Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 - BERMALAM DI SARANG NAGA
Kirana membuka mata dengan pandangan yang masih kabur, dan yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit tinggi berwarna abu-abu pucat yang dihiasi ukiran naga membentang dari satu ujung ke ujung yang lain. Langit-langit seperti itu tidak pernah ia temui di kamar asramanya. Ia menoleh pelan, mencoba mengingat di mana dirinya berada, dan ingatan itu kembali seperti air yang mengalir mengisi kembali cekungan yang kering.
Semalam bukan malam yang mudah. Kapal terbang Rangga tidak pernah sampai ke gerbang Akademi; tepat di tengah perjalanan, Krisis Api Darah datang menyerbu, dan pria di sampingnya berubah menjadi sosok kanak-kanak yang lemah dan tak aman. Ekor naga keperakannya melilit pinggang Kirana, tanduk kecilnya menggesek pipinya, dan ia menangis tertahan-tahan menanyakan apakah kakaknya akan meninggalkannya. Kirana menghela napas panjang, memandangi langit-langit itu dengan perasaan yang campur aduk.
Sampai akhirnya ia menyadari satu hal: manusia naga memang bukan manusia biasa. Kirana tidak tahu apakah manusia naga yang lain masih bisa disebut manusia, tetapi untuk Rangga, ia yakin sepenuhnya — pria itu tidak seperti manusia pada umumnya. Sepanjang malam ia menenangkan, menyanyikan Kidung Penenang sampai suaranya nyaris parau, memeluk dan mengusap ekor yang tak mau lepas; ketika fajar akhirnya menyingsing, ia tidak tahu lagi siapa yang sebenarnya menjaga siapa. "Ramu Sejiwa yang abadi," desisnya sambil meringis, mengenang bagaimana ia kembali terperangkap dalam peran itu.
Pagi itu, ketika Kirana melangkah keluar kamar, barulah ia benar-benar melihat kediaman Panglima. Ruang-ruangnya luas tetapi kosong; abu-abu mendominasi setiap sudut, dan tidak ada satu pun tanda kehidupan yang hangat. Ia bertanya kepada Kunang, "Siapa saja yang tinggal di kediaman ini?"
"Tidak ada," jawab Kunang polos. "Hanya Tuan dan Nyonya yang dianggap manusia. Roh-roh pelayan yang lain tidak dihitung."
Kirana tersedak mendengar jawaban itu, lalu memandang sekeliling dengan perasaan yang aneh. Seorang dewa perang yang hanya kalah wibawanya dari Baginda ternyata tinggal sendirian di kediaman yang dingin seperti ini. Entah mengapa, hati Kirana tiba-tiba merasa iba. Betapapun kuat dan ditakuti orang itu, di dalam kediaman megah yang sepi ini, ia hanyalah seorang pria yang menunggu seseorang untuk menemaninya.
Ia menggelengkan kepala, mengusir rasa iba yang tidak pada tempatnya, lalu bertanya lagi, "Tuan Panglima ke mana?"
"Tuan sudah berangkat sejak subuh," kata Kunang. "Panglima memang selalu begitu. Setiap krisisnya reda, ia langsung kembali ke kewajibannya tanpa menoleh ke belakang."
Kirana mengangguk-angguk. "Oke, aku lari, kau lari, kita berimbang," katanya mengejek diri sendiri. Rasa penat yang masih melekat membuatnya memutuskan untuk mandi sebelum memikirkan apa pun.
Kunang yang sedari tadi mengamati akhirnya bersuara lagi, "Nyonya, Guruh telah membukakan beberapa izin untukku. Nyonya boleh memakai seluruh perlengkapan di kediaman ini."
Sebutan "perlengkapan" itu ternyata jauh lebih mewah dari yang Kirana bayangkan. Di dalam kamar pemandian terdapat sebuah kolam yang airnya dijaga tetap hangat oleh batu gema di dasarnya, lengkap dengan pelayan sihir yang berdiri di sudut, siap menyalakan api rempah dan menuangkan sari bunga ke dalam air atas satu perintah. Kirana hanya perlu berbaring, menyebutkan apa yang ia butuhkan, lalu menyerahkan seluruh tubuhnya kepada kehangatan itu.
Karena terlalu nyaman, ia akhirnya tertidur lagi di dalam kolam. Yang membangunkannya adalah suara Kunang yang cemas, takut kalau-kalau ia terendam terlalu lama dan berakibat buruk bagi tubuhnya yang baru pulih. "Nyonya, sudah pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Lima belas menit lagi kelas pertama Nyonya dimulai!"
Kirana terkejut setengah mati. Seragam militernya telah dicuci, dikeringkan, dan disetrika rapi oleh pelayan sihir, tergantung di dekat pintu. Ia memandangnya sejenak, lalu begitu pakaian itu menutup tubuhnya, ia berbalik dan berlari sekencang-kencangnya menuju pintu! Keterlambatan di hari pertama kuliah — tidak peduli usia berapa, menit dan detik selalu menjadi nyawa bagi seorang taruna!
Sayangnya, begitu ia melompat keluar, hidungnya menabrak sesuatu yang sangat keras. Kirana memegangi hidungnya, lalu mengangkat wajah, dan mendapati pria yang mengenakan pakaian rumah berwarna krem sedang berdiri di hadapannya. Pakaian itu tampak lembut, tetapi sikap pria itu tidak: wajah dingin tanpa ekspresi, aura Panglima yang biasanya menekan kelembutan warna krem itu hingga tak tersisa.
