Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Baru di Rumah Paviliun
Dua hari berlalu laksana kedipan mata yang membawa perubahan besar. Pagi itu, atmosfer di Kamar 204 Ruang Dahlia tidak lagi dipenuhi oleh ketegangan atau aroma kecemasan yang mencekik. Tirai hijau yang selama beberapa hari terakhir menjadi saksi bisu air mata Aluna kini telah disibak lebar, membiarkan cahaya matahari pagi menembus masuk dan menerangi seluruh sudut ruangan. Pak Kusuma sudah duduk tegak di tepi tempat tidur rumah sakit, mengenakan kemeja batik bersih yang dibawa Aluna dari kontrakan lama. Guratan lelah di wajah tuanya telah digantikan oleh binar kehidupan yang baru.
Dokter spesialis saraf masuk untuk terakhir kalinya, membawa selembar berkas rekam medis dan tersenyum hangat kepada keluarga kecil itu. "Semua hasil pemeriksaan fisik terakhir menunjukkan pemulihan yang luar biasa, Pak Kusuma. Tekanan darah normal, motorik berfungsi sangat baik, dan luka pascaoperasi di kepala sudah mengering dengan sempurna. Mulai hari ini, Bapak resmi diperbolehkan pulang."
Aluna yang berdiri di samping ayahnya langsung mengembuskan napas lega yang teramat dalam. Ia menoleh ke arah Elvan yang berdiri kokoh di dekat pintu, membawa tas berisi pakaian ganti mereka. Tatapan mata mereka bertemu, dan seulas senyuman tulus terukir di bibir Aluna, memancarkan rasa terima kasih yang tidak pernah putus untuk suaminya.
"Ingat ya, Mbak Aluna," dokter itu beralih menatap Aluna, memberikan wejangan terakhir. "Meskipun sudah boleh pulang, Pak Kusuma masih harus rutin meminum obat jalan dan tidak boleh melakukan aktivitas berat terlebih dahulu. Hindari stres fisik maupun psikologis agar pemulihan jaringan otaknya tetap berjalan optimal."
"Baik, Dokter. Kami akan mengingatnya dengan sangat baik. Terima kasih banyak atas seluruh bantuannya," jawab Aluna dengan nada penuh hormat.
Setelah dokter dan perawat pamit meninggalkan ruangan, Elvan langsung bergerak taktis. Ia membantu Pak Kusuma untuk berdiri secara perlahan, menopang tubuh ringkih mertuanya dengan lengan kekarnya yang kuat dan stabil.
Gestur Elvan yang begitu sigap dan penuh hormat membuat Pak Kusuma menepuk lengan menantunya itu dengan rasa bangga yang tidak disembunyikan.
"Mari, Pak. Kendaraan kita sudah menunggu di lobi bawah," ucap Elvan dengan suara baritonnya yang rendah dan menenangkan.
Mereka berjalan perlahan menyusuri koridor rumah sakit yang selama berhari-hari ini menjadi saksi drama hidup mereka. Saat melintasi lobi utama yang ramai, Aluna sempat mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan waspada, teringat akan ancaman preman-preman rentenir tempo hari. Namun, suasana lobi tampak sangat aman dan terkendali. Tidak ada tanda-tanda keberadaan pria berjaket kulit hitam maupun anak buah Gito lainnya.
Di sudut area parkir, beberapa pria berbadan tegap dengan pakaian sipit tampak berdiri santai namun dengan mata yang mengawasi situasi sekitar, personel keamanan rahasia yang ditempatkan Bram tanpa disadari sedikit pun oleh Aluna.
Sebuah taksi mewah berukuran besar yang telah disiapkan oleh Elvan (melalui perantara samaran) sudah terparkir rapi di depan lobi. Elvan membantu Pak Kusuma masuk ke kursi tengah dengan sangat hati-hati, memastikan posisi kepala pria tua itu nyaman dan aman dari guncangan. Aluna menyusul masuk di samping ayahnya, sementara Elvan duduk di kursi depan di sebelah pengemudi.
Perjalanan menuju rumah paviliun baru di pinggiran kota berlangsung dengan sangat tenang. Taksi melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai padat, bergerak menjauh dari kawasan kumuh penuh kenangan pahit menuju daerah yang lebih asri. Sepanjang perjalanan, Aluna terus menggenggam tangan ayahnya, sesekali melempar pandang ke arah spion tengah, di mana ia bisa melihat siluet tegas wajah Elvan yang menatap lurus ke depan dengan pembawaan tenangnya yang luar biasa intimidatif namun meneduhkan.
