Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013
Adrian
Dan justru karena itu, Sekar takut.
Rasa takut itu tidak datang sebagai mimpi buruk atau firasat besar. Ia datang pelan-pelan, seperti suara langkah di koridor saat kelas sedang terlalu tenang.
Pagi itu, Bu Wati masuk kelas dengan membawa setumpuk formulir.
"Sekolah akan mengadakan program tutor sebaya untuk persiapan UTBK dan lomba akademik bulan depan," katanya. "Beberapa siswa dari kelas unggulan lain akan membantu koordinasi. Saya harap kalian yang nilainya stabil bisa ikut."
Sekar yang sedang menulis catatan langsung merasakan Yola menyikut lengannya.
"Itu pasti kamu," bisik Yola.
Sekar baru ingin menjawab ketika pintu kelas diketuk.
Seorang siswa laki-laki berdiri di depan pintu dengan seragam rapi, dasi terpasang benar, rambut hitam tersisir bersih. Senyumnya sopan, tidak berlebihan, jenis senyum yang biasanya membuat guru langsung percaya.
"Permisi, Bu Wati. Saya diminta Bu Rani mengantar daftar kelompok tutor."
Beberapa siswi di kelas langsung berbisik.
"Adrian."
"Adrian Saputra."
"Dia yang kemarin juara lomba debat itu, kan?"
Sekar menatap siswa itu.
Adrian Saputra.
Di kehidupan sebelumnya, nama itu pernah lewat sebagai salah satu siswa populer, anak baik dari keluarga baik, disukai guru, sering menjadi wajah sekolah di acara lomba. Sekar tidak pernah dekat dengannya. Namun ia ingat satu hal samar: Adrian pernah beberapa kali mencoba mengajaknya bicara, dan ia selalu menghindar karena hidupnya waktu itu terlalu sibuk dengan masalah keluarga.
Sekarang, Adrian berdiri di depan kelasnya, tersenyum seolah kedatangannya sangat wajar.
Bu Wati menerima map darinya. "Terima kasih, Adrian. Sekalian bantu saya jelaskan sebentar, ya."
"Baik, Bu."
Adrian masuk dengan langkah tenang. Saat ia berdiri di depan kelas, bisikan makin jelas. Ia tidak tampak menikmati perhatian itu, tetapi juga tidak canggung. Ia terbiasa dilihat.
"Program ini bukan les tambahan wajib," katanya. Suaranya jelas, rapi, seperti orang yang sering berbicara di depan umum. "Lebih seperti kelompok belajar silang. Siswa yang kuat di mata pelajaran tertentu akan membantu teman yang butuh latihan. Bu Wati merekomendasikan beberapa nama, salah satunya Sekar Ayu Raganari."
Semua mata menoleh pada Sekar.
Sekar menahan napas.
Yola berbisik, "Wah, nama lengkap."
Adrian menatap Sekar dengan senyum kecil. "Aku pernah lihat hasil tryout kamu. Nilai matematikamu tinggi sekali. Kalau kamu bersedia, aku ingin satu kelompok koordinasi dengan kamu."
Kalimat itu sopan. Terlalu sopan untuk ditolak di depan guru.
Sekar merasakan ketidaknyamanan halus merayap di tengkuknya. Bukan karena Adrian bersikap buruk. Justru karena semuanya terlihat benar. Guru ada di sana. Programnya resmi. Pujian itu terdengar akademis.
Namun ia sudah terlalu mengenal bagaimana masalah sering datang memakai wajah baik.
"Saya pertimbangkan dulu, Bu," jawab Sekar.
Bu Wati mengangguk. "Silakan. Tapi saya berharap kamu ikut. Kamu bisa membantu banyak teman."
Adrian menatapnya sedikit lebih lama. "Kalau ada yang ingin ditanyakan, kamu bisa hubungi aku. Aku bisa kirim jadwal lewat WhatsApp."
Sebelum Sekar menjawab, bel pergantian jam berbunyi.
Kelas mulai ramai. Adrian membantu Bu Wati membagikan formulir ke beberapa meja. Ketika sampai di meja Sekar, ia menaruh satu lembar dengan sangat rapi.
"Aku tulis nomor panitia di bawah," katanya.
"Terima kasih."
"Sekar, kan?"
Sekar menatapnya. "Iya."
"Nama yang bagus."
Yola langsung menegakkan punggung.
Sekar tersenyum kecil, cukup sopan. "Terima kasih."
Adrian tidak melanjutkan. Ia hanya mengangguk, lalu keluar kelas. Sikapnya bersih, tidak memaksa. Tetapi justru itu yang membuat Sekar menatap formulir di mejanya lebih lama.
