NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Tidak Bisa Dibatalkan

Besok datang dengan hujan tipis di kaca mobil.

Keira duduk di kursi belakang Rolls-Royce keluarga Liem, mengenakan gaun hitam sederhana dan anting mutiara kecil. Tidak ada riasan berlebihan. Tidak ada warna selain hitam, putih, dan dingin yang sengaja ia bawa seperti perisai.

Kevin duduk di sebelahnya, memeriksa ulang lokasi pertemuan di layar ponsel.

"Private dining Hotel Mulia," katanya. "Klasik. Mahal. Terlalu banyak kamera, tapi semua kameranya bisa dibeli."

"Aku tidak datang untuk makan."

"Aku tahu. Kau datang untuk membatalkan pertunangan sambil menghancurkan harga diri seorang Hartono."

Keira menatap jendela. "Kalau harga dirinya hancur hanya karena aku berkata tidak, berarti dia tidak pantas jadi Hartono."

Kevin tersenyum miring, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. "Papa mengirim dua tim pengawal. Aku menambah dua lagi. Kalau Revano macam-macam..."

"Aku bisa menjaga diriku."

"Itu kalimat favorit semua orang yang akhirnya membuatku sakit kepala."

Keira tidak menjawab.

Di tas kecilnya, ada salinan kontrak pertunangan dan jam tangan hangus Rayhan. Ia tahu membawa benda itu ke pertemuan dengan tunangan baru adalah tindakan tidak sehat. Ia tetap membawanya. Ada hari-hari ketika kesedihan tidak ingin disembuhkan, hanya ingin ditemani.

Revano Hartono sudah menunggu ketika Keira masuk.

Ruang makan privat itu berada di lantai tinggi, menghadap lampu-lampu Jakarta yang basah oleh hujan. Meja panjang hanya disiapkan untuk dua orang. Tidak ada bunga romantis, tidak ada lilin, tidak ada usaha bodoh membuat pertemuan itu terasa seperti kencan.

Revano berdiri di dekat jendela.

Foto berita kemarin tidak berbohong, tetapi juga tidak cukup. Wajahnya asing, tegas, terlalu rapi untuk terasa lembut. Ada bekas samar di dekat rahang kiri, hampir tidak terlihat kalau orang tidak memperhatikan. Bahunya lebar, tubuhnya tegak, tetapi Keira menangkap jeda kecil saat ia berbalik, seperti seseorang yang pernah belajar bergerak meski punggungnya sakit.

Lagi-lagi tubuhnya memperhatikan hal yang tidak seharusnya.

Keira membenci itu.

Revano menatapnya.

Tatapan itu tidak turun ke gaunnya. Tidak menilai. Tidak menyapu tubuhnya seperti kebanyakan lelaki yang terlalu sadar akan kuasa sendiri.

Ia hanya menatap matanya.

"Keira Liem," katanya.

Suaranya rendah.

Terlalu rendah.

Tangan Keira yang memegang clutch mengeras.

"Revano Hartono."

Kevin masuk setengah langkah di belakangnya.

Revano menoleh. "Pertemuan ini untuk dua orang."

"Adikku baru dipaksa bertunangan dengan pria yang muncul dari lubang gelap keluarga tua. Aku rasa tiga orang masih sopan."

Revano tidak tersinggung. "Kalau Keira ingin kau tinggal, kau tinggal."

Keira menarik kursi. "Ko Kevin, tunggu di luar."

"Kei."

"Aku tidak akan lama."

Kevin menatap Revano dengan peringatan yang sangat jelas, lalu keluar. Pintu tertutup, menyisakan suara hujan dan pendingin ruangan.

Keira tidak duduk.

Ia meletakkan kontrak pertunangan di atas meja.

"Aku ingin membatalkan ini."

Revano melihat map itu. "Aku tahu."

"Bagus. Tanda tangani pembatalannya."

"Tidak."

Jawaban itu terlalu tenang.

Keira tersenyum tipis. "Kau bahkan tidak berpura-pura mempertimbangkan."

"Aku tidak ingin membuang waktumu."

"Kalau begitu jangan ambil hidupku."

Revano diam sesaat.

Di sela cahaya lampu kota, mata lelaki itu tampak sangat gelap. Bukan gelap yang kosong. Lebih seperti ruangan terkunci yang terlalu lama tidak dibuka.

"Aku tidak mengambil hidupmu," katanya. "Aku menahan orang-orang yang ingin mengambilnya."

"Kalimat itu mirip Papa."

"Karena kali ini Papa-mu benar."

Keira tertawa dingin. "Hati-hati. Aku tidak suka lelaki yang memakai nama ayahku untuk mengunci pintu."

"Aku juga tidak suka perempuan yang dibiarkan berdiri sendirian di depan gudang penuh bensin."

Udara di antara mereka berhenti.

Keira menatapnya. "Kau tahu soal itu."

"Seluruh Jakarta yang punya uang cukup tahu soal itu."

"Tidak. Kau tahu detailnya."

Revano mengambil gelas air, mendorongnya ke arah Keira. "Duduk dulu."

"Jangan memerintahku."

