NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Davira melangkah mendekati timbangan yang tergantung di gerobak kayu. Ia memeriksa pemberat yang digunakan sang pengawas. Di hadapan para petani dan prajurit, Davira membalikkan timbangan itu, menunjukkan mekanisme licik yang tersembunyi di baliknya.

"Pemberat ini sudah dimodifikasi," ucap Davira, suaranya jernih membelah udara dingin. "Setiap karung yang kalian timbang di sini dicatat setengah dari berat aslinya. Selisihnya? Itu yang mereka simpan dan jual secara ilegal ke pasar gelap, sementara kalian dibayar dengan harga sampah."

Wajah sang pengawas memucat seketika, keringat dingin bercucuran di pelipisnya meski cuaca membeku. Saat para petani mulai bersorak marah, pria itu jatuh tersungkur, menyeret lututnya di atas salju menuju kaki Elliot.

"Ampuni saya, Lord Elliot! Saya hanya... saya hanya diperintah! Itu instruksi dari bendahara kastil, saya bersumpah!" rintihnya dengan suara parau.

Elliot menatap pria itu dengan tatapan dingin yang mampu membekukan jantung. Ia benar-benar terkesima—bukan hanya oleh kecerdasan Davira dalam membongkar kedok ini, tetapi oleh ketegasan istrinya yang tak terduga. Pria itu memberi isyarat singkat dengan tangannya.

"Pengawal!" perintah Elliot dengan suara berat dan mutlak. Dua prajurit berbaju zirah hitam segera maju, menyeret pengawas itu yang terus meraung memohon ampun. "Masukkan dia ke penjara bawah tanah. Interogasi dia sampai dia menyebutkan siapa saja yang terlibat dalam rantai korupsi ini. Siksa dia kalau tidak mau bicara!"

Setelah kekacauan itu mereda, Davira mendekati para petani tua yang masih tampak syok. Dengan lembut, ia menunduk, menatap mata mereka yang lelah. "Ceritakan padaku. Berapa sebenarnya hasil panen kalian tahun ini? Dan apakah ini tahun pertama kalian merasa rugi?"

Seorang petani tua memberanikan diri menatap Davira. "Sudah dua tahun, Nyonya. Tepat sejak aturan irigasi baru dari pusat diberlakukan di wilayah kami."

Davira mengerutkan kening. "Irigasi baru? Maksudmu sistem penyaluran air yang dikelola oleh pengurus kastil?"

"Iya, Nyonya," sahut petani lain yang lebih muda, suaranya sarat akan kepahitan. "Kami diperintahkan mengubah pola tanam dan menggunakan air dari saluran yang katanya lebih efisien. Tapi, sejak saat itu, tanah justru menjadi keras dan tanaman mati sebelum sempat berumbi."

"Apa kalian tidak melaporkannya?" tanya Davira, matanya menatap tajam satu per satu wajah mereka.

"Sudah! Kami sudah berulang kali memohon!" seru petani tua itu dengan nada putus asa. "Tapi kami malah dibilang malas. Kami dituduh menyabotase lahan sendiri agar bisa meminta keringanan pajak. Padahal, Nyonya... kami bahkan tidak sanggup membeli bibit yang layak karena harga yang mereka tetapkan selalu menekan kami sampai titik darah penghabisan."

Davira terdiam. Dua tahun. Bukan sekadar ketidakbecusan, ini adalah sabotase sistematis untuk membuat wilayah ini kelaparan sebelum perang dimulai.

"Terima kasih," bisik Davira pada para petani. Ia berdiri, lalu langkahnya terayun menuju titik pusat ladang yang tampak paling gersang.

Davira menyambar cangkul dari tangan salah seorang pekerja. Dengan gaun sutranya yang tersingkap, ia mulai menghujamkan cangkul itu ke tanah beku dengan tenaga yang mengejutkan.

Srek! Srek!

Elliot mendekat, alisnya bertaut dalam kebingungan melihat istrinya melakukan pekerjaan kasar seperti itu. "Davira? Apa yang kau lakukan?!"

Davira tidak menjawab. Ia menggali lebih dalam, membuang gundukan tanah dengan tangan kosongnya hingga kotoran menghitam di balik kuku-kukunya. Namun, tidak ada apa-apa di sana.

"Ini mustahil," gumam Davira, napasnya tersengal. "Kenapa umbinya membusuk atau kerdil di bawah sini... lapisan bawahnya."

"Apa maksudmu?" tanya Elliot, ia mulai menyadari keganjilan itu. "Mereka bilang mereka sudah menanam bibit setiap musim."

"Mereka tidak sedang gagal panen. Mereka hanya menyebarkan bibit di permukaan agar terlihat bekerja, lalu membiarkannya mati atau membusuk—"

Brak!

Suara benturan roda kereta kuda yang kasar di jalan tanah memotong kalimat Davira. Sebuah kereta megah berlogo Duncan berhenti dengan angkuh.

"Apa-apaan ini?!"

Grand Duchess turun dari kereta dengan napas memburu, diikuti oleh Fiona yang wajahnya merah padam karena murka. Wanita tua itu menunjuk ke arah prajurit yang masih berjaga di kejauhan.

"Elliot! Berani-beraninya kau menangkap orang kepercayaanku tanpa seizinku!" teriaknya melengking, lalu tatapannya beralih pada Davira yang berdiri berlumuran tanah. "Dan kau! Apa yang telah kau lakukan pada ladang ini, wanita asing?! Jangan kira kau bisa bermain-main dengan aset kastil Orion hanya karena kau berhasil merayu cucuku!"

