Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Berkas Janggal
Sinar matahari sore menembus celah jendela kantor redaksi, memberikan kesan hangat yang kontras dengan suasana batin Naura yang sedang berkecamuk. Di depannya, tumpukan berkas yang ia ambil dari tablet Kaelith semalam sudah tercetak rapi. Ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk memverifikasi data tersebut dengan data publik yang ada di laman resmi yayasan kampus.
"Gila..." gumamnya pelan. Semakin dalam ia menelusuri, semakin jelas kejanggalan yang ada. Dana tersebut tidak hanya mengalir ke satu perusahaan, melainkan terpecah ke beberapa akun yang berbeda, namun semuanya bermuara pada satu pemegang saham utama: Pramudita Atharrazka.
"Nau, lo masih di sini?"
Naura tersentak. Ia dengan cepat menutup folder berkasnya. Dimas berdiri di samping mejanya, memegang secangkir kopi dengan wajah yang tampak lelah namun tetap tajam.
"Iya, Mas. Masih ada beberapa bagian yang harus gue cek," jawab Naura berusaha tenang.
Dimas menarik kursi di sebelah Naura. "Gue perhatiin, dari kemarin lo fokus banget sama kasus pembangunan gedung baru. Lo yakin mau ngulik ini? Ini area yang sangat berisiko, Naura. Banyak wartawan senior yang pernah coba, tapi mereka semua mundur begitu tahu siapa yang ada di baliknya."
Naura menatap Dimas. "Justru karena itu Mas, ini harus diungkap. Kalau kita terus-terusan takut, kapan kebenarannya bakal terungkap? Mahasiswa berhak tahu ke mana uang mereka pergi."
Dimas tersenyum sinis. "Idealism lo bagus. Tapi di dunia nyata, idealisme itu bisa jadi pedang yang nusuk diri sendiri. Gue cuma mau lo hati-hati. Gue nggak mau liat lo kena masalah, apalagi masalah yang melibatkan orang-orang besar."
Ada nada perhatian yang tulus dalam ucapan Dimas, tapi Naura bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan pria itu. "Mas Dimas tahu sesuatu?"
"Gue tahu banyak hal, tapi gue tahu batasan," Dimas berdiri kembali. "Pokoknya, jangan bertindak gegabah. Kalau lo butuh bantuan untuk verifikasi data, kasih tahu gue. Jangan jalan sendiri."
Setelah Dimas pergi, Naura mengembuskan napas panjang. Ia merasa Dimas sedang memperingatkannya, namun di saat yang sama, Dimas tampak seolah-olah ia sendiri takut akan sesuatu.
Ponsel Naura berdering. Pesan singkat dari Kaelith.
“Sudah baca semua datanya? Gue tunggu di tempat parkir belakang. Ada sesuatu yang harus lo lihat langsung. Jangan lupa bawa flashdisk yang berisi salinan data itu.”
Naura segera membereskan mejanya. Ia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan verifikasi lapangan. Ia berpamitan pada Alyssa dengan alasan ingin meninjau lokasi pembangunan gedung baru.
Sesampainya di parkiran belakang, mobil Kaelith sudah menunggu di sudut yang gelap. Begitu Naura masuk, Kaelith langsung melajukan mobilnya menjauh dari area kantor.
"Kita mau ke mana?" tanya Naura.
"Ke gudang logistik milik perusahaan bokap gue," jawab Kaelith serius. "Di sana ada beberapa dokumen fisik yang nggak diunggah ke sistem digital. Gue berhasil nyalin kunci akses masuknya."
Naura menoleh dengan mata terbelalak. "Lo nekat banget! Kalau ketahuan, lo bisa dianggap pencuri, Kael!"
"Kalau gue nggak nekat, kasus ini bakal terus terkubur," balas Kaelith tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Gue juga udah muak lihat bokap gue main kotor pakai nama gue dan BEM. Ini saatnya semuanya berhenti."
Kaelith memarkir mobilnya di area yang agak rimbun di dekat gudang besar yang tampak sunyi. Mereka turun, berjalan dengan langkah sangat pelan. Kaelith mengenakan topi hitam, tampak seperti agen dalam film aksi. Naura mengikuti di belakangnya, jantungnya berdebar kencang sampai rasanya bisa melompat keluar dari dada.
"Sini," Kaelith menarik tangan Naura, membawa mereka ke pintu samping gudang. Dengan cekatan, ia membuka gembok elektronik menggunakan kode yang ia dapatkan.
Klik. Pintu terbuka.
