"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Skandal di Red Carpet
Wenny Santoso tahu ia akan jatuh bahkan sebelum suara heboh itu pecah di belakangnya.
Tumit stiletto-nya tersangkut ujung karpet merah yang sedikit terlipat. Dari sisi kiri, seseorang menabrak bahunya cukup keras untuk membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Lampu kamera menyambar bertubi-tubi, putih, panas, menyilaukan. Seluruh suara di Bintang Awards Gala mendadak terdengar jauh, seperti ia sedang tenggelam di dalam kolam yang dipenuhi teriakan fotografer.
"Wenny!"
Nama itu baru sempat menyentuh telinganya ketika tubuhnya sudah terlempar ke depan.
Ia menutup mata, bersiap pada rasa sakit di lutut, pada gaun satin biru muda yang pasti akan terseret di karpet, pada ratusan kamera yang akan mengabadikan jatuhnya Putri Nasional malam ini.
Tapi rasa sakit itu tidak datang.
Yang datang justru sepasang lengan yang kuat.
Satu tangan menahan pinggangnya, satu lagi menopang punggungnya. Aroma parfum maskulin yang dingin dan samar-samar manis menyergap napas Wenny. Ketika ia membuka mata, wajah REYN sudah berada begitu dekat sampai ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata pria itu.
Bukan pantulan penuh. Hanya wajahnya yang pucat, bibir yang terbuka karena terkejut, dan dua lesung pipi yang muncul samar karena ia menggigit senyum panik.
Di pupil REYN, ia tampak kecil sekali.
Namun tatapan pria itu tidak terlihat kaget.
Tidak seperti orang yang baru saja menangkap perempuan jatuh di depan ratusan kamera. Tidak seperti artis yang kebetulan diseret masuk ke skandal. Matanya terlalu tenang. Sudut bibirnya bahkan naik sedikit, nyaris tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat dada Wenny berdegup sekali lebih keras.
Seolah-olah ia sudah lama menunggu momen ini.
"Hati-hati," ucap REYN rendah.
Suara itu dekat sekali dengan telinganya. Wenny baru sadar telapak tangannya menempel di dada REYN. Di balik jas hitam yang rapi, detak jantung pria itu terasa stabil, berbanding terbalik dengan jantungnya yang kacau.
"Maaf." Wenny buru-buru menarik tangannya. "Aku..."
"Kamu terluka?"
Pertanyaan itu memotong kepanikannya. Sederhana, tapi cara REYN menatap lutut dan pergelangan kakinya membuat kamera di sekitar mereka mendadak terasa tidak penting.
Wenny menggeleng. "Enggak. Aku baik-baik saja."
"Yakin?"
Terlalu lembut.
Satu kata itu terlalu lembut untuk seorang REYN, penyanyi top yang selama ini dikenal dingin di depan media. Ice Prince. Pria yang jarang tersenyum, jarang menjawab pertanyaan pribadi, dan lebih sering membuat presenter kehilangan kata-kata karena jawabannya pendek-pendek.
Wenny menegakkan tubuhnya. Ia sadar tangan REYN masih berada di pinggangnya, tidak menekan, hanya menjaga agar ia tidak jatuh lagi. Panas merambat dari tempat jari pria itu menyentuh gaunnya.
"Yakin," jawabnya, kali ini lebih pelan.
Barulah REYN melepaskannya.
Di sekeliling mereka, fotografer seperti baru menemukan oksigen.
"REYN, lihat sini!"
"Wenny, ke sini sedikit!"
"Kalian datang bareng?"
"Ada hubungan apa?"
Pertanyaan saling bertabrakan. Flash kamera menyala seperti petir kecil. Wenny memaksa senyum profesional yang sudah ia latih sejak kecil. Tujuh belas tahun di dunia hiburan mengajarinya untuk tidak panik di depan kamera, bahkan ketika gaunnya hampir membuatnya jatuh ke pelukan penyanyi paling berbahaya untuk dijadikan rumor.
Dari sudut mata, ia melihat Rosa.
Rosalyn Chandra berdiri beberapa langkah di belakang, gaun merahnya berkilau di bawah lampu. Senyumnya lembut, rapi, seolah ia hanya penonton yang ikut kaget.
"Aduh, Wenny, kamu enggak apa-apa?" Rosa mendekat sambil menempelkan tangan ke dada. "Tadi ramai sekali, aku sampai enggak lihat kamu hampir jatuh."
Wenny menatapnya.
Bahunya masih terasa nyeri di bagian yang tadi tertabrak. Terlalu tepat untuk disebut tidak sengaja. Terlalu keras untuk ukuran orang yang hanya terseret arus kerumunan.
Namun kamera masih menyala.
"Aku baik-baik saja," kata Wenny dengan senyum tipis. "Untung ada REYN."
