NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit

Pagi di atas bukit Hönggerberg menyapa dengan kemegahan yang tenang. Kabut tipis yang semula menyelimuti lembah Zurich perlahan terangkat, diterpa pendar sinar matahari pagi yang hangat dan jernih. Di puncak bukit itu, berdiri sebuah kapel tua berarsitektur batu alam abad kedelapan belas. Dinding-dinding batunya dililit oleh tanaman merambat hijau yang berbunga putih kecil, menyebarkan aroma harum yang lembut di udara pegunungan.

Hari ini, tidak ada deretan mobil mewah yang menutup jalanan utama. Tidak ada barisan jurnalis dengan lampu kilat yang menyilaukan, dan tidak ada pengawalan ketat prajurit aristokrat seperti yang pernah dirancang oleh Arthur Radcliffe untuk pernikahan politis putra tunggalnya.

Yang ada hanyalah ketenangan murni.

Di dalam ruangan persiapan kapel yang dilingkupi dinding kayu pinus, Aurora Vance berdiri di depan cermin tinggi. Ia mengenakan gaun pengantin sederhana berwarna putih gading berpotongan A-line yang sangat anggun. Kain renda halus melingkari bagian leher dan lengannya, sementara bagian belakang gaun jatuh dengan lembut menyapu lantai. Tanpa perhiasan berlian yang berlebihan, hanya liontin molekul kiral pemberian Julian dan seuntai bunga mawar putih segar yang terselip di rambut cokelatnya yang disanggul anggun.

Gemma berdiri di belakangnya, merapikan lipatan renda gaun Rory dengan mata ber kaca-kaca.

"Rory" bisik Gemma, suaranya bergetar haru saat menatap pantulan sahabatnya di cermin. "Kamu...kamu benar-benar pengantin paling cantik yang pernah aku lihat. Kalau Profesor Alistair lihat kamu sekarang, dia pasti menangis di bawah jubah akademisnya!"

Rory terkekeh pelan, menoleh dan menggenggam kedua tangan Gemma. "Terima kasih, Gem. Untuk selalu ada dari hari pertama di Oxford sampai hari ini di Zurich."

"Aduh, jangan bikin aku menangis sebelum acaranya mulai!" seru Gemma sambil menyapu sudut matanya dengan saputangan. "Satu kampus Oxford pasti tidak pernah membayangkan kalau persaingan nilai teratas di papan pengumuman St. Jude’s bakal berakhir di altar kapel cantik di Swiss ini."

Pintu ruangan terbuka pelan. Ibu Rory masuk bersama Ethan yang mengenakan setelan jas hitam rapi. Ibu Rory mematung di ambang pintu, menatap putri sulungnya dengan binar rasa bangga dan haru yang tak terhingga.

"Rory, Nak..." bisik ibunya, melangkah mendekat dan merangkul Rory dengan sangat lembut. "Kamu sudah melalui banyak hal yang begitu berat demi keluarga kita, Hari ini Ibu sangat bahagia melihatmu mendapatkan kebahagiaan yang sepenuhnya milikmu."

Ethan tersenyum bangga, menepuk dada jasnya. "Mbak Rory tenang saja, aku yang bakal mendampingi Mbak jalan ke altar pengganti Ayah. Langkahku sudah tegap dan tidak akan goyah!"

Rory tersenyum manis, memeluk ibu dan adiknya erat-erat. Hatinya membuncah oleh rasa syukur yang utuh.

Alunan musik organ tunggal yang memainkan nada-nada lembut bergema di dalam kapel batu yang hangat.

Lampu-lampu lilin yang tertata di sepanjang barisan bangku kayu membiaskan cahaya keemasan. Bangku-bangku itu hanya diisi oleh belasan tamu terdekat: Gemma, Dr. Harrison Vance beserta perwakilan dewan Helios, Dr. Helene, serta tim peneliti muda dari laboratorium mereka.

Di depan altar batu yang dihiasi hamparan bunga liar pegunungan, Julian Radcliffe berdiri menunggu.

Pria itu tampil sangat tampan dan gagah dalam balutan setelan tuksedo hitam buatan penjahit lokal Zurich tanpa sedikit pun pin keluarga Radcliffe. Posturnya tegap, namun raut wajahnya yang biasanya tenang dan terkontrol kini memancarkan degup kecemasan yang manis dan sarat akan kerinduan yang mendalam.

