Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
032
Restoran mewah yang berada di puncak bukit tertinggi Los Angeles itu menawarkan pemandangan yang luar biasa megah.
Dari balik dinding kaca setinggi langit-langit, kerlip lampu kota terhampar bagai hamparan berlian yang berserakan di atas beludru hitam.
Alunan musik jazz bertempo lambat mengalir lembut dari sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang seharusnya romantis bagi sepasang pengantin baru.
Namun, di meja nomor tujuh yang terletak di area paling privat, atmosfernya justru terasa sebeku es di kutub utara.
Michaela Hokked duduk tegak dengan gaun sutra biru dongker yang membungkus indah tubuhnya.
Di hadapannya, sepiring steak wagyu dengan siraman saus truffle yang aromanya menggugah selera telah tersaji.
Mengikuti tata krama makan yang ia pelajari secara kilat, Michaela memegang garpu di tangan kiri dan pisau daging di tangan kanannya.
Ia mulai menekan pisau itu ke atas daging. Namun, entah karena serat daging yang cukup padat atau karena jemarinya yang mendadak gemetar tanpa alasan jelas, Michaela tampak kesulitan.
Pisau perak itu berdecit pelan, bergesekan dengan piring porselen tanpa berhasil memotong daging dengan rapi.
Michaela menjeda gerakannya sejenak. Ia melirik ke arah pria yang duduk tepat di hadapannya.
Killian Vale-Knight berada di sana, bersandar dengan santai pada kursi kulitnya yang nyaman.
Pria itu sudah menyelesaikan potongannya sendiri dengan sangat rapi.
Alih-alih mengulurkan tangan, mengambil alih piring Michaela, dan memotongkan daging itu untuknya—seperti yang biasa ia lakukan dengan penuh kemesraan di meja makan—Killian justru hanya diam.
Pria itu menyesap anggur merah dari gelas kristalnya dengan gerakan yang sangat lambat, menatap Michaela dengan sepasang mata elang yang datar, kosong, dan sama sekali tidak memancarkan binar kehangatan yang tadi siang ia pamerkan di depan ibunya.
Apa ini? Kenapa dia diam saja? Apa dia sudah malas berakting di tempat sepi seperti ini? batin Michaela mulai bertanya-tanya.
Alisnya sedikit bertaut, menatap Killian dengan tatapan menuntut yang samar.
Seakan mampu membaca dengan sangat jeli setiap baris pikiran yang berputar di dalam kepala Michaela, Killian meletakkan gelas anggurnya kembali ke atas meja dengan bunyi klik yang tegas.
Pria itu memajukan tubuhnya sedikit, menumpu kedua sikunya di atas meja marmer, lalu menatap langsung ke dalam manik mata cokelat keemasan Michaela.
"Aku tidak lagi membutuhkan akting, Michaela," ucap Killian dengan suara baritonnya yang rendah, dingin, dan sarat akan nada sinis yang mematikan.
Pria itu mengulas senyuman tipis yang sangat kering. "Aku sudah melihat dan mendengar dengan sangat jelas... bagaimana dirimu saat berada di dalam kamar mandi mewah kita tadi Siang."
Deg.
Tangan Michaela yang sedang memegang pisau perak seketika membeku di udara.
Seluruh sendi di tubuhnya mendadak kaku, seolah aliran darahnya berhenti mengalir dalam satu detik yang krusial.
Jantungnya mulai berteduh dengan ritme yang teramat kencang, menghantam rongga dadanya hingga menimbulkan rasa ngilu.
A-Apa katanya? Dia melihatku? Dia memantauku? Di dalam kamar mandi? Apa pria ini memasang kamera pengintai di tempat seprivat itu?
DUARRR!!!
Ilusi kemenangan yang sempat dibangun oleh Michaela di dalam bathtub siang tadi seketika hancur berkeping-keping, rata dengan tanah.
Killian menyandarkan kembali tubuh tegapnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap arogan seorang penguasa sejati.
"Jangan memasang wajah sekaget itu. Itu adalah kamarku, di dalam properti kamar milikku. Aku sudah memasang kamera pengintai lensa mikro yang paling canggih, bahkan di sudut tersembunyi di dalam kamar mandi itu. Aku perlu memastikan tidak ada mata-mata musuh yang mencoba menghancurkan dokumen atau mengontak sekutunya dari sana."
