~~
Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
****
Langkah kaki Larasati terseret limbung melewati ambang pintu kamar. Begitu daun pintu jati yang tebal itu berdentum menutup, seluruh kekuatannya seolah luruh ke lantai tegel yang dingin. Ditahannya isak tangis agar tidak terdengar sampai ke selasar luar tempat Mbok Sum dan para abdi dalem masih berjaga dengan ketakutan.
Di dalam kamar yang temaram, Larasati berjalan mendekati sebuah peti kayu kecil, satu-satunya barang yang diizinkan ia bawa dari rumah orang tuanya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh bagian paling dasar di balik tumpukan kebaya lamanya yang mulai luntur. Jemari kecilnya menarik sehelai selendang katun tipis berwarna hijau pudar.
Selendang itu bukan barang mewah. Sudut-sudutnya sudah mulai berserabut, namun benda itu membawa aroma tanah basah dan kebebasan yang tertinggal di desanya—sebuah pemberian sederhana dari Bagus, pemuda pembuat gerabah di ujung desa yang dulu kerap menunggunya di bawah pohon talok sebelum badai perjodohan ini merenggut segalanya.
Larasati mendekap selendang itu ke dadanya, membiarkan air matanya tumpah tanpa suara. “Kang Bagus…” bisik jiwanya yang terluka.
Menjadi istri seorang Raden Mas Baskoro yang bergelimang harta dan dihormati seluruh kecamatan ternyata tidak membuahkan seulas pun kebahagiaan. Singgasana joglo ini terasa gersang. Menikah dengan pria kaku berusia tiga puluh lima tahun yang menganggap senyuman sebagai kelemahan adalah neraka yang dibungkus sutra. Larasati tahu, ia tak pernah menginginkan semua kemewahan ini. Ia di sini hanya karena takdirnya telah digadaikan.
Dua hari berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Baskoro benar-benar menerapkan perintahnya; Larasati dilarang keras melangkah keluar dari area dalam joglo. Pria itu sendiri pergi sejak fajar menuju distrik seberang untuk mengurus sengketa perkebunan, meninggalkan rumah besar itu dalam cengkeraman sepi.
Rasa frustrasi dan bosan yang membakar dada membuat Larasati tidak bisa diam. Ia menolak hanya duduk di pinggir ranjang menanti malam. Dengan langkah ragu, ia menyusuri selasar tengah hingga kakinya berhenti di depan ruang kerja pribadi Baskoro—ruangan yang selama ini tabu untuk dimasuki siapa pun termasuk Mbok Sum.
Krieeek…
Pintu itu bergoyang saat Larasati mendorongnya pelan. Bau rokok klembak menyan dan minyak kayu jati kuno langsung menyengat. Ruangan itu tampak rapi namun berdebu di sudut-sudutnya. Didorong oleh keinginan untuk mencari kesibukan sekaligus rasa penasaran yang terlarang, Larasati mengambil kain perca dan mulai menyeka meja marmer hitam di sudut ruangan.
Pandangannya kemudian jatuh pada meja jati raksasa tempat Baskoro biasa memeriksa pembukuan tanah. Di sana terdapat sebuah laci besar dengan ukiran kepala naga. Larasati menyentuh gagang kuningan laci tersebut, dan di luar dugaannya, laci itu tidak terkunci. Celahnya sedikit terbuka, menampakkan gulungan-gulungan kertas tebal bercap segel lilin merah.
Entah keberanian dari mana yang merasuki jiwanya, Larasati menarik laci itu lebih lebar. Matanya tertuju pada selembar kertas merang berwarna kecokelatan yang tampak lebih kusam dari yang lain. Di bagian atas kertas tersebut, tertulis nama ayahnya: Sastro Wignyo.
Dengan jantung yang bertalu-talu bagai dideru lesung, Larasati membuka lipatan kertas tersebut. Matanya menyusuri tulisan tangan dengan aksara Jawa dan Melayu pasar yang tegas. Setiap kalimat yang ia baca perlahan mengubah aliran darahnya menjadi es.
"...Bahwa pihak pertama, Sastro Wignyo, menyatakan tidak sanggup melunasi utang pajak bumi dan sewa tanah garapan sebesar seratus ringgit kepada pihak kedua, Raden Mas Baskoro.
Maka dengan ini disepakati, seluruh utang dan tuntutan hukum dianggap lunas mutlak, dengan syarat pihak pertama menyerahkan anak perempuannya yang bernama Larasati untuk dinikahkan kepada pihak kedua tepat saat usia anak tersebut genap sembilan belas tahun, guna meneruskan garis keturunan trah..."
