NovelToon NovelToon
Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.

"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."

"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"

Bagaimana kelanjutannya..?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Keheningan yang tercipta di dalam Vandersen Auto Gallery begitu pekat, sampai-sampai suara detak jarum jam dinding mewah merek Swiss di pojok ruangan terdengar seperti dentuman palu gada.

Manajer penjualan yang tadi berlutut di lantai marmer kini tampak seperti orang yang baru saja kehilangan separuh jiwanya. Matanya menatap kosong ke arah deretan mobil sport aerodinamis yang berkilau di bawah lampu sorot, lalu beralih ke naskah kontrak penjualan yang baru saja dicetak otomatis oleh mesin kasir.

Satu triliun dua ratus miliar rupiah sudah resmi masuk ke rekening korporasi mereka. Itu fakta nyata. Tapi, perintah Riyan untuk menjual kembali seluruh supercar edisi terbatas itu seharga dua puluh juta rupiah per unit adalah kegilaan masal yang belum pernah tertulis dalam sejarah ekonomi umat manusia!

"T-Tuan... Anda... Anda serius?" suara manajer itu bergetar hebat, giginya saling berantuk.

"Lamborghini Aventador SVJ di sebelah sana itu... nilainya dua puluh dua miliar rupiah. Anda mau melepasnya seharga motor matic yang biasa dipakai emak-emak ke pasar?"

"Gua kelihatan kayak lagi bercanda?" Riyan melipat kedua tangannya di depan dada, memasang wajah kuli proyeknya yang paling keras kepala.

"Buruan bikin pengumuman pakai pelantang suara mal. Bilang ke semua orang di luar ruko, di jalanan, siapa aja yang punya duit dua puluh juta, bawa ke sini sekarang. Cash atau transfer. Siapa cepat, dia dapat!"

Kasir wanita di belakang meja langsung gemetaran. Dengan jari-jari yang kaku, dia mengaktifkan mikrofon sistem pengumuman internal yang terhubung ke seluruh sudut Vandersen Plaza, bahkan sampai ke area parkir basement dan jalan raya di depan mal.

“P-Pemberitahuan darurat kepada seluruh pengunjung Vandersen Plaza dan masyarakat sekitar... Telah dibuka penjualan khusus di Vandersen Auto Gallery. Sebanyak tiga puluh unit supercar tipe Lamborghini, Ferrari, dan McLaren saat ini dijual dengan harga rata... dua puluh juta rupiah per unit. Diulang, dua puluh juta rupiah per unit. Kuota terbatas hanya untuk tiga puluh pembeli pertama...”

Pengumuman itu awalnya disambut oleh kesunyian di seluruh mal. Orang-orang mengira itu adalah kesalahan teknis atau lelucon dari staf magang yang bosan hidup.

Namun, ketika beberapa orang di lantai dasar memberanikan diri mengintip ke dalam showroom dan melihat naskah pengumuman resmi berkop perusahaan dengan tanda tangan Riyan yang ditulis pakai pulpen murah, badai kekacauan langsung pecah.

"Gila! Itu beneran! Di kertasnya ditulis dua puluh juta!" teriak seorang pria berjaket ojek online yang kebetulan sedang mengambil pesanan makanan di dalam mal.

Dia langsung berlari kencang, menendang pintu kaca showroom, dan membanting dompetnya ke atas meja kasir.

"Mbak! Ini duit gua di tabungan pas ada dua puluh satu juta! Gua beli Ferrari yang merah itu! Sekarang!"

"S-Saya juga, Mbak! Ini cash dua puluh juta! Gua mau yang McLaren kuning!" terigor seorang bapak-bapak tukang sapu jalanan yang kebetulan lewat di depan lobi.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, Vandersen Plaza yang biasanya tenang, wangi, dan dipenuhi oleh langkah anggun para borjuis, mendadak berubah menjadi lautan manusia yang bising.

Ratusan tukang ojek, kuli panggul, sopir angkot, hingga mahasiswa berkantong tipis berlarian masuk membelah mal, saling sikut dengan para sosialita yang hanya bisa menjerit histeris karena gaun mahal mereka terinjak-injak.

Riyan berdiri di pojok showroom dekat ban serep, menyaksikan kekacauan itu dengan senyum yang sangat lebar. Dadanya yang tadi sempat terasa nyut-nyutan akibat ancaman Sistem, kini mendadak terasa plong dan segar bugar.

Mampus lo, Sistem! batin Riyan bersorak kegirangan sampai ingin rasanya dia salto di atas kap mesin.

'Satu triliun dua ratus miliar lenyap seketika! Gua beli mahal, gua jual rugi total seharga recehan. Nilai eksklusivitas merek Vandersen hancur lebur! Barang yang tadinya disembah orang kaya sekarang dipakai buat narik ojek atau angkut karung beras! Gua pasti bebas dari kutukan ini!

