Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Taring dalam Bayangan (Bagian 2)
Leon menarik napas panjang.
Tangannya menggenggam erat Pedang Besi Standar yang diberikan Garrick. Keringat mulai membasahi telapak tangannya, tetapi kali ini bukan karena rasa takut semata.
Ia sedang berpikir.
Di hadapannya, Shadow Lynx berjalan memutar dengan langkah ringan. Setiap pijakannya nyaris tidak menimbulkan suara. Tiga Shadow Lynx muda tetap berada di belakang, memperhatikan setiap gerakan induknya.
Mereka benar-benar sedang belajar berburu.
"Kalau begitu..."
gumam Leon.
"...aku juga harus belajar."
Ia mengingat semua latihan bersama Rowan.
Jangan terpancing.
Jangan menyerang lebih dulu jika tidak perlu.
Lihat bahu lawan.
Lihat arah kaki.
Dan yang terpenting...
Jangan kehilangan ketenangan.
Shadow Lynx tiba-tiba menghilang.
Leon tidak panik.
Ia tidak mencoba mencari bayangan hitam itu dengan matanya.
Sebaliknya, ia menutup matanya selama sepersekian detik dan hanya mendengarkan.
Suara angin.
Desir dedaunan.
Lalu...
Krek!
Ranting kecil patah di belakang kirinya.
Leon langsung memutar tubuh.
Clang!
Pedangnya berhasil menangkis cakar Shadow Lynx.
Benturan itu membuat kedua lengannya bergetar hebat.
Namun kali ini...
Ia berhasil membaca serangannya.
Di kejauhan, Rowan mengangguk pelan.
"Bagus."
"Tapi jangan puas dulu."
Shadow Lynx kembali melompat menjauh.
Matanya kini sedikit berbeda.
Monster itu mulai menganggap Leon sebagai lawan yang layak diperhatikan.
Leon mengatur napasnya.
Ia sadar tidak mungkin mengalahkan Shadow Lynx dengan kekuatan saat ini.
Target quest hanya satu.
Bertahan hidup selama sepuluh menit.
Berarti ia harus menghemat tenaga.
Shadow Lynx menyerang lagi.
Kali ini dari sisi kanan.
Leon tidak menangkis.
Ia melangkah mundur setengah langkah.
Cakar monster itu meleset beberapa sentimeter dari dadanya.
Namun Shadow Lynx segera memutar tubuhnya untuk serangan kedua.
Leon kembali menghindar.
Serangan ketiga datang dari atas.
Leon berguling ke samping.
Debu beterbangan.
Napasnya mulai memburu.
"Jangan melawan ritmenya."
suara Rowan terdengar dari kejauhan.
"Ciptakan ritmemu sendiri."
Leon langsung memahami maksudnya.
Selama ini ia hanya bereaksi terhadap serangan Shadow Lynx.
Ia harus memaksa monster itu bereaksi terhadap dirinya.
Begitu Shadow Lynx kembali melompat, Leon tidak mundur.
Ia justru maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Pedangnya menusuk lurus ke depan.
Shadow Lynx tampak terkejut.
Monster itu memiringkan tubuhnya untuk menghindari tusukan tersebut.
Serangan Leon memang gagal mengenai sasaran.
Namun tujuannya bukan melukai.
Melainkan menghentikan ritme lawan.
Berhasil.
Shadow Lynx mendarat lebih jauh dari perkiraannya.
Jarak mereka kini sekitar lima meter.
Leon memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatur napas.
Rowan tersenyum tipis.
"Itu baru muridku."
Daren yang melihat dari belakang tampak terkejut.
"Dia berkembang secepat ini?"
Rowan menjawab singkat.
"Tekanan memaksa seseorang belajar."
Pertarungan kembali berlanjut.
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Setiap detik dipenuhi serangan dan penghindaran.
Baju Leon mulai dipenuhi sobekan kecil akibat sapuan cakar yang nyaris mengenainya.
Lengan kirinya juga terkena goresan tipis.
Rasa perih menjalar, tetapi ia tetap berdiri.
Ding!
【Insting Berkembang】
Anda mulai memahami pola serangan Shadow Lynx.
Tingkat Analisis: 12%
Leon tersenyum tipis.
"Jadi sistem juga belajar..."
Kini ia mulai menyadari bahwa Shadow Lynx selalu menggerakkan ekornya ke kiri sesaat sebelum menerkam dari kanan.
Gerakan yang sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tetapi cukup untuk dijadikan petunjuk.
Shadow Lynx menyerang lagi.
Leon melihat ekornya bergerak.
"Kanan."
Ia langsung bergeser.
Benar.
Cakar monster itu hanya membelah udara.
Untuk pertama kalinya...
Leon berhasil menghindari serangan bahkan sebelum Shadow Lynx benar-benar melompat.
Monster itu mendarat dan menatap Leon cukup lama.
Tatapan hijaunya tidak lagi dipenuhi niat membunuh.
Melainkan...
Rasa penasaran.
Tiga Shadow Lynx muda di belakangnya juga memperhatikan Leon dengan saksama, seolah sedang menghafal setiap gerakan manusia muda itu.
Di saat itulah, suara sistem kembali terdengar.
Ding!
【Quest: Pelajaran Seorang Pemburu】
Waktu Bertahan: 09:12 / 10:00
Leon menarik napas lega.
Kurang dari satu menit lagi.
Namun justru pada saat itulah...
Shadow Lynx dewasa merendahkan tubuhnya lebih rendah daripada sebelumnya.
Seluruh bulu di punggungnya berdiri.
Aura yang dipancarkannya berubah drastis.
Rowan yang melihat perubahan itu langsung membelalakkan mata.
"Leon!"
"Itu bukan serangan biasa!"
"Menjauh sekarang!"
Leon belum pernah mendengar Rowan berteriak sekeras itu.
Namun sebelum tubuhnya sempat bergerak...
Shadow Lynx sudah menghilang dari pandangan.
Lebih cepat.
Jauh lebih cepat daripada seluruh serangan sebelumnya.
Dan kali ini...
Targetnya bukan tubuh Leon.
Melainkan pedang di tangannya.