Bianca Fernandez baru saja putus dengan kekasihnya yang berpacaran dengannya selama tiga tahun. Hatinya sangat hancur dan ia memutuskan pergi ke suatu tempat dan tak sengaja bertemu dengan Lucas Taylor. Ironisnya takdir kembali mempertemukan mereka yang ternyata akan menjadi saudara tiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
"Tolong aku, Lucas." Pinta Bianca seraya terus mengusap bulir bening yang terus mengalir dari kelopak matanya.
"Sialan, Taylor!" Brian terus menggeram kesakitan karena Lucas terus memukulnya dengan membabi buta.
Akhirnya Brian terpaksa membuka pintunya dan keluar untuk meladeni musuhnya itu. Melihat itu, Lucas menyuruh Bianca untuk segera keluar juga. "Keluar, Bianca."
"Kau seharusnya fokus ke lawanmu, Taylor."
BUGH... BUGH...
Tidak ingin kehilangan kesempatan saat perhatian Lucas teralihkan, Brian langsung saja menghujaninya dengan tinjunya. Tapi tidak bertahan lama, Lucas dengan cepat membalas Brian.
Bianca yang tak jauh dari mereka, menyaksikan perkelahian itu. Melihat Lucas yang seperti kesetanan dan seperti berniat membunuh Brian, membuat ia memberanikan diri untuk menghentikannya.
"Lucas, hentikan! Kamu bisa membunuhnya." Pinta Bianca seraya berusaha memegang lengan pria itu.
"Kau tidak ingat? Tadi dia hampir saja membunuhmu!"
"Dia sudah sekarat. Kau bisa membunuhnya!"
"Oh, iya. Aku minta maaf karena memukul kekasih mu!" kata Lucas dengan nada kasar seraya menekan kata 'kekasih'.
"Tidak, aku bukan kekasihnya. Dia membunuh Clara, Lucas. Aku juga sangat membencinya." Ujar Bianca seraya mengalihkan pandangannya ke Brian yang masih tergeletak tak sadarkan diri. "Biarkan saja dia seperti ini. Besok aku akan melaporkannya ke polisi," imbuhnya.
Tubuh Bianca tiba-tiba ditarik ke dalam pelukan Lucas. Cukup lama, bahkan Bianca tak kuasa melepaskan diri dari pelukan hangat saudara tirinya itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Lucas.
Bianca mendongak menatap Lucas lalu mengangguk, "Aku baik-baik saja, terima kasih."
Lucas menatap cukup lama Bianca, kemudian mengecup kening wanita itu. "Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Udara saat ini sangat dingin namun Bianca merasa suhu tubuhnya seperti sangat panas. Dia berani bertaruh kalau sekarang ini pasti pipinya sudah seperti kepiting rebus. Detak jantungnya juga kian menggila, ini tidak baik untuk tubuhnya, jadi ia mendorong pelan tubuh Lucas agar menjauh darinya.
"Sebaiknya kita segera masuk, luka di wajahmu harus segera diobati." Tandas Bianca seraya berjalan mendahului Lucas.
Lucas tersenyum tipis, ia merasa lucu dengan tingkah wanita itu yang sedang salah tingkah. Tanpa mereka berdua sadari, seseorang telah melihat mereka sedari tadi.
__
Ruang tamu di kediaman keluarga Taylor didominasi oleh suara erangan tertahan oleh Lucas. Luka akibat pertengkaran dirinya dan Brian sedang ditangani oleh Bianca.
"Gunanya para bodyguard yang kau kerjakan untuk apa sebenarnya, huh? Bukannya menolongmu, mereka malah menonton dari jauh." Ujar Bianca seraya mendengus kesal. Hingga tak sadar ia menekan kapas dengan cukup kuat pada luka Lucas. Pria itu hanya bisa mengerang kesakitan.
Lucas menahan pergerakan tangan Bianca dan menatapnya, "Bisakah kau melakukannya dengan lembut? Bagaimanapun aku sudah membantumu. Brian hanya seorang diri, kalau sampai aku memanggil para bodyguard, harga diriku jatuh."
Bianca memutar bola matanya jengah, para pria terlalu meninggikan kehormatan mereka seperti seorang pejuang.
Jika diingat kejadian tadi, Bianca sulit percaya bahwa Brian yang memanipulasi kecelakaan Clara padahal ia yang membunuhnya. Tidak hanya membunuh Clara tetapi juga membunuh darah daging pria itu sendiri yang berada di dalam rahim wanita yang ia bunuh.
Kenyataan yang baru saja ia ketahui bagaikan sambaran petir di siang hari. Terasa mustahil, pria yang berpacaran dengannya selama tiga tahun itu adalah pembunuh berdarah dingin.
