rima yang baru saja patah hati tiba tiba saja harus menikah dengan calon kakak iparnya..
semua itu demi menyelamatkan nama baik keluarga..
akankah rumah tangga mereka berakhir bahagia..?
selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dewa matahari
Rima berjalan ke arah pabrik, sekitar 50 meter dari arah rumah,
Rendra berjanji mengajaknya jalan jalan di sekitar bukit karna ini hari sabtu,
tapi Rendra pamit ke pabrik sebentar untuk mengecek hasil produksi,
entah kenapa sudah 40 menit berlalu suaminya itu tak kunjung datang.
suara gergaji kayu dan mesin amplas terdengar keras dari luar.
" Selamat pagi ibu.. mencari bapak?" satpam datang mendekat, namanya Chris.. ia asli putra papua, dia sudah 3 tahun bekerja pada Rendra,
Chris yang menjaga agar tidak sembarangan orang bisa keluar masuk pabrik.
" Iya pak.. saya bisa masuk?" jawab Rima ramah.
" oh tentu saja ibu.." jawab Chris dengan logat kentalnya, ia tersenyum dan membuka pintu gerbang..
" silahkan ibu, bapak biasanya ada di gedung ketiga, yang paling kanan ibu.." tunjuk Chris pada salah satu gedung, ada 4 gedung disitu, Rima tidak tau jelas apa yang ada di dalamnya,
tapi ia sempat terkejut.. bahwa suaminya ternyata mempunyai sebuah pabrik, meski skalanya kecil tapi tetap saja rima takjub dengan kerja keras suaminya.. gedung gedung itu cukup besar dan luas, hingga rima cukup lama untuk berjalan ke arah gedung yang paling kanan.
Rima memasuki gedung itu,
semua pekerja terlihat sibuk mengamplas kayu kayu yang sudah di potong, tapi ia tidak menemukan wajah suaminya.
" Bapak ada di ujung bu," seseorang menghampirinya dan membantu untuk menemukan Rendra,
kejutan lagi untuk Rima,
ia melihat suaminya yang sedang memakai masker dan kaca mata sedang mengukir sepotong kayu dengan sebuah alat, Rima sengaja tidak memanggilnya, dia ingin melihat suaminya itu bekerja.
Namun 5 menit kemudian Rendra sadar dengan sendirinya, ada seseorang yang memperhatikannya tidak jauh darinya, itu adalah istrinya.
Rendra menyerahkan pekerjaannya pada karyawannya, lalu berjalan ke arah istrinya,
" kenapa menyusul, banyak debu disini, ayo keluar.." kata Rendra marangkul istrinya dan mengajaknya keluar,
" aku terlalu lama ya?,maaf.. aku harus memberi contoh pada beberapa pekerja baru.. ada target yang harus di kejar.."
Rendra menjelaskan pada istrinya.
" Kalau mas sibuk, kita tidak usah jalan jalan.. " kata Rima mengerti,
" bukannya maunya tadi jalan jalan ke bukit.. ?"
" iya, tapi kan tidak mendesak.. bisa kapanpun.. mas kan sibuk, jadi kita tidak usah kemana mana saja.. "
" sesibuk apapun aku, akan kuluangkan waktuku.. ,oh iya.. aku kemarin berbicara dengan Thomas..".
Keduanya berbicara sambil berjalan masuk ke dalam rumah,
" Thomas.. yang di kantor kapan hari itu.. besok besok kita kerumahnya.. dekat dari sini.. "
Rendra menutup pintu dan menguncinya.
" Ngapain di kunci? mas kan mau keluar lagi ke pabrik?" tanya Rima heran,
" katanya tidak usah jalan jalan.. kalau gitu kita tiduran saja.."
tanpa aba aba Rendra langsung menggendong Rima.
" Mas?!" Rima kaget,
Rendra membawa Rima masuk ke kamar tidur dan membaringkannya,
" kita sibuk berdua dulu.. setelah itu aku ke pabrik.." suara Rendra manja,
ia seperti anak kucing yang minta di belai kepalanya,
" mas.. ini masih pagi.. ?" rima mendorong dada rendra
" pagi sekali, siang sekali, malam sekali.. " jawab Rendra tersenyum.
" Ya ampun mas.. aku baru sadar ternyata mas se mesum ini.. " gumam Rima,
" eh?! mesum?? bisa bisanya bilang mas mesum?! mas itu mesum cuma sama kamu!" kata Rendra lalu menyerang Rima tanpa ampun.
Hari senin adalah hari yang penuh dengan jadwal, karena pekerjaan begitu menumpuk Rendra terpaksa meninggalkan istrinya,
ia sedikit tidak tenang karena belum mendapatkan asisten rumah tangga untuk menemani Rima dirumah.
