa yang berada di ujung tanduk....
...Gavin melesat....
...Dia berlari secepat kilat, kakinya menendang tanah dengan tenaga yang begitu besar hingga meninggalkan jejak dalam di aspal....
...Jarak dua puluh meter itu dia tempuh dalam hitungan detik, seolah dia memiliki sayap yang membelah kabut....
...Elias baru saja akan melemparkan granat itu ketika dia merasakan kehadiran seseorang di sampingnya....
...Dia menoleh, namun terlambat....
...SRET!...
...Sebuah kilatan baja perak menebas udara....
...Tangan kanan Elias yang memegang granat itu terputus tepat di pergelangan tangannya....
...Darah menyembur deras, membasahi pakaiannya....
...Elias membelalak, mulutnya terbuka lebar untuk menjerit, namun suaranya tersangkut di tenggorokan karena rasa sakit yang luar biasa....
...Gavin tidak membiarkan granat itu jatuh ke tanah atau menggelinding ke arah mobil....
...Dengan satu tendangan yang sangat kuat, dia menghantam tubuh Elias, mengirim pria itu terpental kembali ke arah jurang di belakangnya....
..."Pergilah ke neraka," bisik Gavin dengan suara sedingin es....
...Tepat saat tubuh Elias menghantam batu di tepi jurang, tangan yang terputus yang masih menggenggam granat itu meledak....
...BOOM!...
...Ledakan dahsyat terjadi tepat di titik Elias jatuh....
...Tubuh pemimpin Tarantula itu hancur berkeping-keping akibat ledakan granatnya sendiri, yang dipicu oleh tindakan Gavin yang begitu sigap....
...Asap hitam dan serpihan daging berhamburan ke udara, menutupi area tebing tersebut....
...Gavin terlempar oleh tekanan gelombang ledakan, tubuhnya menghantam tanah dengan keras....
...Namun, dia tidak membiarkan dirinya terjatuh....
...Dengan napas yang memburu dan tubuh yang kini dipenuhi dengan noda darah musuh, dia kembali berdiri tegak....
...Dia menatap ke arah mobil dengan mata yang masih berkilat dengan amarah yang mematikan....
...Dia telah membunuh sang pemimpin, dia telah menghabisi unit elit mereka, dan dia telah memastikan granat itu tidak sampai ke dekat Larissa....
...Di dalam mobil, Larissa ternganga....
...Dia melihat semuanya melalui celah kaca yang retak....
...Dia melihat bagaimana Gavin menebas tangan musuh itu dengan ketenangan yang mengerikan, dan bagaimana dia menendang pria itu menuju kematiannya....
...Suasana kembali hening....
...Hanya ada suara rintik hujan yang membasuh tanah yang kini berwarna merah pekat....
...Gavin berjalan perlahan menuju mobil....
...Setiap langkahnya meninggalkan noda sepatu yang berdarah....
...Bajunya koyak di bagian bahu, dan wajahnya kini tertutup cipratan darah yang bukan miliknya....
...Saat dia tiba di depan pintu mobil, dia berhenti....
...Dia menunduk, melihat tangannya yang berlumuran darah, tangan yang sama yang tadi pagi dia gunakan untuk mengusap rambut Larissa dengan lembut saat gadis itu tertidur....
...Gavin memejamkan mata, berusaha mengumpulkan kembali serpihan-serpihan "Gavin si pengawal" yang baru saja dia hancurkan sendiri....
...Dia tahu bahwa setelah malam ini, tidak ada lagi jalan untuk kembali....
...Topeng itu telah retak, dan Larissa telah melihat monster yang bersembunyi di baliknya....
...Dia membuka pintu mobil dengan tangan yang masih gemetar....
...Larissa menatapnya, bukan dengan rasa takut, melainkan dengan tatapan yang sulit diartikan....
...Gavin berdiri di sana, seperti malaikat maut yang baru saja pulang dari medan perang, menanti apakah Larissa akan berteriak ketakutan, atau apakah dia akan melakukan sesuatu yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya....
..."Larissa," panggil Gavin dengan suara parau yang pecah....
..."Aku... aku tidak ingin kau melihatku seperti ini."...
...Tanpa menjawab, Larissa justru membuka pintu mobil sepenuhnya dan melangkah keluar, berdiri di bawah hujan yang semakin deras, berhadapan langsung dengan pria yang baru saja membantai seluruh pasukan musuh hanya demi melindunginya....