Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Penyihir yang Kehilangan Rumah
Cahaya matahari pagi menembus celah-celah jendela bangunan perawatan sederhana di barak tentara bayaran. Setelah perjalanan panjang dari desa yang telah dihancurkan, malam sebelumnya berlalu tanpa banyak percakapan. Seluruh anggota Regu Shugo Ryu beristirahat setelah menyelesaikan misi pengawalan sekaligus penyelamatan penyintas yang mereka temukan di tengah reruntuhan. Di luar bangunan, kehidupan di barak kembali berjalan seperti biasa. Beberapa anggota mulai berlatih di lapangan, sementara yang lain menyiapkan perlengkapan untuk penugasan berikutnya.
Di dalam ruangan, Hana sedang mengganti perban pada lengan perempuan yang mereka selamatkan.
Luka-luka kecil di tubuhnya mulai mengering, meskipun wajahnya masih terlihat pucat akibat kelelahan dan kehilangan banyak tenaga. Sejak semalam ia belum pernah benar-benar sadar. Sesekali hanya terdengar napas panjang dan gumaman pelan yang sulit dipahami.
Hana meletakkan mangkuk berisi air hangat di atas meja kecil.
"Tidak demam lagi." gumamnya pelan.
"Syukurlah."
Beberapa saat kemudian, kelopak mata perempuan itu perlahan bergerak.
Napasnya berubah lebih teratur sebelum akhirnya kedua matanya terbuka sedikit demi sedikit. Pandangannya tampak kosong selama beberapa saat, seolah masih berusaha memahami tempat yang kini berada di hadapannya.
Ia mencoba duduk.
Namun rasa nyeri di tubuhnya membuat gerakannya terhenti.
"Jangan dipaksakan." ucap Hana lembut sambil membantu menopang punggungnya.
"Ka... kau..."
Suara perempuan itu masih lemah.
"Di mana aku?"
"Barak tentara bayaran." jawab Hana.
"Kami menemukanmu di desa."
Perempuan itu terdiam.
Tatapannya perlahan berubah.
Seolah sebuah kenangan yang selama ini tertahan kembali memenuhi pikirannya.
"Desa..." bisiknya lirih.
Matanya mulai membesar.
"Tidak..."
Ia berusaha bangkit lebih cepat.
"Toko Rune..."
"Penduduk..."
"Semuanya..."
Hana memegang bahunya agar tetap tenang.
"Tenang."
"Kau terluka."
Namun perempuan itu hanya menatap ke depan dengan napas yang mulai tidak teratur.
Air mata perlahan mengalir di pipinya.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka.
Ryosuke masuk bersama Alfaro Perez.
Mereka semula datang untuk melihat keadaan penyintas yang semalam berhasil diselamatkan. Melihat perempuan itu telah sadar, keduanya menghentikan langkah.
Ryosuke berdiri beberapa saat tanpa berbicara.
Ia memahami tatapan yang kini memenuhi wajah perempuan tersebut.
Tatapan seseorang yang baru menyadari bahwa tempat yang selama ini ia sebut rumah telah lenyap.
Alfaro berbicara lebih dahulu.
"Bagaimana keadaanmu?"
Perempuan itu mengusap air matanya perlahan.
"Aku..."
"Aku Amanda."
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Aku pemilik toko Rune di desa itu."
Ruangan kembali sunyi.
Amanda menundukkan kepalanya.
"Toko itu milik keluargaku."
"Sejak kecil aku belajar tentang Rune dari ayah dan ibuku."
"Kami membuat Rune sederhana untuk para pemburu, petani, dan penjaga desa."
"Bukan Rune perang."
"Bukan pula Rune untuk membunuh."
"Rune yang kami buat hanya membantu kehidupan sehari-hari."
Suara Amanda mulai bergetar.
"Beberapa hari yang lalu..."
"Pasukan Empire Krusador datang."
"Mereka memasuki desa tanpa peringatan."
"Mereka membakar rumah-rumah."
"Orang-orang yang mencoba melawan langsung dibunuh."
