NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

****

Musik dengan bas yang berdentum keras seolah menggetarkan dinding-dinding kelab malam eksklusif di kawasan Jakarta Selatan itu. Di tengah kerumunan orang yang menari, Nayanika Sadira Pangestu berdiri di atas sofa VIP sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Wajahnya yang cantik tampak merona akibat euforia malam. Malam ini adalah perayaan kemenangan balapan liar yang baru saja ia menangkan satu jam lalu.

"Untuk Nayan, pemenang jalanan malam ini! Cheers!" teriak salah satu temannya yang disambut sorakan riuh.

Nayan tertawa lepas. Gaun hitam ketat di atas lutut yang dipadukan dengan jaket kulit hitam membuat penampilannya malam itu begitu mencolok, seksi, sekaligus berbahaya. Ia menyukai adrenalin. Ia menyukai kebebasan. Dan yang paling penting, ia menyukai fakta bahwa dia bisa melakukan apa saja yang dia mau.

Namun, tawa Nayan tidak bertahan lama. Detik berikutnya, lampu kelab malam yang remang-remang mendadak menyala terang benderang. Musik mati seketika, menyisakan keheningan yang mencekam sebelum suara kegaduhan terdengar dari arah pintu masuk.

"Polisi! Jangan ada yang bergerak! Tempat ini dirazia!"

Suara tegas itu membuat seluruh pengunjung kelab panik. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Teman-teman Nayan langsung kocar-kacir, namun Nayan, dengan sisa keberaniannya yang di luar nalar, justru melompat turun dari sofa dan mencoba menerobos barisan petugas.

"Heh, Minggir! Kalian enggak tahu siapa saya?!" bentak Nayan ketus saat seorang petugas menghadang langkahnya.

"Kami tidak peduli siapa Anda, Nona. Ikut kami ke kantor polisi!"

Nayan mendengkus kasar, mencoba menepis tangan petugas yang hendak memborgolnya. "Lepasin! Papa saya bisa beli kantor kalian ya, tahu enggak?!" teriaknya frustrasi, membuat kekacauan di sudut ruangan itu semakin menjadi-jadi sebelum akhirnya ia dipaksa masuk ke dalam mobil patroli.

Keesokan paginya, Nayan terbangun dengan kepala yang luar biasa pening. Sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden kamarnya yang mewah terasa membakar mata. Ia mengerang, memegangi dahinya, lalu perlahan duduk di tepi ranjang.

Saat pandangannya mulai jelas, jantungnya mencelos. Di ujung tempat tidur, dua buah koper besar berukuran extra large sudah berdiri tegak.

Cklek.

Pintu kamar terbuka kasar. Baskoro Pangestu, sang ayah yang merupakan konglomerat properti ternama, berjalan masuk dengan wajah sekeras batu. Di belakangnya, sang ibu tampak terisak kecil sambil memegangi tisu.

"Bagus. Sudah bangun kamu, Ratu Onar?" suara Baskoro terdengar rendah, namun sarat akan kemarahan yang tertahan.

Nayan memutar bola matanya malas. "Pa, pusing nih. Jangan ngajak berantem pagi-pagi kenapa sih? Masalah kelab semalam kan bisa ditebus pakai uang. Kayak biasanya aja."

BRAK!

Baskoro menggebrak meja rias Nayan hingga beberapa botol parfum mahal bergetar. "Cukup, Nayan! Papa sudah muak! Kamu pikir uang Papa bisa terus-menerus dipakai untuk menutupi kelakuan memalukan kamu, hah?! Balapan liar, ditangkap polisi di kelab malam... kamu mau bikin nama keluarga kita hancur?!"

Nayan tersentak, namun sifat keras kepalanya membuat ia tetap mendongak menantang. "Nayan cuma mau bebas, Pa! Papa sama Mama sibuk terus bisnis, giliran Nayan cari hiburan malah dimarahin!"

