Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAY - Part 3
Rapat koordinasi malam itu akhirnya selesai. Di sebelah Jay, tampak Putri yang terduduk lemas dengan wajah pucat pasi karena hari pertama datang bulan. Jay sempat dirundung rasa bingung. Pasalnya, tadi pagi ia yang menjemput Gea dan mereka berangkat bersama ke kampus
menggunakan mobilnya. Namun, malam ini situasi mendadak rumit. Adam tidak ikut rapat dan Dion absen kuliah, yang berarti tidak ada teman dekat cowoknya yang bisa dimintai tolong untuk mengantar Putri pulang.
“Put, ayo bangun. Biar gue anter lo balik,” ucap Jay akhirnya, berdiri dari duduknya.
Dalam hati, sebuah pemikiran egois mendadak melintas di kepala Jay. Gak apa-apa, sesekali. Jay membenarkan tindakannya sendiri. Ia merasa ini momen yang pas agar Gea juga tahu bagaimana rasanya diabaikan dan tidak diprioritaskan dalam hubungan. Jay menoleh ke arah kekasihnya yang sedang merapikan tasnya, berkata, “Ya, aku balik duluan ya? Mau mengantar Putri dulu, nih. Udah lemas banget dia.”
“Oh iya, Ay,” jawab Gea cepat, mengangguk tanpa ragu.
Dia ingin Gea ngambek atau berkata ingin tetap ikut pulang bareng.
Respons itu di luar ekspektasi Jay. Sekali lagi, realitas tidak berjalan sesuai dengan skenario di kepalanya. Jay ingin melihat Gea merajuk. Ia ingin Gea menunjukkan gurat cemburu, atau setidaknya menuntut untuk tetap ikut pulang bersama di dalam mobil. Toh, Jay membawa mobil, kapasitasnya masih sangat cukup untuk menampung Gea. Namun, kekasihnya itu sama sekali tidak mengemis ruang.
“Kamu… gak apa-apa, kan?” Jay memastikan sekali lagi, memancing reaksi.
“Santai, Ay. Udah, sana kamu buruan jalan. Kasihan itu Putrinya udah lemas,” sahut Gea teramat tenang.
Lagi dan lagi, Jay harus menelan kekecewaan atas respons datar yang diberikan oleh kekasihnya. Umpannya mentah.
“Aku duluan ya. Kamu nanti kabarin aku ya kalo udah sampe rumah.”
Jay langsung bergerak sigap membantu membawakan tote bag berisi laptop milik Putri. Dibantu oleh Ria yang juga ikut menebeng pulang bersama mereka, Jay melangkah meninggalkan himpunan sekaligus meninggalkan Gea yang duduk sendirian di sudut ruangan.
Begitu Jay menginjakkan kaki di kamarnya sendiri, sebuah notifikasi dari Gea masuk,
mengabarkan singkat bahwa gadis itu sudah sampai di rumah dengan aman. Namun, rasa tenang Jay tidak bertahan lama. Saat ia iseng membuka aplikasi Instagram dan melihat pembaruan Story milik Malik, jantungnya mendadak berdegup kencang. Di dalam unggahan itu, Malik tampak sedang berada di kediaman Gea. Pria itu mengambil foto Gea yang
sedang duduk santai di sofa ruang tamu sembari mengobrol hangat dengan Bang Kian.
“it’s good to see your smile, Ge”
Sebuah caption singkat yang ditulis Malik, namun dampaknya cukup menghantam telak ego dan dada Jay hingga terasa sesak.
“Ngapain sih Malik malem-malem maen di rumah Gea?” tanya Jay bermonolog dengan suara tertahan. Matanya terpaku, menatap tajam ke arah layar ponsel. “Anjir lah, ini jangan-jangan Gea dianter pulang sama Malik.”
Jay mulai resah. Pikirannya dipenuhi kecurigaan yang membakar dada. Setelah mencoba menenangkan diri sejenak, Jay langsung menekan tombol panggilan untuk menghubungi Gea.
“Lagi apa?” tanya Jay begitu sambungan telepon terhubung, mencoba menahan nada suaranya agar tidak langsung meledak.
“Hey. Baru selesai bebersih nih aku,” jawab Gea dari seberang sana, suaranya terdengar riang dan
santai seperti biasa.
“Kamu… ada yang mau dikasih tau ke aku gak?” pancing Jay, nadanya mulai memberat.
Suasana di seberang telepon mendadak hening selama beberapa detik, sebelum suara Gea kembali terdengar. “Aku tadi balik dari kampus diantar sama Malik, Ay.”
Jay menghembuskan napas panjang yang sarat akan emosi, dadanya naik-turun menahan jengkel, kemudian berkata, “kenapa sih? Gak bisa pesen ojol emangnya? Sampe minta dianterin sama cowok laen tuh biar apa sih, Ge?”
Tidak ada lagi kata 'Yaya' -nama panggilan kesayangan untuk Gea- yang keluar dari mulutnya setiap kali amarahnya sudah membuncah hingga ke ubun-ubun.
“Biar apa kamu kayak gitu? Sengaja? Pengen cari cowok baru?” sembur Jay beruntun, dipenuhi tuduhan buta.
Hening.
