Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Merasakan Sesuatu
Naomi pulang dari acara BEM dengan sertifikat masih terselip di map bening.
Di lift apartemen, pantulan wajahnya terlihat pucat di dinding stainless. Bukan karena lelah. Bukan juga karena dua jam berdiri di aula sambil menerjemahkan kalimat tentang program pertukaran mahasiswa.
Ia pucat karena tangan Kelvin di pinggangnya tadi masih seperti tertinggal di sana.
Tidak menekan.
Tidak kasar.
Hanya ada, seolah tempat itu memang miliknya sejak awal.
Ponselnya bergetar.
Sinta mengirim foto Naomi memegang sertifikat. Di belakangnya, Kelvin berdiri setengah sisi, wajahnya tidak menatap kamera. Ia justru menatap Naomi.
Sinta: "Nao, lihat ini. Pacarmu kalau lihat kamu kayak CCTV premium."
Naomi hampir menjatuhkan ponsel.
Ayu menyusul dengan pesan lain.
Ayu: "Jangan bilang dia cuma akting. Aku bisa muntah kalau dengar alasan itu lagi."
Naomi menggigit bibir.
Pintu lift terbuka. Ia cepat-cepat mematikan layar ponsel sebelum Kelvin yang berdiri di sampingnya sempat melihat.
"Kenapa?" tanya Kelvin.
"Tidak apa-apa."
Kelvin menoleh sedikit. "Kamu tahu aku paling tidak suka jawaban itu."
Naomi menunduk, memeluk map beningnya lebih erat. "Sinta kirim foto."
"Foto yang mana?"
"Yang tadi. Waktu pegang sertifikat."
"Kirim ke aku."
Langkah Naomi berhenti di depan pintu apartemen.
"Buat apa?"
Kelvin menempelkan kartu akses ke panel. Bunyi bip pendek terdengar sebelum pintu terbuka. "Buat disimpan."
Naomi masuk lebih dulu, lalu diam beberapa detik di area foyer.
Lampu apartemen menyala otomatis. Cahaya hangat dari ruang tengah jatuh ke lantai marmer, membuat bayangan Felix yang tidur di karpet terlihat lebih lembut. Udara di dalam ruangan berbau bersih, bercampur sedikit aroma jeruk dari diffuser kecil yang dibelinya minggu lalu.
Semuanya biasa.
Terlalu biasa.
Justru karena itu, dadanya terasa tidak biasa.
"Kamu tidak mau makan?" tanya Kelvin sambil melepas jam tangan.
"Masih kenyang. Tadi ada snack dari panitia."
"Snack kampus bukan makan malam."
"Ada lemper."
"Itu lebih bukan makan malam."
Naomi ingin membantah, tapi Felix sudah bangun dan berjalan mendekat. Doberman itu mendorong kepala ke lututnya, seperti menagih laporan harian.
Naomi akhirnya tertawa kecil. "Hai, Felix. Mommy bawa sertifikat."
Kelvin melirik dari samping.
"Pamer ke anjing?"
"Dia pendengar yang baik."
"Dia juga biasanya setuju dengan apa pun yang kamu bilang. Sangat tidak objektif."
Naomi mengusap kepala Felix. "Lebih baik daripada orang yang selalu bilang aku tidak boleh jawab tidak apa-apa."
"Karena orang itu benar."
Kalimat itu keluar ringan, tetapi Naomi tidak bisa tertawa lagi.
Ia melepas sepatu, mencuci tangan, lalu masuk ke kamar tamu untuk menaruh map. Niatnya hanya menyimpan sertifikat di antara buku-buku kuliah. Namun ketika ia membuka pintu, langkahnya tertahan.
Lampu meja di sudut kamar menyala.
Bukan putih dingin seperti kemarin.
Cahayanya kuning hangat, lembut, tidak menusuk mata. Permukaan meja kayu terlihat seperti diselimuti sore. Buku catatan Jerman, kamus kecil, dan pulpen baru dari Kelvin terbaring rapi di bawah cahaya itu.
