NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031

Jangan Balas Sendiri

Ketika Kevin mengangkat wajah, matanya sudah dingin sepenuhnya.

Namun ia tidak langsung kembali ke tempat biliar.

Sekar melihat tangannya mengepal, lalu perlahan terbuka lagi. Bekas gigitan di punggung tangan kirinya tampak jelas ketika ia menurunkan ponsel. Ia menarik napas satu kali, dalam dan tertahan.

"Kita pulang," katanya.

"Kamu tidak mau..."

"Mau." Kevin memotong, suaranya rendah. "Gue mau tarik dia keluar dan bikin dia lupa cara ngetik. Tapi kalau gue lakuin itu, besok dia bisa pakai muka korban. Kita butuh dia nulis lebih banyak."

Sekar menatapnya.

Itu bukan Kevin yang dulu.

Kevin yang dulu mungkin sudah masuk lagi, menggenggam kerah Tommy, dan membuat semua orang di tempat biliar melihat darah. Kevin yang sekarang masih marah, tetapi amarahnya ditahan oleh sesuatu yang lebih kuat dari gengsi.

"Jangan kelihatan kaget begitu," gumamnya.

"Aku bangga."

Telinga Kevin memerah. "Naik motor."

Sebelum menyalakan mesin, ia mengirim pesan lagi ke Bryan.

Kevin: Kalau nomor itu chat Sekar, screenshot semua. Jangan balas.

Bryan: Siap. Tapi serius ini siapa?

Kevin: Sepupu Sekar. Bukan orang baik.

Bryan: Gue paham. Gue diam dulu.

Sekar membaca balasan itu dari samping. Untuk pertama kalinya sejak melihat Tommy, dadanya tidak terlalu sesak. Bukan karena ancamannya hilang, tetapi karena ia tidak lagi sendirian menyimpan takut.

Malam itu, Kevin mengantar Sekar sampai gerbang rumah Oma Lien.

Oma Lien sudah menunggu di ruang depan dengan lampu menyala terang. Begitu Sekar masuk, Oma memegang wajahnya dengan dua tangan, memeriksa seperti saat Sekar kecil pulang jatuh dari sepeda.

"Kamu pucat."

"Sekar cuma kaget."

Oma Lien menatap Kevin di belakangnya. "Apa yang dia katakan?"

Kevin tidak langsung menjawab. Ia menunggu Sekar mengangguk.

Baru setelah itu ia menunjukkan screenshot pesan Tommy.

Oma Lien membaca pelan. Wajahnya tetap tenang, tetapi jari yang memegang ponsel mengeras. "Budi tidak berubah."

Sekar duduk di sofa. "Oma, kalau mereka datang Minggu..."

"Oma tidak buka pintu sendiri." Oma Lien menyerahkan ponsel kembali. "Satpam kompleks akan diberi tahu. Tante Mei juga Oma kabari. Kamu jangan pulang sendirian dulu."

Kevin berdiri lebih tegak. "Saya antar jemput Sekar."

Oma Lien menatapnya. "Sekolahmu?"

"Tetap sekolah, Oma. Saya atur."

"Jangan sampai kamu sendiri masuk masalah."

Kevin menunduk sedikit. "Saya tidak akan pukul duluan."

Sekar hampir tersedak.

Oma Lien menatapnya lama, lalu menghela napas. "Jawabanmu jujur sekali."

"Maaf, Oma."

"Tidak apa-apa. Lebih baik jujur daripada janji manis."

Keesokan harinya, semua terasa seperti berjalan di atas garis tipis.

Sekar berusaha mengikuti pelajaran. Kevin duduk dua baris di belakangnya karena jadwal kelas gabungan untuk sesi latihan Bahasa Indonesia. Setiap kali ponselnya bergetar, Kevin langsung melihat. Bryan, yang biasanya paling ribut, hari itu lebih sering mengamati pintu kelas.

Tommy tidak mengirim pesan pagi itu.

Justru karena tidak ada pesan, Sekar lebih gelisah.

Saat pulang sekolah, Kevin dipanggil Pak Arief sebentar untuk membahas jadwal latihan basket dan remedial. Sekar menunggu di dekat gerbang bersama Yola. Steven dan Bryan sedang membeli minuman di minimarket seberang.

"Kamu yakin nggak mau tunggu di dalam?" tanya Yola.

"Kevin cuma sebentar."

"Aku nggak suka muka kamu dari kemarin."

Sekar mencoba tersenyum. "Mukaku kenapa?"

