Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022
Pembaca Baru Anon
Aku jatuh cinta pada hari yang bahkan dia tidak ingat.
Louisa membaca kalimat itu sekali, lalu sekali lagi.
Tidak ada kata-kata besar. Tidak ada pengakuan panjang. Hanya satu baris di bawah panel lapangan sekolah, tetapi entah kenapa ia merasa seperti mendengar suara botol air yang tidak jadi diberikan, langkah yang tertahan, dan napas seseorang yang berdiri terlalu jauh.
Ia menggeser layar.
Episode pertama tidak banyak dialog. Anak laki-laki itu tidak punya nama, hanya digambar dari samping. Ia datang terlambat ke lapangan sekolah, melihat seorang gadis menyeka keringat sambil tertawa, lalu mengeluarkan botol air dari tas. Sebelum ia melangkah, seorang anak laki-laki lain sudah lebih dulu menghampiri gadis itu.
Panel berikutnya hanya menunjukkan tangan tokoh utama yang menggenggam botol sampai plastiknya penyok.
Louisa menelan ludah.
"Kenapa nggak kasih saja?" gumamnya.
Dari dapur, suara gelas diletakkan terdengar pelan. Nathanael tidak menjawab. Mungkin ia tidak mendengar.
Louisa lanjut membaca.
Episode kedua mengambil latar perpustakaan sekolah. Anak laki-laki itu duduk dua meja di belakang gadis yang sama. Di luar hujan, di dalam ruangan lampu neon terasa dingin. Gadis itu menatap ponsel, berkali-kali melihat pintu, lalu akhirnya tersenyum ketika seseorang mengirim pesan.
Tokoh utama menutup buku yang belum ia baca.
Caption panelnya singkat.
Kadang menunggu juga bisa dilakukan oleh orang yang tidak ditunggu.
Jari Louisa berhenti.
Kalimat itu terlalu pelan untuk menyakiti, tetapi justru karena pelan, ia masuk tanpa meminta izin.
Ia menekan tombol komentar. Pembaca lain sudah memenuhi kolom itu.
Yang nunggu bukan cuma tokoh ceweknya, ternyata cowoknya juga.
Anon jahat banget, panel tangannya selalu bikin nyesek.
Aku suka karena cowoknya nggak maksa. Tapi sakit.
Louisa menyandarkan punggung ke sofa. Di meja rendah, bubur ikan yang belum habis sudah dingin. Lampu kota SCBD berkelip di luar jendela, memantul samar di layar ponselnya. Biasanya jam segini ia masih membuka laptop, mengecek deck, memastikan tidak ada pesan Kevin yang terlewat. Malam ini, tidak ada yang memanggilnya dari kantor lama.
Hanya Webtoon asing yang membuat dadanya terasa penuh.
Ponselnya bergetar.
Stella:
Ci, sudah mulai baca?
Louisa:
Sudah episode dua.
Stella:
Baru dua? Nanti kalau sudah episode lima, kabari aku.
Louisa:
Kenapa?
Stella:
Biar aku siap sedia tisu virtual.
Louisa tertawa tanpa suara. Ia jarang menerima pesan seperti itu, ringan, tidak meminta apa pun darinya. Tidak ada agenda, tidak ada pekerjaan, tidak ada seseorang yang harus ia selamatkan dari jadwal buruknya sendiri.
Ia mengetik:
Louisa:
Tokoh cowoknya bodoh.
Stella:
Kenapa?
Louisa:
Dia mau kasih air saja nggak berani.
Stella:
Atau mungkin dia takut airnya ditolak.
Louisa menatap balasan itu.
Takut ditolak.
Kedengarannya sederhana, tetapi ia tidak pernah memikirkan cinta dari sisi orang yang tidak berani maju. Selama ini, ia mengenal cinta sebagai sesuatu yang ia kerjakan sendirian untuk Kevin. Mengingat alergi Yvonne. Mengatur kursi. Membalas pesan tengah malam. Berdiri di belakang, berharap suatu hari Kevin akan menoleh.
Di Webtoon itu, ada orang lain yang berdiri lebih belakang lagi.
"Masih baca?"
Suara Nathanael membuat Louisa mengangkat kepala.