Killian menjeda kalimatnya, menatap lekat-lekat pada wajah Michaela yang kini mulai kehilangan rona merahnya, berubah pucat pasi di bawah temaram lilin meja.
"Kau mengira dirimu adalah sang penulis skenario yang hebat, hm? Kau mengira bisa memanfaatkan fasilitas kemewahan ini, menerima caraku memperlakukanmu seperti gadis murahan di malam pertama sebagai 'kompensasi' dari dolar yang kukeluarkan, lalu berencana membalikkan keadaan?" Killian terkekeh, sebuah suara tawa yang teramat mengerikan dan menghina.
"Jika kau telah sadar dengan akting penuh cinta yang kupamerkan di depan Mommy dan keluargaku selama ini... maka nikmati saja jalannya permainan ini, Michaela. Pergilah dari hidupku nanti, saat aku sudah benar-benar bosan menggunakan tubuhmu."
Deg.
Tenggorokan Michaela terasa sangat tercekat, seolah seluruh pasokan oksigen di dalam restoran mewah itu mendadak menguap habis. Napasnya memburu halus. Ia benar-benar terkecoh.
Selama ini, dia merasa sangat percaya diri dengan kemampuan analisis psikologinya.
Dia mengira dirinya adalah sang dalang yang sedang mengamati kebodohan seorang pria kaya yang sedang berakting menjadi budak cinta.
Namun ternyata... pria di hadapannya ini jauh lebih licik, jauh lebih berdarah dingin, dan jauh lebih manipulatif daripada apa yang bisa digambarkan oleh teori psikologi mana pun di otaknya.
Oh, Tuhan... bagaimana bisa ada pria selicik ini di dunia? Dia membiarkanku merasa menang, membiarkanku menari di atas naskahku, hanya untuk menjatuhkanku ke dasar jurang di saat aku merasa paling aman!batin Michaela menjerit, meratapi egonya yang baru saja dihantam godam besar.
"Atau... kau ingin kita langsung bercerai malam ini juga?" tanya Killian lagi, nada suaranya terdengar sangat enteng, seolah-olah membicarakan tentang pembatalan kontrak bisnis biasa, bukan sebuah ikatan suci yang baru saja mereka perbarui di depan pendeta tadi pagi.
"Jika kau ingin pergi sekarang, silakan melangkah keluar dari restoran ini. Tapi kau harus ingat, di luar sana, Gabriella ataupun Cecilia pasti sedang mengincarmu untuk dijadikan pelacur baru. Dan jangan lupakan ayahmu yang pemabuk di San Francisco... Dan tanpa perlindungan namaku, kau pasti akan Dikenal sebagai Si Penipu Cecilia dan kembali ke kubangan lumpur dalam hitungan jam."
Michaela terdiam seribu bahasa. Ia meletakkan pisau dan garpunya dengan perlahan ke atas piring, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa harga diri dan kekuatan mentalnya yang sempat berserakan.
Ia menarik napas dalam-dalam, menatap lurus pada mata elang Killian yang tajam. Pertahanan psikologisnya kembali dipasang, walaupun ia tahu dinding itu kini telah retak.
"Lalu... apa maumu yang sebenarnya, Tuan Vale-Knight?" tanya Michaela, suaranya kini terdengar datar, kehilangan nada manja dan kelembutan fiktif yang biasa ia gunakan.
Killian tersenyum puas melihat bagaimana Michaela dengan sangat cepat mengendalikan emosinya.
Harus ia akui, gadis jalanan ini memang memiliki ketahanan mental yang luar biasa, sangat berbeda dengan Cecilia Lynch yang mungkin akan langsung menangis jika berada di posisi ini.
"Mauku sederhana," jawab Killian, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan ritme yang konstan.
"Mari kita jalankan dengan baik pernikahan sempurna kita ini di depan keluargaku. Di depan Mommy, di depan Daddy, dan di depan media, kau adalah Nyonya Knight yang sah dan kucintai setengah mati. Kau akan mendapatkan seluruh fasilitas mewah, perlindungan mutlak, dan kehidupan berkelas yang selama ini mungkin kau impikan."
Killian memiringkan kepalanya sedikit, kilat kekejaman kembali melintas di matanya.
"Namun saat masa kontrak satu tahun di mansion selesai, atau saat aku sudah benar-benar bosan padamu... saat rasa kesalku karena kau telah berani membohongiku soal identitas mu selama ini sudah menguap... maka pergilah. Berdirilah sebagai orang asing kembali di hidupku."
