Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 007
Aku yang Akan Menjagamu
Kiara sadar ia tidak bisa terus berdiri di depan gerbang sambil memeluk Rayhan.
Kesadaran itu datang terlambat, setelah napasnya mulai lebih tenang dan kemeja pria itu sudah basah oleh air matanya. Ia segera melepas tangan dari jas Rayhan, mundur setengah langkah dengan wajah panas.
"Maaf."
Rayhan menunduk melihat bekas air mata di dadanya, lalu kembali menatap Kiara.
"Untuk apa?"
"Kemejamu..."
"Aku punya banyak."
Jawaban itu begitu datar sampai Kiara terdiam.
Dari sisi jalan, Adi datang membawa mantel tipis. Ia menyerahkannya pada Rayhan tanpa menatap Kiara terlalu lama, lalu mundur lagi dengan sopan. Rayhan tidak memakai mantel itu. Ia justru menyampirkannya ke bahu Kiara.
"Malam dingin."
"Aku harus masuk," kata Kiara, tapi tangannya malah menggenggam ujung mantel itu.
Di balik pagar tinggi, lampu rumah Tanuwijaya masih terang. Mungkin Hendra masih marah. Mungkin Lina sedang menenangkan Wenny. Mungkin tidak ada satu pun dari mereka yang sadar Kiara keluar.
Mungkin kalau sadar pun, pertanyaan pertama mereka bukan apakah ia baik-baik saja, melainkan apa lagi yang ia lakukan.
Rayhan mengikuti arah pandangnya.
"Kamu tidak perlu tinggal di tempat yang membuatmu menangis."
Kiara langsung menoleh. "Aku tidak punya tempat lain."
"Aku punya."
Terlalu cepat.
Terlalu mudah.
Seolah rumah, apartemen, kamar aman, semua itu hanya benda yang bisa ia keluarkan dari saku jas.
Rayhan bahkan menoleh pada Adi seakan itu urusan paling sederhana di dunia.
"Unit kosong di Pacific Place masih siap?"
"Siap, Bos. Staf kebersihan masuk setiap dua hari. Keamanan dua puluh empat jam."
"Mansion Purnawan juga bisa disiapkan malam ini."
Kiara menatap mereka bergantian. Bagi dirinya, pindah rumah berarti koper, izin keluarga, biaya sewa, kontrak, dan seratus alasan untuk takut. Bagi Rayhan, itu hanya pilihan antara satu unit apartemen mewah dan sebuah mansion.
Kiara menarik mantel lebih rapat. "Pak Rayhan..."
Tatapan Rayhan turun sedikit.
Kiara mengoreksi diri dengan suara lebih kecil. "Koh Rayhan."
Baru setelah itu, wajah Rayhan melunak.
"Aku tidak sedang bercanda, Kiara."
"Aku tahu. Justru itu masalahnya." Kiara mengangkat wajah. "Kamu bisa mengganti orang di lokasi syuting. Bisa memanggil dokter. Bisa muncul di depan rumahku. Bisa menyimpan nomor di ponselku tanpa bertanya."
Rayhan diam.
"Kalau kamu bilang punya tempat untukku, aku percaya kamu benar-benar punya. Tapi aku bukan barang yang bisa dipindahkan begitu saja."
Angin malam melewati taman kecil di sisi gerbang. Daun-daun bougainvillea bergerak pelan, menimbulkan suara gesekan lembut.
Rayhan melihat Kiara lama.
Dalam novel, tatapan Rayhan pada musuh selalu seperti vonis. Kiara pernah membacanya dan merasa ngeri. Tapi sekarang, tatapan itu justru berhenti di wajahnya dengan kesabaran yang membuat dada Kiara nyeri.
"Aku tahu," kata Rayhan akhirnya.
Kiara berkedip.
"Kalau aku ingin memindahkanmu tanpa bertanya, aku sudah melakukannya."
Kalimat itu seharusnya membuatnya takut.
Dan memang ada dingin kecil yang menyentuh tulang punggung Kiara.
Tapi Rayhan tidak berhenti di sana.
"Aku tidak mau kamu menjadi barang. Aku mau kamu punya pilihan yang tidak diberikan keluarga ini padamu."
Suara Hendra tiba-tiba terdengar dari dalam rumah, memanggil nama Kiara. Tidak dekat, tapi cukup membuat tubuhnya menegang.
Rayhan melihat reaksi itu.
Matanya menjadi gelap.
"Dia selalu bicara padamu seperti itu?"
"Dia Papa tubuh ini," jawab Kiara refleks, lalu menyesal karena kalimatnya hampir membuka rahasia.
Rayhan tidak menunjukkan keterkejutan. Hanya ada kilatan samar di matanya, secepat bayangan yang lewat. Kiara terlalu sibuk panik untuk menangkapnya.
"Maksudku, Papa," koreksinya pelan.