"Hiburan kamu itu merusak diri sendiri!" bentak Baskoro lagi. Beliau menghela napas panjang, mencoba meredam amarahnya yang sudah di ubun-ubun. "Papa tidak mau dengar alasan lagi. Hari ini, jam ini juga, kamu pergi dari rumah ini."

Nayan tertawa hambar. "Usir aja. Nayan bisa tinggal di apartemen atau hotel bintang lima. Gampang."

"Tidak ada apartemen, tidak ada hotel. Dan tidak ada kemewahan," potong Baskoro dingin. Beliau melangkah maju, lalu merenggut tas selempang yang dipegang Nayan. Dengan cepat, Baskoro merogoh isinya, mengambil semua kartu kredit, dompet, dan ponsel pintar milik Nayan.

"Heh! Papa apa-apaan sih?! Balikin HP Nayan!" teriak Nayan histeris, mencoba merebut kembali benda pipih itu.

"Semua fasilitas kamu Papa sita. Kamu akan dikirim ke tempat sahabat Papa. Tempat di mana kamu tidak bisa bertingkah bar-bar lagi," ucap Baskoro final. Beliau menoleh ke arah luar pintu. "Seno! Bawa koper Nayan ke mobil. Seret dia kalau dia menolak!"

"Pa! Mama, belain Nayan, Ma!" Nayan beralih memohon pada ibunya, namun sang ibu hanya menggeleng pasrah sambil menangis.

"Ini demi kebaikan kamu, Nayan. Turuti kata Papamu," bisik ibunya lirih.

Tanpa sempat berganti pakaian—masih mengenakan kaus ketat tanpa lengan dan celana jins robek-robek bekas semalam—Nayan diseret paksa oleh dua pengawal berbadan besar menuju mobil Toyota Alphard hitam yang sudah menunggu di lobi rumah. Sepanjang jalan menuju mobil, Nayan tak henti-hentinya berteriak dan memaki, namun keputusannya sudah bulat. Ia telah resmi "dibuang".

Perjalanan memakan waktu hampir lima jam. Jalur aspal yang mulus perlahan berubah menjadi jalanan berbatu yang dikelilingi pohon-pohon rindang dan hamparan sawah. Nayan hanya bisa menekuk wajahnya dalam-dalam, menatap jendela dengan tangan bersedekap dada. Kemarahannya sudah berubah menjadi kejengkelan yang luar biasa.

Mobil akhirnya melambat dan berbelok memasuki sebuah gerbang besi besar yang kokoh. Di atas gerbang itu terpampang papan nama kayu bertuliskan: PONDOK PESANTREN AL-FALAH.

"Pesantren?!" Nayan memekik histeris saat membaca tulisan itu. "Supir! Putar balik! Gue enggak mau tinggal di tempat kuno kayak begini! Putar balik enggak?!"

"Maaf, Nona Nayan. Ini perintah Tuan Baskoro," jawab supir dari balik kemudi dengan tenang.

Mobil berhenti tepat di halaman sebuah rumah besar bernuansa hijau dan putih yang terletak di dalam kompleks pesantren. Begitu pintu mobil dibuka secara otomatis, hawa sejuk pedesaan langsung menerpa kulit Nayan. Namun, suasana hatinya justru berbanding terbalik.

Nayan melangkah keluar dari mobil dengan menghentakkan kakinya kesal. Penampilannya benar-benar menjadi pusat perhatian seketika. Di tempat di mana semua orang berpakaian longgar dan menutup aurat, Nayan berdiri tegak dengan pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, rambut pirang sebahunya yang agak kusut dibiarkan tergerai tanpa hijab. Beberapa santriwati yang kebetulan lewat langsung menundukkan pandangan sambil berbisik-bisik.

Dari arah teras rumah, berjalan sepasang paruh baya berpakaian sangat bersahaja namun memancarkan wibawa yang kuat. Pria berpeci putih itu adalah Kyai Abdullah, sahabat karib ayah Nayan, dan wanita paruh baya berhijab anggun di sampingnya adalah sang istri, Bu Nyai Halimah.

