Kesempatan hidup kedua yang kudapatkan, akan aku manfaatkan dengan baik.
Aku berpikir siuman dari pingsan, tapi pada kenyataannya aku kembali ke waktu satu tahun sebelumnya.
Akan aku balas mereka yang telah menyakiti ku selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepemilikan Vila
Abimanyu dan Yola tertegun saat mobil sport yang sangat dikenali oleh mereka berhenti tepat di depan mobil.
Gerbang terbuka perlahan, dan mobil sport itu masuk dan terparkir sempurna di halaman vila.
"Sean Rahardjo," batin Yola dengan tangan terkepal erat.
Tuan Abimanyu kembali turun dari mobil.
"Ada apa lagi tuan?" sambut anak buah Morgan ketus.
"Siapa pemilik mobil yang barusan masuk?" tanya Abimanyu.
"Mana saya tahu tuan," pria itu mengedikkan bahu dan menjauh dari tuan Abimanyu.
Abimanyu menahan pundaknya, "Kalian tahu nggak? Yang barusan masuk itu anak saya. Sean Rahardjo," kata Abimanyu memberitahu.
"Kalian tahu, dia ada urusan apa?" tuan Abimanyu meneruskan tanya.
"Kami beneran nggak tahu tuan," ucap yang lain.
Mobil Sean yang terparkir sempurna bisa dilihat tuan Abimanyu dari gerbang yang terbuka.
"Seaaaannnn," teriak tuan Abimanyu.
"Plisssss tuan, jangan buat keributan di sini," hadang dua orang pria penjaga gerbang.
Sean yang barusan turun dari mobil, menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
"Aku cuman panggil putraku," tuan Abimanyu meringsek masuk tapi tetap dihadang.
Sean mendekati keberadaan sang papa.
"Papa kok di sini?" tanya Sean.
"Kamu sendiri? Ngapain di sini?" tanya balik tuan Abimanyu.
"Ada urusan Pah," bilang Sean tanpa menyebutkan tujuan sebenarnya. Sean sudah menebak, dimana ada tuan Abimanyu pasti ada wanita jal4ng itu. Sean ambil kesempatan hari ini karena tahu mereka berdua akan ke vila hari ini.
"Kebetulan Sean, boleh papa ikut masuk?" tanya Abimanyu.
"Papa ada urusan apa dengan yang punya rumah ini?" sahut Sean sok tak paham.
"Panjang ceritanya Sean," tuan Abimanyu menghela nafas panjang.
"Kalau diperlukan, nanti tolongin papa ya Sean," tuan Abimanyu berharap pada sang putra membantu dalam merebut kembali kepemilikan vila yang baru diketahui nya telah berpindah tangan.
"Oh ya, apa kamu akrab dengan pemilik vila ini?" telisik tuan Abimanyu, tuan Abimanyu merasa tak kenal dengan Morgan.
"Nggak kok Pah, kebetulan aja aku memang ada urusan sama dia," beritahu Sean.
.
Sean duduk santai di ruang tamu vila sambil menunggu tuan Morgan datang, di depannya duduk tuan Abimanyu dan Yola.
"Halo tuan Sean, apa kabar?" sapa Morgan yang barusan masuk.
"Sorry tuan Sean pesawat aku mundur," lapor tuan Morgan. Sean mengangguk sopan.
"Wajahnya seperti tak asing???' batin tuan Abimanyu.
"Tuan Sean, gimana? Cocok nggak dengan vila ini?" tanya Morgan setelah cukup basa basi.
"Interiornya bagus, struktur bangunan kuat, lokasi juga ngedukung dari lokasi aku kerja tuan," sambut Sean.
"Wah kebetulan. Bisa langsung dealing nggak?" balas tuan Morgan merasa senang.
"Tentu saja," jawab Sean tegas.
"Tunggu!" teriak Yola menyela.
"Ada apa nyonya?" sambut tuan Morgan.
"Vila ini punya saya tuan Morgan. Lantas kenapa bisa anda yang menjualnya? Saya tak berniat menjual harta saya," ungkap Yola.
"Oh ya? Apa putra yang tampan sedunia itu tak menyampaikan pada anda? Saat saya serah terima pinjaman, dia pasti sudah tahu dengan segala konsekuensi nya. Apalagi aku dengar Kevin barusan kehilangan uang milyaran rupiah. Mau bayar hutang dengan daun?" jelas tuan Morgan panjang lebar.
"Aku tak akan tinggal diam, kalau sampai anda merusak semua rencana ku hari ini," lanjut tuan Morgan.
Yola berdiri, "Sean, vila ini punyaku. Ada hak apa kamu merebutnya?" seru Yola.
"Merebut milikmu? Apa aku tak salah dengar mama tiriku?" tukas Sean sengaja menekan kata mama tiri.
""Yang saya tahu, vila ini adalah milik tuan Morgan. Dan aku berminat membelinya," bilang Sean.
