Arumi cuma wanita biasa yang hidupnya sangat sederhana. Sampai akhirnya, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Bukannya tenang, Arumi malah bangun dengan kondisi yang bikin pusing. Jiwanya terjebak di dalam tubuh pria bernama Bagas.
Belum selesai kagetnya, di kepalanya muncul suara sistem yang menyebalkan dan hobi banget mengejeknya. Sistem itu menuntut Arumi harus jadi koki hebat, padahal Arumi sendiri nggak bisa masak apa-apa.
Lebih parah lagi, Bagas ternyata adalah siswa di sekolah tentara dengan jadwal latihan yang super padat. Arumi harus berusaha keras biar nggak ketahuan sifat aslinya, sambil diam-diam menjalankan misi memasak dari si sistem yang sangat menyebalkan.
Dapatkah Arumi melewati hari-harinya di sekolah tentara tanpa ketahuan, dan bertahan dari ocehan sistem yang bikin emosi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
delapan belas ~
[Status Saldo Poin Tuan Rumah saat ini: 2.500 Poin]
[Pengurangan poin untuk pembelian paket kemampuan khusus: -1.500 Poin]
[Sisa Saldo Poin Anda saat ini: 1.000 Poin]
Bagus, sisa seribu poin bulat. Setidaknya dompet sistemku tidak langsung gundul total dan menguap entah ke mana hari ini batin Bagas meratapi angka di layar transparannya sambil menghela napas panjang yang terdengar begitu pasrah, lelah, dan penuh penderitaan batin yang mendalam.
Sore menjelang malam itu, kesibukan di area dapur utama barak militer kembali berdenyut dengan intensitas tinggi yang sangat menyiksa fisik. Sebagai seorang asisten koki yang baru saja resmi dilantik melalui jalur kilat, Bagas langsung bergerak cekatan membantu segala keperluan sang kepala koki. Berkat upgrade skill tingkat tinggi yang baru saja dibelinya dengan harga yang sangat merogoh koceknya dalam-dalam, tangan Bagas bergerak lincah tanpa hambatan mulai dari merajang sayuran, menyiapkan bumbu dasar, hingga menata bahan-bahan masakan dengan presisi tingkat dewa tanpa ada celah kesalahan sedikit pun di setiap gerakannya.
"Bagas, tolong iriskan bawang putih ini dengan potongan tipis merata ya! Jangan sampai ada yang ketebalan, nanti bumbunya tidak meresap sempurna ke dalam masakan utama!" instruksi sang kepala koki dari meja sebelah sambil sibuk mengawasi rebusan kaldu utama di atas kompor besar yang mengepulkan uap panas mengepul ke udara.
"Siap laksanakan Kepala Koki!" sahut Bagas cepat dengan suara tegas penuh semangat buatan yang dibuat-buat agar terlihat rajin.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia langsung menyambar pisau dagingnya dan merajang siung-siung bawang putih tersebut dengan kecepatan kilat layaknya chef profesional kelas kakap berpengalaman puluhan tahun.
Wah, skill level B turunan sistem ini benar-benar tidak ada obat tandingannya. Rasanya tanganku bergerak sendiri secara otomatis tanpa perlu berpikir keras atau takut teriris pisau. Uang 500 poin yang dirampok mentah-mentah oleh si Daisy dariku tadi ternyata memang sebanding lurus dengan kualitasnya. batin Bagas terkesima sambil terus menyibukkan diri membantu menyiapkan seluruh rangkaian hidangan makan malam utama bagi ratusan prajurit barak.
Setelah berjibaku selama beberapa waktu penuh tanpa istirahat yang layak, rangkaian hidangan makan malam yang lezat dan menggugah selera akhirnya selesai dimasak sepenuhnya. Makanan tersebut sukses dihidangkan secara rapi di ruang makan barak. Para tentara menyantap seluruh hidangan itu dengan sangat lahap tanpa sisa, sementara Bagas dan para koki junior mulai membersihkan sisa-sisa peralatan masak dengan perasaan lega yang luar biasa membuncah di dada mereka. Bagas bahkan sempat menyeka peluh dan keringat dingin yang bercucuran di keningnya, berpikir dalam hati bahwa hari kerjanya yang sangat panjang dan melelahkan ini telah resmi berakhir.
Namun, harapan tinggallah harapan semata. Tepat ketika Bagas baru saja hendak meregangkan otot-otot punggungnya yang terasa kaku dan pegal linu, tiba-tiba suara dengungan digital yang sangat khas berkelebat dengan liar tepat di depan retinanya.
Tring! Tring!
[Notifikasi Misi Baru dari Sistem Terdeteksi!]
