Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.
Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.
Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.
simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Masa lalu tak seharusnya kau hadirkan lagi di masa depan. Masa lalu, biarlah dia tertinggal di lembaran, lama. Disaat hatimu telah terikat dengan yang lain. Bila masa lalu itu hadir kau hadirkan lagi. Akan menebar luka di hati mereka yang mencintaimu,"
Dengan tangan gemetar, aku membuka lembar demi lembar album itu. Album, dengan sejuta kenangan manis yang pernah terajut antara, Sarah dan Bram, suamiku.
Ternyata mereka sudah lama saling kenal. Ternyata mereka dulunya adalah pasangan kekasih. Ternyata, oh ternyata, hubungan mereka sekarang datang datangnya dari masa lalu.
Foto-foto sudah menjelaskan semuanya. Betapa dulunya manis sekali hubungan mereka. Lantas kenapa berpisah? Apa yang telah terjadi diantara mereka.
Mengapa bisa, Sarah malah menikah dengan Roni, sang abang ipar. Misteri apa sebenarnya yang sedang kuhadapi ini? Begitu banyak kejutan yang tak terduga olehku. Semuanya seolah tak tercerna akal sehatku.
Kututup kembali album itu, meletaknyakannya ke tempat semula. Sebelumnya, aku, menyimpan beberapa foto di ponselku. Kucari lagi yang lain, siapa tau ada bukti lain untuk kusimpan.
Setelah mencari beberapa saat, aku menemukan sebuah map coklat. Dengan tangan gemetar aku membukanya. Aku sangat gugup melakukanya, karena takut, Bram, muncul tiba-tiba karena ingat kelalaiannya.
Ternyata amplop itu berisi beberapa surat berharga. Seperti surat tanah, surat mobil, dan lainnya yang aku tidak paham sama sekali. Aku tidak punya waktu untuk membacanya.
Aku mencari kunci yang sama, diantara kumpulan kunci itu. Ternyata ada tiga kunci yg bisa di gunakan membuka lemari itu. Segera kucopot satu, menyimpanya di kantong dasterku Lalu aku segera keluar dari kamar. Karena firasatku, Bram, pasti akan kembali mengambil kunci itu.
Setelah yakin bahwa isi lemari rapi dan tidak ada yang acak, kututup kembali pintu lemari itu seperti semula. Tempat tidur juga kuacak, supaya Bram tidak curiga. Seolah aku belum masuk kamar karena masih sibuk dengan urusan di dapur.
Firasatku benar, baru lima menitan aku di kamar mandi. Aku sengaja membrush lantai kamar mandi kembali. Ketika aku dengar suara mobil. Dengan unjung daster yang basah aku membuka pintu rumah.
"Kok balik lagi, Bang?" tanyaku pura-pura heran.
"Kamu dari mana?" matanya menatap lurus ketubuhku. Lalu keujung dasterku yang basah.
"Kamar mandi, habis membersihkan lantai," ucapku.
"Oh," sahutnya pendek. Bukannya menjawab pertanyaanku, Bram, malah menerobos masuk ke kamar tidur. Kuikuti langkahnya, di pintu kamar.
"Kamu belum beresin kamar tidur kita, ya?"
"Belum, Bang. Masih beresin dapur."
"Ya, sudah. Lanjutkan saja kerjanya. Abang, pergi." Sahutnya ringan keluar dari kamar, dengan langkah tergesa menuju mobil yang di parkir di halaman.
Aku menatap kepergian, Bram, dan menarik napas lega karena nyaris saja aku ketahuan tadi. Aku meraba anak kunci di kantong dasterku. Aku tersenyum sumringah, mengingat rencanaku dengan anak kunci lemari ini.
"Anggap sajalah aku bodoh, Bang. Sesukamulah memperlakukan aku, tapi ingat aku tidak sebodoh yang ada dalam pikiranmu. Tunggu saja kejutan manis dariku. Semoga mentalmu kuat, oleh permainanku. Kamu dan perempuan jalangmu itu, akan merasakan pembalasanku. Tunggu saja!
Kututup rapat pintu, kuambil ponsel dari kantongku. Kubuka aplikasi berlambang telepon hijau, memencet salah satu nomor. Tak lama, sebuah suara menyapa dari seberang.
"Halo, Reny, tumben menyapaku di jam segini?"
"Maaf, kamu lagi sibuk, ya."
