Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Keheningan kembali menyelimuti Mansion Laurent, tetapi kali ini suasananya berbeda.
Tidak lagi tenang.
Melainkan penuh kewaspadaan.
Di setiap sudut koridor, dua orang pengawal kini berjaga secara bergantian.
Pintu menuju balkon kamar tamu telah dikunci dari luar menggunakan sistem pengaman elektronik.
Beberapa kamera tambahan bahkan dipasang menghadap taman belakang.
Lucas tidak ingin kejadian beberapa menit lalu terulang untuk kedua kalinya.
Di ruang kendali keamanan...
Adrian berdiri memperhatikan puluhan layar monitor.
Salah satu monitor memperlihatkan kondisi kamar Alyssa.
Tentu saja, kamera tidak dipasang di dalam kamar demi menjaga privasi.
Yang terlihat hanyalah pintu kamar, koridor, serta akses menuju balkon dari luar bangunan.
"Semua sektor aman?"
tanya Adrian.
"Ya, Tuan Adrian."
"Tim Alpha sudah menggantikan Tim Bravo."
"Penjagaan belakang juga diperketat."
Adrian mengangguk pelan.
Tatapannya kemudian beralih ke layar lain yang menampilkan Lucas sedang berjalan sendirian menuju ruang kerjanya.
Ia mengenal pria itu sejak bertahun-tahun.
Lucas hampir tidak pernah kehilangan kendali emosinya.
Bahkan saat perusahaan menghadapi kerugian miliaran.
Bahkan saat berhadapan dengan lawan bisnis yang berusaha menghancurkannya.
Tetapi malam ini...
Wajah Lucas benar-benar menunjukkan kecemasan yang sulit disembunyikan.
Adrian bergumam pelan.
"Sepertinya... Nona Alyssa sudah mulai menjadi pengecualian."
Di ruang kerja.
Lucas membuka kancing jasnya.
Ia duduk di kursi besar menghadap jendela.
Namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pekerjaan.
Bayangan tubuh Alyssa yang terjatuh dari balkon terus berulang di kepalanya.
Suara benturan kaca.
Jeritan para pengawal.
Darah yang mengalir dari lengan gadis itu.
Semuanya terasa begitu nyata.
Ia menutup mata.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Tangannya sedikit gemetar.
Ia masih mengingat dengan jelas detik ketika Adrian mengatakan,
"Ada seseorang jatuh dari balkon kamar tamu."
Saat itu...
Entah mengapa...
Yang terlintas di benaknya hanyalah satu kemungkinan.
Alyssa meninggal.
Pikiran itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa sesak.
Lucas mengusap wajahnya pelan.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku..."
gumamnya lirih.
Ia terbiasa menjaga jarak dengan siapa pun.
Tidak pernah mencampurkan urusan pribadi dengan keputusan yang diambil.
Namun sejak Alyssa datang...
Semuanya mulai berubah.
Ia menjadi lebih sering pulang ke mansion.
Lebih sering bertanya kepada dokter mengenai kondisi seseorang.
Lebih sering memastikan keamanan rumah.
Bahkan tanpa sadar...
Ia mulai mengingat kebiasaan-kebiasaan kecil Alyssa.
Bahwa gadis itu tidak menyukai makanan yang terlalu pedas.
Bahwa ia selalu mengucapkan terima kasih kepada setiap pelayan.
Bahwa ia lebih suka duduk dekat jendela saat sedang melamun.
Lucas menghela napas panjang.
"Itu bukan hal yang baik."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Semua ini hanyalah rasa tanggung jawab.
Tidak lebih.
Sementara itu...
Di kamar tamu.
Alyssa masih menangis dalam diam.
Kata-kata Lucas terus terngiang.
"Aku takut kau mati malam ini."
Kalimat sederhana itu...
Entah mengapa...
Terasa jauh lebih menghangatkan dibanding seribu kata hiburan.
Seumur hidupnya...
Tidak banyak orang yang benar-benar takut kehilangannya.
Patrick...
Lebih sering menjadikannya alat.
Mariska...
Selalu menyimpan sesuatu darinya.
Orang-orang di sekitar Patrick hanya memandangnya sebagai gadis yang harus dikendalikan.
Namun di mansion ini...
Seorang pria yang baru dikenalnya justru marah karena hampir kehilangan dirinya.
