NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 - Pintu Keluarga

Hari ini ternyata banyak sekali orang yang ingin masuk ke kamarnya.

Felicia belum sempat mengatur napas ketika pintu ruang observasi terbuka lebih lebar.

Seorang pria masuk lebih dulu. Usianya tidak jauh dari Hendrick, tetapi wajahnya jauh lebih tajam. Jas abu-abunya rapi, jam di pergelangan tangannya mahal, dan senyumnya membawa jenis keramahan yang biasa dipakai orang untuk menyembunyikan pisau.

Di belakangnya, Tante Lina Tanuwijaya berjalan dengan dagu terangkat. Clarissa mengikuti di sisi ibunya. Begitu melihat Felicia di ranjang, mata Clarissa menyala, antara kaget, benci, dan kepuasan yang buru-buru disembunyikan.

"Ruang observasi ini ramai sekali," kata pria itu. "Aku kira sedang ada rapat direksi."

Mama Wenny menegang. "Charles."

Jadi ini Om Charles Tanuwijaya.

Felicia menatapnya dari kepala sampai kaki, lalu kehilangan minat dalam setengah detik.

Tidak kuat.

Terlalu banyak ambisi, terlalu sedikit isi.

Om Charles melihat dokumen di tangan pengacara keluarga, lalu berpaling pada Hendrick. "Aku dengar kabar aneh di koridor. Kamu bilang anak ini putri kandungmu?"

"Bukan anak ini," kata Calvin pelan.

Semua orang menoleh.

Calvin berdiri di samping ranjang, wajahnya pucat tetapi suaranya sangat lembut. "Namanya Felicia."

Om Charles mengangkat alis. "Oh? Sekarang kamu membelanya juga?"

Calvin tersenyum kecil. "Dari tadi."

Clarissa mendengus. "Pantas saja. Ternyata selama ini dia punya cara lain untuk mendekati keluarga kita."

Jayden langsung maju satu langkah. Nathan menahan lengannya tanpa melihat.

Felicia mengangkat tangan kanan sedikit. "Biarkan."

Clarissa melihat gerakan itu dan bibirnya melengkung. "Kasihan sekali. Baru jatuh dari kuda, sudah harus menghadapi kenyataan keluarga besar."

"Kamu datang untuk menjenguk atau untuk membuktikan otakmu masih tidak berkembang?"

Wajah Clarissa memerah.

Tante Lina menatap Felicia tajam. "Jaga bicaramu. Kamu belum resmi masuk keluarga ini."

"Bagus," kata Felicia. "Berarti aku juga belum perlu pura-pura sopan."

Jayden tertawa terang-terangan.

Nathan menunduk sebentar, mungkin agar ekspresinya tetap rapi. Sebastian hanya memperhatikan denyut monitor di samping ranjang dan tampaknya cukup puas karena ritmenya tidak berubah.

Om Charles tidak tertawa. Ia menatap Hendrick lagi. "Kamu sadar apa artinya pengakuan ini? Nama Tanuwijaya bukan kartu akses yang bisa diberikan hanya karena kamu tiba-tiba merasa bersalah."

Hendrick memegang map hitam lebih erat. "Hasil pemeriksaan sudah jelas."

"Pemeriksaan bisa diulang."

"Silakan," kata Felicia.

Om Charles menoleh.

Felicia tersenyum. "Ulang sepuluh kali kalau perlu. Selama darahku tetap sama, masalahmu juga tetap sama."

Rahang Om Charles bergerak.

Tante Lina berkata dingin, "Masalahnya bukan hanya darah. Anak yang dibesarkan di luar keluarga seperti ini membawa riwayat yang tidak jelas. Lingkungan, kebiasaan, hubungan sosial, semuanya harus diperiksa. Jangan sampai keluarga besar menanggung aib."

Mama Wenny menarik napas tajam.

Felicia justru menatapnya, bukan Tante Lina. Wanita itu tampak sakit, tetapi bukan karena Felicia. Rasa sakitnya lebih tua, lebih dalam, semacam retak dalam rumah yang selama ini ditutup karpet mahal.

Mama Wenny melepaskan tangan Calvin dan melangkah maju.

"Lina," katanya pelan, "kalau kamu ingin bicara tentang aib, bicara pada orang dewasa yang menyembunyikan anaknya, bukan pada anak yang ditinggalkan."

Ruang itu berubah hening.

Calvin menatap ibunya dengan mata membesar.

Hendrick menunduk.

Tante Lina membeku, lalu wajahnya mengeras. "Kamu terlalu baik, Wenny. Inilah alasan orang bisa menginjakmu."

"Tidak," kata Mama Wenny. Suaranya masih bergetar, tetapi ia berdiri lurus. "Hari ini aku hanya tidak ingin menginjak orang yang salah."

Felicia menatap wanita itu sedikit lebih lama.

Lumayan.

Tidak sepenuhnya bodoh.

Yesika, yang sejak tadi terjebak di sisi ruangan dengan ponsel di tangan, mencoba mundur ke pintu. Nathan langsung berkata, "Kak Yesika, rekaman parkir sponsor."

Langkah Yesika berhenti.

Om Charles baru menyadari keberadaannya. "Putri keluarga Prasetyo juga di sini?"

Yesika tersenyum pucat. "Saya hanya menjenguk."

"Bagus. Banyak saksi berarti lebih baik." Om Charles kembali ke Felicia. "Aku ingin semua orang mendengar. Sebelum keluarga Tanuwijaya menerima seseorang, kita harus tahu riwayatnya. Siapa yang membesarkannya. Kenapa dia selama ini berada di luar. Apa saja yang ia lakukan untuk mendekati F4."