"Biasalah, dengan bocil-bocil ini, Ren. Melelahkan sekaligus dapat senangnya. Gimana, kabar kamu? Terutama suami kamu, masih lengket dengan kakak iparmu itu," cerocosnya seperti muntahan peluru. Aku menghela napas panjang
"Aku sudah berencana mau cerai, Fi. Rasanya makin nyesek saja dada ini kurasa. Ternyata hubungan mereka sudah sangat jauh. Bertahanpun aku tak sanggup."
"Ah....! Sudah ku duga, hubungan mereka itu gak seperti biasa. Mertuamu tau gak masalah ini?"
"Sepertinya belum. Saat aku giring opini, mengatakan anaknya selingkuh, respon ibu mertua gak nyambung. Jadi beliau gak curiga dan gak tau sama sekali."
"Kenapa kamu gak ngomong langsung saja. Buka aja bobrok anak menantunya itu," seru Sofi kesal.mendengar ceritaku.
"Aku punya rencana lain, Fi. Nantinya juga semua itu akan kubongkar. Setelah rencanaku berhasil. Aku tidak ingin pergi dengan tangan kosong," aku menjelaskan beberapa rencanaku, yang diiyakan Sofi dengan dukungan penuh.
"Mantap, Ren, aku mendukungmu sepenuhnya. Aku punya teman yang ahli di bidang itu. Bahkan, kalau kau butuh pengacara, aku bisa siapkan nanti. Tenang saja. Fokuskan saja hatimu melihaht sepak terjang suami dan kakak ipar kamu itu. Selebihnya, biar menjadi urusanku, oke!" Sofi memberiku semangat.
Dukungannya saja sudah sangat berarti bagiku. Apalagi saat dia turut mencari solusi, mengatasi masalahku. Deengan tanggap dia langsung membantuku.
"Makasih ya, Fi. Kamu memang yang terbaik," ucapku tulus.
"Sama-sama, Ren. Kamu juga dulu pernah menolongku 'kan? Disaat semua orang berpaling, cuma kamulah yang mau menolongku. Anggap saja kita impas, ya," kekehnya. Aku jadi ingat peristiwa 9 tahun silam. Anaknya Sofi, masuk rumah sakit dan terpaksa harus di rawat inap.
Suaminya kerja di luar kota, anaknya demam tinggi, typus kalau gak salah. Mana keuangannya waktu itu sulit. Dengan anak yang sakit, suami di luar kota. Tinggal di perantauan. Betapa paniknya Sofi waktu itu.
Sebenarnya, aku tak sengaja mengetahui anaknya, Sofi, sakit. Aku hsnya kebetulan melintas di depan rumahnya. Rumah kamu berjarak 5 rumah. Jadi kami memang jarang saling menyapa.
Saat aku melintas, aku mendengar suara tangisnya waktu itu. Naluriku tergerak, ingin tau siapa dan kenapa ada suara tangisan pilu itu.
Aku mengucap salam dan masuk ke rumahnya.
Kulihat dia tengah memeluk anaknya yang kejang-kejang.
"Ya, Tuhan! Anaknya kenapa, Bu?" tanyaku khawatir. Sekalipun aku kurang mengenalnya, kami masih sering saling tukar senyum, dan sesekali menyapa saat jumpa di warung.
"Bu, tolong Bu.Anak saya sakit dan kejang-kejang, suami saya masih di luar kota.," tangisnya meluruhkan rasa ibaku.
"Ayo, Bu. Kita segera ke rumah sakit. Takut anaknya kenapa-napa."
"Tapi, Bu. Aku tak punya uang sepersen pun."
"Nanti saja itu kita pikirkan, Bu. Yang penting anaknya selamat." Aku yang saat itu tengah hamil Devan, dan hendak cek up ke rumah sakit. Sekalian saja kubawa mereka, ke rumah sakit.
Sebelumnya aku menelepon, Bram. Kuceritakan secara singkat. Bram, mengijinkan aku menalangi membayar uang muka rumah sakit. Itulah awal aku mengenal Sofi, dan sejak kejadian itu kami jadi akrab.
Walau hanya sebentar, karena kami juga akhirnya berpisah, karena pindah rumah. Sekalipun kami masih tinggal satu kabupaten. Karena jarak yang lumayan jauh juga tak memungkinkan bagi kami untuk bertemu. Apalagi dengan adanya bocil- bocil yang membutuhkan perhatian ekstra.Hanya lewat medsos, kami sering terhubung.
Aku sudah melupakan peristiwa itu, kalau saja tidak diingatkan Sofi. Karena ingat masa lalu itu, dia juga ingin membalas menolongku.***