Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Arah Baru
Perjalanan pulang dari Aldric membawa mereka melewati sebuah kota bernama Ravenmoor, cukup ramai dan makmur berkat letaknya di persimpangan jalur dagang utama Benua Manusia. Di sinilah, setelah beberapa hari beristirahat, Sasuke mengusulkan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan.
"Kita perlu lebih kuat," ia berkata suatu pagi, sambil menikmati sarapan di kedai dekat penginapan mereka. "Terutama kalian berdua."
Saviera mengangkat alis, sedikit tersinggung meski tidak sepenuhnya. "Aku tidak lemah, kau tahu."
"Aku tahu," Sasuke buru-buru menjelaskan. "Tapi jujur saja, aku bahkan tidak tahu Level-mu yang sebenarnya. Kau belum pernah memberitahuku."
Saviera terdiam sejenak, sedikit tersipu menyadari kebenaran itu. "Aku... tidak terbiasa memeriksanya. Di dungeon, tidak ada gunanya. Aku hanya tahu aku cukup kuat untuk melindungi Elaina."
"Coba sekarang," Sasuke menyarankan, penasaran.
Saviera mengucapkan kalimat itu pelan, dan layar transparan muncul di hadapannya. Sasuke melirik sekilas, cukup terkejut dengan angka yang tertera—jauh di atas rata-rata petualang biasa, meski tetap jauh di bawah levelnya sendiri.
"Kau kuat," Sasuke berkomentar jujur. "Tidak heran kau bisa bertahan sendirian melindungi Elaina selama ini."
Elaina, yang duduk di sebelah mereka sambil mengunyah roti, ikut-ikutan penasaran. "Elaina juga mau lihat punya sendiri!"
"Kau belum bisa, sayang," Saviera menjelaskan lembut. "Nanti kalau sudah lebih besar."
Elaina merengut sedikit, namun cepat teralihkan begitu pelayan kedai datang membawa tambahan madu untuk rotinya.
---
"Bagaimana kalau kita mulai mengambil misi Guild lagi," Sasuke mengusulkan, "termasuk beberapa dungeon kecil di sekitar sini? Bukan untuk aku—aku sudah lebih dari cukup kuat untuk sekarang—tapi untuk kalian berdua. Terutama Saviera."
"Kau ingin aku menaikkan Level?" Saviera bertanya.
"Dunia ini berbahaya," Sasuke menjelaskan. "Aku tidak bisa selalu ada di sisimu setiap detik. Semakin kuat kau, semakin kecil kemungkinan sesuatu yang buruk terjadi saat aku tidak ada."
Saviera mempertimbangkan kata-kata itu, menyadari kebenaran praktis di baliknya. "Baiklah. Tapi kau harus mengajariku beberapa hal juga, bukan hanya menyuruhku bertarung sendirian."
"Setuju," Sasuke menjawab, senyum kecil muncul di wajahnya.
Mereka menghabiskan dua minggu berikutnya berkeliling dungeon-dungeon kecil di sekitar Ravenmoor—jauh lebih sederhana dibanding dungeon seratus lantai yang pernah mereka lalui bersama, namun cukup menantang untuk membantu Saviera mengasah kemampuannya. Sasuke mengawasi dari kejauhan, hanya turun tangan saat benar-benar diperlukan, membiarkan Saviera menghadapi sebagian besar pertarungan sendiri sambil sesekali memberi saran taktis.
Di dungeon pertama, sebuah gua batu sederhana bernama Liang Serigala, Saviera masih terlihat canggung mengendalikan kekuatan cahayanya dalam pertarungan nyata—kebiasaan lamanya lebih condong ke arah bertahan dan melindungi, bukan menyerang secara aktif.
"Kau terlalu banyak bertahan," Sasuke mengomentari dari kejauhan, ketika seekor serigala bayangan hampir berhasil mengelilinginya karena Saviera lebih sibuk membuat perisai cahaya daripada menyerang balik. "Kau punya kekuatan ofensif yang bagus. Gunakan."
