Labeouff bertemu dengan Rabe sejak pertama kali di sebuah rumah pohon. Pertemuan itu membuat Labeouff terkejut melihat Rabe yang mirip sekali dengannya. Labeouff belum pernah sama sekali bertemu manusia vampir seperti Rabe yang statusnya bukan saudara kembar. Sejak pertemuan pertamanya, Labeouff mau menjalin hubungan persahabatan dengan Rabe.
Rabe memanfaatkan berteman dengan Labeouff demi mendapatkan sebuah batu Blood Ruby berwarna merah darah yang dicari-cari oleh ibu kandungnya. Rabe bahkan melakukan berbagai cara supaya bisa mendapatkan Blood Ruby dari temannya itu. Dari berburu manusia kanibal, melawan sekutu kelelawar hingga mempermainkan Labeouff sampai terluka parah.
Namun persahabatan Labeouff semakin akrab walau selalu dilarang sang ayah berteman dengan manusia vampir. Labeouff mulai mengetahui bahwa Rabe adalah saudara kembar yang terpisahkan. Mereka berdua adalah anak angkat keluarga vampir dari kerajaan Vampiria. Labeouff disebut sebagai anak pembawa kutukan sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iqsal Anaqi Santosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Peperangan
Dentuman energi kekuatan Howloff dan Draculus saling bertabrakan, beradu senjata kapak perak melawan cakar hitam. Duel mereka membuat semua orang yang tersisa di luar kerajaan memilih mundur, tidak mau terkena dampak atas pertarungan ini.
Warga kampung Newbale duduk dibawah permukaan tanah, mereka bergandengan tangan sambil menundukkan kepalanya, berdoa bersama berharap Howloff menang.
Namun mereka dibuat melongo ketika Draculus mulutnya menganga berteriak kencang mengeluarkan kawanan kelelawar yang terbang kemana-mana. Apa yang sebenarnya terjadi kepada jenderal vampir tersebut.
“Tuan Howloff, kalahkan dia!!” teriak pemuda kamp pelatihan dengan suara serak.
“Krakkk!” Bunyi retakan tangan Howloff.
Cahaya biru yang membentuk serigala itu perlahan-lahan menghilang, pertanda kekuatan Howloff terkuras habis. Kawanan kelelawar pun membentuk lidah panjang yang masuk ke mulut Draculus, menggigit dan menggerogoti kulit kaki Howloff supaya mendekat ke arahnya.
Merasa tak sanggup bertahan mengambang di udara, ditambah kondisinya makin gawat. Howloff ambil langkah resiko di luar rencananya.
Memegang kapak perak dengan dua tangan lalu menusuk ubun-ubun Draculus, dia tekan paksa senjata andalannya itu agar membelah kepala Draculus menjadi dua.
“A-Apa...kau ingin mati bersamaku Howloff?” tanya Draculus menyipitkan matanya menahan rasa sakit kapak peraknya yang menancap di kepalanya.
“Tidak, kaulah yang akan mati di tanganku Draculus, setelah itu semuanya akan berakhir.” jawab Howloff sambil menghela nafas megap-megap.
Dengan sisa tenaganya, Howloff mendorong jatuh terjun Draculus dari atas langit hingga membentur jembatan pembatas jalan. Lantas semua orang berlari cepat ke jembatan, memastikan siapakah yang masih hidup diantara mereka berdua.
“Minggir, minggir kalian semua!!” sontak dokter anti vampir mendorong orang-orang di jembatan. Debu-debu yang menghalang pemandangan mata orang-orang menghilang.
Howloff terkapar terlentang, tubuhnya menindih badan Draculus yang sudah mati. Dokter anti vampir terlihat syok melihatnya, dia mendekati Howloff, memegang denyut nadi yang berdetak normal. Ia periksa detak jantungnya lebih dalam, syukurlah masih berdegup kencang.
“Howloff, Howloff, bangunlah!” dokter anti vampir menggoyangkan pinggul Howloff.
Dia membelalakkan matanya melihat luka cakar manusia kanibal yang masih membekas di punggung belakang. Beruntung saat itu sang dokter sudah membawa suntikan penawar virus yang ia dapatkan lewat darah luka di leher Labeouff.
“Bertahanlah Howloff, kau tidak boleh mati.” dokter anti vampir membius punggung Howloff tepat di bagian luka cakar manusia kanibal.
Andaikan jika Howloff tiada, siapa lagi yang akan mengasuh dan menemani Labeouff setiap hari. Anak itu sudah kehilangan orang tua tercinta walau hanya mahkluk halus. Bila Labeouff melihat kondisi Howloff sekarang, entah bagaimana reaksinya.