Pria itu mendengus tipis. "Dan aku tidak sekejam itu, Michaela. Aku tetap akan memberikan dana nafkah pasca-perceraian dalam nominal yang sangat besar untukmu. Uang yang lebih dari cukup agar kau suatu saat nanti memiliki bekal hidup yang layak, berkuliah seperti impianmu, dan memastikan kau tidak akan pernah perlu kembali menjadi gelandangan di jalanan. Bagaimana? Penawaran yang sangat adil, bukan?"
Mendengar rangkaian kalimat yang keluar dari bibir tipis Killian, Michaela benar-benar merasa dirinya sedang bersanding dengan sosok iblis yang nyata.
Pria ini mengkalkulasi segala hal—rasa benci, gairah seksual, harta, hingga masa depan mangsanya—dalam satu formula bisnis yang dingin.
Namun, di balik rasa terhina yang membakar dadanya, bagian terdalam dari jiwa Michaela yang pragmatis justru membenarkan penawaran itu.
Iblis sekalipun... jika dia memberikan keuntungan yang nyata, maka dia adalah sekutu yang baik, pikir Michaela dengan dingin.
Bagi gadis yang pernah dipukuli oleh ayahnya hanya karena kekurangan beberapa dolar untuk membeli minuman keras, atau gadis yang hampir mati di dalam taksi maut, neraka yang ditawarkan Killian saat ini adalah neraka yang dilapisi oleh lantai marmer dan kehangatan selimut sutra.
Semasih pria ini memperlakukan fisiknya dengan baik di depan umum dan memberikan perlindungan nyata, mau seberapapun tinggi dinding neraka ego yang Killian berikan di kamar privat mereka, hal itu tidak akan menjadi masalah besar bagi Michaela Hokked.
"Lagi pula..." Killian kembali bersuara, menghentikan gejolak pikiran Michaela.
Pria itu menatap perut rata istrinya dengan tatapan yang sangat enteng, nyaris meremehkan. "...tidak akan ada korban yang tersakiti atau terjebak dari pernikahan kontrak satu tahun kita ini. Kau tidak akan mungkin bisa hamil, Michaela."
Deg.
Michaela kembali terdiam. Tubuhnya sedikit menegang di atas kursi.
Sebagai seorang wanita yang memiliki insting tajam, dia sebenarnya sudah menyadari dan menebak bahwa ada sesuatu yang aneh yang dimasukkan ke dalam cairan infusnya oleh Dr. Helen atas perintah Killian tadi pagi.
Namun, mendengar pengakuan itu keluar secara langsung, secara blak-blakan dan tanpa beban dari mulut suaminya sendiri, tetap saja memberikan tusukan rasa sesak yang teramat dalam di ulu hatinya.
Ada rasa nyeri yang aneh yang merayap di dadanya saat menyadari bahwa haknya sebagai seorang wanita untuk memiliki keturunan telah dimatikan secara sepihak oleh pria yang beberapa jam lalu mengecup keningnya dengan penuh kelembutan fiktif.
Killian memperhatikan perubahan raut wajah Michaela, menunggu ledakan amarah atau tangisan air mata kelemahan. Namun, Michaela justru melakukan hal yang di luar ekspektasi pria Knight itu.
Michaela mengangkat kembali pisau dan garpunya.
Dengan gerakan yang sangat tenang, anggun, dan tegas, ia memotong daging steak di piringnya dengan satu torehan kuat, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Setelah mengunyah dan menelannya dengan tenang, ia menatap langsung ke dalam mata elang Killian dengan seulas senyuman tipis yang tak kalah dingin.
"Baiklah. Aku setuju," ucap Michaela dengan sangat cepat, tanpa ada setetes pun air mata yang jatuh di pipinya. "Satu tahun pernikahan sempurna, perlindungan penuh, dan dana bekal setelah kau bosan. Kesepakatan yang luar biasa, Tuan Muda Vale-Knight."
Killian tertegun selama satu detik melihat respons berani dari istrinya, sebelum sebuah senyuman puas kembali terukir di wajah tampannya.
Panggung sandiwara mereka kini telah memiliki aturan main yang baru, di mana kedua pemainnya tahu persis bahwa mereka sedang saling menggenggam sebilah belati di balik punggung masing-masing.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