Naomi berdiri di ambang pintu.
Ia tidak langsung mengerti.
Atau mungkin ia terlalu mengerti sehingga tubuhnya memilih diam lebih dulu.
Dua hari lalu, ia pernah duduk di meja itu sampai hampir tengah malam. Kelvin lewat untuk mengambil air. Ia bertanya kenapa Naomi memicingkan mata.
Naomi menjawab sambil menutup buku, "Lampunya terlalu putih. Mataku cepat perih kalau lama-lama."
Itu hanya keluhan kecil.
Keluhan yang bahkan tidak ia ucapkan sambil berharap didengar. Setelah itu ia langsung bilang tidak apa-apa karena masih bisa belajar di ruang makan.
Tidak ada pembicaraan lagi.
Tidak ada permintaan.
Tidak ada janji dari Kelvin.
Tapi sekarang lampu itu sudah diganti.
"Kenapa berdiri di situ?"
Suara Kelvin terdengar dari belakang.
Naomi menoleh pelan.
Kelvin membawa segelas air putih di tangan. Ia bersandar di sisi pintu, ekspresinya datar seperti tidak ada hal besar yang terjadi.
Padahal bagi Naomi, benda kecil di atas meja itu seperti menarik sesuatu dari dalam dadanya sampai ia hampir tidak bisa bernapas.
"Lampunya," ucap Naomi.
"Hm?"
"Kamu ganti?"
"Iya."
"Kenapa?"
Kelvin mengangkat alis, seolah pertanyaan itu aneh. "Katamu matamu perih kalau pakai cahaya putih."
Naomi menatapnya.
Begitu saja.
Ia mengucapkannya seperti seseorang mengingat jadwal servis mobil, bukan seperti seseorang baru saja menyentuh titik paling rapuh di hidup Naomi.
"Aku cuma ngomong sekali," kata Naomi lirih.
"Aku dengar sekali."
"Tapi itu tidak penting."
Kelvin menegakkan tubuh dari sisi pintu. "Siapa yang menentukan penting atau tidak?"
Naomi membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Biasanya ia bisa menemukan alasan. Ia bisa bilang ia hanya menumpang di sini. Ia bisa bilang tidak mau merepotkan. Ia bisa bilang setelah kontrak selesai, tidak ada gunanya membuat kamar ini terlalu nyaman.
Namun cahaya hangat itu membuat semua alasan terasa telanjang.
Karena Kelvin tidak menunggu ia meminta.
Kelvin tidak bertanya berapa watt. Tidak menyuruhnya beli sendiri. Tidak menertawakan matanya yang gampang lelah. Ia hanya mengganti lampu, lalu membiarkannya menemukan sendiri.
"Kamu sibuk," kata Naomi akhirnya, seolah itu alasan yang masuk akal. "Kenapa sempat memikirkan lampu meja?"
"Bukan aku yang pasang."
Naomi hampir bernapas lega.
Tentu saja. Orang seperti Kelvin tinggal menyuruh staf. Semuanya menjadi sederhana lagi. Tidak perlu dibuat istimewa.
Lalu Kelvin melanjutkan, "Tapi aku yang pilih warna cahayanya."
Napas Naomi berhenti di tenggorokan.
"Toko kasih tiga pilihan," katanya sambil berjalan masuk. Ia meletakkan gelas di meja, lalu menyalakan dan mematikan lampu sekali, memastikan tombolnya tidak longgar. "Yang pertama terlalu kuning, bikin ngantuk. Yang kedua masih terlalu putih. Ini paling nyaman buat baca."
Naomi memandangi punggung tangannya sendiri. Jarinya mencengkeram tepi map sampai plastiknya berkerut.
Mana mungkin.
Mana mungkin orang seperti Kelvin Hartono memikirkan warna lampu untuknya.
Kelvin yang bisa membeli jam seharga uang kos setahun.
Kelvin yang punya ruang kerja dengan layar besar, supir, asisten, dan keluarga yang namanya cukup membuat orang kampus menunduk sopan.