“Hai semuanya...perutku lapar banget nih!” Roxie memegang perut dengan raut wajah melas, jalannya pelan seperti kura-kura. Begitu melihat kondisi Howloff yang kritis, Roxie mempercepat langkahnya.
Namun saat mau lewat jasad Draculus, kakinya kesandung pecahan batu, sebuah bom Dynamite jatuh. Roxie duduk diam di samping Draculus, dia iseng buka mulut, menjambak rambutnya memastikan benar-benar mati.
“Mampus kau Draculus, sekarang kau mati untuk selamanya dan takkan bisa hidup kembali lagi, dasar monster aneh!” ejek Roxie sambil menggetok kepala Draculus.
Tanpa disadari oleh perempuan itu, saraf kepala Draculus tersambung menjadi satu. Bola matanya merah menyala, lalu kepalanya goyang-goyang.
“Gawat, dia hidup lagi!!!” teriak Roxie sambil kabur menghindar dari tubuh Draculus. Kini si jenderal vampir perang menyatukan saraf-saraf dalam tubuhnya. Kepalanya yang terbelah dua menyambung lagi.
“Oooh aku baru ingat kalo bawa ini, hehehe!”
“Kaboooom!!” suara ledakan bom yang membuat tubuh Draculus hancur berkeping-keping, sampai daging jeroan dan darah cipratan darah merah kental menghujani semua pasukan.
...•••...
Suara ledakan bom Dynamite barusan mengalihkan perhatian Dari Queen menoleh ke balkon. Berpikir Draculus dalam bahaya, Dark Queen mengkloning tubuhnya lagi.
Namun sayangnya tubuh aslinya ditahan Rabe, anak itu meremas perut ibunya sendiri agar tidak bergerak.
“Mau kemana Bu, kau harus terima hukuman dari kami,” Rabe mendorong mundur Dark Queen.
“Dasar anak-anak nakal, minggir kalian semua, suamiku dalam bahaya.” Dark Queen panik, dia kesal dihadang oleh Rabe.
Dia masih setia memanggil Draculus dengan sebutan suami. Kloningnya menghilang, Labeouff yang sudah muak akan kebusukan Dark Queen mencekik lehernya, sudah tidak peduli dia ibunya atau bukan.
Dark Queen makin memberontak, tangannya yang bebas bergerak menusuk-nusuk perut Rabe. Bukannya kesakitan si Rabe malah ketawa geli, kuku tajam Dark Queen rasanya seperti menggelitik.
“Krakk!!”
“Aaaaah tanganku!” jerit Dark Queen melihat kuku dan jari jemarinya patah tulang.
Rabe menekan dan memutar perut Dark Queen, bulu-bulu kelelawar birunya mulai rontok, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Rabe.
“Mundur, menjauh dariku cepat!” ujar Rabe menatap wajah Labeouff yang berkeringat.
“Tapi...,”
“Cepat keluar dari sini!!” teriak Rabe.
Labeouff melepaskan cekikannya, bulu-bulu kelelawar di kulit Rabe dan sayap kupingnya patah berguguran seperti daun kering. Dia pun mengintip dari balik pintu ruang singgasana, cahaya oranye di tubuh Rabe semakin terang, menyilaukan mata Labeouff.
“Tidak, jangan Rabe, Jangan!!!” teriak kencang Dark Queen, angin kencang dicampur asap hitam semburat menyebar sampai keluar ruang singgasana.
Debu-debu kotor menghalangi mata Labeouff, berjalan pelan masuk untuk melihat apakah mereka berdua masih hidup?
Labeouff mengibaskan tangannya menghilang debu yang menghalangi lantai. “Rabe, Rabe, apa kau...” suara Labeouff berhenti seketika melihat Rabe yang duduk bersila dengan menundukkan kepalanya.
Saat Rabe menoleh, mata Labeouff berkaca-kaca, raut wajahnya menahan senyum tangis. Dia meraba tubuh Rabe dari atas rambut sampai kaki. Mereka berdua punya ciri fisik yang sama.
“Rambutmu, wajahmu!” kata Labeouff terpukau melihat Rabe didepan matanya.
“Aku berubah, kita kembar Labeouff!!” Rabe dengan wajah ceria memeluk erat Labeouff.
Rambut hitam abu-abu, mata biru dan kulit coklat muda menjadi ciri khas fisik si kembar. Mereka berdua sangat senang, sampai melupakan Dark Queen yang tidur terlentang.
