Sari adalah jurnalis muda yang ditugaskan untuk meliput sintren, sebuah tarian unik perpaduan seni budaya dan mistis di daerah pesisir Indramayu. Tak disangka liputannya membawa Sari dan kedua sahabatnya pada sebuah misteri baru.
Berawal dari mimpi dan buku tua misterius yang datang tiba-tiba pada Sari, ia dan kedua sahabatnya memulai petualangan misteri. Mereka yang berani membaca buku tua itu akan diteror dengan hantu penari bertopeng.
Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa hantu penari itu?
Apakah Sari dan kedua sahabatnya dapat memecahkan misteri dan melawan rasa takut mereka?
Ikuti terus kisahnya hingga akhir,
How dare you to read that book?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nath_e, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sari dibuat terheran heran dengan sikap Pak Adit yang berlalu begitu saja sehabis menanyakan umurnya. Begitu juga dengan Bagas dan Doni.
" Lah dia nanya langsung pergi, napa dia?" tanya Sari heran
" Kesambet kali Sar, kan dia baru baca buku lu tadi." jawab Doni
" Ngapain baca buku ini?" gumam Sari
Bagas menghentikan kegiatannya dan beralih menatap ke buku tua itu.
" Kamu bener deh Sar, ada yang aneh sama Pak Adit...abis baca tu buku kayak penasaran banget ma kamu," kata Bagas
" Jangan-jangan dia jatuh cinta ma Lu Sar...wah Gas siap-siap dah tu punya saingan berat lu." sahut Doni menggoda Bagas
" Dia bukan tipeku Don, nda level suka ma orang kaya Pak Adit." ujar Sari sambil membuka buku tua miliknya
" Level nya cuma sama aku kan Sar, aku masih menunggu jawaban kamu lho...setia menanti ni," kata Bagas sambil mengerlingkan matanya ke arah Sari
Sari yang melihat tingkah Bagas hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban,
" Setia menanti...saking setianya Sar, mpe rela lumutan tega bener lu nggantungin Bagas cakep-cakep gitu dianggurin...apa jangan-jangan lu sukanya ma gue Sar?" celetuk Doni yang langsung disambut lemparan bantal kursi dari Sari.
" Kalian perhatiin nda sih, Pak Adit tadi kayak kaget pada baca salah satu halaman buku ini...aku sempat liat ekspresi nya dia tadi dari dapur, curiga deh ma Pak Adit," kata Sari
" Iya sih, tadi kita juga liat agak aneh memang jadi penasaran dia baca pas bagian mana ya?" sahut Bagas
" Gue langsung merinding gini sih, tu buku ada kutukannya kali Sar...aneh bener dari hantu penari, Bagas kesurupan, mpe Pak Adit yang mencurigakan, jangan-jangan ada hubungannya ni," kata Doni
" Tumben Don, omongan mu bener...keselek kue kamu?" tanya Sari sambil tertawa pada Doni
" Heeem...sekali kali bener Sar, lagi insyaf gue."
Tante Kurnia dan Om Bambang bergabung dengan mereka,
" Asyik banget ceritanya dari tadi nih." sapa.Om Bambang
" Biasa om, anak muda klo nda asyik ceritanya berarti tua," sahut Doni
" Ni anak kalo ngomong nyenengin deh, bikin pengen ngejitak aja Tante bawaannya...kamu nemu dimana ini Sar, Tante cariin dah satu?" kata Tante Kurnia sambil memandang gemas ke arah Doni
" Yaelah Tan, model beginian di Pasar Jagasatru juga banyak bejibun di emperan," jawab Sari
" Sialan lu Sar, gue disamain ma dagangan pasaran amat...gini-gini idola kampung gue," sungut Doni kesal
" Kampung Bujang Lapuk, yang muda lu doang lainnya liwat yaak?" goda Bagas
Om Bambang dan Tante Kurnia pun ikut tertawa melihat keakraban Sari dan rekan rekannya. Tak lama kemudian Ahmad dan juga Rara turut bergabung begitu juga dengan Mang Aa dan Tante Ika.
" Wah rame nih...dah pada siap kayaknya?" sapa Mang Aa
" Iya ni Mang seru ada mbak Sari ma temennya bikin ketawa terus." jawab Tante Kurnia
" Hendra jemput kalian jam berapa?" tanya Mang Aa lagi
" Katanya jam lima sore sehabis meeting di kantornya Mang" jawab Sari
" Oh masih lumayan lama juga, sudah siap?" tanya Mang Aa
" Insyaallah semua siap" jawab Bagas
" Nanti kalian ke rumah saya dulu ya sebelum berangkat," pesan Mang Aa
" Siap mang, mo dibekali apa ni kita...saya cukup salam tempel dah mang, request yang warna merah aja semua tiga lembar cukuplah," sahut Doni
Mereka pun kembali tertawa mendengar sahutan Doni, sebuah candaan receh yang menghidupkan suasana ditengah ketegangan persiapan liputan.
Mang Aa terkejut melihat buku tua yang dipegang Sari, dia terus memperhatikan buku itu seolah sedang memastikan sesuatu,
" Itu apa Sar, kayak buku tua ya...punya kamu?" tanya Mang Aa
" Ooh, ini iya punya Sari...tepatnya katanya punya Sari Mang, ada yang kirim ni buku ke rumah Sari tapi nda tau siapa," jawab Sari
Tante Kurnia dan Mang Aa saling berpandangan seolah ada sesuatu yang mengganjal di hati mereka.
Sesuatu yang tidak bisa dijabarkan, sesuatu yang nantinya akan menjadi jawaban dari sebuah teka teki.