Ia berdiri di dekat meja makan dengan lengan kemeja digulung. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru mencuci muka. Di tangannya ada cangkir keramik berisi air hangat.
"Iya." Louisa menurunkan ponsel sedikit. "Ternyata bagus."
"Bagus bagian mana?"
Pertanyaan itu terdengar datar, tetapi Louisa menangkap sesuatu di bawahnya. Hati-hati. Seperti Nathanael menanyakan cuaca padahal ingin tahu apakah hujan akan masuk ke rumah.
"Gambarnya sederhana, tapi detail kecilnya kena." Louisa menatap layar lagi. "Tokoh cowoknya selalu ada di pinggir. Dia melakukan banyak hal, tapi gadis itu nggak tahu."
Nathanael diam sebentar.
"Menurutmu itu baik?" tanyanya.
"Apa?"
"Melakukan banyak hal tanpa diketahui."
Louisa tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu terlalu serius untuk ukuran komentar Webtoon. Ia menggeser ibu jari di tepi ponsel, melihat panel tangan yang memegang botol air penyok.
"Kalau dia berharap dibalas, mungkin melelahkan," katanya. "Tapi kalau dia cuma ingin orang itu baik-baik saja, mungkin... tetap sedih, tapi tidak jahat."
Nathanael menatapnya lama.
Louisa merasa pipinya hangat tanpa alasan. "Aku ngomong soal karakter Webtoon."
"Aku tahu."
"Kenapa kamu lihat aku begitu?"
"Tidak apa-apa."
Jawaban itu terlalu cepat.
Louisa ingin bertanya, tetapi Nathanael sudah meletakkan cangkir air hangat di meja dekatnya.
"Jangan baca sampai terlalu malam. Mata kamu bisa sakit."
"Kamu seperti dokter mata."
"Aku cuma tinggal serumah dengan orang yang kalau fokus bisa lupa berkedip."
Louisa terdiam.
Ia tidak pernah memberi tahu Nathanael kebiasaannya saat menggambar atau membaca. Mungkin ia terlihat seperti itu sejak pindah ke sini. Mungkin Nathanael memang memperhatikan hal-hal kecil yang orang lain lewati.
Di layar, episode ketiga sudah terbuka. Kali ini tokoh laki-laki mendaftar kelas seni, duduk kaku di antara mahasiswa yang tangannya penuh noda cat. Panelnya lucu, tetapi di bawahnya ada narasi:
Aku tidak tahu cara masuk ke duniamu, jadi aku berpura-pura ingin belajar warna.
Louisa mengerutkan kening.
"Kenapa?" tanya Nathanael.
"Ini..." Ia ragu sebentar, lalu menunjukkan layar. "Dia sampai ikut kelas seni. Niat banget."
Nathanael melihat panel itu.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu ia mengembalikan pandangan ke cangkir. "Mungkin dia memang ingin belajar."
"Atau memang suka gadisnya."
"Bisa dua-duanya."
Louisa menatapnya. "Kamu pernah suka seseorang diam-diam?"
Cangkir di tangan Nathanael hampir tidak bergerak, tetapi permukaan air di dalamnya bergetar tipis.
"Pernah," jawabnya.
Satu kata itu jatuh terlalu pelan.
Louisa tidak tahu kenapa ia tiba-tiba tidak berani bertanya siapa.
Nathanael lebih dulu berdiri. "Aku ada dokumen sebentar di ruang kerja."
"Oke."
Ia berjalan pergi, meninggalkan aroma sabun muka dan air hangat di meja. Louisa memperhatikan punggungnya sampai pintu ruang kerja tertutup.
Baru setelah itu ia kembali ke layar.
Ia membaca episode ketiga, keempat, lalu kelima. Stella benar. Episode lima membuat dadanya sakit. Tokoh laki-laki itu membuat satu unggahan Close Friends yang hanya bisa dilihat satu orang, lalu menghapusnya sebelum malam karena lingkaran hijau itu tetap sepi.
Louisa meletakkan ponsel di pangkuan.
Di sisi atas layar, notifikasi LINE Webtoon muncul.
Anon baru saja memperbarui episode terbaru: Hujan yang Tidak Selesai.