"Ayahku tetap berada di toko."
"Ia berusaha menyelamatkan Rune-Rune yang selama ini kami kumpulkan."
Amanda menutup kedua matanya.
"Ibu menyuruhku melarikan diri."
"Tetapi sebelum aku sempat keluar..."
"Atap rumah runtuh."
"Itulah terakhir kali aku melihat mereka."
Tidak ada seorang pun yang menyela ceritanya.
Hanya suara Amanda yang memenuhi ruangan.
Ryosuke menggenggam pelan sarung pedangnya.
Setiap kalimat yang diucapkan Amanda terdengar begitu akrab di telinganya.
Bukan karena ia pernah mengenalnya.
Melainkan karena ia sendiri pernah mengalami kehilangan yang hampir sama.
Desanya.
Keluarganya.
Kehidupannya.
Semuanya direnggut oleh perang.
Amanda mengangkat wajahnya perlahan.
"Apakah..."
Ia memandang Ryosuke.
"...ada orang lain yang selamat?"
Ryosuke terdiam sesaat.
Kemudian ia menggeleng perlahan.
"Kami telah memeriksa seluruh desa."
"Kami hanya menemukanmu."
Jawaban itu membuat Amanda kembali menundukkan kepala.
Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
Hana duduk di sampingnya tanpa mengucapkan kata-kata penghiburan yang berlebihan.
Kadang-kadang kehilangan sebesar itu memang tidak dapat dihapus hanya dengan sebuah kalimat.
Ryosuke memandang Amanda beberapa saat.
Lalu ia berkata dengan suara tenang.
"Aku mengerti perasaan mu."
Amanda mengangkat wajahnya perlahan.
Ryosuke melanjutkan.
"Desaku juga dihancurkan oleh Empire Krusador."
"Aku kehilangan keluargaku."
"Aku kehilangan rumahku."
"Dan sejak hari itu..."
"Aku terus berjalan tanpa tempat untuk kembali."
Amanda menatap Ryosuke dalam diam.
Untuk pertama kalinya sejak ia sadar, ia melihat seseorang yang benar-benar memahami rasa kehilangan yang kini memenuhi hatinya.
Ruangan itu kembali sunyi setelah Ryosuke menyelesaikan ucapannya. Kata-kata yang ia lontarkan tidak terdengar seperti penghiburan, melainkan pengakuan yang lahir dari pengalaman yang sama pahitnya. Amanda menatapnya tanpa berkedip, seolah mencoba memastikan bahwa orang di hadapannya benar-benar pernah melewati hal yang sama seperti dirinya.
Hana perlahan menundukkan pandangan, memberi ruang bagi keduanya untuk berbicara tanpa gangguan. Alfaro yang sejak tadi berdiri di dekat pintu juga memilih untuk tidak memotong percakapan itu, hanya mengamati dengan tenang.
Amanda mengusap air matanya yang masih tersisa di pipi.
"Kalau begitu..."
suaranya bergetar pelan.
"kau juga kehilangan segalanya?"
Ryosuke tidak langsung menjawab. Ia menarik napas singkat, lalu mengangguk.
"Ya."
Hening kembali memenuhi ruangan.
Amanda menggenggam selimut yang menutupi tubuhnya.
"Aku tidak punya tempat lagi untuk kembali."
"Desa itu satu-satunya rumahku."
"Jika semuanya sudah hilang..."
Ia menatap ke bawah.
"...apa yang tersisa untukku?"
Pertanyaan itu menggantung di udara tanpa jawaban langsung. Hana sempat membuka mulut, tetapi urung mengucapkan apa pun. Ada jenis luka yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata sederhana.
Ryosuke melangkah maju satu langkah.
"Kau masih hidup."
Amanda mengangkat wajahnya.
"Itu saja belum cukup."
Ryosuke menggeleng pelan.
"Justru itu yang paling penting."
"Kalau kau masih hidup, berarti kau masih punya kesempatan untuk memilih langkah berikutnya."
Amanda terdiam.