"Papa yang baik tidak membuat anaknya takut pulang."
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari semua teguran Hendra.
Kiara menunduk.
Ponselnya bergetar. Nama `Papa` muncul di layar. Ia membiarkannya sampai panggilan terputus.
Getaran berikutnya datang dari Wenny.
Wenny: Kamu di mana? Papa marah. Jangan bikin semua orang khawatir lagi.
Kiara menatap pesan itu, lalu tertawa kecil tanpa suara.
Semua orang khawatir.
Khawatir pada siapa?
Rayhan mengambil ponsel itu dari tangannya dengan gerakan pelan. Ia tidak membaca pesan lebih lama dari yang sudah terlihat. Setelah mengembalikannya, ia berkata pada Adi, "Siapkan pengacara keluarga. Bukan untuk menyerang. Untuk memastikan tidak ada yang bisa memaksa Kiara menandatangani apa pun."
Kiara terkejut. "Koh Rayhan."
"Dan tim PR."
"Kamu dengar aku bilang bukan barang, kan?"
Rayhan menatapnya. "Aku dengar."
"Lalu?"
"Aku tidak sedang membeli hidupmu." Suaranya rendah, tapi jelas. "Aku sedang menutup pintu-pintu yang bisa dipakai orang lain untuk menyakitimu."
Adi yang berdiri beberapa langkah jauhnya menunduk. "Baik, Bos."
Kiara menatap pria di depannya, tidak tahu harus marah atau terharu. Di dunia asalnya, ia terbiasa menyelesaikan masalah sendiri. Di tubuh ini, Kiara lama juga sendirian. Lalu tiba-tiba, seseorang datang dengan kekuasaan yang terlalu besar dan berkata bahwa ia akan menjaga semua pintu.
Rasanya manis.
Rasanya berbahaya.
"Aku tidak bisa menerima semuanya begitu saja," ucap Kiara.
"Tidak perlu sekarang."
"Kamu selalu memutuskan sendiri."
"Kalau menyangkut keselamatanmu, iya."
"Itu terdengar menakutkan."
Rayhan mendekat satu langkah. Kali ini Kiara tidak mundur, tapi napasnya tertahan.
"Kalau aku menakutkan untukmu, bilang. Aku akan mundur."
Kiara menatap matanya.
Apakah ia takut?
Ya.
Tapi bukan jenis takut yang membuatnya ingin lari. Lebih seperti berdiri di tepi laut malam, tahu ombaknya bisa menyeret, tapi tetap ingin menyentuh air.
"Aku takut kamu terlalu baik," katanya jujur.
Rayhan tersenyum tipis.
"Aku tidak baik, Kiara."
Satu kalimat itu diucapkan begitu tenang sampai Kiara lupa bernapas.
"Tapi padamu, aku bisa belajar."
Jalan di depan rumah itu mendadak terasa terlalu sepi. Kiara mendengar suara mobil dari kejauhan, bunyi serangga di taman, detak jantungnya sendiri.
Rayhan mengangkat tangan, berhenti sesaat seolah meminta izin, lalu merapikan sisi mantel di bahu Kiara agar tidak jatuh.
"Mulai malam ini, kalau kamu butuh tempat pulang, telepon aku. Kalau kamu sakit, telepon aku. Kalau mereka membuatmu menangis, telepon aku."
"Dan kalau aku tidak telepon?"
Tatapan Rayhan turun ke matanya.
"Aku akan tetap datang."
Kiara menahan napas.
Itu bukan janji biasa.
Itu terdengar seperti sumpah.
Dari dalam rumah, Hendra memanggil lagi. Kali ini lebih dekat. Kiara tahu ia harus kembali sebelum semua orang keluar dan menemukan Rayhan di depan gerbang.
Ia melepas mantel itu, hendak mengembalikannya.
Rayhan menahan tangannya.
"Pakai."
"Nanti bagaimana mengembalikannya?"
"Besok."
"Besok?"
"Aku jemput kamu."
Kiara menatapnya, kali ini benar-benar tidak bisa menahan diri.
"Koh Rayhan, kamu ini terlalu percaya diri."
Untuk pertama kalinya, senyum Rayhan tampak sedikit nyata.
"Kalau kamu panggil aku Koko besok, aku akan lebih percaya diri."
Pipi Kiara panas lagi.
Ia berbalik sebelum Rayhan melihat terlalu jelas, lalu berjalan menuju gerbang kecil. Namun sebelum masuk, ia berhenti.
"Koh Rayhan."
"Hmm?"
Kiara tidak menoleh. Suaranya kecil, tapi cukup terdengar.
"Terima kasih sudah datang."
Di belakangnya, Rayhan diam beberapa detik.
Ketika menjawab, suaranya begitu lembut sampai Kiara hampir ingin menangis lagi.
"Aku selalu datang untukmu."