NovelToon NovelToon
Benih Bayaran

Benih Bayaran

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahkontrak / Duda / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Pengantin Pengganti Konglomerat / Tamat
Popularitas:447k
Nilai: 5
Nama Author: Ollane

Farhan, divonis mandul. Agar bisa mempertahankan Marla, Farhan rela membayar adik tirinya Agustin untuk menikahi Marla selagi Marla dan Farhan bercerai sementara.
Sesuai perjanjian Agustin harus menghamili Marla, setelah mengandung dan melahirkan Marla akan dikembalikan ke Farhan.
Awalnya, Agustin setuju karna bayaran. Tapi lambat-laun berangsur berubah pikiran. Agustin malah berubah haluan, dan ingin menjaga keluarga kecilnya. Anaknya dan Marla istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpaduan Rasa Es Krim dan Mulut Bau Agustin

Ada yang menjangkit hati Agustin saat memasuki apartemennya yang berubah drastis karena benda-benda mahal yang Agustin beli dengan menghamburkan banyak uang untuk itu. Agustin bukan menyesali pengorbanannya yang rela menghamburkan uang demi Marla, dia hanya bingung dengan apa yang dia lakukan.

Seperti pertanyaan, “Setelah ini apa?”

Mungkin Marla memang membutuhkan barang-barang ini, lain dengan Agustin. Jika Agustin kurang membutuhkannya, apa gunanya benda-benda itu setelah Marla meninggalkan dia dan apartemennya setelah mengandung dan melahirkan, sesuai perjanjian Marla harus kembali kepada Farhan.

Agustin menghembuskan napas. Jika dia menghadiahkan semuanya kepada Marla, dengan memindahkannya ke rumah Farhan, Agustin rasa hanya akan berakhir dibuang oleh Farhan. Kemampuan finansial Farhan jauh di atas Agustin, hal itu hanya akan menyinggung Farhan meskipun Agustin sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Benda-benda itu … setelah Marla pergi. Entah mau dibagaimanakan?

Mereka sudah berhubungan, jika beruntung karena semalam Marla bisa mengandung. Setelah mengandung Marla akan diantar ke rumah Farhan sampai melahirkan. Agustin harus berpisah dari Marla, merelakan istri dan anaknya selaku benih bayaran yang dibayar untuk membuahi bukan untuk menjadi seorang suami maupun Ayah sungguhan.

Cklek! Marla keluar dari kamar mandi.

Agustin menoleh, lalu tersenyum. Diangkatnya tubuh Marla yang dibalut handuk, hanya memeluknya.

Marla menarik diri, wajahnya terlihat heran, “kamu kenapa, sih?”

“Tidak apa-apa,” Agustin meletakkan tangan di sela pundak Marla, Marla yang geli dan tidak nyaman menghindar dari jangkauan Agustin.

“Aku mau pakai baju dulu.”

Marla yang menghadap lemari tegang saat Agustin mengungkung lengannya. Sebelah tangan Agustin membuka satu pintu lemari dengan sebelah tangan lain yang merapatkan punggung Marla ke dadanya. Agustin memilihi baju untuk Marla, ditemukannya daster yang cocok. Tanpa curi-curi lihat, Agustin melepaskan handuk Marla dari belakang, membuatnya menyurut jatuh ke lantai.

Agustin memakaikan daster ke tubuh Marla dari atas, sambil merapikannya dia berbisik, “Nggak usah pakai bra, nggak sehat. Di rumah juga. Kalau dalaman lain kamu pakai sendiri, ya.” Dari belakang, Agustin mengusap bagian punggung daster yang Marla kenakan. Dirapikannya untaian rambut panjang Marla, lalu dikuncinya leher Marla dengan lengan dan satu lagi tangan yang mengungkung pinggang Marla, Agustin menggesek-gesekkan kepala ke tengkuk Marla.

“Berkenan atau tidak berkenan?”

Agustin bertanya, akhirnya mengulangi kalimat itu lagi.

“Berkenan untuk apa?”

Marla bertanya, tidak melepaskan kuncian lengan Agustin di leher dan pinggangnya.

“Untuk membiarkanku memelukmu ini seperti ini, sampai aku puas?”

“Aku berkenan.”

“Aku terima kesediaanmu.”

Masih memeluknya, Agustin menyeret tubuh Marla berlalu ke dapur mengambil beberapa cemilan lalu keduanya menjatuhkan badan ke sofa empuk menghadap televisi besar. Layar itu dinyalakan, masih memeluk Marla dan mendudukkan Marla di pangkuannya, Agustin membuka tutup es krim mangkuk, lalu mencoleknya dan mengarahkannya ke mulut Marla.

