Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN MBOK DIYAH
Author mulai curiga sama satu hal. Orang-orang tua di kampung itu kalau ditanya baik-baik biasanya jawabannya cuma, "Nanti juga tahu sendiri." Giliran kita benar-benar tahu... eh, malah nyesel kenapa dulu penasaran. 😌
---
Langit mulai berubah terang ketika kami akhirnya berhasil keluar dari Desa Mati.
Aku bahkan tidak ingat bagaimana caranya.
Yang kuingat hanya kakiku terus berlari, paru-paruku seperti terbakar, dan tangan Lukman berkali-kali menarik lenganku setiap kali aku hampir tersandung akar atau batu.
Begitu melewati gapura desa yang reyot itu...
semuanya mendadak berubah.
Kabut menghilang.
Udara terasa ringan.
Suara burung kembali terdengar.
Seolah-olah tempat terkutuk itu tidak pernah ada.
Aku langsung menjatuhkan diri di pinggir jalan tanah.
Parang terlepas dari genggamanku.
Dadaku naik turun seperti habis berlari puluhan kilometer.
Lukman tak jauh lebih baik.
Dia terduduk sambil memegangi dada.
Darah masih menetes pelan dari hidungnya.
Beberapa saat kami hanya saling diam.
Tak ada yang sanggup bicara.
Sampai akhirnya aku memecahkan keheningan.
"Man..."
"Hm..."
"Yang tadi..."
"Itu siapa?"
Lukman menatap jalan kosong di depan.
Wajahnya masih pucat.
"Aku nggak tahu pasti."
"Tapi kakek pernah cerita..."
"Kalau setiap ilmu hitam besar pasti punya penjaga."
"Penjaga?"
"Iya."
"Yang bikin perjanjian bukan manusianya."
"Tapi makhluk yang berada di belakang manusia itu."
Aku menelan ludah.
Berarti selama ini...
Sagim hanya boneka.
Lukman melanjutkan.
"Kalau benar dugaanku..."
"...Sagim cuma meminjam kekuatan."
"Lalu yang punya kekuatan?"
Lukman menggeleng.
"Itulah yang baru saja kita lihat."
Aku memejamkan mata.
Suara makhluk berjubah hitam itu kembali terngiang.
"Datanglah ke tanah tempat aku dilahirkan..."
Tanah kelahirannya...
Kalimantan.
Berarti cerita ini belum selesai.
Bahkan mungkin...
baru dimulai.
---
Kami memutuskan singgah ke rumah Mbok Diyah sebelum kembali ke kampung.
Matahari sudah tinggi ketika kami tiba.
Rumah bambu tua itu masih berdiri seperti kemarin.
Namun suasananya berbeda.
Entah kenapa terasa jauh lebih sunyi.
"Mbok..."
Lukman mengetuk pintu.
Tak ada jawaban.
"Mbok Diyah..."
Tetap hening.
Aku mulai merasa tidak enak.
Pelan-pelan kudorong pintunya.
Berderit.
Pintu terbuka.
Ruangan itu kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun di atas tikar pandan tempat Mbok Diyah biasa duduk...
tergeletak jimat mori baru.
Di sampingnya terdapat sebuah bungkusan kain putih.
Dan...
sepucuk surat.
Lukman buru-buru mengambilnya.
Tulisan tangan tua memenuhi kertas kecokelatan itu.
Lukman membacanya perlahan.
---
Lukman...
Kalau surat ini sampai di tanganmu, berarti firasatku benar. Kalian berhasil menghancurkan wadahnya, tetapi gagal memusnahkan penghuninya.
Jangan mencariku. Umurku sudah terlalu tua untuk ikut dalam perjalanan kalian berikutnya. Ada urusan yang harus kuselesaikan dengan Tuhanku.
Yang kalian hadapi sekarang bukan lagi ilmu santet biasa. Ini sudah menyangkut perjanjian tua yang usianya jauh lebih tua daripada Desa Mati itu sendiri.
Jangan pernah menyebut namanya sembarangan. Karena setiap kali namanya disebut, dia tahu siapa yang memanggilnya.
Pergilah ke Kalimantan. Carilah orang yang pernah menjadi saudara seperguruan gurunya Sagim. Hanya dia yang mungkin masih mengetahui bagaimana memutus perjanjian itu.
Dan satu hal lagi...
Lindungi Amira.
Bukan karena dia lemah.
Justru karena ada sesuatu di dalam darahnya... yang sedang diburu sejak lama.
---
Aku dan Lukman saling berpandangan.
"Darah Amira?" gumamku.
"Apa maksudnya?"
Lukman menggeleng pelan.
"Aku juga nggak ngerti."
Tanganku gemetar saat melipat kembali surat itu.
Sebelum sempat kusimpan...
angin tiba-tiba bertiup dari luar.
Sreeepp...
Surat itu terlepas dari tanganku.
Melayang.
Berputar.
Lalu jatuh tepat di depan altar kecil milik Mbok Diyah.
Di sana...
terdapat sebuah foto tua yang selama ini tertutup kendi tanah.
Aku mengambilnya.
Begitu kulihat...
napasku langsung tercekat.
Foto itu memperlihatkan lima orang.
Salah satunya...
Mbok Diyah ketika masih muda.
Di sampingnya berdiri seorang pria tua berjubah putih.
Seorang lelaki Dayak bertato.
Seorang kiai.
Dan...
seorang pria yang wajahnya disobek hingga tidak bisa dikenali.
Di bagian belakang foto tertulis satu kalimat dengan tinta yang mulai pudar.
"Empat orang pulang... satu memilih jalan yang gelap."
Lukman merampas foto itu dari tanganku.
Matanya membelalak.
"Kang..."
"Kayaknya..."
"...yang wajahnya disobek itu..."
"...gurunya Sagim."
Aku menatap foto lusuh itu tanpa berkedip.
Berarti...
Mbok Diyah...
pernah mengenalnya.
Dan selama ini...
beliau sengaja menyembunyikan rahasia itu dari kami.
Di luar rumah...
langit yang sejak tadi cerah mendadak kembali mendung.
Entah kenapa...
aku merasa...
kami sedang diawasi lagi.
(Bersambung)