Riyan memejamkan matanya dengan khidmat, bersiap mendengarkan suara notifikasi kemenangan dari Sistem yang dia harapkan akan berbunyi: 'Misi berhasil, Inang resmi bangkrut'.

Namun, harapan indahnya langsung hancur berkeping-keping ketika suara mekanis yang paling dia benci kembali bergema di dalam kepalanya dengan bunyi sirine yang jauh lebih bising dari biasanya.

[Denting Sistem! Kekacauan Finansial Skala Makro Terdeteksi!]

[Analisis Dampak Tindakan Inang: Strategi merusak harga pasar (Predatory Pricing) yang dilakukan Inang secara instan menghancurkan dominasi pasar monopoli Keluarga Vandersen. Sebanyak 30 unit supercar kini dikuasai oleh masyarakat kelas pekerja, memicu fenomena budaya baru yang viral secara global dengan tagar #KuliNaikFerrari.]

[Efek Saham Korporasi: Tindakan Inang dinilai oleh para pengamat ekonomi internasional sebagai langkah 'Short-Selling' tingkat dewa untuk menjatuhkan nilai saham induk perusahaan Vandersen Group agar bisa diakuisisi dengan harga murah.]

Riyan langsung membuka matanya dengan paksa, kelopak matanya bergetar hebat.

"Hah?! Strategi menjatuhkan saham apa lagi, woi?! Gua cuma mau buang duit!"

[Kalkulasi Dampak Lanjutan: Akibat kepanikan pasar, nilai saham Vandersen Group anjlok 40% dalam waktu sepuluh menit. Di saat yang sama, para investor global berbondong-bondong memindahkan modal mereka ke dalam perusahaan investasi milik Inang karena mengira Anda adalah 'Predator Bisnis' baru yang akan menguasai sektor otomotif. Kompensasi keuntungan dari short-selling otomatis cair!]

[Selamat kepada Inang! Rekening tabungan Anda mendapatkan suntikan dana segar dari bursa saham sebesar dua triliun rupiah! Karena Anda berhasil menundukkan saingan bisnis, reputasi dominasi Anda meningkat 500%!]

DEGG!

Riyan rasanya ingin langsung lompat ke dalam mesin molen semen yang sedang berputar. Ponsel di tangannya bergetar hebat, menampilkan notifikasi M-Banking dengan deretan angka nol yang kini sudah seperti nomor telepon internasional karena terlampau panjang.

"Dua triliun..." Riyan berbisik dengan suara parau. Air mata frustrasinya benar-benar menetes sekarang.

"Gua buang satu triliun, tapi dikembalikin dua triliun... Kenapa... KENAPA GUA GAK BISA MISKIN?!"

Di tengah keputusasaan Riyan yang mendalam, kerumunan massa di depan showroom mendadak terbelah menjadi dua secara rapi. Beberapa pengawal pribadi berjas putih bukan hitam seperti milik Keluarga Zevan melangkah masuk dengan pandangan dingin.

Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang wanita muda berambut panjang pirang platinum yang dikuncir kuda tinggi. Dia mengenakan gaun merah menyala yang sangat pas di tubuhnya, memancarkan aura kemewahan, kesombongan, dan status sosial yang sangat tinggi.

Langkah kakinya yang menggunakan sepatu berhak kaca berbunyi nyaring di atas lantai.

Wanita itu adalah Valerie Vandersen, anak gadis tunggal Keluarga Vandersen, sang Ratu Fashion dan Otomotif yang harga dirinya baru saja diinjak-injak oleh Riyan hingga ke dasar bumi.

Valerie berhenti tepat di depan Riyan. Sepasang mata birunya menatap Riyan dengan tatapan kilat amarah yang bercampur dengan rasa penasaran yang amat sangat mendalam.

Wajahnya yang cantik tampak tegang, menahan gejolak emosi karena melihat Lamborghini kebanggaannya kini sedang dinaiki oleh seorang tukang ojek yang sibuk berswafoto sambil menyalakan klakson.

"Jadi... kamu kuli bangunan bajingan yang berani menghancurkan bisnis keluargaku dalam waktu sepuluh menit?" tanya Valerie dengan suara yang bergetar menahan amarah, namun matanya tidak bisa berbohong bahwa dia sedang menatap seorang

"Monster Finansial" yang sangat mengerikan.

Riyan hanya bisa menghela napas panjang, menatap kartu nama Keluarga Zevan di kantongnya dan menatap Valerie bergantian. Dia menyadari satu hal: alurnya tidak hanya semakin rumit, tapi hidupnya sekarang sedang diseret ke dalam perang wilayah antara para nona besar yang mengira dia adalah Dewa Bisnis yang kejam.

1
adib
oke. alur awal terlalu cepat.. jadi nggak berasa .. tp udah cukup unik jalur ceritanya
Bang Haji
Kalo bikin cerita pake otak dong ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!