NovelToon NovelToon
The Reasons

The Reasons

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.

Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.

Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.

Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.

Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#9

Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai jendela besar kondominium minimalis mewah di Downtown Los Angeles. Cahaya itu menerangi ruang kamar tidur utama, memantulkan kilau lantai marmer yang bersih namun terasa dingin.

Di atas ranjang, Billy Davidson sudah bersiap dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang dirancang khusus oleh penjahit terbaik di London. Pria itu tampak segar, seolah-olah pengkhianatan terlarang di Pasadena dan perjalanan larut malamnya sama sekali tidak menyisakan kelelahan pada fisiknya.

Di hadapannya, Lara berdiri dengan gaun rumah berlengan panjang, dengan telaten membantu merapikan dasi sutra suaminya. Tangannya bergerak stabil, sebuah keterampilan yang telah diasah oleh waktu dan ketakutan. Wajahnya menampilkan senyuman pagi yang teduh, menyembunyikan sisa-sisa kelelahan dari kepura-puraan tidur semalam.

Sebelum melangkah keluar untuk pergi bekerja, Billy tiba-tiba menahan pergelangan tangan Lara. Tatapan matanya yang tajam dan penuh kepemilikan menatap lekat-lekat ke dalam manik mata istrinya. Cengkeramannya tidak menyakitkan, namun cukup kuat untuk menegaskan dominasinya.

"Honey..." panggil Billy dengan suara baritonnya yang rendah. "Pengaman yang kau belikan kemarin... kapan aku bisa memakainya?"

Pertanyaan itu membuat dada Lara berdesir kencang oleh rasa muak yang mendadak bangkit, namun ia berhasil mempertahankan otot-otot wajahnya agar tidak berkedut. Billy mencondongkan tubuhnya, menatap kalender digital di atas meja nakas sekilas lalu kembali menatap Lara.

"Sudah tiga bulan, Lara. Siklus menstruasimu sama sekali tidak masuk akal. Kumohon, hari ini kita bisa konsultasikan masalah ini pada dokter spesialis kandungan langganan keluargaku. Aku akan menjadwalkannya siang ini."

Lara segera menurunkan pandangannya, memasang ekspresi wajah yang mendadak layu dan dipenuhi ketakutan yang dibuat-buat. Ini adalah bagian dari pertahanannya. Ia tahu, menolak mentah-mentah hanya akan memicu kecurigaan Billy bahwa dirinya sedang berbohong.

"Aku takut, Billy..." bisik Lara dengan suara yang agak bergetar, meremas pelan ujung kemeja suaminya. "Aku takut jika dokter mengatakan ada sesuatu yang salah dengan rahimku. Tekanan kuliah hukum ini benar-benar membuat hormonku berantakan. Berikan aku waktu sedikit lagi, ya? Jika Minggu depan pendarahan ini belum berhenti, aku berjanji akan pergi bersamamu ke dokter."

Billy menatap istrinya dalam-dalam, mencari kebohongan di balik mata bulat yang tampak berkaca-kaca itu. Ketakutan Lara yang terlihat begitu natural akhirnya melunakkan kekerasan di hati Billy.

Pria itu menghela napas panjang, lalu melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Lara dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di keningnya.

"Baiklah, bulan depan. Aku memegang janjimu, honey," ucap Billy dengan nada yang tidak membantah.

Pria itu menyambar tas kerja kulitnya dari atas meja, lalu berjalan menuju pintu keluar kamar. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia berbalik, menatap Lara dengan sorot mata posesif yang biasa.

"Ingat pesan-pesanku selama aku pergi bekerja. Jangan kemana-mana hari ini. Tetaplah di dalam rumah dan selesaikan tugas-tugas kuliahmu. Dan jangan pernah mencoba bicara dengan satpam di lobi bawah atau siapa pun yang berkeliaran di sekitar kompleks ini. Kau mengerti?" perintah Billy, nadanya tegas, tak ubahnya seperti seorang sipir yang sedang membacakan peraturan penjara kepada tahanannya.

Billy selalu cemas jika Lara berinteraksi dengan dunia luar, takut jika aset berharganya itu melirik pria lain atau menceritakan apa yang terjadi di balik dinding rumah mereka.

Lara mengangguk patuh dengan cepat, menyatukan kedua tangannya di depan tubuh. "Iya, Billy. Aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya akan di rumah."

Mendengar jawaban memuaskan itu, Billy akhirnya berbalik dan melangkah pergi. Suara langkah sepatunya terdengar menjauh, disusul dengan bunyi dentuman pintu utama kondominium yang menutup dan mengunci secara otomatis.

Begitu suara itu lenyap, Lara menghembuskan napas panjang. Bahunya melendret turun. Senyuman manis di wajahnya menguap, digantikan oleh tatapan mata yang dingin dan hampa. Ia berjalan menuju ruang tengah, berniat untuk menyeduh secangkir teh hangat untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan yang cukup keras dan tegas tiba-tiba menggema dari arah pintu depan.