Seketika mereka diam membungkam mulut saat Dark Queen bangkit berdiri membungkuk. Dari sinilah terlihat jelas perawakan wajah asli dan fisik Dark Queen yang hampir menyerupai nenek-nenek.
Rambutnya putih, kulit wajahnya keriput pucat, giginya ompong persis seperti seorang nenek. Tampaknya dia sudah tidak awet muda.
Lagi-lagi Dark Queen melambaikan tangan ke atas bawah sambil komat-kamit baca mantra sihirnya. Muncul bola cahaya merah yang sangat besar. Sayang sekali bila itu tiba-tiba menghilang ketika Dark Queen batuk-batuk berdarah.
Dia memuntahkan darah hitam, bangkai kelelawar dan gigi taringnya dari dalam mulut. Menandakan bahwa itu merupakan karma buruk dan hukuman karena berani melawan anaknya sendiri.
Labeouff dan Rabe jadi merasa kasihan, bayangkan seorang ibu yang sakit-sakitan akibat perbuatan jahatnya sendiri. Mereka membopong tangan kiri kanan Dark Queen membantunya jalan keluar dari kerajaan Vampiria.
...•••...
Howloff mengedipkan mata, dilihat oleh sekian pemuda kamp pelatihan, mereka khawatir bila gurunya tak kunjung sadar setelah terjun dari atas langit.
“Apakah semuanya sudah berakhir?” tanya Howloff sambil mengucek matanya.
Dokter anti vampir bantu angkat Howloff berdiri, penawar virus itu sangat manjur. Luka cakar di punggungnya sembuh menghilang bekas luka kering. Howloff merasa punggungnya sudah membaik.
“Tuan Howloff, syukurlah anda baik-baik saja, kami sangat khawatir,” dokter anti vampir melihat ke belakang punggung Howloff.
“Ini juga berkat serum penawar virus yang kau buat, terima kasih dokter.” Howloff memegang pundak dokter anti vampir.
Howloff mengangkat kedua pundaknya, dia baru ingat bagaimana situasi di ruang singgasana, apakah Labeouff dan Rabe selamat.
“Kalian semua tunggu disini, aku harus temukan anakku!” kata Howloff rentangkan tangan ke depan menyuruh semua pasukan agar tetap stay.
Baru saja masuk gerbang utama kerajaan, Howloff bertemu si kembar yang membopong Dark Queen. Tanpa basa basi Howloff mencekik leher Dark Queen, membuat si kembar langsung angkat tangan.
“Tuan Howloff, lebih baik kita hukum Dark Queen secara adil, tolong jangan bunuh dia,” pinta Rabe sambil mengelus rambut putih Dark Queen.
Tetapi Howloff makin marah, dia mencekik Dark Queen sampai tubuhnya terangkat.
“Ibumu pantas diberi hukuman mati, dahulu dialah orang yang membunuh Windy dengan tangannya sendiri.” Howloff menatap tajam Dark Queen yang berusaha melepaskan tangannya.
“Rabe benar, sudah cukup tolong lepaskan dia ayah!” kata Labeouff sambil menyenggol tangan Howloff.
Howloff mengaku kalah jumlah, dia pun mengalah dan melepaskan tangannya dari leher Dark Queen. Dua pemuda kamp pelatihan dipanggil, mereka diperintahkan untuk bawa Dark Queen ke Newbale sekarang juga.
Dark Queen melepaskan tangisannya ketika melihat jasad Draculus yang mengenaskan. Jeritan tangisnya terdengar sampai ke hutan hujan.
Howloff merangkul Labeouff, dia perhatikan badannya baik-baik saja tanpa bekas luka apapun.
“Bagaimana kalian berdua bisa mengalahkan Dark Queen?” tanya serius Howloff.
“Windy-lah yang menyelamatkan kami, dia juga memberi kekuatan baru yang jauh lebih kuat.” jawab Labeouff sambil tersenyum ceria.
Tak lama kemudian, pihak Howloff dan si kembar memutuskan agar Dark Queen dihukum penjara di kerajaan Vampiria. Kabar-kabar bahagia dan berita kemenangan tersebar sampai ke Terraxophia.
Tidak ada lagi manusia kanibal, tidak ada lagi manusia vampir yang berburu patroli siang-malam hari.
Namun setelah peperangan berakhir, masih ada 1 hal penting yang harus dilakukan Howloff khusus untuk Labeouff dan Rabe di keesokan harinya.
lekas upload lagi