"Aku terbiasa melindungi, bukan menyerang," Saviera membalas sambil terengah, menghalau serigala lain dengan tamengnya.
"Kali ini kau tidak perlu melindungi siapa pun kecuali dirimu sendiri," Sasuke mengingatkan. "Elaina aman di kota. Fokus pada dirimu."
Kata-kata itu seolah menjadi kunci—Saviera menarik napas dalam, dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, ia melangkah maju alih-alih mundur, tangannya terangkat dan melepaskan seberkas cahaya tajam berbentuk bulan sabit yang membelah dua ekor serigala bayangan sekaligus.
"Bagus," Sasuke berkata, sedikit terkejut dengan kecepatan adaptasinya.
Di dungeon ketiga, Reruntuhan Kuil Basah—sebuah bangunan kuno yang sebagian terendam air—Saviera untuk pertama kalinya berhasil mengalahkan seekor penjaga dungeon tanpa bantuan sama sekali, seekor golem lumpur besar yang biasanya membutuhkan tim petualang penuh untuk dikalahkan. Ia keluar dari dungeon itu dengan pakaian basah kuyup dan senyum lebar penuh kebanggaan, memamerkan status barunya pada Sasuke sebelum ia sempat diminta.
"Level sembilan puluh dua!" serunya bangga, hampir melompat-lompat seperti anak kecil. "Lima poin dalam satu hari!"
"Aku sudah bilang kau kuat," Sasuke menjawab, senyum tipis namun tulus menghiasi wajahnya, sesuatu yang jarang ia tunjukkan secara terbuka.
Elaina, yang tidak bisa dibawa masuk ke dungeon, dititipkan pada beberapa keluarga baik di kota yang sudah mereka kenal selama singgah, atau sesekali menunggu di pintu masuk dungeon bersama penjaga Guild yang ditugaskan mengawasi anak-anak petualang. Setiap sore, begitu Sasuke dan Saviera keluar dari dungeon, Elaina akan berlari menyambut mereka dengan cerita panjang lebar tentang apa yang ia lakukan seharian—entah belajar menganyam keranjang dari salah satu keluarga penitip, atau bermain kejar-kejaran dengan anak-anak sebayanya yang mulai ia kenal di kota itu.
Level Saviera naik cukup pesat berkat bimbingan Sasuke, dari delapan puluh tujuh menjadi sembilan puluh lima dalam waktu dua minggu, kepercayaan dirinya pun tumbuh seiring setiap dungeon yang berhasil mereka taklukkan bersama. Ia mulai berjalan dengan punggung lebih tegak, bicara dengan lebih yakin, jauh dari sosok pemalu dan waspada yang pertama kali ditemui Sasuke di lantai seratus dungeon yang kini sudah runtuh.
---
Suatu sore, setelah menyelesaikan misi dungeon kelima mereka minggu itu, mereka kembali ke cabang Guild Ravenmoor untuk melaporkan hasil dan mengambil bayaran. Ruangan Guild yang biasanya ramai kali ini dipenuhi lebih banyak petualang dari biasanya, sebagian besar tampak baru kembali dari misi mereka sendiri, riuh dengan obrolan dan tawa, gelas-gelas bir sudah mulai berdenting di meja-meja sudut ruangan meski hari belum sepenuhnya gelap.
Saviera, masih mengenakan pakaian ringan yang biasa ia pakai untuk dungeon—celana panjang sederhana dan kemeja lengan pendek yang memudahkan pergerakan—berjalan menuju meja resepsionis untuk menyerahkan laporan misi mereka, sementara Sasuke sejenak berhenti di papan pengumuman untuk memeriksa misi baru yang mungkin cocok untuk minggu berikutnya.
Seorang pria bertubuh besar, jelas sudah beberapa gelas dalam kondisi mabuk, duduk di salah satu meja dekat pintu masuk bersama dua rekannya. Matanya yang sedikit sayu karena alkohol tertuju pada Saviera begitu ia lewat, dan sebuah seringai lebar muncul di wajahnya.