Pintu kayu kapel yang berat perlahan terbuka.

Cahaya matahari pagi menerobos masuk, membingkai sosok Aurora Vance yang berjalan melintasi lorong kapel. Rory melangkah perlahan di samping Ethan yang memegang tangannya dengan tegap dan penuh rasa bangga.

Julian menahan napasnya. Mata hazel-nya terkunci sepenuhnya pada sosok wanita yang melangkah mendekatinya. Bayangan masa lalu mendadak berputar di dalam benaknya saat pertama kali gadis itu mendebat teorinya dengan sengit di ruang kuliah, saat mereka bekerja dalam keheningan laboratorium St. Jude’s, saat gadis itu memeluknya di tengah hujan Oxford, hingga malam di mana mereka bersama-sama meruntuhkan tirani dinasti keluarga.

Bagi Julian, wanita yang sedang melangkah mendekatinya ini bukan sekadar pengantinnya. Rory adalah takdirnya, kebebasannya, dan pelindung jiwanya.

Ethan menyerahkan tangan Rory kepada Julian saat mereka tiba di depan altar. Ethan menatap Julian lurus-lurus. "Jaga Mbak Rory ya, Mas."

Julian menerima tangan halus Rory, menggenggamnya erat-erat dengan kehangatan yang mantap. "Dengan seluruh hidupku, Ethan."

Rory mendongak, menatap mata hazel Julian yang berkaca-kaca oleh emosi murni. Senyuman tulus terukir di bibir mereka berdua.

Pendeta tua kapel melangkah maju, membuka kitab pemberkatan dan memulai prosesi dengan suara yang tenang dan penuh kedamaian.

"Hadirin yang terhormat," kata pendeta tersebut, suara baritonnya bergema lembut di dinding-dinding batu kapel. "Cinta sejati tidak diukur dari seberapa megah panggung yang disiapkan dunia untuknya, melainkan dari seberapa tegar dua jiwa berdiri mempertahankan kebenaran dan kesetiaan di tengah badai."

Pendeta berpaling menatap Julian dan Rory yang saling berhadapan, menggenggam kedua tangan satu sama lain.

"Julian Radcliffe, apakah engkau bersedia menerima Aurora Vance sebagai istrimu, untuk saling mencintai, menghormati, dan menjaga dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kesederhanaan, hingga akhir hayat?"

Julian menatap mata cokelat jernih Rory, suaranya terdengar sangat dalam, mantap, dan tanpa sedikit pun keraguan.

"Saya, Julian Radcliffe, menerima engkau, Aurora Vance, sebagai istriku yang sah. Aku berjanji untuk selalu menjadi pelindungmu, mitramu, dan tempatmu pulang. Aku menyerahkan seluruh hidupku, kebebasanku, dan cintaku hanya untukmu, sampai akhir waktu."

Pendeta lalu berpaling kepada Rory.

"Aurora Vance, apakah engkau bersedia menerima Julian Radcliffe sebagai suamimu, untuk saling mencintai, menghormati, dan menjaga dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kesederhanaan, hingga akhir hayat?"

Air mata kebahagiaan menetes di pipi Rory. Senyuman paling indah dalam hidupnya terpancar saat ia menjawab janji suci tersebut.

"Saya, Aurora Vance, menerima engkau, Julian Radcliffe, sebagai suamiku yang sah. Aku berjanji untuk selalu berdiri di sampingmu, berjuang bersamamu, dan mencintaimu tanpa syarat. Seluruh jiwaku, kecerdasanku, dan hatiku adalah milikmu selamanya."

"Dengan kuasa yang ada pada saya dan di hadapan Tuhan serta para saksi ini," kata pendeta penuh wibawa, "saya menyatakan kalian berdua resmi sebagai suami dan istri. Apa yang telah dipersatukan oleh kebenaran dan cinta sejati, tidak dapat dipisahkan oleh manusia."

Julian mengambil cincin platinum dari kotak beludru, menyusupkannya di jari manis Rory. Rory melakukan hal yang sama, memasangkan cincin platinum pasangan pada jari manis Julian.

"Anda boleh mencium pengantin wanita," senyum pendeta tersebut.

