Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan musim dingin pertama
Satu tahun setelah peresmian Monumen Pemulihan, untuk pertama kalinya dalam sejarah Neo-Veridia yang tercatat, salju turun.
Kristal-kristal putih yang lembut jatuh perlahan dari langit temaram, melapisi atap-atap bangunan, dedaunan di taman publik, serta jalanan berbatu Distrik 4. Bagi generasi tua, fenomena ini adalah keajaiban klimatis—sebuah tanda bahwa atmosfer kota yang puluhan tahun terkontaminasi oleh pemancar radiasi Archivia kini telah sepenuhnya pulih dan kembali alami. Namun bagi generasi muda dan anak-anak, salju adalah kanvas permainan yang baru.
Di lantai dua *Kedai Awal Baru*, Rian melangkah mendekati jendela kaca yang berembun. Pria itu menempelkan telapak tangannya di permukaan kaca yang dingin, lalu mengusapnya perlahan untuk melihat pemandangan di luar. Wajahnya dipenuhi kekaguman yang polos.
"Maya, kemarilah," panggil Rian tanpa mengalihkan pandangannya dari luar. "Lihat ini. Langit meneteskan kapas dingin."
Maya, yang sedang merajut syal wol tebal berkelembutan warna abu-abu di atas sofa dekat perapian kecil, terkekeh pelan. Ia meletakkan rajutannya dan berjalan menghampiri Rian. Berdiri di samping pria itu, Maya menyandarkan bahunya ke lengan Rian.
"Itu disebut salju, Rian," ujar Maya lembut, suaranya diwarnai kehangatan yang kontras dengan udara dingin di luar. "Sistem kontrol iklim Archivia dulu selalu menekan kelembapan atmosfer agar musim dingin tidak pernah terjadi. Mereka takut udara dingin membuat warga terlalu banyak berdiam diri di rumah dan berpikir."
Rian memiringkan kepalanya, menatap kristal salju yang meleleh menjadi titik air dipermukaan kaca. "Salju ini dingin... tapi melihatnya membuat dadaku terasa hangat. Aneh, ya?"
"Tidak aneh sama sekali," jawab Maya seraya meraih jemari Rian, menyatukan jemari mereka yang hangat. "Itu artinya kau merasa aman."
Lonceng pintu di lantai bawah berdentang nyaring, diikuti suara derap langkah kaki yang terburu-buru dan kibasan pakaian yang terkena lelehan salju. Evan melangkah naik ke lantai dua dengan wajah yang merona merah akibat udara dingin, mengenakan mantel tebal yang dilapisi kepingan salju tipis.
"Aku bersumpah, teknologi navigasi terbaik pun tidak bisa menyiapkan mental kita untuk udara sedingin ini," keluh Evan dengan napas berasap, namun senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia meletakkan sebuah kotak kayu berukir rapat di atas meja perapian.
Rian menyambut Evan dengan secangkir cokelat panas bertabur kayu manis yang langsung mengepulkan aroma manis ke seluruh ruangan. "Ini akan memanaskan tubuhmu, Evan."
"Kau memang penyelamat, Rian," kata Evan lega, menyesap cairan hangat itu dengan nikmat. Ia lalu menunjuk kotak kayu yang dibawanya. "Aku datang membawa kiriman dari Dewan Distrik Bawah. Mereka menemukan ini saat membongkar pondasi bekas laboratorium eksperimental Dr. Vance di pinggiran Distrik 9 minggu lalu."
Suasana di ruangan itu mendadak hening sejenak. Kata 'Dr. Vance' masih memiliki daya getar tersendiri, bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai gema dari masa lalu yang amat jauh.
Maya melangkah mendekati kotak itu. "Apa isinya, Evan? Bukankah seluruh fasilitas itu sudah diratakan?"
"Ini bukan dokumen militer atau cetak biru senjata," jelas Evan pelan. "Ini adalah kapsul waktu pribadi. Terkunci dengan pemindai pola suara Rian yang sekarang—bukan frekuensi otak Dr. Vance yang dulu. Artinya, ini ditinggalkan oleh Rian di masa-masa terakhir sebelum pilar Archivia meledak."
Rian mendekati meja tersebut. Ia menatap kotak kayu itu tanpa rasa takut. Amnesialah yang membebaskannya, tetapi kebenaran yang dihadapi dengan kedewasaan adalah hal yang mematangkannya. Rian meletakkan telapak tangannya di atas segel kotak kayu tersebut dan berbisik pelan, "Aku Rian."
*Klik.*
Mekanisme kuno kotak itu terbuka dengan lembut. Di dalamnya tidak terdapat tabung data berisikan kode mematikan atau instruksi rahasia. Hanya ada sebuah buku catatan kecil ber-sampul kulit cokelat kusam dan sebingkai foto analog tua yang agak menguning.
Maya mengambil foto itu perlahan. Di dalam foto tersebut, terlihat Rian yang masih muda—berpakaian jas putih laboratorium dengan wajah dingin tanpa ekspresi—berdiri di depan jendela raksasa laboratoriumnya. Namun, yang membuat napas Maya tertahan adalah tulisan tangan yang terukir di bagian belakang foto itu:
> *"Jika kau membaca ini, artinya aku telah berhasil menghancurkan diriku yang dulu. Jangan cari tahu siapa aku sebelumnya. Cukup cintai wanita yang telah mengajarimu cara menjadi manusia."*
Rian membaca tulisan itu melewati bahu Maya. Pria itu menyunggingkan senyum yang sangat tipis dan damai. Ia tidak perlu lagi mempertanyakan siapa pembuat foto itu atau apa dosa-dosa yang pernah diukirnya. Lingkaran masa lalu itu kini telah tertutup dengan sempurna.
"Dia tahu," bisik Rian pelan pada Maya. "Pria di dalam foto itu tahu bahwa versi dirinya yang baru akan menemukan kebahagiaan bersamamu."
Maya menyapu sudut matanya yang mengembun oleh air mata bahagia, lalu menggenggam foto itu rapat-rapat di dadanya. Ia menatap Rian, pria yang kini berdiri sepenuhnya bebas tanpa bayang-bayang masa lalu lagi.
"Mari kita simpan foto ini," kata Maya lembut. "Bukan sebagai peringatan akan dosa, tapi sebagai bukti bahwa setiap orang berhak atas kesempatan kedua."
Malam semakin larut di Neo-Veridia. Di luar sana, salju pertama terus turun dengan tenang, membungkus kota yang kini pulih itu dalam kedamaian yang putih dan murni. Di dalam *Kedai Awal Baru*, kehangatan perapian, aroma cokelat panas, dan gelak tawa tiga sahabat menjadi saksi bahwa fajar yang dulu mereka perjuangkan kini telah menjadi siang yang indah dan abadi.