Fiona, yang berdiri tepat di balik bahu Grand Duchess, menutup mulutnya dengan kipas sutra saat matanya menangkap penampilan Davira. Ia tertegun sejenak melihat Davira yang biasanya anggun, kini berdiri dengan gaun sutra yang ternoda noda tanah hitam, rambutnya sedikit berantakan, dan telapak tangannya kotor oleh lumpur pekat.

Tiba-tiba, tawa terkikik yang nyaring dan meremehkan pecah dari bibir Fiona. Suaranya terdengar sumbang di tengah ketegangan ladang yang membeku.

"Lihat dirimu, Davira!" seru Fiona di sela tawanya yang tertahan, matanya menatap Davira dengan jijik sekaligus puas. "Apakah ini cara wanita bangsawan ibu kota mencoba mencari perhatian? Sungguh pemandangan yang memalukan untuk menantu keluarga Orion yang terhormat."

Fiona melangkah maju dengan sepatu bot kulitnya yang bersih dan mahal. "Jika kau ingin mencari perhatian Elliot, kau tidak perlu melakukan hal-hal konyol seperti ini. Memainkan cangkul tidak akan membuatmu terlihat seperti seorang Lady, kau hanya terlihat seperti pengemis yang tersesat."

Grand Duchess ikut mendengus sinis, matanya memicing tajam pada Elliot yang berdiri tak jauh dari sana. "Cucuku, lihatlah istrimu. Dia mempermalukan martabat keluarga kita, dengan berperilaku seperti orang gila di hadapan para petani. Bawa dia kembali ke dalam kastil dan hukum dia agar dia tahu posisinya!"

Tawa Fiona semakin melengking di udara, tapi Davira bahkan tidak sudi membuang tenaga untuk meliriknya. Ia tidak mempedulikan ejekan itu, apalagi harga diri sang Grand Duchess yang mulai terusik. Pikirannya sudah melompat jauh ke depan—ke masa depan yang harus ia amankan.

Davira bangkit berdiri dengan susah payah, mengabaikan gaunnya yang penuh tanah, lalu menunjuk lapisan abu-abu di dalam lubang itu kepada Elliot.

"Ini adalah lapisan kapur dan campuran kimia yang disengaja untuk menyekat nutrisi tanah," suara Davira tenang, efisien, dan penuh otoritas. "Jika lapisan ini tidak segera dikeruk dan dibuang, tanah ini tidak akan pernah bisa bernapas. Musim dingin akan mengunci racun ini semakin dalam, dan ladang ini akan menjadi gersang selamanya."

Elliot, kini memusatkan seluruh perhatiannya pada Davira. Pria itu melihat betapa seriusnya istrinya.

"Berapa lama waktu yang kita miliki?” tanya Elliot dengan kedua alis berkerut.

"Jika kita mengerahkan tenaga sekarang, kita bisa membersihkan lapisan atas di petak utama ini sebelum matahari terbenam. Itu cukup untuk menyelamatkan sisa musim tanam ini," jawab Davira tegas. Ia menatap para petani yang masih membeku. "Kalian, ambil cangkul dan gerobak. Kita akan membuang tanah lapisan atas ini ke area pembuangan jauh dari sumber air."

Elliot tidak membuang waktu. Tanpa meminta persetujuan siapa pun—bahkan tanpa mempedulikan protes yang mungkin akan dilayangkan neneknya—ia memberi isyarat tajam kepada para prajurit pengawalnya.

"Kalian dengarkan Lady Davira, turuti semua perintahnya!" suara Elliot menggelegar, membakar semangat para prajurit dan petani sekaligus. "Turun dari kuda. Lepas pelindung zirah kalian yang berat. Bantu para petani mengeruk tanah ini. Sekarang!"

Dua puluh prajurit elit Orion segera melompat turun. Pemandangan tak lazim pun terjadi: pria-pria berbaju zirah yang biasanya memegang pedang, kini bahu-membahu mencangkul tanah bersama para petani, bekerja cepat mengikuti instruksi Davira.

Davira sendiri sibuk mengatur pembagian tugas, menunjuk area mana yang harus dikeruk terlebih dahulu. Ia bekerja dengan perhitungan yang matang, sementara Elliot memastikan logistik bantuan mengalir cepat ke para petani.

Di pinggir ladang, Grand Duchess dan Fiona berdiri terpaku. Mulut mereka terbuka sedikit, akan tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.

Mereka datang dengan rencana untuk mempermalukan Davira. Namun, yang mereka dapati justru ketenangan luar biasa serta efisiensi kerja Davira, membuat mereka terlihat bodoh—tak lebih dari sekadar pajangan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
LAHHH 😭 Davira malah terinspirasi
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Elizabeth santai menyodorkan daging, sementara orang-orang di sekitarnya mundur perlahan karena takut jadi menu tambahan 😭🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Orang lain mungkin sudah pucat ketakutan, sementara dia malah bangga memperkenalkan hewan peliharaannya. 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
kuda berbulu 😅
Karo Karo
update nya jangan lama-lama kk thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: iya kak 🤗 ikuti teruss yah ☺️
total 1 replies
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Idette siap² tersaingi. Davira sekarang tak klah mempesona
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Davira terlalu sabar di kehidupan pertamanya. Aku ikut sesak bacanya 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!