Tangan Larasati lemas. Kertas di genggamannya bergetar hebat hingga menimbulkan suara kresek yang lirih. Air matanya menetes, tepat mengenai cap jempol darah ayahnya di sudut kertas.
"Ternyata... hanya ini?" suara Larasati tercekat di tenggorokan. Air matanya mengalir semakin deras, menyapu pipinya yang pucat. "Aku bukan dinikahkan karena kehormatan... aku hanya barang tebusan. Dijual demi sejumput tanah..."
Jiwa mudanya hancur berkeping-keping. Segala rasa hormat dan canggung yang mulai tumbuh untuk Baskoro menguap, berganti dengan rasa jijik dan amarah yang membakar. Ia merasa dinistakan di bawah atap joglo megah ini.
Malam kembali turun, membawa hawa dingin dari puncak pegunungan. Angin berembus kencang, memukul-mukul jendela kayu hingga berderit gelisah. Larasati duduk tegak di pinggir ranjang jati, matanya menatap nanar ke arah pintu kamar. Kertas perjanjian terkutuk itu berada di genggaman tangan kanannya yang meremas hingga buku-buku jarinya memutih, sedangkan tangan kirinya memeluk erat selendang hijau pemberian Bagus.
Krieeek...
Daun pintu terbuka. Baskoro melangkah masuk dengan tubuh yang tampak lelah setelah perjalanan jauh. Ia baru saja melepas beskapnya di ruang depan, kini hanya mengenakan kemeja putih longgar. Namun, begitu melihat siluet istrinya yang duduk kaku dengan aura permusuhan yang pekat, langkah kaki Baskoro terhenti.
"Kenapa belum tidur, Larasati? Ini sudah lewat tengah malam," tanya Baskoro, suaranya terdengar berat dan lelah, namun tetap membawa ketegasan yang biasa.
Larasati tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdiri perlahan dari ranjang. Dengan tatapan mata yang berani—sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya—ia melangkah mendekati Baskoro.
Sret!
Larasati melemparkan kertas merang kecokelatan itu tepat di depan ujung kaki Baskoro yang beralaskan selop. Kertas itu mendarat dengan tidak terhormat di lantai jati.
Baskoro menurunkan pandangannya, menatap kertas yang sangat ia kenali itu, lalu kembali menatap wajah Larasati yang kini basah oleh air mata amarah. Alis tebal pria tiga puluh lima tahun itu bertaut.
"Siapa yang mengizinkanmu menyentuh barang-barang di ruang kerjaku?" suara Baskoro mendalam, ada nada ancaman yang tertahan di sana. Harga dirinya sebagai penguasa rumah terusik karena privasinya dilanggar.
"Siapa yang mengizinkan? Apakah seorang barang pajangan memerlukan izin untuk melihat harga belinya sendiri, Raden Mas?!" pekik Larasati. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian malam di dalam joglo.
Baskoro tertegun mendengarnya, namun wajahnya dengan cepat kembali mengeras seperti batu karang. "Jaga bicaramu, Larasati. Jangan berteriak di depanku."
"Kenapa?! Takut para abdi dalem mendengar bahwa Juragan besar yang mereka agungkan ternyata membeli seorang gadis desa untuk dijadikan mesin pembuat anak?!" Larasati melangkah maju satu langkah, menunjuk kertas di lantai dengan telunjuknya yang gemetar. "Ayahku bodoh! Dia mengira menyerahkanku ke sini adalah jalan menuju kemuliaan. Tapi ternyata dia hanya menjual anaknya demi melunasi utang seratus ringgit! Anda licik, Raden Mas! Anda memanfaatkan kemiskinan keluarga kami!"
Baskoro menatap Larasati dengan mata yang berkilat tajam. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang. Ia maju selangkah, memperkecil jarak di antara mereka hingga auranya yang tinggi besar mengurung tubuh mungil Larasati.
"Cukup, Larasati!" bentak Baskoro. Suara baritonnya menggema berwibawa, sanggup membuat nyali siapa pun menciut. Namun Larasati kali ini tidak mundur. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang beban yang dipikul ayahmu saat itu! Jika aku tidak mengambil perjanjian itu, ayahmu sudah mendekam di penjara kolonial dan seluruh keluargamu akan menjadi gelandangan di jalanan!"
