Narko tak mengira jika kebahagiaan keluarganya di raih dengan cara yang tidak wajar, ia baru sadar setelah satu persatu saudaranya meninggal sebagai wadal pesugihan sang ayah. Apakah dia bisa melepaskan diri sebagai wadal berikutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat dari kejaran Warga
"Jangan sedih mas, kamu pasti selamat kok," ucapnya seolah ingin menghibur ku
"Aamiin, semoga kamu juga selamat dek!" jawabku
*Deg!
Seketika aku menoleh kearah Rere yang terlihat berbeda saat itu. Sepertinya ada yang berbeda dengan Rere. Mata itu, tatapannya begitu tajam seperti bukan Rere adikku.
Aku mengusap lembut kepalanya. Tapi Rere tak merespon. Ia masih menatap tajam kearah ku seperti menghakimi ku.
"Kamu kenapa dek?"
Ia terus melotot kearah ku membuat aku semakin panik.
Kali ini aku coba usap matanya sambil membaca surat Annas.
Tiba-tiba Rere langsung pingsan.
Suara sirine mobil pun berhenti. Sepertinya ambulance sudah tiba di rumah sakit. Beberapa orang petugas medis jenazah langsung dibawa ke ruang UGD. Sementara aku masih berusaha menyadarkan Rere yang masih belum juga siuman.
Tidak lama Bapak tiba di rumah sakit bersama dengan Pak Urip.
"Ada apa dengan Rere?" tanya bapak
"Sepertinya dia tadi kerasukan, setelah saya bacakan surat annas dia pingsan dan belum sadar sampai sekarang," jawabku
Pak Urip segera mendekat dan mengusap wajah Rere.
Lelaki itu terlihat seperti membaca sesuatu hingga tak lama Rere pun sadar dan membuka matanya.
"Mas Narto?" ucap Rere langsung memelukku
"Iya dek, kenapa?" tanyaku
"Aku takut mas," jawab Rere kemudian menyembunyikan wajahnya di dadaku
"Gak papa, ada mas di sini yang akan menjaga kamu, jadi jangan takut ya?" hibur ku
Seorang petugas medis kemudian meminta bapak untuk menandatangani surat autopsi.
Bapak pun tak keberatan. Selanjutnya jenazah Anggi dibawa ke bagian forensik untuk di autopsi. Sama seperti sebelumnya, hasil forensik juga menyatakan jika Anggi meninggal karena bunuh diri.
Aku heran kenapa Adit belum juga datang ke rumah sakit untuk menemani jenazah istrinya. Padahal aku sudah berkali-kali menghubunginya.
Cukup lama kami menunggu kedatangannya namun ia tak kunjung datang hingga kami memutuskan untuk membawa jenazah pulang.
Saat mobil ambulance hendak membawa jenazah pulang, tiba-tiba adit datang.
Adit begitu shock saat mengetahui istrinya meninggal. Ia pun mencari Bapak dan langsung menghakiminya. Ia menghajar bapak tanpa ampun hingga babak belur. Tentu saja hal itu menjadi tontonan para pengunjung rumah sakit.
Aku berusaha memisahkan mereka, aku tidak mau bapak mati konyol karenanya. Namun siapa sangka jika mas Adit begitu kuat hingga aku kena bogem mentahnya.
*Buugghh!
Sebuah tinju melesat di wajahku hingga aku terjerembab ke lantai.
"Dasar baj*ngan, anak dan bapak sama saja, pengecut!" pekiknya
Ia kemudian menarik kerah bajuku dan bersiap untuk meninju ku lagi. Namun kali ini Pak Urip datang untuk melerai kami.
"Lepaskan bapak, tolong jangan membuat kegaduhan di sini. Kami sedang berduka, dan aku tahu kamu juga sedang berduka. Untuk itu harap hormati jenazah. Silakan selesaikan masalah anda dengan kepala dingin dan jangan sampai membuat keributan di tempat ini!" ucap Pak Urip
Pak Urip mengajak Adit keluar dari ruangan itu. Ku lihat emosi Adit masih meluap-luap. Wajar saja, sebagai seorang suami pasti begitu sedih saat melihat istrinya meninggal secara sadis.
Ia terus saja berceloteh menyalahkan bapak.
Belum lagi Adit juga seorang yang mengerti tentang hal-hal mistis seperti itu sehingga ia tahu benar jika Anggi meninggal karena menjadi wadal pesugihan bapak.
"Awas saja, aku pasti akan membuat perhitungan terhadap kalian!" ancamannya kemudian meninggalkan kami
Kali ini Adit yang mengurus jenazah Anggi, ia tak memperbolehkan aku dan bapak untuk ikut membantu mengurus pemakaman Anggi.
"Gak papa Nar, mungkin ini yang terbaik buat Anggi," ucap Bapak kemudian mengajakku pulang
Ku gandeng Rere dan kami pun pergi meninggalkan rumah sakit. Kali ini aku sengaja pulang menggunakan taxi. Tentu saja selain menghindari para warga yang sedang menjadikan keluarga ku sebagai bahan ghibah mereka.
Setibanya di rumah aku kaget saat melihat rumah ku yang hancur karena di serang warga. Semua kaca pecah, bunga dan tanaman di halaman juga di rusak.
Pintu rumah bahkan hancur di jebol. Barang-barang di dalam rumah habis di jarah warga.
Ku lihat bapak tampak begitu sedih melihat kondisi keluarga kami.
"Itu mereka sudah datang!" teriak salah seorang warga
Tiba-tiba kulihat segerombolan warga mendatangi rumah kami.
"Sebaiknya kalian pergi dari kampung ini, karena kami tidak menerima warga pemuja iblis seperti kalian!" seru mereka
Warga yang marah bahkan melempari kami dengan batu hingga membuat aku langsung menarik Rere masuk kedalam rumah. Bapak buru-buru menarik pintu yang sudah rusak dan memasangkannya untuk menghalau serangan warga.
"Kita harus pergi dari sini Pak, jika tidak kita bisa mati dihakimi warga!" ucapku panik
Tiba-tiba sebuah obor api jatuh tepat di depan kami, ya...para warga melemparkan obor yang dibawanya untuk membakar rumah kami. Api mulai menyambar membakar benda-benda yang mudah terbakar.
"Ayo lari!" seru bapak
Aku segera menggendong Rere dan berlari meninggalkan rumah menggunakan pintu belakang.
Saat kami keluar dari pintu belakang seseorang menarik kami.
Syukurlah, Pak Karim menyelamatkan kami. Ia mengajak aku dan bapak menginap di rumahnya.
"Untuk sementara kalian bisa tinggal di sini, besok pagi-pagi sekali aku akan mengantar kalian pergi meninggalkan kampung ini dengan aman!" ujarnya
"Terimakasih banyak pak?" ucapku
Kami begitu beruntung malam itu karena masih ada pak Karim yang mau membantu kami. Ia bahkan mengobati luka-luka bapak dan memberikan tempat tinggal sehingga kami selamat dari amukan warga.
Pagi-pagi buta, ku dengar Pak Karim sudah memanaskan mobil dan membawa kami pergi meninggalkan desa.
Aku tidak tahu ia akan membawa kami ke mana. Yang kelas saat ini kami hanya perlu lari dari bayang-bayang kematian yang terus menghantui keluarga kami.
ang sekaya apa tumbalnya koq begitu sering,udah kayak orang nyemil/ makan cemilan aja