Mendapat ketukan jari di pundaknya, Agustin yang menyuruhnya membuka mulut akhirnya membuat Marla menurut. Mulut Marla menangkap sendok itu dan menelan es krimnya, Agustin gemas. Mengulangi suapan ke selanjutnya yang diterima Marla dengan baik. Karena adegan menyuap itu, layar televisi di hadapan tentu terabaikan, nyala-nyala di layar menerpa dan membentuk pantulan di wajah keduanya.

“Perpaduan rasa es krim dan madu, Mbak pernah mencobanya?”

Agustin bertanya setelah suapan terakhir.

Marla diam, dapat menebak maksud Agustin.

Agustin mendekatkan wajahnya, setelah dikungkung seperti ini Marla mana bisa mengelak. Marla terkesiap, Agustin benar-benar meraih bibirnya. Bibir Agustin bergerak lambat dengan tangan yang terangkat untuk meraih rahang keras Marla. Marla tidak menemukan rasa madu, membuatnya ingin menjauh. Bisa menebak pergerakannya, Agustin menahan kepalanya kuat.

Marla tertindih di atas sofa, Agustin belum melepaskan pautannya.

“Agustin!” Marla berusaha melepaskan wajah keduanya. Napas Agustin menerpa samar, lalu bertanya dingin, “Kenapa, Mbak? Kenapa Mbak hanya mau menciumku jika mulutku semanis madu? Tersirat nama lelaki lain di kepalanya, Agustin mendesak dengan pertanyaan, “Lalu siapa tersangka aslinya yang mulutnya semanis madu itu?”

Kepalan tangan Agustin mengerat yang menghantam daging sofa di sebelah wajah Marla, “Kak Farhan?”

“Sudahlah Agustin,” Marla mengantukkan kening keduanya, dengan telapak tangan yang menyanggah di bawah punggung membawa tubuh Marla untuk beranjak bangkit. Karena dorongan di keningnya yang bertubrukan dengan kening Marla, Agustin ikut terbawa bangkit, kini mereka berhadapan dengan kedua kening yang saling menempel, “jangan dibahas.”

“Mbak ahlinya mengelak!” Agustin menyatukan ujung hidung mereka yang bersentuhan satusama lain.

“Dan kamu ahlinya ngeyel.”

“Apa susahnya bilang ‘ya’?” Agustin terdengar menggerutu.

Hembusan kasar Marla mengenai ujung hidung Agustin, “Apa ada alasan bagiku untuk bilang ‘ya’?”

“Jangan terlalu berterus-terang menolakku.” Agustin mengeluh, masih dengan kening bertubrukan dan kedua hidung yang saling menempel satusama lain. Agustin sedikit menggerakkan ujung hidungnya, menggesek-gesekkannya dengan ujung hidung Marla yang merah.

“Tapi aku tidak bisa berpura-pura menerimamu, Agustin.”

Agustin meringis, “Jika boleh mengakui dan sewajarnya Mbak mana perduli, sebenarnya aku sangat sakit hati.”

Tangan Marla menempel di sebelah dada Agustin, mengusapnya pelan. “Aku hanya merasakan sebuah debaran,” kerutan dalam menghiasi kening Marla. Telapak tangannya semakin menuntut tekanan, denyutan keras yang terkurung di rongga dada Agustin membuat Marla menyorot Agustin dengan pandangan luarbiasa rumit, Marla berganti membelainya lembut lalu bertanya, “Kamu gugup, Tin?”

“Lebih dari sekedar gugup.” Agustin berbisik, masih dengan kepala yang sedikit bergerak menggesekkan kedua ujung hidung mereka. “Terlalu jauh dikatakan dari itu.”

Marla ingin bertanya, tapi hatinya membisikkan jawabannya. Mulut Marla dikatup untuk tidak bertanya lebih. Ringisan berat tercelus dari bibirnya yang memucat, jika kata hatinya benar, Marla tidak bisa membantu Agustin dalam hal yang dia rasakan. Daripada membiarkan Farhan lebih tersakiti, Marla lebih tega untuk menyakiti Agustin.

“Mbak tidak tanya mengapa?”

Agustin terlihat kecewa, “Kenapa dadaku berdebar sangat keras?”

Marla menggeleng, “Untuk apa kutanya?”

“Mbak tidak penasaran apa?” Manik Agustin terlihat berembun, perasaan kecewanya semakin menumpuk.