Saat makan siang, Kevin datang lebih lambat dari biasanya.
Bryan lebih dulu muncul di meja kantin, meletakkan nampan dan langsung duduk. "Bro lagi dipanggil Pak Arief sebentar. Katanya soal latihan basket minggu depan."
Sekar mengangguk, tetapi pikirannya masih pada formulir.
Yola mengambil kertas itu dari tangan Sekar. "Lo mau ikut?"
"Belum tahu."
"Programnya bagus. Tapi Adrian tadi..."
"Terlalu rapi?" Sekar menyelesaikan.
Yola menatapnya. "Nah, lo juga merasa?"
Sebelum Sekar menjawab, suara beberapa siswi di belakang mereka terdengar.
"Adrian kayaknya tertarik sama Sekar."
"Tapi Sekar kan sama Kevin."
"Iya, tapi Adrian lebih cocok nggak sih? Sama-sama pintar, sama-sama anak baik."
Yola langsung hendak menoleh, tetapi Sekar menahan tangannya.
"Biarin."
Saat itulah Kevin datang.
Ia mendengar cukup banyak untuk membuat wajahnya berubah. Tidak marah besar, tetapi dingin. Ia duduk di sebelah Sekar, menaruh sebotol air di dekat tangannya, lalu melihat formulir di meja.
"Apa itu?"
"Program tutor sebaya."
Bryan, yang insting dramanya selalu tajam, langsung membaca nama di bagian bawah. "Koordinator: Adrian Saputra. Wah."
Kevin menatapnya. "Wah apa?"
"Wah, tulisannya rapi."
"Bryan."
Sekar menyentuh lengan Kevin di bawah meja. "Ini program sekolah."
"Gue nggak bilang apa-apa."
"Wajahmu bilang banyak."
Kevin menatapnya, lalu mengambil botol airnya sendiri. "Lo mau ikut?"
"Belum tahu."
"Kalau ikut, bilang gue."
"Kenapa?"
"Gue antar."
Yola menunduk pura-pura makan. Bryan berdeham.
"Kev, ini tutor di sekolah."
"Tetap."
Sekar ingin mengatakan ia tidak perlu diantar ke ruangan sekolah yang jaraknya hanya dua gedung. Namun mata Kevin masih dingin, dan di balik dingin itu ada sesuatu yang ia kenali: tidak suka, tetapi juga khawatir.
Maka ia hanya mengangguk. "Oke."
Sore harinya, setelah kelas selesai, Sekar dan Kevin bertemu Adrian di dekat papan pengumuman.
Adrian sedang menempel jadwal tutor. Beberapa siswa mengelilinginya. Ketika melihat Sekar, ia tersenyum.
"Sekar. Kebetulan. Aku baru mau cari kamu."
Tangan Kevin yang menggenggam tas Sekar berhenti bergerak.
Adrian melirik Kevin, lalu tetap tersenyum sopan. "Kevin, kan? Aku Adrian."
Ia mengulurkan tangan.
Kevin menatap tangan itu, lalu menatap wajah Adrian.
Sekar bisa merasakan udara di antara mereka menegang.
Kevin akhirnya tidak menyambut uluran tangan itu. Ia hanya berkata, "Ada urusan sama Sekar?"
Adrian menurunkan tangannya perlahan, senyumnya tetap rapi. "Soal tutor. Kalau Sekar bersedia, aku ingin dia masuk kelompokku."
"Kenapa harus dia?"
"Karena dia pintar."
Jawaban itu benar.
Tetapi cara Adrian menatap Sekar setelah mengatakannya membuat Kevin melangkah setengah langkah lebih dekat.
Sekar menggenggam lengan Kevin pelan.
Adrian melihat gerakan itu. Untuk sepersekian detik, senyumnya berubah tipis.
"Hubungan kalian serius?" tanyanya ringan.
Kevin menjawab sebelum Sekar sempat membuka mulut.
"Ada masalah?"
Adrian tertawa kecil. "Nggak. Aku cuma penasaran."
Sekar menatap senyum Adrian yang terlalu rapi, lalu rasa takut dari malam sebelumnya kembali menyentuh tengkuknya.
Ketika Adrian kembali menempel jadwal, Kevin menunduk sedikit ke arah Sekar.
"Lo nggak suka dia?"
Sekar menggenggam tali tasnya. "Aku nggak tahu."
"Gue juga."
"Tapi?"
Kevin menatap punggung Adrian. "Tapi senyumnya bikin gue pengin menjauhkan lo."
Sekar tidak menertawakan kalimat itu. Untuk pertama kalinya sejak mereka pacaran, naluri Kevin dan ketakutannya menunjuk ke arah yang sama.