Luna Maheswari. Wanita muda yatim piatu, Luna terlahir dari keluarga yang sederhana. Tepat pada saat Luna berusia 18 tahun dia kehilangan kedua orang tuanya. Luna harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, dengan menjadi karyawan di salah satu Toko Kue yang lumayan terkenal di Ibu Kota. Pada saat berusia 20 Tahun Luna menikah dengan pria yang di cintainya,kini umur pernikahan Luna dan suaminya sudah menginjak usia ke 3 Tahun.Bukan hal yang mudah untuk memperjuangkan rumah tangga-nya hingga ke tahap ini.Banyak sekali kerikil-kerikil yang harus Luna lalui di dalam rumah tangga-nya, air mata , kesabaran dan pengorbanan menjadi hal yang biasa bagi Luna demi mempertahankan pernikahannya.Namun kadang kala di masa depan Luna harus mengambil keputusan demi dirinya sendiri kan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Pekerjaan
Satu minggu telah berlalu,paska tragedi yang memilukan di hidup Luna.Menyakitkan jika di rasakan dan di bayangkannya,kini Luna sudah berusaha menerima kenyataan pahitnya yang harus kehilangan bayi di rahimnya.Perlahan wanita itu telah menata kembali kehidupannya,satu minggu lagi sidang perceraiannya akan di langsungkan.
Luna hanyalah wanita yang sederhana,tidak pernah terfikirkan olehnya akan berada di titik yang seperti sekarang.Dua malam Luna harus menghabiskan waktu di rumah sakit,kini dirinya sudah kembali ke rumah sederhana dan nyaman yang beberapa hari terahir di tempatinya bersama dengan Nina,ibu angkatnya.
Setelah kepulangannya,Nina dengan terpaksa harus meninggalkannya kembali.Nina terbang ke Amerika,bagaimanapun Nina tidak bisa menetap di sini.Suaminya membutuhkannya di sana,dan Luna tidak keberatan untuk itu,bukan haknya untuk mencegah ibu angkatnya itu pergi.
Luna hanya tinggal berdua dengan pelayan yang sudah di siapkan Alan dan Nina sebelumnya,Alan sendiri tinggal di Apartemen mewah milik pria itu sendiri.Tidak mungkin,mereka tinggal bersama saat ini,Luna dan Alan cukup tau diri tentang ini.Sesekali pria arogan itu dan Paman Danu mengunjunginya,Luna sangat senang karnanya.
Setidaknya dirinya tidak sendiri menghadapi semua ini,Luna sendiri belum bertemu kembali dengan Rama suaminya.Luna masih belum berniat keluar rumah untuk saat ini,wanita itu masih berusaha merenungkan dan menyiapkan hatinya untuk langkah selanjutnya yang akan di ambilnya.Tidak mungkin dirinya akan bergantung pada Alan selamanya kan ?.
"Nona istirahatlah...Biar saya yang menyelesaikannya." Ucap bu Diana,pelayan yang satu minggu ini menemani Luna.
Sudah satu jam lamanya Luna menyiram semua bunga,yang ada di taman belakang rumah.Ahir-ahir ini wanita itu menghabiskan waktunya untuk mengurus taman itu,Luna selalu membutuhkan waktu lama untuk berada di taman.Bukan hanya beraneka bunga,tapi juga beraneka buah berada di kebun luas itu.
" Tidak bu...Aku akan segera menyelesaikannya,tolong bawa keranjang itu ke dapur." Pinta Luna menunjuk keranjang berisi buah segar, yang baru saja di petiknya.
"Baik Nona." Jawab bu Diana.
Tanpa mereka sadari sesosok pria tampan,tinggi dan arogan mengamati mereka dari jauh.Setelah bu Diana berbalik,bu Diana terkejut melihat Tuannya sudah berada di belakangnya.Bu Diana menyapa Alan.
"Tuan..."Sapa bu Diana.
"Apa dia sudah lama berada disana..?" Tanya Alan melirik wanita yang masih sibuk di depan sana.
"Ya Tuan,sudah satu jam yang lalu Nona berada di sana." Jawab bu Diana.
"Tolong ibu siapkan makan siang sekarang." Setelah Alan mengatakan itu,tanpa menunggu jawaban dari bu Diana,Alan melangkah kedepan menghampiri Luna.
Langkah kaki panjang Alan,semakin mendekat ke arah Luna.Tapi nampaknya wanita itu terlalu sibuk dengan bunganya,hingga tidak menyadari jika seseorang berjalan ke arahnya.
"Sudah waktunya makan siang,letakan itu dan masuklah." Titah tegas Alan.