Satu jam kemudian, mobil taksi berbelok memasuki gerbang perumahan klaster yang dijaga ketat oleh petugas keamanan berseragam rapi. Begitu taksi berhenti tepat di depan halaman rumput hijau rumah paviliun baru mereka, Pak Kusuma tampak tertegun dari balik kaca mobil. Matanya membelalak kecil melihat bangunan minimalis putih bersih yang tampak begitu terawat dan damai.
"Aluna... apakah ini benar-benar tempat yang kita sewa?" bisik Pak Kusuma dengan suara bergetar karena tidak percaya. "Ini... ini terlalu bagus untuk ukuran kantong kita, Nak."
Aluna tersenyum manis, membantu ayahnya turun dari mobil. "Ini semua berkat relasi Mas Elvan, Ayah. Teman baik Mas Elvan meminjamkan rumah paviliun ini dengan harga yang sangat bersahabat karena beliau harus bertugas di luar negeri dalam waktu yang lama. Ayah tidak perlu cemas memikirkan biaya, yang penting Ayah bisa beristirahat dengan tenang di sini."
Elvan berjalan di depan, membuka pintu utama kayu jati dan mempersilakan mertuanya masuk. Begitu melangkah melewati ambang pintu, aroma wangi melati dan udara sejuk pendingin ruangan langsung menyambut mereka.
Elvan menuntun Pak Kusuma menuju kamar utama yang terletak di sudut belakang.
Kamar itu tampak sangat luas dengan sebuah tempat tidur medis khusus yang kasurnya sangat empuk. Jendela kaca besar di kamar itu sengaja disingkap, menampilkan pemandangan taman belakang kecil yang ditumbuhi bunga-bunga hias beraneka warna dan sebuah kolam ikan kecil yang mengeluarkan suara gemercik air yang menenangkan jiwa.
"Bapak beristirahatlah di sini," ucap Elvan sambil membantu Pak Kusuma membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia menata letak bantal dengan cekatan agar posisi kepala mertuanya tetap tegak dan nyaman. "Jika Bapak membutuhkan sesuatu, tombol di dekat nakas ini terhubung langsung dengan bel di ruang tengah. Saya dan Aluna akan selalu bersiap di luar."
Pak Kusuma menatap Elvan dengan mata yang berkaca-kaca karena haru. Pria tua itu meraih tangan Elvan dan menggenggamnya erat. "Terima kasih ... Terima kasih banyak, Nak Elvan. Kamu tidak hanya menyelamatkan nyawa saya, tapi kamu juga memberikan martabat dan tempat tinggal yang sangat layak bagi anak perempuan saya. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas seluruh kebaikanmu ini ..."
"Bapak tidak perlu memikirkan hal itu," jawab Elvan dengan ketulusan yang murni terpancar dari mata elangnya. "Melihat Bapak sehat dan Aluna bisa tersenyum kembali, itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Istirahatlah, Pak."
Setelah memastikan ayahnya tertidur lelap karena kelelahan selama perjalanan, Aluna melangkah keluar dari kamar dengan perlahan, menutup pintu kayu itu tanpa suara. Langkah kakinya membawanya menuju ruang tengah, di mana Elvan sedang berdiri di dekat dapur bersih, menuangkan air putih ke dalam dua gelas kaca.
Aluna berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di hadapan Elvan. Rasa emosional yang meluap di dalam dadanya membuat tenggorokannya mendadak terasa tersumbat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aluna maju satu langkah dan langsung melingkarkan kedua lengan kecilnya di sekeliling pinggang tegap Elvan. Ia menyandarkan pipinya di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung pria itu yang stabil dan menenangkan.
Elvan sempat tertegun selama beberapa detik karena tindakan spontan Aluna. Tubuh kekarnya menegang kaku, tidak terbiasa dengan sentuhan fisik yang penuh kehangatan emosional seperti ini sepanjang hidupnya yang dingin di dunia bisnis atas.
Namun, perlahan-lahan ketegangan di tubuh Elvan mencair. Ia mengangkat kedua tangan besarnya, membalas pelukan Aluna dengan mendekap punggung wanita itu lembut, menenggelamkan wajahnya di antara rambut hitam panjang Aluna yang beraroma harum sampo murah namun sangat memikat.
"Terima kasih, Mas ..." bisik Aluna dengan suara yang teredam di dada Elvan. Setitik air mata kebahagiaan lolos dari sudut matanya, membasahi kaus polos hitam yang dikenakan Elvan. "Terima kasih untuk rumah ini, untuk perawatan Ayah, dan untuk perlindungan yang selalu kamu berikan. Di tempat ini, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan karena utang Doni, aku merasa benar-benar memiliki sebuah rumah yang sesungguhnya. Aku merasa aman karena ada kamu di sisiku."