Lara tersentak di tempatnya berdiri. Cangkir yang baru saja ia ambil hampir saja terlepas dari genggamannya. Jantungnya kembali berdegup kencang dengan liar. Pikiran pertamanya langsung tertuju pada satu kemungkinan buruk: Billy kembali.

Suaminya pasti melupakan sesuatu, atau mungkin pria itu sengaja berbalik arah untuk menguji apakah dirinya benar-benar mematuhi perintahnya.

Dengan langkah kaki yang diselimuti kecemasan, Lara berjalan mendekati pintu. Ia mengatur napasnya, mencoba memanggil kembali topeng patuhnya sebelum membuka pintu tersebut. Namun, begitu selot pintu terbuka dan daun pintu bergerak mundur, Lara terpaku di tempatnya. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot keluar dalam sekejap.

Bukan Billy Davidson yang berdiri di ambang pintu.

Sosok pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam dan tatapan mata tajam yang sarat akan badai emosi sedang berdiri kokoh di hadapannya. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin koridor tidak mengurangi kesan berwibawa yang melekat pada dirinya.

"D-Darion?" bisik Lara dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Matanya melebar penuh keterkejutan dan kepanikan yang luar biasa. Pria yang sejak semalam memenuhi ruang pikirannya kini nyata berdiri hanya berjarak satu langkah darinya.

Darion Vale Knight tidak menjawab dengan kata-kata manis. Sorot mata baritonnya menatap lekat-lekat wajah Lara, memperhatikan setiap detail—termasuk sudut bibir Lara yang tampak sedikit pucat dan memar tersembunyi yang tertutup kerah gaunnya.

"Kau tidak membiarkan aku masuk ke rumahmu, Lara?" tanya Darion dengan suara rendah yang bergetar oleh emosi yang ditahannya sejak semalam.

Tanpa menunggu izin dari sang pemilik rumah, Darion melangkah maju, melewati ambang pintu dengan langkah tegas yang memaksa Lara untuk mundur beberapa langkah ke belakang.

Darion kemudian menutup pintu besar itu dengan satu tangan, menguncinya dari dalam, memisahkan mereka berdua dari dunia luar.

Lara meremas tangannya sendiri, menatap Darion dengan pandangan yang dipenuhi ketakutan. Bukan takut pada Darion, melainkan takut pada konsekuensi mengerikan jika Billy tiba-tiba kembali atau jika ada kamera tersembunyi yang menangkap keberadaan pria ini di dalam kondominiumnya.

"Darion, apa yang kau lakukan di sini? Kau gila? Jika Billy tahu—"

"Aku tidak peduli pada pria brengsek itu, Lara!" potong Darion cepat.

Darion telah memikirkan hal ini matang-matang sepanjang malam. Duduk di dalam sedan Audi hitamnya di seberang jalan, menyaksikan Billy pergi pagi ini setelah malam sebelumnya pergi entah kemana, membuat akal sehat Darion terkikis habis.

Dia sudah sampai pada titik di mana dia tidak akan membiarkan Lara terus-menerus bersembunyi di balik nama pernikahan yang tak ubahnya seperti sangkar penyiksaan ini. Dia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi profesor hukum yang tenang saat wanita yang dicintainya perlahan mati di tangan pria lain.

Darion melangkah mendekati Lara, memotong jarak di antara mereka hingga Lara bisa merasakan aura kemarahan dan kepedihan yang memancar dari tubuh pria itu.

"Kapan kau akan menceraikannya?" tanya Darion tanpa basa-basi. Pertanyaan itu meluncur tajam, menusuk langsung ke inti masalah tanpa ada ruang untuk menghindar.

Lara tersentak, wajahnya kian memucat. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba membangun kembali dinding pertahanan yang telah runtuh.

"Apa maksudmu, Darion? Aku tidak akan bercerai. Pernikahanku dengan Billy... semuanya baik-baik saja. Kau tidak tahu apa-apa, jadi kumohon pergilah dari sini sebelum semuanya terlambat."

"Tidak akan?" tanya Darion, sebuah tawa sinis yang sarat akan kepedihan lolos dari bibirnya. Ia menatap Lara dengan tatapan yang seolah bisa membaca setiap jengkal kebohongan di dalam jiwa wanita itu.

"Baiklah. Jika kau memilih untuk tetap bertahan di neraka ini dan berpura-pura semuanya baik-baik saja, maka aku tidak punya pilihan lain."

Darion menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan nada suara yang teramat dingin namun mematikan.

"Aku akan langsung menemui suamimu hari ini, Lara. Aku akan langsung mengatakan pada Billy Davidson bahwa akulah orangnya... akulah pria pertama yang menyentuhmu, jauh sebelum dia memilikimu."

Duar!!

Kalimat itu bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menghantam seluruh kesadaran Lara. Bumi tempatnya berpijak seolah runtuh seketika.

Lara mematung di tempatnya berdiri, tubuhnya gemetar hebat dengan wajah yang kehilangan seluruh warna darahnya. Rahasia paling kelam yang selama ini ia kunci rapat-rapat di dalam lubuk hatinya kini dibongkar paksa oleh pria yang menciptakannya.