"Aku tanya sekarang, jabatan sekelas manager keuangan bisa beli vila semewah ini? Atau jangan-jangan ada kaitannya dengan audit perusahaan tadi siang," sindir Sean.
"Diam kamu. Vila ini mama beli dengan uang pribadi," jelas Yola.
Sean tersenyum sinis, 'uang hasil jual diri,' batin Sean.
"Sean, vila ini memang milik mama mu. Papa saja kaget kenapa bisa menjadi milik tuan ini," tuan Abimanyu menyela dengan sorot mata menatap ke arah tuan Morgan.
"Tuan, sepertinya anda tak tahu sepak terjang dia dan anak nya di luaran. Apa anda yang bodoh atau memang rela dibodohi wanita ini?" ejek tuan Morgan.
"Ha....ha.... Tau apa anda tentang saya," tuan Abimanyu terbahak
"Saya menghargai anda saat ini karena anda adalah orang tua tuan Sean. Walaupun tahunya barusan" beritahu tuan Morgan.
"Tuan Sean," tuan Morgan beralih ke Sean.
"Oke, deal," Sean menyetujui akad jual beli vila.
"Proses balik nama sudah kita percepat, tiga hari lagi hak kepemilikan akan berpindah tangan atas nama anda," beritahu tuan Morgan.
"Baik tuan. Makasih kerjasama baik nya," Sean berdiri dan menyambut uluran tangan tuan Morgan.
"Kebetulan, vila sudah menjadi milik putra saya. Sekalian bawa anak buah anda pergi jauh-jauh tuan Morgan," suruh tuan Abimanyu.
"Tanpa anda suruh saya akan pergi. Urusan saya dengan tuan Sean Rahardjo sudah beres," Morgan memberi isyarat anak buah nya pergi.
"Sean, makasih. Kamu menyelamatkan muka papa. Dan makasih telah menebus aset mama yang digadaikan oleh adik kamu, Kevin," tak ada rasa malu dalam setiap ucapan tuan Abimanyu. Tuan Abimanyu menganggap Sean membeli vila itu untuk keluarga.
"Papa dan mama akan menginap malam ini di sini," lanjut tuan Abimanyu. Sean berasa ingin meremas bibir tuan Abimanyu yang tak tahu malu itu.
"Pah, salah sangka dengan tujuan ku membeli vila ini," ucap Sean sinis.
"Apa maksudmu?" sahut papa.
"Sean jelaskan sekarang, dan dengar dengan baik," tandas Sean.
Tuan Abimanyu menunggu.
"Satu, Sean membeli vila ini karena Sean suka. Kedua, Sean membeli vila ini dengan uang pribadi, jadi tak ada dalih untuk membantu kalian. Ketiga, aku tak memperbolehkan orang lain di vila ini, termasuk kalian berdua," kata Sean menegaskan.
"Kamu menganggap kita orang lain?" tanya tuan Abimanyu memastikan.
"Aku tak mau berdebat lagi Pah. Semakin cepat kalian pergi dari sini akan semakin baik," bahas Sean.
"Sean, vila ini punya mama kamu. Kalau kamu tak ingin menyakiti nya, cepat kembalikan kepadanya," ucap tuan Abimanyu dengan tak tahu malu.
"Pah, sejak kapan tak punya harga diri? Sean beli vila ini tanpa secuil pun bantuan dari papa. Lantas apa hak papa meminta hal seperti itu pada Sean? Sejak kenal dia, papa jadi buta mata dan buta hati," ucap Sean.
Plaaakkk
Tamparan mendarat manis ke pipi Sean, hingga sudut bibirnya nya ikutan berdarah.
"Siapa yang ngajarin kamu berani sama orang tua?" kata tuan Abimanyu marah.
"Jangan sombong kamu Sean. Apa karena sekarang Opa berpihak kepadamu? Tak ada rasa hormat lagi pada papa,"
"Sean akan menghormati orang yang layak dihormati," balas Sean.
Tuan Abimanyu mengangkat tangan nya lagi tapi urung. Bagaimana pun juga Sean adalah darah dagingnya sendiri.
"Kita pulang!" Abimanyu menarik lengan Yola.
"Ta.... Tapi Pah... Vila ini milikku," Yola kekeuh tak beranjak.
"Jangan buat masalah tambah pelik. Kamu sudah dengar sendiri, vila ini jadi milik Sean sekarang," ucap tuan Abimanyu tak mau dibantah.
.
Sean terduduk di sofa ruang tamu setelah kedua orang itu pergi.
"Mah, sudah saat nya mama menikmati kebahagiaan,"
Tut... Tut.... Sean menghubungi seseorang
"Halo Sean," suara lembut yang sangat dirindukan oleh Sean terdengar.
"Halo Mah, besok Sean ke rumah. Ada yang ingin Sean bicarakan," kata Sean.
"Apa kamu sakit?" tanya mama peduli.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Like komen subscribed guysssssss.... 💖
atau pling gk nendang bpk nya biar miskin kl miskin yola pasti gk mau kn. 🤣.
pdhl Dr segi umur Sean sdh dewasa.