Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obat
Malam ini aku nekat mengetuk pintu kamar mama setelah sepanjang sore tadi aku berusaha menguatkan hati. Aku harus mencari tahu jawaban sebenarnya dari mulut mama langsung. Dan tanpa menunggu jawaban apapun langsung kulangkahkan kaki ini ke dalam kamar bernuansa Victorian ini. Victorian Style, nuansa ruangan yang menurutku terlalu mewah untuk sebuah kamar tidur. Kulihat mama sedang berada di balkon kamarnya yang terbuka. Berdiri menatap langit gelap yang malam ini sedikit tertutup awan. Sepertinya keadaan mama sudah membaik dibandingkan siang tadi.
"M-mh-mah..." Aku berjalan ragu mendekatinya.
"Adit... Sini sayang." Mama membuka lebar tangannya bersiap menyambutku dengan pelukannya. Aku segera mempercepat langkahku dengan berurai air mata.
Cukup lama kami berpelukan. Aku menenggelamkan kepalaku di pundaknya sambil terisak.
Aku sungguh rindu moment ini, rasanya sangat berat untuk melepas pelukan ini.
"Adit kangen mama..."
Entah berapa lama kami dalam posisi ini. Aku dan mama saling melepaskan pelukan ini saat terdengar pintu gerbang terbuka dibawah sana.
Apa mungkin...
"Bukan, itu teman mama yang datang. Dokter yang akan memeriksamu." Seakan tahu arah pikiranku yang mengira bahwa dibawah sana adalah papa yang datang, mama menjelaskan tanpa kuminta.
"Mah,,, Adit baru tahu dari Dheka. Apa bener Adit terinfeksi HIV?" Aku bertanya dengan raut bingung. Sore tadi baru saja aku searching bagaimana tubuh bisa terinfeksi HIV, dan dari sekian banyak opsi aku merasa tidak pernah melakukan salah satunya.
"Nanti kak Ivan yang akan menjelaskan Dit. Maafkan mama... Mama benar-benar hancur saat tahu fakta ini. Mama takut. Maafkan mama baru bisa menerima semuanya sekarang..." Mama menarikku kembali kedalam pelukannya. Jadi kak Ivan yang akan memeriksaku. Dokter yang baru lulus koas dan bisa dibilang beliau seperti tangan kanan mamah. Karena Rumah sakit yang mamah dirikan langsung dialih tanggung jawabkan ke beliau. Dokter muda yang berprestasi kalau dalam pandangan mamah. Padahal banyak dokter senior yang lebih kompeten untuk mengurus sebuah rumah sakit. Mungkin memang ada sesuatu yang cukup spesial pada diri kak Ivan. Entahlah...
Tapi yang jelas, Aku merasa lega sekarang, beban berat di dada dan kepalaku seakan terlepas begitu saja. Meski sampai sekarang papa tidak ku ketahui keberadaannya. Setidaknya sekarang aku mempunyai alasan bertahan dengan dukungan mama.
"Adit, bagaimana keadaan kamu sekarang?" Kak Ivan menanyaiku yang duduk di samping mama. Setelah pelukan itu, aku dan mama memang langsung kebawah dan menyambut kedatangan kak Ivan bersama. Sekarang kami ada di ruang tamu rumah ini.
"Baik kak. Kak Ivan apa kabar?" Aku menjawab ramah pertanyaannya.
"Alhamdulillah kakak selalu baik Dit. Apalagi dua hari kemaren sempet jadi detektif abal-abal. Jadi berasa seru hidup ini." Tawa renyahnya turut menyertai kalimat yang diucapkannya.
Aku hanya terdiam tidak menanggapi. Entah maksudnya apa, kurasa itu bukan hal penting yang perlu di bahas.
"Oke kita mulai, hmmm... Kamu ingat pas di garden kafe imax dua hari lalu?"
"Kok kak ivan tahu aku kesana?" Aku mengernyit bingung menanggapinya. Sekelebatan pengalaman yang cukup traumatic itu melintas kembali di kepalaku.