Tidak perlu ditanya lagi; Masa Api Darah telah usai, dan sang Panglima yang dingin telah kembali. Tetapi Kirana tidak peduli pada aura itu saat ini. Ia mengusap ujung hidungnya yang memerah dan mengeluh, "Aku akan terlambat!"
"Aku akan menyuruh Guruh mengantarmu," kata Rangga datar. "Selain itu, berikan Guruh salinan jadwalmu."
"Apakah bisa sampai tepat waktu?"
"Kalau terlambat, tak perlu otakku bekerja lagi."
Guruh yang mendengar percakapan itu hanya bisa menghela napas; demi mempertahankan pekerjaannya, ia akan berusaha sekeras mungkin. Ia berubah menjadi bola cahaya kecil seukuran telapak tangan, lalu berkata, "Nyonya, jalan biasa pasti terlambat. Kita pakai jalan khusus."
Guruh ternyata mengenal setiap lorong rahasia dan koridor tersembunyi di dalam Akademi lebih dari yang Kirana duga. Dalam beberapa menit saja, bola cahaya itu telah menuntunnya tiba tepat di depan pintu kelas, persis ketika bel akan berbunyi. "Nyonya, aku akan menjemput Nyonya setelah kelas hari ini selesai," kata Guruh sopan sebelum menghilang.
Kirana terburu-buru masuk dan duduk tepat di sebelah Hana, menghela napas lega. Untung masih mengejar. Guru berseragam hitam masuk sesaat kemudian, dan kelas pun dimulai. Pelajaran hari itu kebetulan membahas tentang struktur tubuh manusia naga, termasuk juga hal ihwal Darah Naga dan segala yang menyertainya.
Ketika sang guru menyebutkan bahwa karena kondisi fisik khusus, manusia naga akan dilanda Masa Api Darah sekali dalam setahun, sudut bibir Kirana berkedut. "Bohong," katanya dalam hati. "Ada yang bukan sekali setahun, tapi sebulan sekali! Persis seperti..." Ia menghentikan kalimatnya sebelum selesai, karena membayangkan Rangga yang lemah dan memelas semalam membuat pipinya memanas lagi.
Sang guru melanjutkan, bahwa satu-satunya yang bisa meredakan Masa Api Darah hanyalah Ramu Sejiwa yang diracik oleh pasangan sahnya, diiringi Kidung Penenang. Begitu seorang manusia naga terikat pada Ramu Sejiwa istrinya, tubuhnya menjadi kebal terhadap segala peracik lain; ramuan apa pun yang diminumnya tak akan lagi mempan, kecuali racikan sang istri sendiri. Mata Kirana membelalak. Jadi beginilah maksud perkataan Guruh semalam — Ramu Sejiwa itu hanya satu, dan pemiliknya hanya satu. Ia, Kirana, adalah satu-satunya yang bisa menenangkan krisis suaminya. Ada rasa aneh yang tumbuh di dadanya; bukan bangga, bukan takut, melainkan semacam kesadaran bahwa ia telah terikat pada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar selembar catatan pernikahan.
Kirana menepuk pipinya sendiri beberapa kali untuk menenangkan diri. Hana yang duduk di sampingnya menatap curiga. "Kau baik-baik saja?"
"Oh, baik-baik saja."
"Omong-omong," kata Hana sambil menunduk, "adikmu datang ke asrama mencarimu tadi malam."
Butuh beberapa detik bagi Kirana untuk mengingat siapa yang disebut "adik" itu, lalu ia menjawab dengan datar, "Oh."
"Aku bilang kau keluar mengurus keperluan, tetapi ia terus bertanya di mana kau."
Kirana tersenyum tipis. "Ia bukan saudari kandungku." Hana segera mengerti bahwa kedua "saudari" itu tidak akur, dan tidak berkata apa-apa lagi.
Keduanya mengemasi barang dan keluar bersama. Baru saja melangkah ke lorong, mereka melihat Larasati berdiri di depan mereka dengan wajah yang rumit, seolah hendak mengatakan sesuatu yang sulit. Kirana menduga apa yang akan keluar dari mulut gadis itu, maka ia berkata, "Bagaimana kalau kita kembali ke asrama dulu dan membicarakannya di sana?" Ia sendiri ingin mengukur ruang tengah asrama untuk membuat sketsa dapur ramu yang akan dipasangnya. Larasati mengerutkan kening, lalu mengangguk dengan wajah yang masih rumit.
Begitu pintu asrama tertutup, Larasati tidak tahan lagi. "Kirana, apakah kau benar-benar istri Panglima?" tanyanya cepat. Tadi malam, setelah menerima pesan dari kakaknya, Larasati nyaris meledak! Mengingat bagaimana ia sendiri pernah mengingatkan Kirana agar tidak bermimpi terlalu tinggi tentang Panglima Kabut saat upacara pembukaan, dadanya terasa sesak. Tidak disangka tamparan di wajah datang begitu cepat, membuat seluruh tubuhnya terasa tidak enak.
Hana yang hendak kembali ke kamar juga tertegun. Ia menatap Kirana dengan mata terbelalak, tidak menyangka teman sekamarnya yang pendiam itu ternyata adalah istri misterius sang Panglima yang digosipkan seluruh jaringan gema. Mengetahui bahwa rahasia ini cepat atau lambat akan terbongkar, Kirana mengaku dengan terus terang. "Benar."
Melihat dua teman sekamar yang tampak seperti disambar petir itu, Kirana hanya tersenyum tipis. Ia berjalan ke sudut ruang tengah, lalu memanggil Kunang untuk mulai mengukur ruangan, meninggalkan Hana dan Larasati yang masih terdiam membatu di tempatnya.