Senyum Rosa berhenti sepersekian detik.
REYN melirik Rosa. Tatapannya tidak tajam, tapi cukup dingin untuk membuat perempuan itu menurunkan tangan dari dada. Ia tidak berkata apa-apa. Justru diamnya membuat udara terasa lebih berat.
Seorang staf gala bergegas mendekat. "Wenny, jalur red carpet masih lanjut. Kita masuk dulu ya?"
Wenny mengangguk. Ia hendak melangkah, tapi REYN lebih dulu sedikit menunduk dan membetulkan ujung karpet yang tadi melipat. Gerakan itu sederhana, bahkan hampir tidak terlihat oleh kamera besar di depan, tetapi kamera ponsel para tamu VIP pasti menangkapnya.
"Sekarang aman," katanya.
Pipi Wenny memanas.
Ia ingin menjawab biasa saja. Mungkin `terima kasih`, mungkin candaan ringan agar suasana cair. Tetapi semua kalimat tersangkut di tenggorokan. Yang keluar hanya anggukan kecil.
Mereka berjalan terpisah setelah itu.
Setidaknya Wenny berusaha membuatnya terlihat terpisah.
Ia masuk ke area backstage dengan Lilian yang langsung menariknya ke sudut dekat tirai hitam. Wajah manajernya pucat, ponsel sudah menempel di telinga, satu tangan sibuk menahan ekor gaun Wenny.
"Kamu jatuh ke siapa tadi?" bisik Lilian, cepat dan tajam.
"Aku tidak jatuh." Wenny menarik napas. "Hampir."
"Hampir jatuh ke pelukan REYN itu tetap cukup untuk bikin kantor kita lembur sampai pagi."
"Rosa yang nabrak aku."
Mata Lilian langsung menyipit. "Kamu yakin?"
Wenny memegang bahunya yang masih nyeri. "Aku tahu bedanya tersenggol dan didorong."
Lilian tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah red carpet, tempat Rosa baru saja tertawa manis kepada wartawan, lalu kembali pada Wenny.
"Kita urus nanti. Sekarang jangan bicara apa pun soal Rosa. Jangan bikin tuduhan tanpa bukti."
"Aku tahu."
"Dan jangan dekat-dekat REYN dulu."
Wenny terdiam.
Terlambat, pikirnya.
Karena meski tubuhnya sudah jauh dari pria itu, ingatan tentang tangan REYN di pinggangnya masih menempel seperti sisa panas lampu sorot.
Acara selesai hampir tengah malam.
Wenny masuk ke mobil van dengan kaki pegal dan kepala penuh suara kamera. Begitu pintu ditutup, dunia akhirnya menjadi lebih sunyi. Ia melepas anting besar dari telinganya, bersandar, lalu membuka ponsel.
Notifikasi memenuhi layar.
Nama REYN berada di mana-mana.
Nama Wenny juga.
Video berdurasi dua belas detik itu sudah diputar jutaan kali. Dari sudut kamera seorang tamu, tubuh Wenny terlihat jatuh tepat ke pelukan REYN. Gerakannya tampak seperti adegan lambat dalam drama romantis. Gaun biru mudanya berayun, jas hitam REYN terbuka sedikit, dan wajah mereka berhenti begitu dekat sampai komentar pertama yang muncul membuat Wenny nyaris menjatuhkan ponsel.
`Ini kecelakaan atau teaser drama baru?`
`REYN SENYUM? TOLONG INI BUKAN LATIHAN.`
`Wenny di mata REYN cantik banget, gue ulang 50 kali.`
`WenReyn? Aku daftar jadi shipper pertama.`
Wenny menekan video itu.
Lalu ia melihatnya.
Detik ketika REYN menangkapnya, pria itu memang tidak tampak kaget. Matanya langsung turun ke wajah Wenny, lembut, fokus, hampir... rindu.
Rindu?
Wenny menggigit bibir. "Enggak mungkin."
Video itu terus berputar. Angka penonton naik terlalu cepat. Sembilan juta. Sembilan koma lima. Sepuluh juta.
Ponsel Lilian berdering.
Wenny menoleh. Manajernya melihat nama penelepon di layar, wajahnya langsung berubah kaku.
"Dari perusahaan," kata Lilian.
Ia mengangkat telepon, mendengarkan tanpa menyela. Semakin lama, rahangnya semakin tegang.
"Baik. Saya sampaikan."
Panggilan berakhir.
Di dalam mobil yang melaju membelah Jakarta malam itu, Lilian menatap Wenny dengan mata seorang manajer yang baru saja menerima keputusan buruk dan tidak punya ruang untuk menolaknya.
"Perusahaan sudah memutuskan," ucap Lilian pelan.
Jantung Wenny turun.
"Kamu harus ikut reality show kencan."