Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ethan Gilbert
Pria itu menatap wanita yang memanggilnya dengan sebutan kakak menggunakan sorot mata yang datar. Tidak ada sedikit pun kehangatan di wajahnya. Tatapannya kemudian beralih kepada Brad, yang masih gemetar ketakutan. Darah mengalir dari pelipis hingga membasahi pipinya. Tubuh pria itu terkapar di tanah setelah menerima serangan brutal Ana beberapa saat lalu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu melangkah mendekati Brad. Dengan gerakan tenang, ia meraih lengan sahabatnya dan membantu pria itu berdiri.
"Ethan," suara Ana terdengar lirih. Rasa sakit akibat pukulan Ethan masih terasa hingga ke seluruh tubuhnya, tetapi itu tidak mampu menghentikan tekadnya.
Keheningan menjadi jawaban.
"Ayah membutuhkanmu. Kami semua membutuhkanmu. Pulanglah bersamaku," pinta Ana sambil berusaha bangkit meski tubuhnya masih gemetar menahan nyeri. Namun Ethan tetap membisu.
Dia memapah Brad dan berjalan meninggalkan tempat itu, seolah suara Ana hanyalah hembusan angin yang tak pantas didengar."Seberapa keras pun kau menolak, kau tetap darah daging keluarga Gilbert!" teriak Ana dengan suara yang mulai bergetar. "Lucifer telah memilihmu. Kau sudah ditakdirkan menjadi pemimpin keluarga ini, Kak!"
Langkah Ethan akhirnya terhenti, dia berbalik, tatapannya jatuh pada Ana yang masih terduduk di tanah dengan wajah meringis menahan sakit. Sorot matanya begitu dingin hingga membuat udara di sekitar terasa semakin membeku."Jangan pernah bicara soal takdir di hadapanku," ucap Ethan pelan, tetapi setiap katanya terdengar tajam bagai pisau. "Pergilah, dan berhenti mencariku. Sudah berkali-kali kukatakan, aku bukan lagi bagian dari keluarga yang kau banggakan itu." Ethan menarik napas pendek sebelum melanjutkan."Dan satu hal lagi, keluarga itu membuatku muak."
Ana mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras menahan amarah yang sejak tadi berusaha ia redam.
"Kau begitu keras kepala," gumam Ethan sebelum kembali membalikkan badan.
"KAU YANG KERAS KEPALA, ETHAN!" Teriakan Ana menggema di tengah sunyinya hutan."Apa kau pikir dengan melarikan diri semuanya akan selesai? Sampai kapan kau terus menyangkal kenyataan?"
Ethan tidak menjawab, dia kembali melangkah tanpa sekalipun menoleh.
Ana hanya mampu menatap punggung kakaknya yang semakin menjauh. Dadanya terasa sesak. Berkali-kali ia datang untuk membujuk Ethan, tetapi hasilnya selalu sama. Tidak ada satu pun kata yang mampu meluluhkan hati pria itu.
Ethan Gilbert. Kakak kandungnya.
Bertahun-tahun lalu, Ethan meninggalkan keluarga Gilbert setelah mengetahui dosa yang dilakukan ayah mereka, Markus Gilbert. Demi memperoleh kekuatan untuk menumbangkan Pangeran Arthur, Markus membuat perjanjian terlarang dengan Lucifer. Sebagai imbalannya, iblis itu menanamkan kekuatan terkutuk kepada salah satu keturunan keluarga Gilbert.
Orang yang terpilih adalah Ethan.
Sejak hari itu, hidup Ethan berubah. Kekuatan yang seharusnya menjadi kebanggaan keluarga justru dianggapnya sebagai kutukan. Ia menolak takdir yang dipaksakan kepadanya dan memilih memutus semua hubungan dengan keluarga Gilbert. Baginya, darah yang mengalir di tubuhnya adalah pengingat atas keserakahan ayahnya sendiri.
Ana menggigit bibir bawahnya pelan. Seandainya saja Lucifer memilih dirinya, semua persoalan ini mungkin tidak akan serumit sekarang. Ia rela memikul kutukan itu jika memang dapat menyelamatkan keluarganya. Sayangnya, takdir berkata lain.
Tanpa Ethan, keluarga Gilbert kehilangan satu-satunya harapan untuk menghadapi Arthur. Tidak ada seorang pun yang mampu menandingi kekuatan monster itu selain pewaris kutukan Lucifer. Ironisnya, orang yang menjadi harapan terakhir mereka justru membenci keluarganya lebih dari apa pun. Bahkan untuk mengakui Ana sebagai adiknya saja, Ethan tidak lagi sudi.
***
"Jadi kalian benar-benar akan pergi dari sini?" tanya Sonja dengan wajah penuh kegelisahan setelah mendengar rencana Alea dan Elleanor yang akan meninggalkan kastil.
"Kami akan kembali, Sonja," jawab Alea lembut, berusaha menenangkan sahabatnya. "Begitu urusan kami selesai."
Meski terdengar tenang, hati Alea sebenarnya diliputi kecemasan. Sejak tadi ia terus memikirkan Alex. Entah mengapa, firasat buruk terus menghantuinya. Ikatan batin yang ia miliki dengan sang pangeran seolah memberi tahu bahwa sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.
"Bolehkah aku ikut, Lea?" pinta Sonja pelan.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Sonja." Suara dingin itu memotong pembicaraan mereka. Ketiga wanita itu serempak menoleh.
Arthur berdiri, bersandar di dinding batu kastil dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya begitu tajam hingga membuat suasana yang semula hening berubah mencekam.