"Muka orang yang lihat hantu tapi pura-pura cuma lihat cicak."

Sekar tidak sempat menjawab.

Sebuah motor matic berhenti di tepi jalan, tidak jauh dari gerbang sekolah. Pengendaranya melepas helm.

Tommy.

Yola langsung merasakan perubahan tubuh Sekar. "Sekar?"

Tommy tersenyum dari seberang pagar rendah, seolah mereka berjanji bertemu. Kali ini ia memakai jaket denim dan sandal mahal yang tampak terlalu mencolok. Di tangannya ada ponsel.

"Sepupu," panggilnya. "Susah amat ditemui."

Sekar menggenggam tali tas.

"Kamu ngapain di sini?"

"Jemput adik sepupu boleh, dong."

Yola maju setengah langkah. "Dia nggak butuh dijemput."

Tommy melirik Yola, lalu tertawa. "Temannya galak juga."

Sekar mengirim pesan cepat ke Kevin tanpa melihat layar terlalu lama.

Sekar: Tommy di gerbang.

Centang satu.

Mungkin Kevin masih di ruang olahraga, sinyalnya buruk.

Tommy turun dari motor dan mendekati gerbang. Satpam sekolah memandangnya curiga, tetapi Tommy mengangkat tangan dengan wajah ramah.

"Saya keluarga. Cuma mau ngobrol sebentar."

Sekar berkata cepat, "Aku tidak mau ngobrol."

"Jangan begitu. Papa cuma butuh bicara sama Oma. Masalah kecil. Kamu kan cucu kesayangan, bisa bantu lembutin hati beliau."

Kata bantu kembali membuat perut Sekar dingin.

Yola berbisik, "Kita masuk lagi."

Sekar mengangguk, tetapi Tommy sudah bergerak ke sisi gerbang yang terbuka untuk motor keluar. Ia tidak masuk ke area sekolah, tetapi cukup dekat untuk membuat Sekar mundur.

"Jangan kabur terus," kata Tommy. "Keluarga sendiri masa takut?"

"Aku tidak takut."

"Bohong."

Ponsel Sekar bergetar.

Kevin: Jangan keluar pagar. Gue ke sana.

Sekar menarik napas, sedikit lega.

Namun Tommy melihat gerakan matanya ke layar.

"Pacarmu lagi dipanggil guru, kan?" Senyumnya melebar. "Tenang saja. Aku cuma mau ngomong sama kamu. Atau kamu sudah nggak bisa bicara kalau nggak ada anak motor itu?"

Yola menatapnya tajam. "Panggil satpam saja, Sekar."

Tommy mengangkat bahu. "Panggil. Aku cuma keluarga yang mau ketemu sepupu."

Ia mendekat satu langkah lagi, tepat di luar garis pagar.

Sekar mundur.

Yola tidak ikut mundur.

Dengan tangan yang tampak seperti sedang memegang tali tas, ia menurunkan ponsel ke samping rok dan menyalakan kamera. Layarnya menghadap ke bawah, tetapi lensanya menangkap pagar, motor Tommy, dan suara laki-laki itu dengan cukup jelas.

"Sekar," bisik Yola tanpa menggerakkan bibir banyak, "jangan jawab panjang. Biar dia ngomong."

Sekar mendengar, tetapi tubuhnya masih kaku.

Tommy tidak menyadari ponsel itu. Ia terlalu sibuk menikmati setiap kali Sekar mundur setengah langkah.

Tommy melihatnya mundur, lalu menurunkan suara.

"Sampaikan ke Oma. Minggu siang. Kalau beliau susah diajak baik-baik, Papa bisa datang lebih sering. Rumah tua itu gampang dicari."

Darah Sekar seperti turun ke kaki.

Satpam di pos kecil mulai berjalan ke arah mereka, alisnya berkerut karena mendengar nada Tommy. Yola menahan ponselnya tetap rendah sampai kalimat terakhir itu terekam utuh. Setelah itu baru ia menekan layar untuk menyimpan video, wajahnya pucat tapi matanya marah.

"Kena," bisiknya.

Sekar ingin mengangguk, tetapi lehernya terasa terlalu kaku untuk bergerak.

Dari ujung koridor, suara langkah cepat terdengar.

Kevin muncul bersama Pak Arief di belakangnya.

Tommy juga melihat.

Senyumnya tidak hilang, tetapi ia mundur satu langkah ke arah motornya.

"Sampai ketemu Minggu, Sepupu."

Sekar berdiri kaku di tempat, sementara ponselnya masih terbuka di pesan Kevin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!