"Kan kakak bilang, kakak lagi jadi detektif. Hehe.. jadi gini Dit, atas permintaan om Dhika dan mama kamu tentunya, kakak diminta mengawasi kamu. Yaaa,, biarpun sok gak peduli tapi papa kamu berusaha memberikan pengobatan terbaik buat kamu. Hmm,, point ini nanti bisa lah kamu bahas sama mama kamu. Iya kan Tan?!" Kak Ivan melirik mama sebentar , sebelum melanjutkan kembali kalimatnya. Kulihat mama pun mengangguk mengiyakan kalimatnya.
"Kakak mau tanya, sebelum pulang dari kafe itu, kamu sempet tergesa masuk ke toilet. Kenapa?" Dengan mimik serius kak Ivan memperhatikanku intens.
"Kebelet kayaknya kak, Adit lupa-lupa inget." Aku sengaja berbohong tidak menjawab detail kesakitanku saat itu. Sangat kuingat jelas bagaimana oksigen seakan menjauhi ku kala itu. Sampai menyisakan trauma yang cukup membuatku takut jika mengingat hal itu lagi.
"Jujur aja Dit... Mungkin kamu nggak sadar, saat itu kakak ada disana juga. Dan kalau kamu masih inget temen kakak yang bertanggungjawab mengurus kamu saat kamu di rumah sakit kemaren, dokter erik. Dia menyamar jadi pramusaji dan nganter pesenan lemon tea kamu yang sebenernya udah dicampur obat. Nah, kakak butuh tau efek setelahnya." Aku cukup kaget mendengarnya, pantas saja saat itu aku merasa tidak asing dengan wajah pramusaji itu. Ternyata dokter erik yang sedang menyamar. Hmm,,,
"Yaa,, harusnya kak Ivan tau dong efek yang aku rasakan setelah minum obat itu. Kan obatnya dari kak Ivan." Sedikit emosi aku menanggapinya. Entah permainan apa yang mereka lakukan sampai aku harus merasakan penderitaan antara hidup dan mati kala itu.
"Adit... Sayang... Info yang kamu dengar dari Dheka betul. Ada virus HIV di tubuh kamu. Ivan dengan tim sedang mengusahakan obat terbaik untuk pencegahan nya agar tidak bermutasi menjadi AIDS. Banyak pilihan sebenarnya, tapi semuanya obat keras. Dan mereka perlu tau respon tubuh kamu pada obat-obat itu." Mama mengusap punggungku pelan. Sepertinya beliau tahu emosiku sedang tidak stabil sekarang. Aku hanya bisa menunduk semakin dalam mengetahui fakta mengerikan ini. Baru saja aku mencoba menguatkan diri dan menerima fakta ini, ekor mataku menangkap satu lembar kertas dibawah meja. Mungkin kak Ivan tidak sengaja menjatuhkannya.
PENELITIAN PENGGUNAAN OBAT HIV PADA PASIEN DAN REAKSI YANG DITIMBULKAN
Disusun oleh
Tim dokter Rumah Sakit Umum Mahardika
Aku cukup tercengang membaca sederet kalimat judul yang ada di kertas tersebut.
Apakah ini berarti aku sedang menjadi bahan penelitian mereka?!
Apakah ini berarti aku sedang dijadikan kelinci percobaan mereka?!
"Adit... Sorry banget, kakak juga harus jujur kalau kita bersaing dengan waktu. Semakin cepat kita dapatkan obat yang cocok, akan semakin baik. Kamu simpan dulu semua pertanyaan yang ada, izinkan kakak mendampingi di kamar kamu malam ini. Dan kamu minum satu butir obat ini ya. Ini berbeda dengan yang kakak kasih di kafe kemaren. Efeknya juga kemungkinan besar akan berbeda." Aku menerima sebutir obat berwarna krem itu tanpa ada penolakan. Aku merasa lelah sekarang, lelah memikirkan semuanya. Lelah mencari alasan dan lelah pada kenyataan yang ada. Jika mama ada dibalik semua ini, betapa kejamnya dunia memberikan fakta menyakitkan seperti ini.