Tidak hanya fakta itu saja tetapi fakta bahwa Brian ingin kembali bersamanya agar digunakan sebagai alat untuk melawan Lucas. Setelah ditinggalkan ayahnya, apakah ia pantas mendapatkan hidup seperti ini? Apakah ia tidak pantas untuk bahagia sedikit pun?
Melihat Bianca yang terlihat melamun dan bersedih membuat Lucas khawatir dengan wanita itu.
Lucas meraih tangan Bianca, "Hei. Kamu baik-baik saja?"
Bianca menggeleng pelan, "Aku? tentu saja, tidak. Pacarku... hm, maksudku mantan pacarku berselingkuh dengan sahabatku dan dia hamil. Tapi karena ingin kembali bersamaku dia membunuh sahabatku beserta darah dagingnya. Tidak hanya sampai situ, dia merayuku untuk kembali dengannya supaya aku bisa digunakan sebagai alat untuk permasalahan di antara kalian berdua."
"Semua akan baik-baik saja, Bianca. Aku berjanji." Ujar Lucas dengan penuh keyakinan seraya mengusap lelehan air mata di pipi Bianca.
Manik segelap malam bertemu dengan manik coklat penuh kesedihan. Saling mengunci dalam diam dan seperti saling mengutarakan isi hati lewat tatapan mereka. Perlahan-lahan wajah mereka saling berdekatan hingga merasakan deru napas diantara keduanya. Hampir saja kedua bibir mereka bersentuhan, kalau saja Bianca tidak menarik dirinya.
"Aku harus beristirahat sekarang," ujar Bianca.
"Aku akan mengantarmu." Lucas berdiri seraya menggenggam tangan Bianca dan menuntunnya ke kamar wanita itu.
Setelah sampai, Lucas membantunya membuka sepatunya dan membaringkan tubuh adik tirinya itu ke ranjangnya.
"Selamat malam, Bianca." Ucap Lucas seraya meninggalkan kamar itu.
Lucas menuruni tangga sambil tangannya melonggarkan dasinya. Ia tersenyum senang karena rencananya malam ini berjalan lancar.
Flashback On
"Ada apa?" tanya Jonathan yang baru saja sampai di ruang tamu kediaman keluarga Taylor.
"Kau sudah menemukan kejanggalan kecelakaannya Clara, sahabatnya Bianca?" Lucas masih terlihat berkutat dengan tablet kantornya.
"Yup! Seperti firasat kamu, kecelakaan Clara Wilson ada hubungannya dengan Brian." Jawab Jonathan seraya tersenyum menyeringai. "Bahkan bisa dibilang dia adalah pembunuhnya."
Ucapan Jonathan sukses menarik perhatian Lucas dari tablet kantornya itu. Ia tersenyum miring seraya mematikan tabletnya. Kecurigaannya benar adanya, berarti ini adalah akhir dari putra tunggal keluarga Miller itu. Bahkan uang pun tidak bisa menolong pria itu, ia akan melawannya dan menjebloskannya ke dalam penjara. Bianca pun akan membenci Brian seumur hidup, maka tidak ada lagi saingannya untuk mendapatkan hati Bianca.
"Jadi apa langkah apa selanjutnya?" tanya Jonathan
Lucas tersenyum menyeringai, membuat bulu kuduk Jonathan berdiri. Ia tahu arti dari senyuman iblis itu, Lucas akan bermain dengan gila.
"Pertama-tama kirim bukti-buktinya ke Bianca lalu..." Ucapan Lucas terhenti karena ia menyesap minumannya lalu mendesah karena merasakan kenikmatan wine itu. "Lalu kirim ke segala sosial media. Dia harus tahu, seperti apa aku kalau betulan ingin menyerang musuh." Imbuhnya lalu meletakkan kembali gelas berisi anggur itu.
Jonathan tersenyum sumringah, "Dengan senang hati." Ia pun meninggalkan Lucas dengan senyum menyeringai. Sepertinya tidak perlu repot-repot membuat rencana untuk berkhianat karena dengan sendirinya Lucas akan hancur sebab drama percintaannya.
Flashback Off
Seorang wanita berpenampilan sangat mewah memasuki resort Family Beach. Ia celingukan mencari seseorang yang ingin ia temui.
"Ada apa, Gabby? Tumben sekali kamu pulang." Mendengar suara si wanita yang ternyata adalah Gabby, langsung saja memeluk pria paru baya itu.
"Aku merindukanmu, Ayah."
Pria paru baya yang dipeluk oleh Gabby adalah Antonio Douglas, ayah dari Gabby.
"Aku mendengar kejadian malam itu. Maaf aku baru mengunjungimu."
"Iya, ayah mengerti. Pastinya anak ayah akan lebih khawatir dengan kondisi kekasihnya dari pada kondisi ayahnya sendiri."
Gabby tersenyum cemberut, "Jangan cemburu, Ayah."
...^^^...Bersambung.......^^^...
gak seru...thor