Elvan mempererat pelukannya selama beberapa saat, menghirup aroma ketenangan yang dipancarkan oleh tubuh Aluna. Rasa memiliki yang sangat kuat mendadak mengakar kian dalam di lubuk hati sang pewaris Adhitama Group itu. Wanita di pelukannya ini bukan lagi sekadar orang asing yang ia tolong demi formalitas; Aluna telah bertransformasi menjadi belahan jiwanya yang wajib ia lindungi dari badai apa pun di dunia ini.
"Aku sudah berjanji padamu, Aluna," ucap Elvan dengan suara baritonnya yang rendah dan penuh getaran komitmen yang mutlak di dekat telinga Aluna. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun orang jahat yang bisa mengusik ketenangan hidupmu atau ayahmu lagi. Rumah ini adalah awal yang baru untuk kita."
Aluna melepaskan pelukannya perlahan, mendongak untuk menatap wajah tampan Elvan dengan pipi yang merona merah muda yang sangat cantik. Ia menyeka sisa air mata di sudut matanya sambil tersenyum malu. "Maaf, Mas ... aku mendadak jadi sangat cengeng akhir-akhir ini."
Elvan terkekeh pelan, sebuah suara tawa rendah yang terdengar sangat seksi dan menawan di telinga Aluna. Jemari besar Elvan bergerak lembut, mengusap sisa air mata di pipi Aluna. "Tidak apa-apa. Kamu boleh menangis sepuasmu di depanku, asalkan itu adalah air mata kebahagiaan, bukan karena ketakutan."
Suasana di ruang tengah paviliun itu mendadak berubah menjadi sangat intim dan hangat. Jarak di antara wajah mereka begitu dekat hingga Aluna bisa merasakan hembusan napas hangat Elvan di keningnya. Benih-benih cinta yang tumbuh dari situasi darurat di koridor rumah sakit kini mulai mekar dengan indah di bawah atap rumah baru mereka, mengikat takdir dua anak manusia itu ke dalam tingkat kedekatan emosional yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Malam pun perlahan tiba menggantikan sore yang syahdu. Aluna sibuk di dapur bersih, memasak sup ayam hangat dan menanak nasi menggunakan bahan-bahan makanan yang ternyata sudah terisi lengkap di dalam lemari es, hasil kerja rahasia tim Bram lagi. Aroma harum masakan rumahan memenuhi seluruh penjuru rumah paviliun, menciptakan atmosfer keluarga yang sesungguhnya.
Sementara Aluna memasak, Elvan duduk di ruang tengah dengan laptop di pangkuannya. Di bawah lampu temaram, ia sedang memeriksa beberapa dokumen laporan keuangan penting Adhitama Group yang dikirimkan oleh Bram secara rahasia melalui surel terenkripsi. Meskipun fisiknya berada di rumah paviliun tersembunyi ini, kendali bisnis makro perusahaan multinasional itu tetap berada di bawah kendali jemarinya yang taktis.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan singkat muncul di sudut layar laptop Elvan. Pesan itu datang dari nomor rahasia Bram.
[“Tuan Muda, laporan intelijen malam ini menunjukkan bahwa Nyonya Besar telah menyewa detektif swasta tingkat tinggi untuk melacak aset-aset sekunder kita di luar kota. Mereka mulai mencurigai beberapa klaster perumahan baru. Tetap waspada, kami akan memperketat perimeter keamanan di sekitar rumah Anda mulai malam ini.”]
Sepasang mata elang Elvan seketika menggelap membaca pesan tersebut. Rahang kokohnya mengetat, dan pancaran aura dingin kembali menguar tipis dari tubuhnya. Ibu tirinya tampaknya mulai mencium pergerakan rahasianya.
Elvan melirik ke arah dapur, di mana Aluna sedang tersenyum ceria sambil menuangkan sup ayam ke dalam mangkuk besar untuk makan malam mereka. Senyuman tulus istrinya itu seketika meredakan ketegangan di dada Elvan.
("Silakan cari aku sampai ke ujung dunia, Ibu Tiri,") batin Elvan dengan tekad yang sedingin es. ("Tapi jika kamu berani melangkah mendekati rumah ini dan merusak senyuman di wajah istriku ... aku pastikan itu akan menjadi langkah terakhir yang kamu lakukan di dalam hidupmu.")
Elvan menutup layar laptopnya dengan perlahan begitu Aluna berjalan mendekat sambil membawa nampan makanan.
Lembaran baru di rumah paviliun ini mungkin baru saja dimulai dengan ketenangan, namun di balik bayang-bayang malam yang sunyi, sang penguasa rahasia telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapi badai besar apa pun yang akan datang menerjang demi menjaga surga kecil yang baru saja ia bangun bersama Aluna.