"Woi, lihat itu," ia berbisik cukup keras pada rekan-rekannya, yang ikut menoleh dan tertawa kecil. "Cewek baru ya? Belum pernah lihat dia sebelumnya."
"Sudahlah, jangan cari masalah," salah satu rekannya memperingatkan, meski nadanya lebih terdengar seperti basa-basi daripada peringatan sungguhan.
"Cari masalah apanya," pria besar itu menjawab, sudah berdiri dari kursinya dengan langkah sedikit oleng, "aku cuma mau kenalan."
Ia mendekati Saviera yang sedang berbicara dengan resepsionis, tanpa peringatan langsung merangkul bahunya dengan tangan besarnya, bau alkohol menyengat langsung menerpa wajah Saviera.
"Hei, Cantik," pria itu berkata, suaranya keras dan kasar. "Belum pernah lihat wajah secantik ini di Guild. Kau petualang baru? Biar kutraktir minum, kita bisa kenalan lebih—"
Saviera menepis tangannya dengan cepat, wajahnya berubah waspada dan tidak nyaman, tubuhnya secara refleks bergeser menjauh selangkah. "Tolong jangan sentuh aku."
"Ayolah, jangan jual mahal," pria itu tertawa keras, aromanya semakin menyengat saat ia mendekat lagi, tangannya kembali terangkat mencoba meraih lengan Saviera. Beberapa petualang lain di sekitar mereka mulai memperhatikan dengan raut wajah tidak nyaman, ada yang berbisik-bisik pada rekan di sampingnya, namun tidak ada satu pun yang berani ikut campur—pria besar itu rupanya cukup dikenal, dan tidak ada yang ingin terlibat masalah dengannya.
Resepsionis di meja itu sendiri tampak panik, tangannya bergetar memegang berkas laporan, jelas tidak tahu harus berbuat apa menghadapi situasi yang sudah beberapa kali terjadi sebelumnya, tanpa ada yang berani menegurnya secara langsung.
"Aku bilang," Saviera mengulangi lebih tegas, suaranya mulai meninggi, kekuatan cahaya kecil mulai berpendar samar di ujung jarinya sebagai peringatan, "jangan. Sentuh. Aku."
"Wah, galak juga," pria itu tertawa, tidak menyadari atau tidak peduli dengan tanda bahaya yang mulai muncul, tangannya semakin dekat untuk kembali menyentuhnya.
Sebelum tangannya benar-benar mendarat, sebuah cengkeraman jauh lebih kuat dari yang seharusnya dimiliki manusia biasa menahan pergelangannya di tengah jalan, menghentikannya seketika seolah menabrak dinding baja.
Sasuke, yang bergerak dari papan pengumuman dalam waktu yang nyaris tidak terlihat mata biasa, berdiri di sana, wajahnya tenang namun matanya memancarkan sesuatu yang jauh lebih dingin dari biasanya.
"Dia bilang jangan disentuh," Sasuke berkata, suaranya tenang namun dengan nada dingin yang tidak bisa disalahartikan, matanya menatap lurus ke arah pria itu yang tiba-tiba pucat merasakan cengkeraman di pergelangannya.
"L-lepaskan aku!" pria itu berusaha menarik tangannya, wajahnya mulai memerah menahan sakit yang semakin menjalar, namun cengkeraman Sasuke tidak bergeming sedikit pun, seolah tangannya terjebak dalam belenggu besi. Kedua rekannya yang tadi duduk kini berdiri gugup, tidak yakin harus membantu atau menjauh.
"Siapa kau?!" pria itu mencoba mengancam, meski suaranya bergetar menahan sakit. "Kau tahu aku—akh!"
"Aku tidak peduli siapa kau," Sasuke memotong datar, sedikit menambah tekanan pada cengkeramannya, cukup untuk membuat pria itu meringis kesakitan tanpa sampai mematahkan tulangnya. "Minta maaf padanya. Sekarang."