Di dalam, gudang itu penuh dengan tumpukan material bangunan. Kaelith membawa Naura ke arah ruang kantor kecil di sudut gudang. Di atas meja yang berantakan, terdapat sebuah brankas kecil yang tidak terkunci sempurna.
"Cepat," bisik Kaelith.
Naura dengan cepat memotret dokumen-dokumen yang ada di meja tersebut. Beberapa dokumen menunjukkan nota pembelian material yang harganya di-mark up tiga kali lipat. Naura memotret satu per satu dengan tangan yang gemetar.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di luar gudang.
"Ada orang," bisik Naura, wajahnya pucat pasi.
Kaelith mematikan lampu ruangan. Ia menarik Naura ke balik tumpukan kardus besar. Kegelapan menyelimuti mereka, dan satu-satunya hal yang bisa dirasakan Naura adalah napas Kaelith yang memburu di samping telinganya.
"Jangan napas terlalu keras," bisik Kaelith, tangannya yang besar memeluk pundak Naura, melindunginya agar tidak terlihat.
Suara langkah kaki semakin mendekat. Lampu senter menyapu ruangan gudang, menembus celah-celah tumpukan kardus di depan mereka. Naura memejamkan mata erat-erat. Ia bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.
Sosok itu berhenti tepat di depan tumpukan kardus tempat mereka bersembunyi. Keheningan yang mencekam menyelimuti gudang selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam. Jika orang itu berbelok sedikit saja, mereka pasti ketahuan.
Tiba-tiba, suara ponsel berbunyi di luar gudang, memecah ketegangan. Sosok itu berjalan pergi untuk mengangkat telepon, menjauh dari gudang.
Kaelith tidak membuang waktu. Ia menarik tangan Naura dan mereka berlari keluar secepat mungkin, menuju mobil. Begitu masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu, Kaelith langsung tancap gas meninggalkan lokasi.
"Tadi itu siapa?" tanya Naura, napasnya masih terengah-engah.
"Salah satu orang kepercayaan bokap gue," jawab Kaelith dengan nada yang sangat dingin. "Mereka mulai curiga ada orang yang masuk ke sistem mereka."
Naura menatap Kaelith. "Lo tahu risiko ini bakal bikin lo dalam bahaya besar, kan?"
Kaelith menoleh sekilas, menatap Naura dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue nggak peduli selama bukti ini aman di tangan lo."
"Kenapa lo sepercaya itu sama gue?"
Kaelith tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini tidak terlihat jahil, melainkan tulus. "Karena sejak demo pertama itu, gue tahu lo bukan reporter biasa. Lo punya sesuatu yang nggak dimiliki orang lain: keberanian untuk membela yang benar."
Mobil terus melaju, membawa mereka menjauh dari lokasi berbahaya itu. Di dalam mobil, suasana sunyi namun sarat akan emosi. Naura menatap flashdisk di tangannya. Ia tahu, data yang baru saja mereka ambil adalah bom waktu.
"Habis ini kita harus gimana?" tanya Naura.
"Simpan data itu baik-baik," jawab Kaelith. "Besok, gue bakal atur pertemuan dengan salah satu anggota dewan mahasiswa yang jujur. Kita butuh dukungan dari dalam."
"Kael, kalau sampai ayah lo tahu..."
"Biarin dia tahu," potong Kaelith. "Sudah waktunya dia bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan."
Naura menatap pria di sampingnya. Ia baru menyadari bahwa selama ini, Kaelith memikul beban yang sangat berat sendirian. Dan kini, ia memilih untuk membagi beban itu dengannya.
"Gue bakal bantu lo sampai akhir," ucap Naura tegas.
Kaelith menoleh dan tersenyum, kali ini tangannya yang bebas menggapai tangan Naura sejenak, lalu kembali ke kemudi. "Makasih, Naura. Gue nggak akan bisa lakuin ini kalau sendirian."
Saat mobil berhenti di depan Apartemen Naura, gadis itu tidak langsung turun. Ia masih memikirkan apa yang terjadi tadi. Kejadian di gudang itu telah mengubah segalanya. Mereka bukan lagi sekadar reporter dan narasumber; mereka adalah mitra yang terikat oleh sebuah rahasia besar.
"Masuklah," ucap Kaelith lembut. "Dan pastikan pintu terkunci rapat."
Naura mengangguk. "Lo juga. Hati-hati."
Saat Naura melangkah masuk ke rumahnya, ia tidak menyadari bahwa di balik kegelapan jalanan, sebuah mobil hitam telah mengawasi mereka sejak mereka keluar dari gudang. Dan di dalam mobil itu, seseorang sedang memegang foto Naura.
Bahaya yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan Naura tidak tahu bahwa ia telah menjadi target utama.