Aku butuh kesembuhan, bukan menjadi kelinci percobaan untuk penilitian tidak manusiawi ini.
Segera kuraih satu botol air mineral yang ada di hadapanku. Aku meneguknya dan memasukkan obat tersebut ke dalam mulutku tanpa halangan.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
....
10 detik...
...
1 menit...
2 menit...
Aku terbatuk cukup keras saat tiba-tiba kurasakan tenggorokan ku mengering.
"Dit?" Kak Ivan beralih duduk di sampingku dan mengulurkan air mineral ke arahku.
"Pusing, mual, atau yang lain ada yang sakit nggak?" Kak Ivan kembali mencecarku dengan pertanyaan nya yang membuatku semakin malas menjawabnya.
"Aku baik-baik aja kak, sekarang udah boleh ke kamar kan?" Ya, tidak bisa kupungkiri. Rasa kantuk memang malai menguasaiku dan semakin membuatku malas membahas segala hal lebih lanjut.
"Mah, Adit ngantuk mau ke kamar dulu." Aku mencoba bersikap biasa di depan mama, tetap dengan Adit yang sopan, ramah dan sayang mama. Ku akhiri kecupan hangat pada keningnya sebelum aku beranjak menaiki tangga menuju kamarku. Meski aku merasa menjadi kelinci percobaan Kak Ivan sekarang, dan aku sangat kesal mengakui adanya fakta ini. Aku tidak akan mengabaikan mama, semoga beliau tidak tahu menahu tentang hal ini. Semoga beliau bukan pendukung untuk penelitian tidak manusiawi ini.
"Kakak ikut." Dengan tergesa kak Ivan mengikuti langkahku yang sepertinya mulai terlihat sempoyongan. Aku merasa sangat berat menahan mata ini untuk tetap terbuka. Mungkin efek dari obat tadi yang membuatku sangat mengantuk.
"Dit... Pusing?" Kak Ivan kembali bertanya setelah menutup pintu kamarku. Aku membiarkan tubuhku duduk di sofa dalam kamarku. Rasanya sangat mengantuk, tapi aku juga merasa sangat kesal pada kak Ivan. Ingin segera kutuntaskan rasa kesalku sebelum aku tertidur nantinya.
"Kak... Maksud Lo apa jadiin gue kelinci percobaan kayak gini?!" Dengan emosi yang sudah tidak dapat kutahan, Aku berbicara pelan namun menekan tiap kata yang keluar agar kak Ivan memahami kekesalanku ini.
"Lho... Bukan, ini murni untuk kebaikan kamu Dit. Kita mau nyari obat yang minim efek samping buat tubuh kamu"
"Lo kira gue nggak tahu, file yang Lo pegang itu? Gue bisa baca kak. Kenapa ada judul ini?!" Aku melempar selembar kertas yang tadi kuambil dari bawah meja dan kuremas dalam genggamanku.
"Apa mungkin isi file yang Lo pegang itu hanya nama-nama obat yang jadi subjeknya? Dan bukan nama gue?! Lo mau nyari efek samping tiap obat yang di coba ke gue dan bisa Lo jadiin bahan penelitian Lo atau Lo mau nyari apa efek buat gue saat mengkonsumsi obat itu?!" Aku nekat mencekal kerah baju kak Ivan dan satu pukulan tinju cukup kencang kuarahkan pada perutnya.
Aku langsung berjalan menuju kasurku dan membaringkan tubuhku ini, meninggalkannya yang kesakitan di sofa sana. Aku malas mempersoalkan lebih dalam, ada ketakutan besar kalau orangtuaku terlibat di dalamnya. Jangan sampai ada fakta ini yang membuat ku semakin terpuruk.
Sudahlah, aku belum mau mengerti dan mengetahui semuanya.
Aku hanya ingin tidur sekarang.
semangatt juga kak 💪