“Untuk apa penasaran?” Marla mengangkat kepalanya yang merunduk menatap dagu Agustin. Sedetik tubuh Marla tegang, menemukan  wajah Agustin yang sudut matanya berair.

“Mbak benar-benar mengecewakan.” Agustin terkekeh, menyesal pada harapannya sendiri. “Mbak ahlinya mengelak dan menyakiti.”

“Lalu kenapa kamu harus merasa tersakiti, Agustin?” Marla bersikap seakan rasa sakit yang Agustin rasakan, bukanlah tindak kewajaran. Agustin tersinggung Marla berkata seakan, tidak patut baginya untuk terluka saat dilukai tanpa niat seperti ini.

“Hanya karena Mbak menolak ciumanku.” Tidak ada yang perlu diumbar. Marla tidak meminta penjelasan dari apa yang rongga hatinya rasakan hingga berdebar keras, keputusan tepat bagi Agustin jika memilih jawaban benar yang bukan paling benar.

“Jadi, kamu ingin dicium?”

Agustin tersenyum sarkas, “Tapi Mbak tidak mau dicium.”

“Bukannya kamu sudah mencobanya? Perpaduan rasa es krim dan mulut baumu?”

Jawaban Marla membuat Agustin terbahak di sela keletihannya, “Mbak benar juga. Tapi jika kuajak untuk mencoba rasa baru, Mbak mana berkenan.”

“Jika aku berkenan, apa yang akan kamu coba?”

“Perpaduan rasa cokelat dan telur.”

Sontak kali ini Marla yang tertawa. Telapaknya menepuk rahang keras Agustin, gemas dengan pemuda yang lebih muda darinya itu. “Kamu sangat ingin mencobanya?”

“Jika Mbak berkenan, aku beli telur dulu. Lalu kita makan sebentar, setelah itu merapikan kasur dan melakukan percobaan.”

Satu telunjuk Marla menekan kening Agustin, lalu menjelajah ke sekitarnya. Dengan senyuman gemasnya, Marla berdecak-decak, “Entah pemikiran apa yang memenuhi kepala mantan perjaka ini.”

“Tidak cabul, kok.” Agustin menggelengkan kepala, menolak dituduh macam-macam. “Hanya pendamba romantisme.” Ujarnya, menatap Marla sungguh-sungguh.

“Jadi kamu hanya ingin romantis-romantisan?”

“Yap.” Agustin mengiakan, dengan mulut sedikit membuka satu jarinya mengelus ujung dagu Marla, “Hanya mendambakan satu ciuman, karena dia mustahil mendapatkan hal lebih untuk keduakalinya.”

“Hanya ciuman?”

“Hanya ciuman.” Agustin mengangguk mantap.

“Aku tidak percaya.”

Marla tertawa, melirik Agustin curiga.

“Kamu pasti minta lebih.” Tuduh Marla.

Tanggapan Agustin membuat Marla melayangkan cubitan kuat di wajahnya, “Kalau dikasih lebih, kenapa tidak?”

1
Fitri Merry Lesar
endingnya mengecewakan
Fitri Merry Lesar
hampir setahun agak enggan buka NovelToon karna blum dapat cerita yg pas...
kali ini bersemangat lagi...tank you thoor🙏
Ollane
Cek cek
Uniie Gentra
namanya aga mirip² ya jadi kalo typo lumayan pusing
Zhifa Donat
lanjut....
Zenira Leony Fernandaz
lanjut dong Thor bagus ni ceritanya
penasaran dgn lanjutannya😭😭
Fitri Ichal
ditunggu selanjutnya
Sumiyati Ade Rombli
KK tolong nulis tuan izar di sinih
Sumiyati Ade Rombli
KK tolong si KK tulis cerita tuan izar
Lenabid Daeng Lumang
mampir Thor...semangat💪
Yuyun Haryanto
hubungannya kaku banget. bahasanya bersedia / tdk bersedia.
Vivi Dewi
👍👍👍👍👍
Juliha
kenapa nga di madu 😁😁😁😁sekali2 cowo di madu 😂😂😂
ida siz
lanjutt...bagus bngt novel nya
Riwid
pasti lucu ya , aq bacanya geli 😀😀
Shelvi Selly
Farhan aku mencintaimu......
plis deh jdi ikut sakit hati...
Shelvi Selly
dari FB cus...meluncur...
rinny
ayo semangat Augustin..... papa mertua mendukungmu 💪💪💪💪💪
Sitimusmiroh
farhan mempermainkan ikatan suci pernikahan
Sitimusmiroh
farhan egois
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!