Kelvin yang dulu berjalan melewati hidupnya seperti hujan melewati kaca, terlihat, dekat, tetapi tidak pernah benar-benar menyentuh.
Mana mungkin orang seperti dia mengingat satu kalimat kecil dari Naomi Liem, perempuan yang sejak kecil belajar menelan kebutuhan sendiri sebelum ada orang sempat menolaknya.
"Naomi."
Ia tersentak.
Kelvin sudah berdiri di depannya.
"Mata kamu merah?" tanyanya.
"Tidak."
"Itu juga jawaban yang aku tidak suka."
"Kelvin."
Nama itu keluar terlalu pelan.
Kelvin diam.
Naomi menunduk, lalu memaksa dirinya bertanya sebelum keberaniannya habis.
"Kalau ini semua cuma untuk kontrak..." Suaranya tersangkut sebentar. "Apa perlu sampai begini?"
Ruangan menjadi terlalu sunyi.
Di luar kamar, kuku Felix terdengar pelan di lantai, lalu berhenti. Bahkan anjing itu seperti tahu tidak boleh masuk.
Kelvin menatapnya lama.
Tidak ada senyum malas.
Tidak ada candaan tentang Baby, Princess, atau hutang ciuman.
Hanya Kelvin yang menatapnya seperti sedang menahan sesuatu yang sebenarnya sudah lama ingin keluar.
"Menurut kamu perlu?"
Naomi tidak siap menerima pertanyaan balik.
"Aku yang tanya."
"Dan aku ingin dengar jawaban kamu dulu."
Naomi menggigit bagian dalam pipi. Lampu hangat di samping mereka membuat bayangan Kelvin jatuh ke dinding, besar dan tenang. Cahaya itu tidak menyilaukan, tetapi justru karena lembut, ia membuat semua yang disembunyikan terlihat jelas.
"Kalau cuma kontrak," kata Naomi pelan, "seharusnya tidak perlu."
Kelvin tidak memotong.
"Kalau cuma akting, kamu cukup muncul saat perlu. Di depan orang. Di kampus. Di keluarga kamu. Kamu tidak perlu tahu aku suka belajar pakai cahaya seperti apa. Kamu tidak perlu ingat aku tidak suka sambal terlalu pedas. Kamu tidak perlu tahu aku selalu minum air hangat kalau gugup."
Semakin banyak ia bicara, semakin takut ia sendiri.
Karena setelah kata-kata itu keluar, ia tidak bisa menariknya kembali.
Kelvin mendengarkan dengan wajah yang makin tenang. Tenang yang membuat Naomi lebih panik daripada kalau ia tertawa.
"Terus?" tanya Kelvin.
Naomi mengangkat mata.
"Terus apa?"
"Kalau tidak perlu, menurut kamu kenapa aku tetap lakukan?"
Pertanyaan itu jatuh tepat di tempat paling berbahaya.
Harapan.
Kecil sekali.
Hanya sebesar cahaya kuning di atas meja.
Namun cukup untuk membuat tubuh Naomi gemetar.
Ia mundur setengah langkah, bukan karena takut pada Kelvin, melainkan takut pada dirinya sendiri. Takut kalau ia salah membaca. Takut kalau ia terlalu lapar pada kasih sayang sampai mengira semua kebaikan adalah cinta.
"Jangan tanya seperti itu," bisiknya.
Kelvin tidak mendekat.
Ia tetap di tempatnya, tetapi matanya tidak melepaskan Naomi.
"Kenapa?"
"Karena aku bisa salah paham."
Kelvin terdiam.
Naomi menelan ludah. Matanya mulai panas, tetapi ia cepat-cepat menunduk, pura-pura merapikan map sertifikat di meja.
"Kontrak kita tinggal beberapa hari," katanya. "Kalau aku salah paham sekarang, nanti aku yang susah."
Tangan Kelvin bergerak sedikit, seolah ingin menyentuhnya. Namun ia berhenti sebelum sampai.
Gerakan kecil itu justru membuat Naomi lebih kacau.
