Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Predator
Deru mesin pendingin ruangan menyamarkan suara bising ibu kota di bawah sana. Setelah pelayaran neraka di kapal kargo berkarat semalaman, mereka akhirnya dievakuasi ke sebuah penthouse rahasia milik Arka menjelang subuh. Rara yang kelelahan tadinya cuma berniat memantau infus darurat Arka di ruang tengah, tapi malah berujung ketiduran.
Rara seketika membeku pas sadar bantal empuk yang dia tiduri ternyata dada bidang Arka. Tangan kiri pria itu melingkar posesif di pinggangnya, mengunci tubuhnya rapat-rapat.
Ingatan semalam sontak bikin pipi Rara memanas. Ia berniat menggeser posisinya pelan-pelan agar tidak menekan luka di perut pria itu. Tapi baru saja beringsut sejengkal, dekapan di pinggangnya malah dikunci makin erat.
"Mau ke mana?" suara bariton Arka terdengar rendah, serak, dan dingin. Tanpa membuka mata, tangannya menahan Rara agar tidak ke mana-mana. "Diam di sini."
"Siapa yang mau kabur?" sungut Rara berusaha terdengar galak, meski jantungnya berdebar kencang. "Gue cuma mau bangun, pegel tahu! Lagian lo meluk kenceng banget, nanti jahitan lo robek lagi!"
Arka perlahan membuka mata. Tatapan gelap yang biasanya penuh siaga itu kini menyorot lekat ke arah Rara, datar tapi sarat akan kepemilikan mutlak. "Saya tidak keberatan menahan kamu seharian di posisi ini."
"Dih, mulai..." cibir Rara salah tingkah. "Lepasin nggak? Atau gue bekap muka lo pakai bantal."
Arka sama sekali tidak gentar. Pria itu justru menarik tengkuk Rara dengan satu tarikan kaku, mengikis jarak hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Coba saja kalau berani."
Klik.
Suara akses pintu utama yang dibuka dengan kartu otomatis mendadak memecah ketegangan.
Bara melangkah masuk dengan wajah datar tanpa dosa, menenteng kantong kertas berisi sarapan. Di belakangnya, Dino mengekor sambil mengusap-usap perut, jalannya masih agak sempoyongan efek mabuk laut semalaman.
Langkah Bara terhenti seketika. Matanya langsung menangkap posisi bosnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Rara di atas sofa.
"Astaga!" Rara panik luar biasa. Dengan refleks brutal, ia mendorong bahu Arka hingga terlepas, lalu meronta bangun.
Sialnya, karena sofa yang sempit, dorongan itu membuat keseimbangannya hilang.
Bruk!
Rara terjungkal jatuh ke atas karpet tebal.
"Argh." Arka mendesis tertahan, rahangnya mengeras saat otot perutnya menegang menahan nyeri.
Bara meletakkan kantong sarapan di atas meja tanpa ekspresi sedikit pun. "Sepertinya saya datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkan sisa jahitan Anda, Bos."
Di belakang Bara, Dino melongo dengan muka cengo, telat memproses situasi. "Lah? Mbak Rara ngapain guling-gulingan di karpet pagi-pagi? Bos Arka kan perutnya bolong, masa diajak gulat?"
Arka menatap tajam dua anak buahnya itu dengan aura membunuh. "Keluar."
"Tidak bisa, Bos," jawab Bara kaku, sama sekali tidak terintimidasi. Ia mengeluarkan sebuah ponsel BlackBerry tebal dari saku jasnya. "Victor Vance sedang mengerahkan anak buahnya menyisir rumah sakit gelap di seluruh kota. Dia tahu Anda terluka."
Rara yang masih terduduk di lantai langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, ingin rasanya lenyap seketika. "Sumpah... tadi ada nyamuk besar di muka Arka! Makanya gue mau nyingkirin!"
"Tidak ada nyamuk di penthouse lantai empat puluh, Nona Rara," koreksi Bara literal dan sedingin es, menghancurkan alibi Rara tanpa ampun.
Dino mengangguk-angguk polos. "Iya, Mbak. Nyamuk mana kuat terbang setinggi ini. Palingan juga Mbak Rara yang mau nyium"
Tatapan mematikan Arka langsung menghunus Dino. Pemuda itu sontak kicep, buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat.
Arka menarik napas pelan, menguasai rasa nyeri di perutnya, lalu mengulurkan tangan ke arah Rara dengan wajah datar. "Bangun. Abaikan mereka."
Rara menerima uluran tangan Arka dengan wajah ditekuk, berdiri merapikan bajunya yang kusut. Ia lalu menyambar satu kotak susu cokelat dari kantong bawaan Bara untuk menutupi rasa malunya.