Kenyataan pahit itu kembali berputar di dalam ingatan mereka berdua. Jauh sebelum Billy Davidson masuk ke dalam kehidupan Lara dengan segala kemewahan dan kepalsuannya, Lara dan Darion memang sudah saling memiliki seutuhnya.

Mereka Sudah pernah melewati malam-malam yang penuh dengan ketulusan dan gairah yang suci, malam-malam di mana mereka menyerahkan jiwa dan raga mereka satu sama lain sebagai bentuk komitmen tak tertulis bahwa di masa depan, apa pun yang terjadi, mereka akan bersama menembus segala badai hidup.

Dan itu adalah satu-satunya momen di mana Lara merasa dirinya benar-benar berharga, bukan sebagai anak sial, melainkan sebagai seorang wanita yang dicintai dengan teramat sangat.

Namun takdir yang kejam memisahkan mereka, dan kini rahasia masa lalu itu diangkat oleh Darion sebagai senjata terakhir untuk menghancurkan pernikahan Lara.

Pikiran tentang Billy yang mengetahui hal ini langsung memicu gelombang teror yang mengerikan di dalam benak Lara.

Jika Billy sampai tahu bahwa Darion—pria yang selama ini dihindarinya—adalah orang yang pertama kali menyentuhnya, Lara tahu persis apa yang akan terjadi. Jiwa posesif gila Billy akan meledak tanpa kendali. Billy tidak akan ragu untuk menggunakan dirinya lagi sebagai samsak tinju dengan tingkat kekerasan yang jauh lebih mengerikan dari apa yang ia alami semalam.

Billy bahkan mungkin akan menghancurkan karir Darion atau melakukan hal yang lebih nekat menggunakan kekuasaannya.

"Apa yang kau katakan, Darion?!" jerit Lara dengan suara tertahan, air mata kecemasan mulai merebak di sudut matanya. Ia melangkah maju, mencengkeram jaket kulit Darion dengan tangan yang gemetar hebat, menatap pria itu dengan tatapan memohon yang teramat sangat.

"Kau tahu jawabannya, Darion! Kau tahu bagaimana watak Billy! Kumohon... pergilah dari sini sekarang juga. Jangan pernah membahas masa lalu itu lagi. Anggap malam itu tidak pernah terjadi!"

"Masa lalu?" kata Darion dengan senyuman sinis yang terukir dipaksakan di bibirnya, meskipun matanya sendiri memancarkan rasa sakit yang tak terperi melihat ketakutan Lara. Ia menggenggam kedua tangan Lara yang mencengkeram jaketnya, merasakan betapa dinginnya jemari wanita yang teramat ia cintai itu.

Darion menatap lekat-lekat ke dalam mata Lara, menuntut sebuah kejujuran yang telah lama terkubur. "Kau benar-benar ingin mati di tangannya, hm? Kau ingin terus bertahan sampai dia meremukkan seluruh tulangmu, Lara?!"

Darion melepaskan cengkeraman tangan Lara, lalu dengan gerakan lembut namun tegas, ia menarik kerah gaun tidur panjang Lara ke bawah, menyingkap memar keunguan yang kontras di atas kulit leher dan bahu putih wanita itu—sisa dari cengkeraman kasar Billy semalam.

"Lihat ini!" ucap Darion dengan suara yang bergetar menahan amarah yang hampir meledak, matanya memerah menatap luka-luka tersebut.

"Berapa banyak luka lagi yang harus aku lihat di tubuhmu, Lara?! Berapa kali lagi aku harus melihatmu berjalan dengan rasa sakit hanya demi memuaskan ego pria gila itu?! Kumohon... jangan perlakukan aku seperti ini. Jangan buang dirimu ke dalam jurang kehancuran hanya karena ketakutan konyolmu pada kutukan keluargamu!"

Air mata Lara akhirnya luruh sepenuhnya, membasahi pipinya yang pucat.

Di dalam keheningan ruang tengah kondominium yang megah namun terasa seperti penjara itu, Lara berdiri gemetar di hadapan masa lalunya yang menuntut pembebasan, sementara bayang-bayang Billy Davidson tetap mengintai bagai duri yang siap menusuk kapan saja.

1
Mita Paramita
jangan seneng dan bahagia dulu lara🫣 mungkin aja nanti Billy kabur dari penjara terus menculik dan memisahkan lara & dorian🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kak reader paling bisa deh🤭🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Takut banget billy kabur, trus menyakiti lara,, 😬
FoxVault
Cerita nya sangat seru kak 😁
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
Mia Camelia
kenapa kisah cinta keluarga knight selalu ber liku liku berkelok kelok meliuk liuk🤔🤔🤔
jadi gemes nih baca nya thor
Rosdianah 🌷: hihihi maaf ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
keluarga knight , sukses semua ya thor...
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄
Rosdianah 🌷: Lancar halu Author 🤣
total 1 replies
Mia Camelia
jangan2 billy punya 2 kepribadian kali nih🤔🤔🤔masa gampang banget berubah2 nya🤣🤣🤣haduh kasian lara😔
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ya ampun ini kejam sekali billy😂😂😂
Rosdianah 🌷: Modal gampar🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!