Bisa-bisanya wanita itu selalu lupa akan dirinya sendiri,saat ini bukankah dirinya masih harus dalam pemulihan ?. Lihatlah seakan dia melupakan segalanya,jika dirinya tidak datang akan sampai kapan wanita ini mengabaikan jam makan siangnya pikirnya.
"Ah..Kau mengangetkanku.." Pekik Luna,memegangi dadanya.Betapa tidak ? wanita itu sedang serius sebelumnya,dan mendadak ada suara melengking yang mengema di belakangnya.
Alan memincingkan matanya,menatap Luna." Letakan,dan makan sekarang." Tegasnya lagi.
"Aisshh kau ini...Baru datang sudah marah-marah,tidak bisakah kau mengatakannya dengan nada yang lebih lembut alih-alih melengking seperti ini,aku tidak tuli Alan." Omel Luna cemberut.
Setiap kali kemari,pria itu selalu mengunakan nada yang menggema.Tidak bisakah dia sedikit menurunkan nada suaranya ?.
"Luna..." Ulang Alan menyipitkan matanya.
Wanita keras kepala ini,bukan segera meletakan apa yang di pegangnya.Justru semakin sibuk dan malah mengomelinya.
"Aku juga sudah selesai Alan...Kau saja yang terlalu cepat datang ." Bantah Luna,wanita itu mau tidak mau harus menyudahi aktifitasnya yang menyenangkan ini.
Segera Luna berdiri dan mencuci tangannya." Aku akan menganti pakaianku terlebih dulu." Ucap datar Luna,berlalu meninggalkan Alan.
Pria arogan itu tidak menanggapi Luna,Alan hanya mengelengkan kepalanya sembari menatap punggung Luna yang mulai menghilang dari hadapannya.
***
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Luna membersihkan dirinya,saat ini dirinya sudah berada di meja makan bersama dengan Alan.Pria arogan itu memang setiap hari akan mengunjungginya,entah di waktu makan siang atau makan malam.Mereka akan menghabiskan waktu bersama paling lama dua jam dalam sehari,itu syarat yang di minta Nina dari Alan.
Nina sangat cemas jika di rumah itu Luna akan merasa bosan,karna tidak ada yang mengunjunginya.Alan memang di tugaskan Nina untuk menjaga Luna selama dirinya di Amerika,Alan pun tidak keberatan untuk itu.
"Alan...Aku ingin bicara denganmu." Ucap Luna hati-hati,Luna menatap Alan dengan ragu.
" Katakan .?" Dengan sigap Alan menjawabnya.
Pria arogan itu juga penasaran,apa yang akan di katakan wanita keras kepala ini.Mengapa terlihat begitu mencurigakan.
"Aku ingin mencari pekerjaan." Tegas Luna.
Alan meletakan sendok dan garpu yang di pegangnya,tangan pria itu menyeka bibirnya dengan lap bersih di sampingnya.Dan kedua manik mata hitamnya menatap Luna.
"Apa yang membuatmu ingin berkerja ? Kau sedang dalam pemulihan,kau bisa bekerja tapi tidak di waktu dekat ini." Alan menjawab datar.
Sedikit banyak Alan telah mengenal karakter Luna,Alan sangat yakin jika keadaan Luna yang sekarang,membuatnya ingin bekerja.Alan mengerti itu dan pria itu tidak menolaknya,hanya saja tidak di waktu sekarang pikir Alan.
"Benarkah..?" Binar Luna,dia tidak menyangka jika Alan akan secepat ini menyetujuinya.
Bagaimana pun,Luna sangat menghormati Alan.Saat dirinya seperti ini,Alan dan Nina lah yang berada di sisinya.Nina sudah seperti ibu baginya,dan pria di depannya ini sudah seperti kakak untuknya.Walaupun hubungan mereka jarang akur,tapi Luna sangat yakin jika Alan peduli padanya.
"Aku tidak akan melarangmu,aku yakin Mommy juga sama sepertiku...Tapi tidak sekarang,kau harus merawat dirimu dulu." Tegas Alan.
"Sidang akan di langsungkan satu minggu lagi,apa kau sudah siap..?" Tanya Alan ragu.
"Siap tidak siap aku harus tetap melakukannya,aku masih sangat mencintai Mas Rama...Tapi jika aku terus bersamanya,aku hanya akan menjadi penghalang kebahagiaanya kan...? Lalu tidak ada gunanya aku bertahan untuk tetap menjadi istrinya." Jawab Luna tersenyum getir,kenyataannya cinta yang di milikinya untuk suaminya tidak cukup membuat suaminya bahagia.
Maka Luna akan menyerah,Luna yakin jika suaminya akan bahagia saat mereka berpisah.
Lagipula saat ini suaminya,sudah menemukan penganti dirinya.Tidak akan sulit untuk suaminya,jika harus terpisah darinya pikir Luna.
TBC