Julian merangkul pinggang Rory, menarik tubuh istrinya itu rapat ke dalam dekapannya. Pria itu menundukkan kepala dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman suci yang mendalam, hangat, dan penuh penghayatan. Rory membalas ciuman itu dengan seluruh ketulusan jiwanya, melingkarkan tangannya di leher Julian.

Tepuk tangan haru dan meriah seketika pecah dari para tamu di dalam kapel. Ibu Rory menangis bahagia di bahu Ethan, sementara Gemma bertepuk tangan heboh sambil menyapu air matanya.

Sore harinya, resepsi pernikahan sederhana digelar di pelataran rumput di luar kapel. Meja-meja kayu panjang dihiasi kain linen putih, lilin-lilin aromaterapi, serta hidangan lokal Swiss yang hangat.

Alunan musik biola memainkan nada-nada waltz yang romantis.

Julian dan Rory melangkah ke tengah pelataran rumput untuk berdansa pertama kali sebagai sepasang suami istri. Sinar matahari senja yang berwarna merah keemasan membiaskan pendar yang amat indah di atas gaun putih Rory dan tuksedo Julian.

Julian melingkarkan tangannya di pinggang Rory, sementara tangan Rory bersandar nyaman di bahu tegap suaminya. Mereka bergerak perlahan mengikuti irama musik, saling menatap dengan binar cinta yang tak pernah padam.

"Bagaimana perasaanmu sekarang, Mrs. Radcliffe?" bisik Julian jenaka di dekat telinga Rory.

Rory tertawa pelan, menyandarkan dahinya di dada bidang Julian. "Rasanya nama itu terdengar sangat indah jika digunakan di sini, bersama pria yang tepat."

Julian mengecup kening Rory dengan kehangatan yang tak terbatas. "Nama itu tidak lagi membawa kutukan atau beban keluarga, Rory. Nama itu kini hanya milik kita dan masa depan yang kita bangun."

Di tepi pelataran, Dr. Harrison Vance berdiri bersama Gemma, memperhatikan pasangan muda itu dengan senyuman hangat.

"Dua ilmuwan jenius itu telah mengubah peta dunia medis di laboratorium," kata Dr. Harrison pelan. "Tapi melihat mereka sekarang, mereka telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada paten apa pun."

"Mereka telah memenangkan kebebasan mereka sendiri, Dr. Harrison," jawab Gemma tulus.

Malam harinya, setelah acara perayaan sederhana selesai dan para tamu kembali ke kota, Julian dan Rory berjalan menyusuri bukit menuju chalet kayu mereka.

Lonceng kapel Hönggerberg terdengar berdentang lembut dari kejauhan, menyuarakan kedamaian malam pegunungan. Langit Swiss di atas mereka dipenuhi oleh ribuan bintang yang bersinar sangat terang.

Julian menghentikan langkahnya di teras depan chalet, berbalik dan mengangkat Rory ke dalam pelukannya.

Rory terkejut kecil, lalu tertawa gembira sambil melingkarkan tangannya di leher Julian. "Julian! Apa yang kamu lakukan?"

"Tradisi memboyong istri melewati ambang pintu rumah baru," jawab Julian dengan senyum menawan dan pendar mata hazel yang berkilat penuh gairah dan cinta murni.

Julian membawa Rory masuk ke dalam chalet kayu yang hangat, menutup pintu rapat-rapat di belakang mereka.

Di dalam ruangan yang diterangi oleh pendar nyala api perapian, Julian menurunkan Rory secara perlahan. Pria itu menatap wajah istrinya wanita yang menjadi rekan risetnya, pelindung jiwanya, dan kini pendamping hidupnya untuk selamanya.

"Terima kasih telah hadir di hidupku, Aurora," bisik Julian penuh ketulusan, mengusap pipi Rory sebelum mencium bibirnya dengan kehangatan yang makin membara.

Rory membalas ciuman itu dengan seluruh jiwa dan raganya, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam pelukan pria yang sangat dicintainya.

Kisah persaingan akademis mereka di Oxford, skandal rahasia keluarga, hingga perjuangan hukum yang melelahkan telah usai. Di atas bukit Zurich yang tenang dan di bawah naungan bintang-bintang Alpen, perjalanan panjang Aurora Vance dan Julian Radcliffe kini bermuara pada sebuah kehidupan baru yang abadi sebuah dongeng nyata tentang cinta, kejujuran, dan kebebasan sejati.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!