Gea tidak langsung membalas ucapannya. Keheningan itu terasa mencekam di antara sambungan telepon mereka. Namun, hal yang sama sekali tidak Jay ketahui di malam itu adalah di balik keheningan tersebut, air mata Gea sudah jatuh membasahi pipi. Di kamarnya yang sepi, Gea sedang berjuang mati-matian menggigit bibir dan mengatur napasnya yang tercekat agar suaranya tidak terdengar bergetar di telepon. Gea menolak memperlihatkan betapa hancur hatinya mendengar tuduhan kejam tersebut.
Yang Jay tidak tahu, malam itu Gea sebenarnya sedang berusaha keras berlapang dada dan mengerti posisi Jay yang harus menolong Putri. Namun, alih-alih mendapatkan penghargaan atas
pengertiannya, Gea justru dihadiahi rentetan tuduhan murahan dari kekasihnya sendiri.
“Kok diem? Gak punya mulut kamu?” sentak Jay lagi.
“Jay, udah malem. Omongan kamu makin ngaco ah,” ucap Gea akhirnya, suaranya terdengar datar
dan lelah, mencoba mengontrol emosi. “Kamu istirahat dulu gih.”
Jay langsung mematikan koneksi panggilan secara sepihak dengan kasar, lalu melemparkan
ponselnya ke atas kasur. Napasnya memburu. Kesal. Dadanya bergemuruh hebat hingga ia rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk meluapkan ego yang membakar diri.
Namun, begitu keheningan kamar kembali mengambil alih, sebuah rasa bersalah yang teramat dingin perlahan-lahan merambat naik, mengetuk pintu hatinya. Jay terpaku di tepi ranjang. Logikanya perlahan menyadari bahwa ia baru saja melontarkan kalimat yang teramat kasar dan tidak pantas kepada gadis yang katanya ia sayangi. Namun, di saat yang bersamaan, egonya yang menjulang tinggi menolak keras untuk kalah dan meminta maaf terlebih dahulu.
...****************...
Hari-hari setelah rentetan pertengkaran itu rasanya berlalu dengan teramat lambat, berat, dan menyiksa. Di tengah kesunyian malam yang kerap menyergapnya, Jay terus-menerus teringat
akan ucapan Maya. Kalimat sahabatnya tentang bagaimana cara kekanak-kanakannya ini justru
akan berbalik melukai dirinya sendiri kini telah menjadi kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat.
Sekarang, Jay benar-benar mengerti arti kata-kata itu. Ia terluka setiap kali netranya menangkap presensi Gea di kampus. Ia terluka setiap kali ingatan di kepalanya memutar ulang betapa jahat dan kasarnya ia memperlakukan gadis setulus itu. Dan di atas segalanya, hatinya hancur berkeping-keping oleh rasa cemburu dan rendah diri yang kian hari kian beringas menggerogoti kewarasannya dari dalam.
Jay sadar, benteng pembatas di antara dirinya dan Gea sudah terlanjur terbangun terlalu tinggi. Mereka bergerak semakin jauh, menjadi dua orang asing yang canggung di bawah satu atap
himpunan yang sama. Hingga di satu titik, motivasi Jay berubah. Setiap kali Gea mencoba melangkah mendekat untuk memperbaiki keadaan, Jay memilih untuk memutar haluan dan menghindar.
Tindakan menghindar itu bukan lagi bagian dari skenario gila untuk menghukum atau memancing
cemburu sang kekasih. Jay menghindar semata-mata karena ia didera ketakutan yang luar biasa akan dirinya sendiri. Ia takut kembali melukai Gea. Sebab Jay tahu, ego dan rasa insecure di dalam dadanya telah bertransformasi menjadi sesosok monster yang tidak bisa ia kendalikan. Walau jauh di lubuk hatinya ia sama sekali tidak berniat menyakiti Gea, namun setiap kali mereka berhadapan, mulutnya seolah otomatis akan terus mengeluarkan kalimat-kalimat sinis dan tuduhan kasar yang menikam pertahanan gadis itu.
Hingga akhirnya, Jay tiba pada satu kesimpulan mutlak di siang itu, mereka berdua lebih baik berpisah. Jay menyerah. Ia sudah benar-benar kehilangan kendali atas badai perasaannya, hatinya, dan setiap ucapan yang keluar dari belahan bibirnya. Ia sudah terlanjur menyakiti Gea terlalu dalam, perempuan yang sebenarnya amat sangat ia sayangi di dunia ini. Jay tidak bisa mengelak lagi, bahwa seluruh kehancuran hubungan ini murni bersumber dari kesalahannya sendiri.
Bahkan, saat kata 'putus' itu akhirnya meluncur dari bibirnya di kafe siang itu, Jay menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sepasang mata indah milik Gea seketika kehilangan seluruh pancaran hidupnya. Senyuman manis yang biasanya menghangatkan hari-hari Jay mendadak pudar, digantikan oleh gurat kesedihan yang teramat sangat.
Dan di bawah siang yang bising itu, Jay hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya. Menatap dengan dada sesak dan penyesalan yang terlambat, saat punggung Gea perlahan melangkah menjauh, mengabur, dan benar-benar hilang dari jangkauan hidupnya untuk selamanya.
...****************...