"Lebih baik aku menjadi gelandangan! Lebih baik aku kelaparan bersama keluargaku daripada harus hidup di rumah terkutuk ini bersama pria yang tidak aku cintai!" balas Larasati dengan dada kembang kempis. Ditunjuknya dada Baskoro dengan berani. "Aku tidak bahagia di sini! Aku membenci tempat ini, aku membenci tradisi kaku ini, dan aku membenci pernikahan ini!"
Mendengar kalimat 'aku membenci pernikahan ini', ada sesuatu yang berdenyut nyeri di balik dada Baskoro. Pria itu terdiam sesaat, matanya menatap luka yang mendalam di bola mata istrinya yang masih berusia sembilan belas tahun. Ego kelakiannya yang keras merasa ditampar. Namun, pandangan Baskoro kemudian beralih pada benda yang sejak tadi didekap Larasati di tangan kirinya—sehelai selendang hijau pudar.
Baskoro menyipitkan mata. Ia mengenali selendang itu. Itu bukan buatan rumah ini, bukan pula barang yang dibeli dari pasar kota dengan uangnya.
"Apa itu?" tanya Baskoro dingin, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya.
Larasati refleks menyembunyikan selendang itu di balik punggungnya. "Bukan urusanmu!"
"Setiap jengkal tubuhmu dan apa yang kamu bawa adalah urusanku!" Baskoro merangsek maju. Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan kuat, ia mencengkeram pergelangan tangan kiri Larasati, menariknya paksa ke depan hingga selendang hijau itu terebut ke tangannya.
"Lepaskan! Jangan sentuh benda itu! Kembalikan!" jerit Larasati, ia mencoba memukul dada Baskoro dengan tangan kanannya, namun kekuatannya sama sekali tidak berarti di hadapan kekuatan fisik pria dewasa itu.
Baskoro memandangi selendang tipis di tangannya dengan rahang yang kian mengatup rapat. "Selendang katun murahan... ini milik pemuda pembuat gerabah di ujung desa itu, bukan?"
Larasati terengah-engah, menatap Baskoro dengan tatapan menantang penuh kebencian. "Iya! Itu milik Kang Bagus! Pria yang jauh lebih punya hati daripada Anda! Tubuhku mungkin bisa Anda miliki karena surat utang sialan itu, Raden Mas... tapi hatiku? Sampai mati pun, hatiku tetap tertinggal di sungai desa bersama Kang Bagus! Anda tidak akan pernah bisa memilikinya!"
Kalimat jujur yang keluar dari bibir Larasati meletupkan amarah terbesar dalam hidup Raden Mas Baskoro. Sebagai juragan yang ditakuti dan dihormati, disembah oleh ratusan kepala, malam ini harga dirinya diinjak-injak oleh istri mudanya sendiri demi seorang pemuda miskin.
Baskoro menatap Larasati dengan pandangan sedingin es yang mematikan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah menuju meja sudut tempat lampu minyak gantung berada. Diangkatnya selendang hijau itu di atas api yang menyala dari sumbu lampu teplok.
"TIDAK! RADEN MAS, JANGAN!" jerit Larasati histeris. Ia berlari mencoba meraih selendang itu.
Wusss...
Api dengan cepat melahap kain katun tipis yang kering tersebut. Hanya dalam hitungan detik, selendang hijau yang menjadi simbol kebebasan dan cinta masa lalu Larasati berubah menjadi abu kelabu yang berjatuhan ke lantai jati, berbaur dengan kertas perjanjian utang yang tercabik.
Larasati jatuh bersimpuh di lantai, menatap sisa abu yang masih membara dengan tatapan kosong. Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh kehampaan yang teramat sangat. Jiwa mudanya malam itu ikut terbakar habis bersama selendang tersebut.
Baskoro berdiri di atasnya, menatap lurus ke arah Larasati dengan wajah kaku tanpa ampun.
"Ingat posisimu sekarang, Nyai Larasati," ucap Baskoro, suaranya pelan namun bergetar oleh sisa amarah yang tertahan. "Kamu adalah istri sah dari Raden Mas Baskoro. Mulai malam ini, hapus nama pemuda itu dari otakmu. Karena di rumah joglo ini, suamimu adalah hukummu."
Baskoro berbalik, melangkah keluar dari kamar dan membanting pintu jati dengan keras, meninggalkan Larasati yang membeku dalam kegelapan malam yang kian pekat dan mencekam.
Bersambung
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
lanjut tor semangat