"Pagi.." sapa Rendra pada anggotanya yang sedang berjaga di depan.
" Pagi.." sapa Rendra lagi pada beberapa anggota yang sedang kurvei pagi.
" Bagus, begitu donk semuanya bersih rapi.." katanya lalu pergi,
"siap!!" jawab 4 orang anggota itu serempak sambil melihat Rendra yang berjalan menjauh.
" hemm.. komandan, setelah istrinya datang tiba tiba berubah menjadi dewa matahari, yang cerah berseri dan menyinari seisi kantor.. " gumam salah satu anak buahnya.
" Sepertinya masa depan kita akan cerah jika bu ndan terus disini.. " Imbuh lainnya.
" siapa dewa matahari.." seseorang masuk tiba tiba dalam percakapan.
" Ijin,tidak!" suara ke empat orang itu serempak ketika melihat Thomas yang bertanya,
Thomas tertawa geli melihat itu.
"Jangan meracau kalian... kalau orangnya dengar dia bisa berubah jadi dewa perang..".
Thomas menepuk punggung salah satu anggota itu lalu berlalu pergi.
"Wei.. selamat pagi bapak.. liburan di tempat tidur terus sepertinya.." Thomas duduk di depan Rendra yang sedang sibuk memeriksa laporan.
" Jangan menggodaku, aku jadi ingin pulang.." jawab Rendra membuat Thomas sedikit geli bercampur kesal.
"ee.. astaga..?!, sekarangpun ketika ku ejek kau tidak marah? kau malah mau pulang mengunjungi istrimu?? oh Tuhan.. benar kata istriku.."
" memang istrimu bilang apa?" tanya Rendra masih sibuk meneliti laporannya,
" dia bilang.. kenapa kamu tidak bisa jadi suami bucin seperti Rendra suamiku?" kata kata Thomas membuat Rendra tertawa,
" lalu apa jawabanmu pada istrimu.."
" ku bilang dia terlalu banyak melihat sinetron, tidak ada itu suami bucin, karena kalian pengantin baru saja.. menempel terus seperti hidung dan upil.." jawab Thomas santai.
" Sana sana keluar dari ruanganku, aku sibuk" kata Rendra tiba tiba sewot gara gara di katai hidung sama upil.
"Eh.. benar benar, jangan lagi ya kalau kau sedih sedih cari aku!" Thomas menggerutu karena kesal.
Melihat Thomas sewot dan keluar dari ruangannya Rendra tertawa, ia menggeleng gelengkan kepalanya..
Thomas memang ceplas ceplos.. tapi rendra menyukai yang seperti itu dari pada yang pura pura baik.
"Rim...!!!!" suara ketiga orang dari vidio call itu serempak,
"kami kangennnnn!!!!" suara Gita paling keras,
" iya, aku juga kangen kalian.." jawab Rima tersenyum cerah.
" Gimana?? sudah beres??" tanya Yogi,
" alhamdulillah.. makasi Yog.." jawab Rima dengan wajah sumringah.
" wah.. cepat cepat dapet momongan ya.." Vira bersuara,
" wahh nggak pulang pulang ke jawa dong nanti, pindah sini dulu.. baru hamil disini!!" Gita bersuara keras.
" kalian itu dokter apa bukan sih, bar bar banget.. ngomong pelan Rima juga denger.." sahut Yogi,
" Wuh.. gaya gaya.. mentang mentang punya gebetan sekarang Rim.. jarang ngumpul sekarang..." cemooh Gita,
" iya, tiap di panggil aja jawabnya sibuk sekarang.." tambah Vira,
" masa sih Yog.. ?"tanya Rima,
" ya kalau aku sama kalian terus kapan aku dapat pacarnya? mana ada perempuan yang mau sama laki laki yang nempel sama teman ceweknya terus.." jawab Yogi santai.
"Alah ngadi ngadi aja..!" lagi lagi Gita bersuara keras.
" Sudah, malah ribut kalian.. ayo main kesini, disini aman kok.. " kata Rima.
" Ya pasti aman, suamimu yang jaga..".Gita dan Vira tertawa,
"kapan pulang Rim, ya masa ga tengok tengok ayah ibumu?" tanya Vira.
" belum sebulan.. kok aku disuruh pulang terus.. "
" iya sih.. kami sepi Rim, tapi kalau kamu bahagia disana.. kami juga ikut bahagia Rim.. yang langgeng ya Rim.. sampai kakek nenek.. maut memisahkan.." doa ketiga temannya membuat Rima haru, ke empatnya mewek bersamaan lewat vidio call.
tdk ulang2
Semangat & lanjut berkarya thor...