Dulu, Kelvin akan mengambil ruang begitu saja. Ia akan menyeringai, memanggilnya Baby, lalu membuat Naomi gugup sampai lupa marah. Sekarang ia berhenti karena tahu Naomi sedang takut.
Bagaimana mungkin ia tetap mengira semua ini hanya akting?
"Aku tidak pernah menyuruh kamu menebak sendirian," kata Kelvin akhirnya.
Naomi mengangkat wajah.
Kelvin menatap lampu meja, lalu kembali menatapnya.
"Tapi kamu selalu menutup pintu sebelum aku sempat bicara."
Dada Naomi seperti ditekan.
"Aku tidak menutup pintu."
"Kamu mengunci dari dalam."
Kalimat itu pelan, tetapi tepat.
Naomi tidak bisa membantah.
Ia melihat lampu hangat itu lagi. Cahaya kecil yang tidak ia minta. Kebaikan kecil yang tidak bisa ia kembalikan dengan ucapan terima kasih biasa.
Mungkin karena itu ia merasa begitu takut.
Sesuatu yang besar bisa ditolak sebagai drama. Bunga, hadiah mahal, mobil, makan malam mewah. Semua itu masih bisa masuk ke daftar pura-pura pacaran dengan anak konglomerat.
Tapi lampu meja?
Lampu yang diganti karena satu kalimat sambil lalu?
Itu terlalu sunyi untuk disebut pamer.
Terlalu pribadi untuk disebut tugas kontrak.
Kelvin mengambil gelas air dari meja dan menyodorkannya pada Naomi.
"Minum dulu. Kamu kalau panik lupa minum."
Naomi menatap gelas itu.
Ia ingin bertanya sejak kapan Kelvin tahu hal itu juga.
Namun jawabannya mungkin akan membuatnya makin tidak punya tempat bersembunyi.
Jadi ia menerima gelas itu dengan kedua tangan.
Jari mereka tidak bersentuhan. Kelvin sengaja memberi jarak.
Naomi menyesap sedikit. Airnya hangat.
Bukan panas.
Bukan dingin.
Pas.
Ia hampir tertawa, tetapi yang keluar justru napas gemetar.
"Kelvin."
"Hm?"
"Kalau suatu hari aku minta sesuatu..." Naomi berhenti. Tenggorokannya terasa sempit. "Kamu akan bilang aku merepotkan?"
Wajah Kelvin berubah.
Tidak banyak.
Hanya rahangnya mengeras, matanya turun ke gelas di tangan Naomi, lalu kembali ke wajahnya.
"Siapa yang pernah bilang begitu ke kamu?"
Naomi membeku.
Pertanyaan itu terlalu dekat.
Terlalu tajam.
Terlalu benar.
Ia cepat-cepat menggeleng. "Tidak ada."
"Naomi."
"Aku mau tidur."
Ia meletakkan gelas di meja dan mengambil map sertifikat, tetapi Kelvin tidak menahannya. Ia hanya bergeser sedikit, memberi jalan.
Justru itu yang membuat langkah Naomi terasa berat.
Di depan pintu, ia berhenti.
"Terima kasih untuk lampunya," katanya tanpa menoleh.
Kelvin menjawab setelah beberapa detik.
"Sama-sama, Baby."
Panggilan itu biasanya membuatnya malu.
Malam itu, panggilan yang sama membuat matanya panas.
Naomi masuk ke kamar, menutup pintu pelan, lalu berdiri dengan punggung menempel pada kayu pintu.
Cahaya lampu meja tetap menyala.
Hangat.
Lembut.
Tidak menyilaukan.
Naomi menatap cahaya itu lama sekali, sampai dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang tidak berani ia beri nama.
Di luar, langkah Kelvin menjauh ke ruang tengah.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada janji.
Hanya lampu yang sudah diganti.
Dan untuk pertama kalinya sejak kontrak itu dimulai, Naomi takut bukan karena Kelvin tidak mungkin menyukainya.
Ia takut karena mungkin, sangat mungkin, Kelvin benar-benar sedang merasakan sesuatu.