"Kalau kau pingsan karena belum makan, Kevin akan menembakku sebelum kita sempat membatalkan apa pun."

Keira tidak menyentuh gelas itu.

"Aku baru mengubur Rayhan."

"Aku tahu."

"Tidak. Kau tidak tahu." Suaranya turun, makin tajam. "Kau tidak tahu rasanya memeluk kotak abu seseorang yang baru semalam masih bicara di telepon. Kau tidak tahu rasanya dipaksa membaca surat cinta dari orang mati di depan orang-orang yang dulu menghina pernikahanmu. Kau tidak tahu apa pun tentang aku."

Revano menatapnya lama.

Untuk sesaat, sesuatu retak di wajahnya.

Sangat cepat.

Terlalu cepat.

"Kau benar," katanya. "Aku tidak berhak mengaku tahu."

Keira mengira ia akan berdebat. Jawaban itu justru membuat amarahnya kehilangan sasaran.

Ia menarik napas. "Kalau kau punya sedikit rasa hormat pada orang mati, batalkan."

"Tidak sekarang."

"Kenapa?"

"Karena Om Herman belum tertangkap. Harrison belum ditemukan. Nathan Wijaya bergerak terlalu diam. Dan sejak identitasmu dibuka, setiap keluarga yang dulu menertawakanmu sekarang ingin tahu bagaimana cara menjatuhkanmu."

"Aku punya Liem."

"Liem sedang bocor dari dalam."

Keira membisu.

Revano tidak menaikkan suara. "Aku tidak minta kau mencintaiku. Aku tidak minta kau memakai cincinku. Aku hanya minta waktu."

"Berapa lama?"

"Tiga bulan."

"Tidak."

"Satu bulan."

"Aku tidak sedang menawar harga gaun."

"Satu bulan," ulang Revano. "Publik melihat pertunangan ini cukup lama untuk membuat mereka takut bergerak. Aku bantu kau menemukan Herman dan Harrison. Setelah itu, kalau kau masih ingin membatalkan, aku tanda tangan di depan wartawan."

Keira menyipitkan mata. "Kau untung apa?"

Revano menatap gelas air yang tidak ia sentuh. "Aku mendapatkan alasan yang sah untuk berada di dekatmu."

Jantung Keira menghantam sekali, keras dan menyakitkan.

Kalimat itu terdengar terlalu akrab.

Terlalu seperti seseorang yang sudah lama menunggu di luar pintu.

"Jangan bicara seperti itu padaku."

"Baik."

"Aku bukan perempuan yang bisa kau dekati dengan kalimat samar."

"Aku tahu."

"Berhenti bilang kau tahu."

Revano menunduk sedikit. "Baik."

Keira mengambil kontrak dari meja. "Aku tidak menyetujui satu bulan."

"Tapi kau tidak akan bisa membatalkan hari ini."

"Kau sombong."

"Ya."

Jawaban itu kembali terlalu tenang.

Keira ingin membencinya dengan mudah. Namun kebencian paling mudah membutuhkan lawan yang menunjukkan gigi. Revano tidak menunjukkan gigi. Ia berdiri di sana seperti pintu baja, tidak menyerang, hanya tidak bergerak.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Kevin.

Kau masih hidup?

Keira mengetik tanpa melihat Revano.

Sayangnya.

Kevin membalas.

Kalau dia menyebalkan, lempar sup.

Keira hampir tersenyum. Hampir.

Revano melihat perubahan kecil itu, lalu menurunkan mata seolah tidak berhak menikmatinya.

"Aku pergi," kata Keira.

"Pengawal Hartono akan mengantar sampai mobilmu."

"Aku punya pengawal."

"Aku tahu."

Keira menatapnya tajam.

Revano diam.

Ia belajar cepat. Itu menyebalkan.

Ketika Keira membuka pintu, Revano berkata, "Keira."

Langkahnya berhenti.

"Jangan minum malam ini."

Seluruh tubuh Keira menegang.

Ia menoleh pelan. "Apa?"

"Kau marah. Orang yang marah sering memilih alkohol agar bisa tidur."

Keira tertawa kecil, dingin. "Kau juga mau mengatur caraku berduka?"

"Tidak. Aku hanya tahu kau tidak suka kehilangan kendali."

"Kau tidak tahu apa-apa tentang aku, Revano Hartono."

Ia keluar dan membanting pintu cukup keras untuk membuat pelayan di koridor menunduk kaget.

Kevin berdiri dari sofa tunggu. "Selesai?"

"Tidak bisa dibatalkan."

"Aku bunuh dia?"

"Jangan. Nanti Papa makin repot mencari tunangan pengganti."

Kevin menatap wajah adiknya, lalu menghela napas. "Pulang?"

Keira memandangi lift yang turun lambat. Di dalam dadanya, suara Revano masih tertinggal.

Jangan minum malam ini.

Seperti perintah.

Seperti kekhawatiran.

Seperti suara yang hampir ia kenal.

"Tidak," kata Keira.

Kevin mengerutkan kening. "Ke mana?"

Keira masuk ke lift.

"Tempat yang menjual alkohol paling kuat di SCBD."

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!