Arka menyandarkan punggungnya di sofa, melirik Bara. "Bagaimana status dermaga?"
"Bersih. Polisi bayaran Victor kehilangan jejak di perairan. Tapi informan kita menyebutkan Victor sudah menyebar identitas Nona Rara ke jaringan bawah tanah." Bara menggulir layar trackball BlackBerry-nya dengan cepat. "Apartemennya tidak aman. Kampusnya juga."
Mendengar itu, Rara langsung tersedak susu cokelatnya. "Uhuk! Apa?! Terus nasib skripsi gue gimana?! Dosen pembimbing gue galaknya ngalahin rentenir. Kalau gue bolos bimbingan minggu ini, bisa-bisa gue disuruh ngulang tahun depan!"
"Lo masih mikirin skripsi, Mbak?" seloroh Dino geleng-geleng kepala. "Nyawa lo udah masuk daftar buronan mafia, masih aja takut sama dosen!"
Arka tidak menanggapi ocehan Dino. Pria itu menarik pergelangan tangan Rara pelan hingga gadis itu terpaksa duduk merapat ke sisinya. Tatapan Arka beralih pada Bara, kembali memancarkan dominasi absolut seorang penguasa dunia hitam.
"Tutup semua akses data tentang Rara. Siapa pun yang berani menyentuh milik saya, bawa kepalanya ke meja saya," perintah Arka kejam.
Rara merinding mendengar kalimat itu diucapkan tanpa keraguan sedikit pun. "Heh, Arka! Gue bukan barang dagangan yang bisa lo klaim jadi milik lo seenaknya! Gue punya kehidupan sendiri. Lo pikir penthouse ini nggak bikin sumpek? Gue mau pulang, titik."
Arka menatap Rara lekat-lekat, membiarkan gadis itu meluapkan kekesalannya. Tidak ada senyum, tidak ada kelembutan, hanya penegasan fakta yang tak bisa diganggu gugat.
"Kehidupan lama kamu sudah mati sejak kamu naik ke kapal semalam, Rara," balas Arka mutlak. "Kamu keluar dari pintu itu sekarang, Victor yang akan menyambutmu."
"Terus gue harus jadi tahanan rumah lo selamanya?!" balas Rara sengit. "Gue ini orang biasa, Arka! Kerja keras buat bayar kosan dan makan! Bukan buat ngumpet dari hujan peluru!"
"Semua kebutuhanmu ada di sini. Kamar, pakaian, hingga keamananmu," potong Arka datar.
"Kucing gue di kosan gimana?! Masa gue biarin mati kelaparan gara-gara gue terjebak sama mafia gengsian kayak lo?!"
"Kucing kampung warna oranye itu sudah diambil semalam," sahut Bara dingin. "Saat ini sedang dikarantina di klinik hewan bawah tanah sebelum dibawa naik ke sini. Kami tidak menerima hewan berpenyakit masuk ke area ring satu."
Rara membelalak tak percaya. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. "Lo... kalian bahkan nyulik kucing gue tanpa izin?!"
"Saya tidak butuh izin untuk mengamankan apa yang ada di bawah perlindungan saya," ucap Arka kaku. Ia menoleh ke arah Bara. "Siapkan senjata dan kendaraan. Kita datangi markas Victor sebelum dia menyadari kita sudah ada di pusat kota."
"Mau ke mana lo?!" Rara refleks menarik lengan kemeja pria itu saat melihat Arka hendak bangkit berdiri. Insting paniknya muncul lagi mengingat kondisi pria itu. "Jahitan lo belum kering! Kalau lo ambruk di tengah jalan, siapa yang mau gotong badan lo, hah?!"
"Menjemput akhir riwayat Victor," jawab Arka dingin, melepaskan tangan Rara dari lengannya dengan tegas, menolak ditahan. Ia menatap gadis itu lekat. "Tunggu di sini. Jangan berani-berani melangkah keluar."
Tanpa menunggu bantahan, Arka berjalan melewati Rara dengan langkah tegap, menyembunyikan rasa sakitnya dengan sempurna. Diikuti Bara yang memasukkan kembali ponselnya dengan kaku.
"Mbak Rara, tenang aja," bisik Dino nyengir sambil mengambil sepotong roti. "Bos Arka kalau lagi bucin emang ngeri. Mending Mbak nikmatin aja AC gratis di sini sambil nungguin kucingnya datang."
Rara hanya bisa mengusap wajahnya frustrasi. Pagi itu, di tengah kemewahan sangkar emas yang menawannya, Rara menyadari bahwa hidup normalnya sudah benar-benar tamat.