Vera Amaira Alice seorang gadis berusia 18 tahun. Gadis ini sedang menempuh pendidikan di universitas ternama di Jakarta. Ia adalah gadis nakal yang amat mengesalkan. Karena kenakalannya, Vera di paksa menikah dengan pria dingin yang tak lain ialah dosennya sendiri.
Drag Baraq Abraham seorang pria berusia 26 tahun. Drag sangat terkenal di universitas tempatnya mengajar. Selain tampan dan berwibawa, ia juga di nobatkan sebagai dosen terkiller yang di takuti seluruh siswa.
Bagaimana jadinya jika Gadis nakal di sandingkan dengan dosen terkiller di kampus? Yuk ikuti terus kisahnya.
Cerita ini 100% Munir fiksi. Jika ada yang tak suka dengan gaya bahasa, sifat tokoh dan alur ceritanya, silahkan di skip.
🌸Terimakasih:)🌸
Ig : Jannah Sakinah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jannah sakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Password Wifi
Setelah menghabiskan ipo mie nya, Vera duduk sejenak lalu memainkan handphone mahal miliknya. Vera mengalihkan pandanganya ke salah satu pelayan cafe. "Mas,,," panggil Vera dengan suara yang lumayan keras. Pelayan cafe yang mendengar ada yang memanggilnya pun langsung berjalan ke arah meja Vera.
"Sini Mas" panggil Vera lagi sembari mengangkat dan melambai kan tangannya kepada pelayan pria itu. Pelayan cafe itu sudah berada di depan Vera.
"Iya Mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan pria itu dengan sopan dan full senyuman.
"Saya mau nanya, password wifi di cafe ini apa ya bang?!" tanya Vera tanpa rasa malu kepada pelayan cafe itu. Lucy hanya melirik Vera sekilas tanpa memperdulikan apa yang akan di lakukan gadis nakal itu. Lucy lebih memilih menikmati ipo mie nya.
"Pesan dulu kak," ucap pelayan pria itu kepada Vera. Vera mengerutkan dahinya mendengar penuturan pelayan cafe itu. Bagaimana bisa pelayan cafe itu menyuruh nya memesan makanan, sedangkan siapa saja yang melihatnya tau bahwa mereka telah memesan sesuatu, bahkan ada yang sudah habis pesanan nya.
"Kita sudah pesan loh ini?" ucap Vera sembari menunjuk semua yang berada di atas mejanya. Pelayan itu mencoba membuat Vera mengerti.
“Iya,,, kakak kan tanya password wifi kan? Pesan dulu,” ucap pelayan cafe itu dengan santai.
“Iya sudah. Kita kan sudah pesan loh. Kita kan dah pesan ini,” ucap Vera ngotot dengan wajah sedikit kesal. Pelayan cafe menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Iya kak, Pesan dulu gitu loh,,," ucap pelayan itu dengan raut wajah yang sudah mulai kesal.
“Iya. Password wifi nya apa!” ucap Vera dengan sedikit tekanan. Pelayan cafe mengeluarkan wajah frustasi.
”Ya Allah kak...Pesan dulu lah...” ucap pelayan itu meyakinkan Vera.
“Sudah kita pesan ini bang! Ngajak gado abang ini!” ucap Vera sembari menampilkan wajah kesal. Pelayan itu mengangguk dengan wajah serius menatap Vera.
”Iya kak...PESAN DULU!” ucap pelayan itu berusaha meyakini Vera.
“Ini sudah pesan Mas," ucap Vera dengan sangat kesal dan penuh penekanan. Gadis ini benar-benar tidak mau kalah.
Pelayan cafe itu lelah berdebat dengan Vera, akhirnya Pelayan cafe itupun berhenti untuk menanggapi Vera dan memilih pergi tanpa sepatah katapun. Terlihat sekali wajah kesal dan lelah pelayan itu setelah berusaha meyakinkan Vera. Vera melirik ke arah pelayan cafe yang pergi meninggalkan nya tanpa memberi tau password WiFi.
“Ih, pelit kali dia bah!” ucap Vera tak habis pikir dengan pelayan cafe itu.
Lucy memperhatikan Vera sendari tadi sembari menahan tawa nya. “Hhhh,,," tawa Lucy pecah ketika pelayan cafe itu sudah pergi meninggalkan meja mereka.
Vera memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah Lucy. Gadis nakal itu menatap Lucy dengan tatapan kesal. “Kenapa kau tertawa Lu? emang ada yang lucu di sini?!” Vera kenaikan sedikit alisnya mengintrogasi Lucy.
“Sudah lah itu. Hihihi,” Lucy terkikik kecil dengan pandangan yang sulit di artikan.
“Hmm,,,” Vera hanya berdehem kesal dengan Lucy yang menertawainya. Lucy mengulurkan tangan kanannya ke arah Vera.
