Diusia ke 18 tahun Abigail telah menjadi seorang pemain cinta yang handal. Saat dirinya akan melakukan pekerjaannya sebagai wanita malam, Abigail dipertemukan dengan salah seorang pria yang lebih layak menjadi ayahnya, namun sang pria merasa tatapan gadis yang ada dihadapannya seperti orang yang dia cintai. Si pria mengurungkan niatnya, karena merasa gadis muda yang berada dihadapannya seperti putrinya. Pria itupun langsung memberikan uang dan menolak untuk berhubungan dengannya. Abigail merasa tersentuh karena si pria yang bernama Javes Frederick itu sangat baik dan memperlakukannya seperti anak perempuannnya.
Disisi lain, Abigail dipertemukan dengan pria yang pernah menggunakan jasanya sebagai wanita malam yaitu seorang pengusaha tampan bernama Oricon yang jatuh cinta padanya. Namun, hubungan mereka mendapatkan rintangan besar karena Oricon telah bertunangan dengan sahabat masa kecilnya Emily. Akankah Abigail dapat bertemu dengan orang tua kandungnya dan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina0505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Mansion
Mia baru saja menyelesaikan tugasnya, karena setelah beberapa hari tidak beraktifitas hotel tempat Mia bekerja telah dipadati banyak pengunjung, karena hari itu adalah libur panjang tentunya para tamu hotel akan membludak karena lonjatan pengunjung pada hari libur.
"Mia, bisa keruanganku sebentar?," Javed yang mempaerhatikan Mia sedari tadi sangat telaten dengan pekerjaannya cukup senang melihat kinerja gadis itu.
"Baik tuan," Mia bergegas mengikuti perkataan atasannya.
Dari luar terdengar suara pintu diketuk.
"Masuklah," suara bariton Javes terdengar dari dalam sana.
"Tuan, aku boleh masuk?" Mia menyembulkan wajahnya di depan ruangan kerja atasannya.
"Duduklah, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu," pinta lelaki itu padanya.
Mia duduk dihadapan Javes bersiap dengan pertanyaan yang akan diajukan Javes padanya.
"Katakan padaku Mia, apa kau dan Abigail berteman dekat?" tanya pria itu sambil menatap lekat pada netra gadis muda itu.
"Sa ... saya bersahabat dengan Abigail karena kami berasal dari satu desa yang sama," jelasnya sedikit gugup.
"Apa kamu tahu mengenai keluarganya?" selidik Javes pada Mia lagi.
"Kalau tentang keluarganya aku tidak tahu pasti tuan, tapi setahuku dia tidak memiliki orang tua dan dia ditemukan oleb nyonya Hany di depan pintu rumahnya. Wanita itulah yang merawatnya hingga dia dewasa," jelasnya dengan detail.
"Apa dia pernah menceritakan tentang keluarganya padamu?" tanyanya lagi.
"Tidak tuan, kenapa tuan tiba-tiba menanyakan tentang keluarga Abigail?" Mia merasa sedikit heran dengan pertanyaan atasannya itu padanya.
"Begini, entah mengapa saat menatap mata anak itu aku merasakan ada sesuatu yang membuat hatiku yakin dia adalah anakku," jelas lelaki itu padanya.
"Anak? maksud anda, anda memiliki anak perempuan?" Mia mengernyitkan dahinya merasa ingin tahu.
"Ya, setiap kali menatap matanya mengingatkanku pada seseorang," Javes menatap ke langit-langit sambil mengingat masa lalunya.
"Apa maksud tuan, seseorang itu adalah wanita yang pernah dekat dengan anda?" tebak gadis itu padanya.
"Hm, aku tidak begitu yakin tapi entah mengapa hatiku mengatakan Abigail ada hubungan dengan orang di masa laluku," jelas lelaki itu.
"Mengapa anda tidak mencoba mencari tahu saja tuan?" pungkas Mia penuh antusias.
"Aku akan mencari tahu kebenarannya, tapi maukah kau membantuku?" pinta lelaki itu padanya.
"Baik tuan aku akan membantumu," Mia yang merasa iba pada lelaki itu segera menyetujui permintaannya. Dirinya kini mencoba menyelidiki tentang keluarga sahabatnya itu.
***
"Jadi ini benar apartemennya?"
Beberapa orang polisi telah sampai di apartemen milik Joan.
"Benar ketua, berdasarkan informasi yang aku dapatkan memang benar disini lokasinya," ujar anggota polisi itu.
"Ayo kita harus segera menemuinya untuk memastikan pelakunya ada di apartemen ini," pungkas Brandon pada anggotanya.
Mereka segera menujuke apartemen dan mengetuk pintu apartemen, lama mengetuk tidak ada jawaban dari dalamnya. Merasa tidak ada respon Brandon dan anggotanya memutuskan untuk bertanya pada resepsionis.