"Kemarilah." Arthur mengangkat dagunya memberi isyarat kepada Sonja.
"Arthur..."
"Mendekat." Nada suaranya terdengar datar, tetapi penuh penekanan. Perintah yang sama sekali tidak memberi ruang untuk ditolak.
Sonja mengembuskan napas panjang. Dengan langkah pelan ia menghampiri Arthur. Ia tahu persis bagaimana sifat pria itu. Semakin dibantah, semakin keras pula sikapnya. Begitu Sonja berada di hadapannya, Arthur langsung menarik pinggang gadis itu hingga tubuh mereka nyaris tak berjarak.
Sonja hanya bisa memejamkan mata sejenak, pasrah berada dalam pelukan pria yang selalu bersikap dominan itu. Tatapan Arthur kemudian beralih kepada Alea dan Elleanor."Begitu juga kalian."
Sorot matanya berubah semakin dingin."Tidak seorang pun boleh meninggalkan kastil ini."
Alea mengerutkan dahinya."Kami memiliki urusan penting yang harus diselesaikan. Setelah semuanya selesai kami akan kembali." Dia menggenggam tangan Elleanor."Ayo, Elle."
Tanpa menunggu persetujuan Arthur, Alea berbalik dan mulai melangkah menuju pintu keluar kastil.
"Percuma." Satu kata itu membuat langkah mereka terhenti. Arthur masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi datar."Pemimpin kalian sudah mati."
Tubuh Alea dan Elleanor seketika membeku.
"Markus Gilbert bekerja sama dengan para Tetua Vampir. Mereka melakukan pemberontakan dan berhasil melumpuhkan Fabian Kell."
Suasana berubah sunyi.
"Tidak, itu tidak mungkin," gumam Elleanor lirih.
Keduanya segera menoleh ke arah Arthur, berharap menemukan secercah kebohongan di wajah pria itu. Namun yang mereka lihat hanyalah ketenangan yang mengerikan."Markus membantai semua vampir yang menentangnya," lanjut Arthur tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. "Tak terkecuali ayahku."
Kalimat terakhir itu terdengar begitu dingin. Seolah pria itu sedang membicarakan kematian orang asing, bukan ayah kandungnya sendiri.
"Lalu, Pangeran Alex?" suara Alea bergetar. Dadanya terasa sesak. Arthur memang musuh mereka, tetapi ia tidak pernah berbohong mengenai hal-hal penting.
Mendengar nama Alex, sudut bibir Arthur terangkat membentuk senyum tipis."Tenang saja." Senyumnya semakin lebar."Kekasihmu itu belum mati."
Alea spontan mengangkat wajahnya.
"Dia jauh lebih tangguh daripada yang kau bayangkan. Makhluk rendahan seperti Markus tidak akan mampu membunuhnya."
Tanpa sadar Alea mengembuskan napas lega. Meski begitu, kecemasan di hatinya belum juga menghilang."Di mana dia sekarang?" tanyanya cepat.
Arthur mengangkat bahu."Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti..." Sorot matanya berubah tajam."dia masih bernapas."
"Aku harus menemukannya." Alea kembali melangkah, tetapi suara Arthur kembali menghentikannya.
"Silakan pergi." Nada suaranya terdengar tenang. Namun justru ketenangan itulah yang terasa paling mengancam."Tapi ingat baik-baik." Begitu kalimat itu terucap, hawa dingin memenuhi ruangan."Begitu kalian melangkahkan kaki keluar dari kastil ini..." Arthur menatap Alea dan Elleanor bergantian."aku akan menganggap kalian sebagai musuh." Dia berhenti sesaat."Dan semua musuhku hanya memiliki satu akhir." Senyumnya menghilang."Kematian."
Jantung Alea dan Elleanor berdegup semakin cepat. Mereka saling berpandangan. Pergi berarti memiliki kesempatan menemukan Alex. Tetapi juga berarti harus berhadapan langsung dengan Arthur. Dan melawannya sama saja dengan mencari kematian.
Akhirnya Alea mengembuskan napas kasar. Dia menggertakkan giginya sebelum perlahan melepaskan tangan Elleanor yang sejak tadi digenggam erat. Untuk sementara, dia akan memilih bertahan.
Sementara itu, Sonja masih terdiam dalam pelukan Arthur. Tatapannya tidak lepas dari wajah pria itu. Mungkin orang lain tidak menyadarinya. Namun Sonja melihat sesuatu yang berbeda. Di balik wajah dingin dan sorot mata tanpa belas kasihan itu, tersimpan kesedihan yang begitu dalam. Bagaimanapun juga, Fabian Kell adalah ayah kandung Arthur. Tak mungkin kehilangan itu sama sekali tidak meninggalkan luka.
Merasa terus diperhatikan, Arthur menoleh ke arah Sonja."Apa?" Alisnya terangkat tipis."Kau juga berniat menentangku?"
Sonja segera menggeleng pelan."Tidak." Dia menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Arthur. Sesungguhnya ia ingin mengatakan bahwa pria itu tidak perlu berpura-pura tegar. Namun dia tahu, Arthur adalah sosok yang tidak akan pernah membiarkan siapa pun melihat kelemahannya.
Di sisi lain, Alea hanya mampu menghela napas panjang. Setidaknya kini ia mengetahui satu hal yang paling penting. Pangeran Alex masih hidup. Dan selama pria itu masih bernapas, harapan mereka belum sepenuhnya sirna.