Nayan memasang wajah menantang, bersiap jika dirinya akan langsung diceramahi atau dihujat karena pakaiannya yang tidak sopan. Ia sudah menyiapkan mental untuk beradu argumen.

"Selamat datang di Pondok Pesantren Al-Falah, Nayanika," ucap Kyai Abdullah dengan senyuman ramah yang tulus. Tidak ada guratan amarah atau tatapan menghakimi di matanya.

Nayan mengerutkan keningnya, agak bingung. "Om... eh, Pak... saya enggak cocok di sini. Mending pulangkan saya sekarang," jawab Nayan ketus tanpa menyalami mereka.

Melihat respons Nayan yang tidak sopan, Bu Nyai Halimah justru melangkah maju. Alih-alih menghujat atau memarahi Nayan karena pakaian ketatnya, wanita itu justru tersenyum sangat lembut. Beliau membuka khimar (kerudung panjang) cadangan yang sempat ia bawa di lengannya, lalu dengan gerakan perlahan dan penuh kasih sayang, menyampirkannya ke bahu Nayan untuk menutupi bagian dada gadis itu yang agak terbuka.

"Perjalanan jauh pasti sangat melelahkan ya, Nak?" tanya Bu Nyai Halimah dengan suara yang begitu menyejukkan hati. Beliau mengusap lengan Naya yang terasa dingin. "Kamu cantik sekali. Pasti lapar, kan? Ayo masuk ke dalam, Ibu sudah siapkan makanan hangat untukmu."

Naya terpaku. Lidahnya mendadak kelu. Di dalam kepalanya, ia sudah menyusun skenario bahwa ia akan dimaki, disebut anak nakal, atau dipaksa memakai jilbab dengan kasar. Namun, kehangatan dan kelembutan dari Bu Nyai Halimah justru meruntuhkan semua pembelaan diri yang sudah ia bangun sejak di mobil. Ada rasa hangat yang asing menjalar di dadanya, membuat sifat bar-bar-nya mendadak membeku untuk sesaat.

"Koper-kopermu biar dibantu dibawa ke kamar tamu di ndalem ya," sambung Kyai Abdullah ramah.

Naya hanya bisa mengangguk kaku, masih terlalu syok dengan sambutan yang teramat baik ini. Ia membiarkan dirinya dituntun oleh Bu Nyai Halimah melangkah menaiki tangga teras rumah.

Namun, tepat sebelum kakinya melangkah melewati pintu masuk rumah utama, insting Naya mendadak merasakan sesuatu. Seperti ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dengan sangat intens.

Nayan menghentikan langkahnya sebentar, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman pesantren yang luas. Di seberang halaman, dekat sebuah gedung kantor berlantai dua yang modern, beberapa orang berpakaian rapi tampak sedang berkumpul. Nayan merasa ada tatapan tajam dari arah sana, namun karena pandangannya terhalang oleh beberapa santri yang berlalu-lalang dan mobil mewah lain yang baru saja terparkir, Nayan tidak bisa melihat dengan jelas siapa pemilik tatapan itu.

Di sana, di balik kaca jendela mobil mewah yang baru saja tiba, seorang pria muda dengan setelan kemeja formal dan jam tangan mewah melirik ke arah teras. Pria itu adalah Gus Zayyan, putra mahkota pesantren sekaligus CEO muda yang baru saja kembali dari urusan bisnisnya di kota. Matanya yang tajam dan dingin menatap figur Nayan dari kejauhan—gadis kota yang tampak asing, kacau, dan penuh pemberontakan. Zayyan mengembuskan napas pendek, menatap sinis ke arah gadis yang menurut laporan ayahnya akan menjadi tanggung jawab barunya mulai hari ini.

Tetapi, Nayan sama sekali tidak menyadari keberadaan Zayyan di sana. Setelah sedetik menatap kosong ke halaman, Nayan kembali membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumah, menyongsong kehidupan barunya yang ia yakini akan terasa seperti penjara.

BERSAMBUNG

Hai hai, cerita baru dari author nihh, semoga suka yaaaa 🥹😚😚😚😚

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!