"Nona, apakah anda tahu kemana pemilik apartemen nomor 1005?" tanya Brandon padanya.
Gadis itu mengecek CCTV, "berdasarkan rekaman CCTV terakhir mereka ada di apartemen tadi malam," jelas gadis itu padanya.
"Bagaimana ini ketua? apa pelaku mencoba melarikan diri?" Malvin mulai curiga.
"Apa kau merasa berita penangkapannya ini sudah diketahui oleh pelaku?" Brandon mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres disana.
"Aku rasa tidak mungkin ketua, tapi entahlah jika saja ada yang lebih dulu dari pada kita," ucap Malvin sambil berpikir.
Lelaki itu mulai curiga, kalau saja ada yang bergerak lebih cepat daripada mereka.
***
Oricon sengaja pergi dari apartemen untuk segera menemui sang ayah.
"Aku akan pergi sebentar, kau tinggal disini jangan kemana-mana," dia mengingatkan Abigail.
Gadis itu menjawab dengan anggukan kepalanya.
Lelaki itu segera menuju ke mobilnya dan membelah jalanan menuju ke Mansionnya.
Tidak berapa lama, mobil itu telah terparkir di depan halaman mansion. Oricon segera masuk ke dalam mansion.
"Masih ingat pulang juga kau?" sungut Emilio yang begitu marah saat melihat putra kesayangannya itu baru muncul dihadapannya.
"Oh ayolah pa, jangan marah seperti itu padaku. Aku tahu aku salah karena pergi tanpa memberi tahu karena aku ada urusan penting pa," jelasnya sambil membujuk agar sang ayah tidak marah padanya.
"Sepenting apa urusanmu itu? Sampai kau meninggalkan perusahaan begitu lama? apa kau ingin menghancurkan perusahaan kita?" ketus sang ayah padanya.
"Pa, aku sudah menyerahkan semua tugas perusahaam selama aku tidak dikantor pada Sandy dan dia telah mengerjakan semuanya dengan baik," Oricon membela dirinya.
Memang benar selama dia pergi dia telah memberikan tanggung jawab pada Sandy dan memberikan tunjangan pada sekretarisnya itu atas loyalitasnya.
"Aku tahu itu, tapi aku ingin kau bertanggung jawab atas perusahaan kita, bukan sekretarismu itu!" tegas sang ayah dengan mimik wajah serius.
"Okay pa, aku minta maaf mulai sekarang aku akan mengurus perusahaan dengan baik,"
"Baiklah, Oricon hari ini sepupumu datang ke Indonesia. Dia ingin membahas mengenai pengembangan proyek kita,"
"Maksud papa Aldrick? Dia ada di Indonesia?"
"Iya kuharap kau bisa bekerjasama dengan baik dengannya,"
Sebenarnya Oricon tidak masalah dengan kedatangan sepupunya itu, hanya saja sepupunya itu bisa menyingkirkannya dari perusahaan jika dia tidak berhati-hati, karena dia juga memiliki andil pada perusahaan mereka. Oricon cukup tertohok dan dirinya mulai mewaspadai langkahnya agar tidak tersingkirkan oleh lelaki itu.
***
"Dari mana saja kau? kenapa baru pulang?" seorang wanita yang menunggunya sedari tadi malam berdiri di hadapannya memperhatikan kedatangannya.
"Ah mom, aku tadi menginap dirumah temanku," bohongnya pada sang ibu menutupi apa yang terjadi.
Gadis itu merasa kepalanya masih sedikit pusing akibat terlalu banyak minum, terlebih lagi dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya tadi malam,semakin membuatnya dalam masalah.
"Emily, kau tidak sedang berbohong padakukan?" selidik sang ibu padanya.
"Tentu saja tidak mom, kenapa momy berpikiran seperti itu?" Emily memperhatikana wajah sang ibu.
"Maaf nak, aku tidak ingin kau berbuat macam-macam diluaran sana karena aku lihat beberapa hari ini kau seperti ada dalam masalah," Mariana menatap lekat pada putrinya. Mencari kebenaran dalam manik kebiruan milik anaknya itu.
Sontak saja tatapan itu membuat Emily merasa gelisah, karena dia baru saja melakukan kesalahan dan dia tak ingin siapapun mengetahui permasalahannya.
"Moms, percayalah padaku. Aku memang menginap dirumah temanku tadi malam. Aku bosan, karena Oricon menghilang beberapa hari ini dan aku butuh teman bicara," keluhnya pada sang ibu.
Mariana memeluk sang anak mengusap pelan kepala gadis itu, dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya. Emily menyambut pelukan sang ibu, tanpa disadarinya air matanya jatuh begitu saja dari pelupuk matanya tapi dia segera menyekanya agar ibunya tidak mengetahui dirinya sedang menangis dan merutuki dirinya sendiri.