“Sini handphonemu,” pinta Lucy lalu menyambar handphone Vera.
“Untuk apa?” tak biasanya Lucy meminjam handphone Vera dan hal itu membuat Vera bingung.
“Password nya apa,” tanya Lucy sembari menghadapkan layar handphone Vera tepat di depan wajahnya.
“Nggak buta loh aku Lu,,, 1 sampai 9 password nya,” ucap Vera dengan nada kesal.
Lucy membuka handphone milik Vera. Setelah hp itu terbuka, Lucy pun pergi membuka pengaturan wifi, lalu memasangkan password wifi cafe yang mereka datangi ke handphone.
“Nih,” jaringan WiFi terhubung ke handphone milik Vera. Setelah terhubung, Lucy mengembalikan handphone Vera. Vera yang bingung dan penasaran dengan apa yang di lakukan Lucy, langsung segera mengambil handphonenya dari atas meja.
“Loh kok bisa Lu?!” tanya Vera tak percaya. Matanya membulat sempurna ketika wifi cafe itu terhubung di handphone nya. Lucy tersenyum devil menatap Vera.
“Kau pula nya nggak mudeng,” ucap Lucy membuat Vera memanyunkan bibirnya.
“Maksudnya apa Lu?” tanya Vera dengan wajah ngambek.
Vera Vera,,, apa sih yang ada di Pikiranmu hingga tak fokus!
“Kau nanya Password wifi cafe ini kan?” tanya Lucy dengan nada serius. Vera mengangguk kan kepalanya.
“Iya,” jawab nya singkat.
“Ya sudah, Password nya itu pesan dulu,” ucap Lucy mencoba membuat Vera faham. Vera menaikkan sebelah alisnya. Gadis itu sudah seperti orang bodoh yang polos.
“Pesan dulu? kan kita sudah pesan Lu,” tanya Vera dengan polosnya. Dia tidak paham dengan ucapan pelayan dan Lucy. Lagi lagi Lucy di buat hilang akal oleh Vera.
“Hhhh,,,” Lucy tertawa terpikal-pikal untuk kedua kalinya. Dia sampai memegangi perutnya yang sakit karena menertawai kebodohan Vera.
Ngeselin banget sih Lucy ni. Dia dan pelayan itu sama saja ngeselin nya!
“Maksudnya, Password wifi nya itu pesan dulu. P, e, pe, s, a, sa, tambah n. Pesan. D, u, du, l , u, lu. Dulu. Jadi sandinya yang harus kau tulis agar wifi nya tersambung yaitu PESAN DULU!” ucap Lucy menjelaskan dengan rinci.
Vera membulatkan mata dan membuka mulutnya lebar. Dia baru sadar bahwa dia seperti orang bodoh sendari tadi.
“Hhhh,,, bodoh kali aku ya. Ih betul+betul nggak ngeh aku Lu. Abang tu pulak bilangnya asal-asal,” ucap Vera membela diri sembari menertawai dirinya sendiri.
“Sudah paham kau?!” tanya Lucy lalu meminum esnya tanpa mengalihkan tatapannya dari Vera.
“Iya, Hhhh” Vera menertawakan kebodohan nya.
“Kau kalau nggak bilang dari tadi sih Lu,,, kan malu aku sama Mas itu!" ucap Vera dengan ekspresi semulanya.
“Aku kan lagi makan,” ucap Lucy dengan santai.
“Hmm,,,” dehem Vera menampilkan wajah cemberut.
“Cepat habisi makananmu Ver,” ucap Lucy yang melihat sepiring nasi goreng yang belum di sentuh oleh Vera. Benar-benar perut gentong ya Vera.
“Iya,” ucap Vera sembari memakan nasi gorengnya.
Vera dan Lucy melanjutkan kegiatannya di cafe itu tanpa melihat waktu. Mereka sangat asik mengobrol dan bersenda gurau.
“Ting,” suara notifikasi pesan dari handphone Lucy.
Pesan Sasa :
“Di mana Lu?” Sasa.
“Kenapa Sa?” Lucy.
“Jam berapa pulang?” tanya Sasa.
“Bentar lagi Sa,” Lucy.
“Nanti pulang belikan makanan ya Lu, jangan lupa belikan obat lambung,” pesan Sasa sembari memberikan emot sedih.
“Belum makan kau?” tanya Lucy.
“Belum ni Lu, makanya aku suruh kau. Lambung ku kumat,” Sasa.
“Ya sudah aku pulang sekarang ya, tahan ya Sa, nanti kita berobat.” Lucy terlihat cemas memikirkan keadaan Sasa.
“Iya Lu, hati-hati ya. Maaf merepotkan.” Pesan Sasa tak enak hati.
“Nggak ngerepotin kok.” Balas Lucy dengan emot tersenyum.
Pesan berakhir.
tetap semangat