"Mendekati?" ulang Jayden. "Om, kami yang ngejar dia."

Tante Lina menatap Jayden seolah ia anak nakal di meja makan keluarga lain. "Kamu masih muda. Perempuan seperti ini pintar membuat laki-laki merasa memilih sendiri."

Jayden menyeringai. "Kalau dia mau membuat gue merasa dipilih, gue ucapin terima kasih."

"Jay," kata Nathan.

"Apa? Gue jujur."

Felicia mengusap tepi selimut dengan jari. Telapak tangannya masih perih, tetapi percakapan ini mulai membosankan.

"Intinya apa?" tanyanya.

Om Charles tersenyum. "Intinya, kamu tidak bisa tiba-tiba menjadi putri Tanuwijaya hanya karena satu dokumen. Keluarga besar punya aturan."

"Aturan atau saham?"

Senyumnya menghilang.

Felicia melanjutkan dengan nada malas, "Kalau Hendrick mengakui aku, posisi warisan berubah. Hak suara keluarga berubah. Status Clarissa di sekolah juga berubah. Kamu takut aku mengambil sesuatu yang selama ini kamu incar."

Clarissa berdiri lebih tegak. "Jangan bawa namaku."

"Kamu ikut masuk. Namamu ikut terbawa."

Calvin menutup mulutnya dengan punggung tangan, tetapi matanya untuk pertama kali sejak pengakuan Hendrick tampak hidup lagi. Ia ingin tertawa, meski situasinya menghancurkan dirinya.

Sebastian berkata pelan, "Secara struktur keluarga konglomerat, analisis Felicia masuk akal."

Om Charles menoleh tajam. "Keluarga Widjaja tidak perlu ikut campur."

"Kalau seseorang mencoba menyerang pasien gegar otak ringan secara verbal di ruang observasi, saya boleh menyebutnya gangguan pemulihan."

Felicia melirik Sebastian. "Bagus. Catat itu nanti."

"Sudah saya catat."

Om Charles mengambil napas panjang. "Baik. Kalau kalian ingin bicara fakta, kita bicara fakta. Aku sudah meminta orang mencari orang tua angkat Felicia."

Udara di ruangan seperti berhenti.

Sis, yang sejak tadi diam, langsung bersuara di kepala Felicia. "Tuan Rumah..."

Felicia tidak berkedip.

Nama yang belum disebut di ruangan itu muncul di kepalanya seperti bau asap dari rumah lama.

Pak Tono.

Bu Gina.

Tubuh pemilik lama menyimpan memori yang tidak rapi. Pintu kayu murah. Bau rokok. Suara piring pecah. Tangan yang terlalu sering naik. Seorang wanita yang melihat, lalu memalingkan wajah karena takut hidupnya sendiri ikut hancur.

Semua itu bukan rasa takut Felicia.

Namun tubuh ini mengingat.

Monitor di samping ranjang berbunyi sedikit lebih cepat.

Nathan langsung menoleh. "Feli?"

"Aku baik."

Tidak sepenuhnya benar. Bukan karena takut. Lebih seperti tubuh kecil ini marah sebelum otaknya sempat memutuskan.

Calvin memperhatikan wajahnya. "Ci..."

Felicia menatap Om Charles. "Kamu mengundang mereka ke sini?"

"Tentu. Mereka membesarkanmu. Kita perlu tahu siapa kamu sebenarnya."

Hendrick akhirnya berbicara, suaranya berat. "Charles, jangan bawa mereka ke rumah sakit."

"Kenapa? Takut kisahnya tidak secantik dokumen laboratorium?"

Mama Wenny menoleh pada Hendrick. "Apa yang terjadi di keluarga angkatnya?"

Hendrick diam.

Diam yang terlalu lama.

Felicia tertawa pelan.

Suara itu membuat semua orang melihatnya.

"Menarik," katanya. "Jadi kamu tahu sedikit, tapi tetap membiarkan aku di sana."

Wajah Hendrick kehilangan warna.

Calvin memandang ayah tirinya seperti baru melihat retakan lain yang lebih buruk.

Om Charles menangkap kesempatan itu. "Lihat? Bahkan dia sendiri mengakui ada masalah. Hendrick, kamu mau membawa skandal ini ke ruang keluarga besar?"

"Skandalnya bukan aku," kata Felicia.

Ia duduk sedikit lebih tegak. Bahu kirinya langsung memprotes, rusuknya menusuk, tetapi ia tidak menunjukkan rasa sakit di wajah.

Nathan bergerak hendak membantu. Felicia mengangkat tangan, menahannya.

Ia menatap Om Charles.

"Suruh mereka datang."

Guru pendamping terkejut. "Felicia, dokter bilang kamu perlu istirahat."

"Aku sedang istirahat."

"Ini bukan istirahat," gumam Jayden.

"Bagiku iya."

Felicia tersenyum tipis.

"Aku juga ingin melihat apakah Pak Tono masih berani menatapku setelah tahu aku bukan lagi anak yang bisa ia kunci di rumah murahnya."

Tante Lina mencibir. "Kasar sekali."

"Belum," kata Felicia. "Ini baru pembukaan."

Di luar koridor, ponsel Om Charles berdering. Ia melihat layar, lalu senyumnya kembali.

"Kebetulan," katanya. "Mereka sudah sampai di lobi."

Tubuh Felicia tetap diam.

Namun di dalam kepalanya, Sis berbisik dengan suara kecil, "Tuan Rumah, data emosi tubuh asli melonjak."

Felicia menatap pintu.

"Bagus. Biar masa lalu belajar mengetuk sebelum masuk."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!