Seluruh ruangan Guild yang tadinya ramai kini hening total, semua mata tertuju pada perselisihan kecil itu. Beberapa petualang yang sudah lama mengenal kelakuan pria mabuk itu justru terlihat diam-diam senang, saling bertukar pandang seolah berkata "akhirnya ada yang berani".
"M-maaf!" pria itu akhirnya berteriak, lebih karena rasa sakit daripada penyesalan sungguhan. "Maaf, Nona! Lepaskan tanganku, kumohon!"
Sasuke menahan cengkeramannya sedetik lebih lama, memastikan permintaan maaf itu cukup tulus terdengar, sebelum akhirnya melepaskannya. Pria itu mundur terhuyung, memegangi pergelangannya sendiri yang sudah membiru, wajahnya pucat pasi begitu menyadari betapa seriusnya ancaman yang baru saja ia terima, sebelum akhirnya terburu-buru diseret pergi oleh kedua rekannya yang juga tampak lega bisa menghindar dari situasi yang lebih buruk.
Seluruh ruangan Guild yang sempat hening kembali riuh perlahan, beberapa petualang bertepuk tangan pelan atau bersiul menyetujui tindakan Sasuke, jelas bukan pertama kalinya pria mabuk itu menimbulkan masalah bagi petualang wanita lain di Guild ini.
---
Sasuke menoleh ke arah Saviera, memperhatikan gaun ringan yang ia kenakan hari itu—cukup nyaman untuk cuaca hangat Ravenmoor, namun kini terasa terlalu mengundang perhatian setelah insiden barusan, dengan beberapa pasang mata lain di ruangan yang masih melirik penasaran.
Tanpa berkata apa-apa, Sasuke melepas jubah panjangnya sendiri, menyampirkannya ke bahu Saviera dengan lembut, menutupi sebagian besar tubuhnya dari pandangan orang-orang di sekitar.
"Pakai ini untuk sementara," ia berkata pelan.
Saviera menatapnya, wajahnya sedikit memerah—entah karena insiden tadi, atau karena perhatian kecil ini. "Tapi kau jadi tidak pakai apa-apa sekarang."
"Aku punya yang lain," Sasuke menjawab santai.
Ia mengangkat tangan kanannya, dan sebuah portal keemasan kecil terbuka di udara di sampingnya—Gerbang Babel, gudang senjata dan harta tak terhitung milik Gilgamesh yang kini menjadi bagian dari kekuatannya. Dari dalamnya, ia menarik keluar jubah lain, serupa namun tidak identik dengan yang baru saja ia berikan, langsung mengenakannya dengan gerakan santai seolah itu hal paling wajar di dunia.
Beberapa petualang di sekitar mereka yang menyaksikan portal keemasan itu terbuka sekejap terdiam, mata mereka membelalak lebar.
"...Apa itu tadi?" salah satu dari mereka berbisik pada rekannya, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
Sasuke, tidak terlalu memedulikan reaksi itu, kembali menoleh pada Saviera yang masih menatapnya dengan campuran geli dan takjub.
"Kau punya... gudang tersembunyi?" Saviera bertanya, suaranya setengah tertawa.
"Salah satu dari empat permintaanku," Sasuke menjelaskan singkat. "Cerita panjang."
Elaina, yang baru saja dijemput dari rumah keluarga yang menitipkannya, berlari masuk tepat pada waktunya untuk melihat jubah baru Saviera. "Mama pakai jubah Papa! Serasi!"
Saviera tertawa kecil, menarik jubah itu lebih rapat di sekelilingnya, aroma familiar Sasuke yang menempel di kain itu entah kenapa terasa menenangkan setelah insiden yang baru saja terjadi. "Terima kasih," ia berkata pelan, tulus.
"Kapan saja," Sasuke menjawab, dan untuk pertama kalinya sejak insiden tadi, senyum kecil kembali muncul di wajah Saviera.
---
*Bersambung ke Bab 20: Ikatan yang Menguat*