Kepergiannya 5 tahun lalu membuat kehidupan Deevana hancur berantakan, ia yang terbiasa hidup bebas dan lekat dengan dunia malam di manfaatkan oleh Ayah dan Kakak laki-lakinya. Deeva di paksa menemani para pria hidung belang setiap malam demi menghidupi keluarganya yang jatuh miskin lalu memiliki banyak hutang.
Di tengah rasa lelah dan putus asa ,nyatanya Deeva di jual kepada seorang pengusaha kaya raya.
Dan, betapa terkejutnya gadis malang itu saat tahu jika pria yang membelinya ternyata berondong kecilnya di masa lalu.
Apakah, cinta lama akan bersemi kembali setelah kontrak pernikahan di antara mereka telah ditanda tangani?
Sekuel dari nupel SAGARA ya, belum mampir silahkan baca lapak Ibun dan PanDa dulu, keh 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 24
🍂🍂🍂🍂🍂
"Sstt--, Aargh. Aga, hentikan!" mohon Deeva saat Tupu Tupu mulai di obrak abrik dengan jari dan lidah si Belalang.
Wanita itu mendesIS nikmat dengan eraNGan erAngAn yang membuat Aga semakin bernaPPsu untuk melakukannya. Tampang nya saja yang polos dan menggemaskan tapi dalam urusan ranjang ia sudah termasuk salah satu SUHU para pria mesum keturunan Singa.
"Masih berani mengancamku, hem?" tanya Aga, yang berlutut di samping ranjang, ia sedikit mendongak saat Deeva terus memohon agar ia cepat masuk ke dalam permainan inti.
"Kamu yang memulainya, Sayang," jawab Deeva pelan, tubuh polosnya penuh dengan keringat karna sama seperti si Tupu Tupu yang sudah berkali-kali di menu pembuka.
"Kamu tahu, aku tak akan melakukan itu!" salah satu jari Aga masuk lagi, menjelajah tempat bermain si Belalang yang selama ini mampu memberi kecanduan luar biasa.
Deeva yang di buat Frustasi, terus melEngUhh sambil sesekali membusung kan kedua dada nya. Aga yang memantik api namun ia sendiri yang kini terbakar biRAhi.
"Ayo Aga, lakukan sekarang!".
" No! Aga mau gini aja," tolak nya sambil tersenyum. Dengan kedua bagian tubuh nya saja wanita polos itu sudah sampai di surga dunianya berkali-kali.
Aga yang melakukannya dengan sangat lembut memang terus membuat Deeva terlena, ia tenggelam dalam rasa yang tak bisa di ungkap kan. Tapi semua terjawab saat suara DesaAhAaan, ErAngAan, dan leNguHan terus menggema ke seisi kamar hotel mewah ini.
Lagi, Deeva yang mendapat pelepasannya mencengkram kain sprei dengan kedua mata tertutup rapat. Ia tak lagi ingat dan perduli dengan wajah tampan suaminya di bawah sana.
"Huft--, Huft--, Huft!" hembusan napas berat dan tersengal sengal membuktikan betapa lelah nya Deeva saat ini.
"Puas, Sayang?" tanya Aga yang akhirnya bangun, ia merangkak naik ke atas ranjang lalu mencium pipi istrinya.
Dan kini, tinggal Aga yang akan menuntaskan hasratnya sendiri tanpa Deeva, ia biarkan wanita itu tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah berkali-kali bagai ikan yang terkapar kurang air.
.
.
.
"Jangan begitu lagi, aku ngeri!" kata Deeva yang bergelayut manja di lengan suaminya saat pasangan itu baru saja turun dari mobil dan baru sampai di Kediaman Pradipta.
Apa yang di lakukan Bayi Gantengnya memang bukan yang pertama, tapi biasanya itu hanya pemanasan biasa saja, berbeda dengan yang barusan terjadi di Hotel yang ternyata tanpa penyatuan si Tupu Tupu dan Belalang, Aga asik sendiri memberi kenikmatan tak henti bagi istrinya.
"Di kasih enak masih aja protes!"
"Tapi aku nya cape, Sayang. Enakan berdua," bisik Deeva yang langsung membuat kedua pipi sang suami merah merona tersipu malu.
Ia rangkul bahu istrinya itu cukup erat sambil di ciumi pucuk kepalanya. Rasa sayang, bahagia dan selalu merindu tak pernah cukup di ungkapkan oleh pasangan yang sempat berpisah bertahun-tahun lamanya itu.
"Ya udah, habis ini kita main berdua," balas Aga.
"Gak! aku akan balas dendam padamu!"
Keduanya tertawa bersama, namun baru juga Aga ingin kembali mencium kening istrinya, suara deheman cukup keras terdengar dari belakang.
"Ehem--,"
Pasangan suami istri itupun sontak menoleh, dan berapa terkejutnya sang tuan muda Pradipta melihat siapa yang kini ada di depannya. Seseorang yang sejak dulu tak ingin ia lihat.
.
.
.
"David! mau apa disini?"