Ryosuke melanjutkan dengan suara lebih tenang.
"Aku tidak tahu apakah itu akan mudah."
"Tapi aku juga pernah berdiri di tempat yang sama sepertimu."
"Dengan tidak ada apa pun selain kehancuran di belakangku."
Amanda menatapnya lama.
Perlahan, ekspresinya berubah,bukan lagi hanya kesedihan, tetapi juga kebingungan yang bercampur dengan sedikit rasa ingin tahu.
"Dan kau memilih apa?"
Ryosuke menjawab tanpa ragu.
"Aku berjalan."
"Karena kalau aku berhenti, semua yang hilang dariku benar-benar akan hilang tanpa makna."
Kata-kata itu membuat ruangan kembali hening.
Alfaro akhirnya melangkah masuk lebih jauh.
"Dia tidak berbohong." ucapnya singkat.
"Aku sudah melihat sendiri bagaimana dia bertahan."
Amanda menoleh ke arah Alfaro, lalu kembali ke Ryosuke.
Untuk beberapa saat ia hanya diam, seolah sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam pikirannya.
Hana kemudian berbicara dengan suara lembut.
"Di sini kau tidak sendirian."
"Kami juga kehilangan banyak hal."
"Tapi kami masih bertahan bersama."
Amanda menatap Hana, lalu menunduk lagi.
"Kenapa kalian masih bisa tersenyum seperti itu?"
Hana tersenyum kecil, meski tidak sepenuhnya ceria.
"Karena kalau kami berhenti, maka orang-orang yang kami sayangi benar-benar tidak akan punya siapa pun lagi untuk diingat."
Kata-kata itu membuat Amanda terdiam lebih lama.
Di luar ruangan, suara langkah kaki dan aktivitas barak terdengar samar, seolah dunia tetap berjalan meski di dalam ruangan kecil itu seseorang sedang mencoba menyusun kembali hidupnya yang hancur.
Beberapa saat kemudian, Amanda menarik napas panjang.
"Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan lagi."
"Aku bukan petarung."
"Aku hanya membuat Rune untuk membantu orang-orang desa."
Ryosuke menatapnya.
"Rune?"
Amanda mengangguk pelan.
"Aku ahli Rune."
"Ayahku mengajarkanku cara membuat Rune sederhana."
"Untuk cahaya, perlindungan ringan, penghangat, dan berbagai kebutuhan sehari-hari."
"Rune bukan hanya untuk perang."
"Rune juga bisa membuat hidup orang lebih mudah."
Alfaro yang mendengar itu mengangkat alis sedikit.
"Itu kemampuan yang langka."
Amanda menggeleng kecil.
"Tapi di dunia seperti ini..."
"tidak ada tempat untuk itu."
Ryosuke menatapnya cukup lama sebelum berbicara.
"Di tempat ini, semua kemampuan punya tempat."
Amanda menatapnya dengan ragu.
"Termasuk aku?"
Ryosuke mengangguk.
"Jika kau mau."
Hening sesaat menyelimuti ruangan.
Kemudian Alfaro berbicara dengan nada tegas namun tidak memaksa.
"Kami tidak memaksa siapa pun bergabung."
"Tapi jika kau ingin bertahan hidup, belajar, dan menggunakan kemampuanmu..."
"barak ini bisa menjadi tempatmu sementara."
Amanda menunduk dalam diam.
Lalu perlahan ia menggenggam selimutnya lebih erat.
"Aku..."
Ia berhenti.
Menarik napas.
"Aku tidak punya tempat lain."
Matanya kembali mengarah ke Ryosuke.
"Kalau begitu..."
"Aku akan tetap di sini."
Ryosuke mengangguk pelan.
Hana tersenyum kecil.
Dan untuk pertama kalinya sejak desa itu runtuh, Amanda tidak merasa sepenuhnya sendirian.
Di luar, angin melewati barak tentara bayaran di bawah bayangan Benteng Vargan, membawa awal baru yang masih rapuh namun nyata bagi seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.
..._BERSAMBUNG _...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