Perasaan asing mulai memenuhi dada Alyssa.
Bukan cinta.
Bukan pula rasa nyaman sepenuhnya.
Melainkan...
Kepercayaan yang perlahan mulai tumbuh.
Ia memandang perban di pergelangan kakinya.
"Maaf..."
bisiknya pelan.
"Aku benar-benar membuat semua orang panik."
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan lembut.
Tok...
Tok...
"Nona Alyssa?"
Suara itu milik kepala pelayan wanita.
"Boleh saya masuk?"
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Seorang wanita paruh baya membawa nampan berisi semangkuk sup hangat, teh herbal, serta obat pereda nyeri.
Wanita itu tersenyum lembut.
"Dokter meminta Nona makan sedikit."
Alyssa mengangguk.
"Terima kasih."
Pelayan itu meletakkan nampan di meja kecil.
Sebelum pergi, ia sempat berkata pelan,
"Jangan terlalu memikirkan kemarahan Tuan Lucas."
Alyssa terdiam.
Pelayan itu tersenyum tipis.
"Selama saya bekerja di sini..."
"Saya belum pernah melihat beliau berlari secepat tadi."
Alyssa menatapnya.
"Benarkah?"
Wanita itu mengangguk.
"Saat alarm berbunyi..."
"Beliau bahkan tidak menunggu pengawal membuka jalan."
"Beliau langsung turun melalui tangga."
"Semua orang tahu beliau sangat panik."
Mata Alyssa kembali berkaca-kaca.
Pelayan itu melanjutkan,
"Tuan Lucas memang sulit mengungkapkan perasaan."
"Tapi tindakan beliau selalu lebih jujur daripada kata-katanya."
Setelah mengucapkan selamat beristirahat, wanita itu keluar meninggalkan kamar.
Alyssa hanya mampu menatap semangkuk sup yang mulai mengeluarkan uap hangat.
Pukul tiga dini hari.
Di sebuah rumah besar di pinggiran kota.
Patrick duduk di ruang kerjanya.
Ruangan itu gelap.
Hanya diterangi lampu meja.
Di hadapannya berdiri seorang pria bertubuh kekar.
"Belum ditemukan?"
Patrick bertanya dingin.
"Belum, Tuan."
"Kami kehilangan jejak setelah Nona Alyssa dibawa seseorang dari rumah sakit."
Patrick mengetuk meja perlahan.
Tok.
Tok.
Tok.
"Tidak mungkin dia menghilang begitu saja."
"Periksa semua rumah sakit."
"Hotel."
"Apartemen."
"Rumah aman."
"Dan..."
tatapannya berubah tajam,
"Periksa keluarga Laurent."
Pria itu sedikit terkejut.
"Keluarga Laurent?"
Patrick menyipitkan mata.
"Hanya firasat."
"Tapi firasatku jarang salah."
Pria itu segera mengangguk.
"Baik, Tuan."
Setelah anak buahnya pergi...
Patrick membuka laci meja.
Dari sana ia mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.
Perempuan itu tersenyum begitu bahagia.
Sementara wajah bayi itu...
Tidak terlihat jelas.
Patrick memandang foto tersebut cukup lama.
Lalu tersenyum tipis.
"Sudah hampir dua puluh tahun."
"Tapi rahasia tetaplah rahasia."
Ia kemudian menyalakan korek api.
Perlahan...
Sudut foto itu mulai terbakar.
Api merambat sedikit demi sedikit.
Namun sebelum seluruh foto habis...
Patrick mematikan apinya.
Masih menyisakan sebagian wajah perempuan itu.
"Belum."
"Belum saatnya."
Menjelang subuh.
Di ruang bawah tanah sebuah bangunan tua.
Mariska duduk sendirian.
Di depannya terdapat beberapa berkas lusuh.
Salah satunya adalah dokumen kelahiran.
Nama yang tertulis di sana membuatnya memejamkan mata.
"Alyssa..."
Air matanya menetes.
"Aku tidak punya banyak waktu lagi."
Ia mengambil sebuah ponsel lama.
Menghubungi seseorang.
Beberapa dering kemudian...
Sambungan tersambung.
Suara pria tua terdengar dari seberang.
"Kau akhirnya menelepon."
Mariska berkata pelan,
"Dia sudah mulai mencari ibunya."
Pria itu terdiam.