[Misi Malam Ini: Buat dan sajikan hidangan penutup (dessert) istimewa berupa Mousse Cake tiga rasa pilihan (Cokelat pekat, Stroberi segar, dan Matcha autentik) serta secangkir Teh Chamomile hangat yang menenangkan untuk seluruh staf koki yang bertugas di barak ini!]
[Batas Waktu Pengerjaan Misi: 60 Menit dari Sekarang!]
Melihat deretan teks berwarna biru terang tersebut terpampang nyata tanpa belas kasihan di depannya, Bagas langsung tertegun kaku di tempatnya berdiri. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat sambil menghela napas panjang yang terdengar sangat berat dan putus asa, melampiaskan gelombang rasa lelah yang teramat sangat menghimpit dadanya.
Sialan... aku sudah menduga sejak awal bahwa takdirku pasti tidak akan jauh-jauh dari penderitaan semacam ini. Tapi tetap saja, rasanya ingin menangis darah mendapati misi keparat ini datang tepat di saat kakiku sudah mau copot karena kelelahan memasak dari tadi! batin Bagas menjerit histeris penuh keputusasaan di dalam ruang kesadarannya.
Ia sempat berniat melayangkan protes keras atau sekadar bernegosiasi secara baik-baik dengan sistem di dalam kepalanya. Namun, ide konyol itu langsung ia kubur dalam-dalam sedalam mungkin. Bagas sudah sangat hafal dengan watak aslinya entitas di dalam otaknya itu, mencoba menawar dengan Daisy hanya akan berujung pada ancaman pengurangan poin secara sepihak atau hukuman fisik yang konyol. Daisy pada dasarnya memang adalah seekor rentenir berkedok kecerdasan buatan paling kejam dan tidak punya hati nurani di muka bumi ini.
Seolah bisa membaca dengan jelas gelombang pikiran kotor Bagas yang sedang mencaci maki dirinya habis-habisan dari dalam hati, layar transparan milik sistem kembali berkedip genit menampilkan balasan kilat.
[Pesan Sistem Otomatis Terkirim:]
[Sebaiknya Tuan Rumah jangan pernah berniat sedikit pun untuk mencoba mangkir atau menolak mengerjakan misi ini, karena jika misi sampai gagal, hukuman berat dipastikan akan langsung menanti Anda di depan mata!]
[Tuan Rumah tidak perlu repot-repot mengucapkan terima kasih atas dukungan ini. Sudah menjadi kewajiban mulia sistem untuk selalu mengingatkan dan memberikan semangat penuh kepada Tuan Rumah agar tetap produktif setiap detik~]
Melihat balasan teks sistem yang bernada riang gempira namun sarat akan ancaman kematian yang mematikan itu, urat-urat di pelipis Bagas langsung berkedut kencang menahan amarah yang membara. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di udara kosong, melampiaskan kekesalannya secara batin dengan membabi buta.
Semangat kepalamu peyang?! Sialan, apa persisnya yang kau sebut sebagai semangat hah?! maki Bagas habis-habisan dengan suara bergetar di dalam kepalanya. Ancaman mati kelaparan, hukuman fisik, dan pemotongan poin secara sepihak begitu kau sebut sebagai penyemangat hidup?! Jelas-jelas aku sedang disiksa seCara mental dan dipaksa kerja rodi siang malam tanpa kenal lelah, dasar rentenir berkedok sistem sialan!
"Ada apa Bagas? Kenapa kau berdiri mematung di sudut meja sambil mengepalkan tangan begitu? Wajahmu tegang sekali, seperti orang yang mau menonjok hantu." tegur salah seorang koki junior yang kebetulan lewat sambil membawa tumpukan mangkuk bersih, membuyarkan lamunan penuh emosi Bagas.
Bagas langsung mengerjap cepat, tersenyum kaku sambil mengibaskan tangannya. "Ah, tidak apa-apa! Hanya... hanya sedang takjub dengan semangat kerjaku sendiri!" jawabnya ngeles setengah mati, menyembunyikan rasa frustrasinya.
Melihat waktu yang terus berjalan mundur di sudut layar transparan sistem, Bagas tidak punya pilihan lain. Dengan langkah gontai penuh keterpaksaan, ia kembali mengambil mangkuk besar, cokelat batangan, stroberi segar, bubuk matcha, dan bahan-bahan kue lainnya. Tangannya mulai bergerak meracik adonan mousse cake tiga rasa di tengah malam yang semakin larut, ditemani rasa kesal yang luar biasa terhadap sang sistem rentenir.
kebalikan kita Thor,, aku cow yg masuk tubuh cew🤣
Ditunggu up berikutnya othor seksoy 😘