Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan Dingin Seorang Pengusaha
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar utama, membawa kehangatan baru di hari pertama Fatimah terbangun sebagai seorang istri.
Fatimah membuka matanya tepat saat jam dinding menunjukkan pukul setengah lima subuh.
Di sampingnya, ruang di balik pembatas guling sudah kosong dan rapi. Rayhan sudah lebih dulu terjaga.
Fatimah segera bangkit, membersihkan diri, dan menunaikan salat Subuh. Usai berdoa, ia melangkah keluar kamar dengan langkah ragu.
Samar-samar, terdengar suara bincang-bincang serius dari arah ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka di dekat ruang tengah.
Fatimah mendekat perlahan, membawa secangkir teh hangat yang baru saja ia buat di dapur.
Dari balik celah pintu, ia bisa melihat sisi lain dari suaminya yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.
Rayhan Khalif tidak lagi tampak seperti pria berumur tiga puluh delapan tahun bersahaja yang kemarin malam menuntunnya dalam doa dengan suara lembut.
Pagi ini, Rayhan adalah seorang pengusaha. Pria itu duduk tegap di balik meja kerja kayu jati yang besar, mengenakan kemeja formal dengan lengan yang digulung hingga siku.
Di hadapannya, sebuah laptop menyala menampilkan grafik-grafik rumit, sementara telinganya menjepit sebuah *earphone* nirkabel.
"Pastikan pasokan bahan baku untuk cabang Surabaya tidak tertunda lagi."
" Saya tidak mau tahu alasan operasional, potong jalur birokrasinya jika perlu."
Ucap Rayhan, nadanya terdengar begitu tegas, dingin, dan penuh otoritas yang tak terbantahkan.
Tidak ada keraguan atau kelembutan berlebih di sana; setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah perintah yang mutlak dan terukur.
"Dan untuk proyek perluasan pabrik, kirimkan draf anggarannya ke email saya dalam dua jam."
"Saya akan periksa setelah urusan keluarga saya selesai hari ini."
Fatimah terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang menyaksikan karisma dan ketegasan suaminya.
Inilah "tangan dingin" seorang Rayhan Khalif, pria mandiri yang sukses membangun gurita bisnisnya dari bawah di usia tiga puluh delapan tahun.
Ketegasan yang kemarin sempat Fatimah salah artikan sebagai bentuk pemaksaan dalam perjodohan, ternyata adalah sebuah pembawaan alami dari seorang pemimpin yang terbiasa memegang kendali dan tanggung jawab besar.
Menyadari ada bayangan di balik pintu, Rayhan menoleh. Seketika, sorot matanya yang semula tajam dan dingin mencair, digantikan oleh binar hangat yang sangat teduh saat melihat istri kecilnya berdiri dengan canggung memegang cangkir.
"Baik, kita sambung nanti siang. Putus."
"Ucap Rayhan mengakhiri panggilan bisnisnya. Ia melepas *earphone*, lalu berdiri menyambut Fatimah."
"Eh, Fatimah. Sudah bangun? Maaf kalau suara Mas mengganggu istirahatmu."
Fatimah menggeleng pelan, melangkah masuk ke dalam ruangan dan meletakkan cangkir teh di atas meja kerja.
Pagi ini ia berpenampilan dengan mengurai rambut panjang nya yang sedikit bergelombang dan mengenakan baju santai yang anggun.
"Iya, Mas, tidak mengganggu sama sekali."
" Ini... Fatimah buatkan teh hangat untuk Mas Rayhan."
Rayhan tersenyum lebar, meraih cangkir itu dan menyesapnya sedikit. "Terima kasih, Fatimah."
"Kebetulan Mas sedang banyak berkas yang harus ditinjau pagi ini sebelum kita berangkat ke rumah Ibu."
Fatimah menatap tumpukan dokumen di atas meja, lalu memberanikan diri bertanya.
"Mas Rayhan... sangat sibuk, nya?"
"Maaf jika karena urusan pemakaman Ayah, pekerjaan Mas jadi terbengkalai."
Rayhan tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang seketika melenyapkan aura intimidasi pengusaha di dalam ruangan itu.
Ia melangkah mendekati Fatimah, menatap wajah polos istrinya dengan kelembutan yang utuh.
"Pekerjaan bisa diatur, Fatimah."
" Bagi seorang pengusaha, manajemen waktu adalah kuncinya."
" Tapi tanggung jawab Mas sebagai suami dan menantu saat ini adalah prioritas utama."
" Tangan dingin Mas dalam memimpin perusahaan tidak ada artinya jika Mas gagal memimpin dan menjaga keluarga kecil kita," tutur Rayhan mantap.
Kalimat itu menghujam langsung ke lubuk hati Fatimah. Rasa takzim dan kagum yang baru kemarin malam tumbuh, kini kian mengakar kuat.
Di balik ketegasan memimpin ratusan karyawan, Rayhan tetaplah seorang imam yang menempatkan agama dan keluarga di atas segalanya.
Fatimah menunduk dengan senyum tipis di bibirnya, siap mendampingi pria hebat ini dalam babak kehidupan yang baru.