"Kita harus bergerak lebih cepat."
"Patrick pasti juga sudah menyadarinya."
Suara pria tua itu terdengar berat.
"Kalau begitu..."
"Siapkan semuanya."
"Sudah waktunya membuka lembaran yang selama ini kita sembunyikan."
Mariska menggenggam telepon erat.
"Semoga... dia bisa memaafkanku."
Sementara itu...
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur.
Sinar matahari pertama perlahan menerobos tirai kamar Alyssa.
Ia terbangun dengan kepala yang masih terasa berat.
Pergelangan kakinya masih nyeri.
Namun yang paling terasa...
Adalah rasa bersalah.
Ia menoleh ke arah pintu.
Terlihat seorang pengawal berjaga di luar.
Benar.
Lucas benar-benar menjalankan keputusannya.
Ia kini tidak lagi bebas keluar masuk mansion.
Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan.
"Silakan masuk."
Yang datang kali ini bukan pelayan.
Melainkan Adrian.
Pria itu membawa map cokelat tebal.
"Pagi, Nona Alyssa."
Alyssa langsung duduk lebih tegak.
"Selamat pagi."
Adrian meletakkan map di meja.
"Tuan Lucas meminta saya menyampaikan sesuatu."
Alyssa menunduk.
"Beliau masih marah, ya?"
Adrian tersenyum kecil.
"Beliau masih khawatir."
Kalimat itu membuat Alyssa terdiam.
Adrian membuka map tersebut.
"Semalam, setelah Anda tidur..."
"Tim kami tidak berhenti bekerja."
Ia mengeluarkan beberapa lembar foto.
Ada foto rumah tua.
Foto sebuah desa.
Foto seorang wanita yang diambil dari kejauhan bertahun-tahun lalu.
Alyssa membelalak.
"Itu..."
Adrian mengangguk.
"Ini adalah hasil penyelidikan awal mengenai masa lalu Anda."
"Dari informasi yang berhasil kami kumpulkan..."
"Kami menemukan beberapa petunjuk mengenai perempuan yang kemungkinan adalah ibu kandung Anda."
Tubuh Alyssa langsung menegang.
"Benarkah?"
"Namun kami belum bisa memastikan."
"Ada terlalu banyak data yang sengaja dihapus."
"Ada orang yang menutupi jejak selama bertahun-tahun."
Adrian berhenti sejenak.
"Lalu..."
"Ada satu hal lagi."
Ia mengeluarkan sebuah amplop tua yang bagian sudutnya mulai menguning dimakan usia.
"Ini ditemukan di arsip sebuah panti asuhan yang pernah Anda singgahi ketika kecil."
Jantung Alyssa berdetak semakin cepat.
"Tertulis..."
"Bahwa amplop ini hanya boleh diberikan apabila seseorang bernama Alyssa datang mencarinya."
Tangan Alyssa gemetar saat menerima amplop itu.
Segel lilinnya telah retak dimakan waktu.
Di bagian depan hanya tertulis beberapa kata dengan tulisan tangan yang mulai pudar.
"Untuk putriku... jika suatu hari takdir mempertemukan surat ini denganmu."
Air mata Alyssa kembali jatuh tanpa mampu ia tahan.
Ia memandang Adrian dengan napas yang memburu.
"Apakah... aku boleh membukanya sekarang?"
Adrian mengangguk perlahan.
"Tuan Lucas berpesan..."
"Apa pun isi surat itu..."
"Anda tidak perlu menghadapinya sendirian."
Alyssa menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di mansion itu, ia tidak lagi merasa benar-benar sendirian.
Dengan tangan yang masih bergetar, ia mulai menyentuh segel amplop tua tersebut.
Sementara di tempat lain, tanpa seorang pun di Mansion Laurent menyadarinya, sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari gerbang utama. Seorang pria berkacamata gelap menurunkan teropongnya setelah beberapa saat mengamati penjagaan yang kini jauh lebih ketat.
Ia mengambil ponsel dan mengirim satu pesan singkat kepada Patrick.
"Target dipastikan berada di Mansion Laurent. Penjagaan diperketat. Menunggu instruksi selanjutnya."
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
"Jangan bertindak gegabah. Aku akan datang sendiri."
Pria itu menatap megahnya Mansion Laurent dari kejauhan.
Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
Badai yang sesungguhnya... baru saja akan dimulai.