S 2. Novel "Jejak Luka"
Lanjutan kisah 'rudapaksa yang dialami oleh seorang gadis bernama Enni bertahun-tahun.
Setelah berhasil meloloskan diri dari kekejaman seorang pria bernama Barry, Enni dibantu oleh beberapa orang baik untuk menyembuhkan luka psikis dan fisiknya di sebuah rumah sakit swasta.
"Mampukah Enni menghapus jejak trauma masa lalu dan berbahagia?"
Ikuti kisahnya di Novel "Menghapus Jejak"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia selalu. ❤️ U. 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. MJ
...~•Happy Reading•~...
Setelah merapikan selimut Juha, Mathias segera turun ke kamar bayinya. Ketika melihat El'el sudah tidur dan Ambar sudah tidak ada, Mathias hanya mengelus kepala putrinya, lalu keluar kamar.
Mathias masuk ke kamarnya Dan melihat Ambar sedang merapikan kamar dan kopernya. "Ma, duduk di sini dulu, aku mau bicara tentang Enni. Agar kau bisa bantu dia dan hindari bicara bagian tertentu dengan Ibu." Mathias menunjuk tempat tidur, lalu duduk menunggu di sana.
Ambar segera meninggalkan koper yang dibawa Mathias dari luar kota. Lalu berdiri dan berjalan cepat mendekati suaminya yang sedang menunggu di atas tempat tidur dengan wajah serius.
"Gimana, Pa." Tanya Ambar setelah duduk di depan suaminya.
"Tadi Ibu mengajak aku bicara tentang Enni. Aku ngga bisa ajak kau ikut nimbrung, karna ngga enak sama Enni, nanti dia ditinggal sendiri di luar." Mathias mulai berbicara serius dengan Ambar.
"Aku bicara ini secara khusus denganmu sebab ada beberapa bagian yang aku ngga bicarakan dengan Ibu. Aku bicarakan denganmu, tapi jangan sampai Ibu tahu, agar ngga mempengaruhi kesehatannya." Ambar jadi serius mendengar ucapan suaminya.
Dia sudah penasaran sejak tadi tentang kisah Enni dan sudah menahannya. Oleh sebab itu dia memperhatikan apa yang akan dibicarakan Mathias tentang Enni. Agar dia bisa tahu duduk persoalan sebenarnya.
"Begini, Enni alami kekerasan seksual dari waktu ke waktu dengan orang yang berbeda. Pertama, iparnya...." Mathias menceritakan apa yang dikatakan Kirana padanya tentang Enni secara detail.
Mendengar itu, Ambar melihat suaminya dengan mata membesar dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, seakan tidak percaya.
'Ternyata Enni bukan mengalami kekerasan seksual biasa.' Ambar membatin dengan mata berkaca-kaca membayangkan semua yang dialami Enni.
"Itukah sebabnya, rambut Enni begitu panjang? Dia disekap begitu lama?" Ambar bertanya dengan suara bergetar dan mata tergenang.
"Huuuu... Dia wanita yang sangat kuat. Kalau orang lain, mungkin bisa gila." Ambar meneruskan ucapannya setelah menghembuskan nafas kuat untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.
"Lelaki itu mungkin tidak waras. Kalau waras, dia bisa hidup baik-baik bersama Enni." Ambar tidak bisa menutupi rasa geramnya.
"Aku belum tahu motivasi dia lakukan itu pada Enni. Nanti bicara dengan Bagas dan lihat hasil penyelidikan, baru tahu. Siapa dia sebenarnya, dan apa alasannya."
"Aku juga belum tahu, kasusnya mudah atau berat. Aku akan tahu itu setelah melihat penyelidikan Bagas. Orang yang bisa membeli dan menyekap Enni, tidak mungkin orang dari kalangan biasa saja."
"Soal profesi Enni sebagai wanita penghibur, ngga usah katakan pada Ibu. Bukan mau menutupi itu, tapi akan timbul banyak pertanyaan dari Ibu. Aku tahu, Ibu ngga akan tanyakan itu pada Enni, tapi terus memikirkan semua yang dialami Enni."
"Mungkin karna sakitnya yang lama, Ibu sangat peka pada orang-orang di sekitarnya. Ibu bisa tahu, Enni sedang merasa sedih. Jadi kalau ada waktu luang, tolong ke tempat Ibu untuk bicarakan ini dengan Enni."
"Enni itu hatinya baik, dan polos. Jangan sampai dia bicarakan semua yang dia alami buat Ibu, karena tidak mau berbohong." Mathias jadi ingat pertemuan pertama dengan Enni.
"Iya, Pa. Nanti Juha pulang sekolah, aku akan pergi dengan dia ke sana. Agar Enni bisa merasa nyaman dan tenang di rumah Ibu." Ucap Ambar.
"Itu juga yang diminta sama Ibu. Mungkin dengan ucapan-ucapan lucu dan gemesin Juha bisa membuat Enni tenang dan perlahan sembuh." Ucap Mathias.
"Iya, Pa. Aku setuju. Nanti aku minta Bibi membiarkan Enni membantu. Agar bisa membuat Enni sibuk dan mungkin bisa mengalihkan pikirannya dari orang-orang gila itu." Ucap Ambar kesal.
"Iya, itu lebih baik dan ngga usah ajak Enni keluar rumah. Aku belum tahu siapa pria itu. Jangan sampai terlihat oleh orang-orang itu, hingga mereka menyatroni rumah Ibu." Mathias mengingatkan.
"Iya, Pa. Yang itu akan aku bicarakan dengan Ibu. Tadi Ibu sudah minta tolong untuk keluar dengan Enni buat beli keperluannya." Ambar mengingat permintaan mertuanya.
"Baik. Tolong cari solusinya. Aku lagi ngga konsen. Ada banyak kerjaan. Kalau Ibu tahu profesinya, setelah kasusnya tuntas, ngga papa. Semua sudah berlalu dan Enni sudah dapatkan keadilan atas semua yang dia alami. Ibu ngga akan terlalu memikirkan kondisi Enni."
"Itu dulu, nanti setelah bicara dengan Bagas dan Dek Kiran, baru kita bicarakan lagi." Mathias memeluk pundak Ambar untuk menenangkan.
"Mari, aku bantu beresin koper, supaya kita bisa cepat istirahat. Besok aku berangkat pagi ke kantor." Mathias memegang tangan Ambar lalu turun dari tempat tidur.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Ke esokan hari ; Mathias masuk ke kantor dengan langkah panjang dan menuju ruangannya tanpa melihat ke ruangan lain. Bagas yang baru keluar dari kamar mandi dan mengenal langkah boss nya, langsung berlari cepat.
"Booossss..." Mathias terus berjalan masuk ke ruangannya, seakan tidak mendengar panggilan Bagas sambil tersenyum dalam hati. Bagas terpaksa menerobos masuk ke ruangan Mathias.
"Boss..." Ucap Bagas lagi.
"Bos, bas, bos... Kau berani mematikan telpon saat saya sedang bicara?" Mathias bersikap serius dan galak.
"Aaah, itu karna kesal saja boss. Orang yang kubanggakan mulai keluar jalur." Bagas menggaruk kepala yang tidak gatal. "Aah, jadi kesal lagi, ingat yang itu." Ucap Bagas yang tidak bisa menyembunyikan kesalnya.
"Kau Bagas atau kloningnya?" Tanya Mathias serius, tapi hatinya tersenyum. Bagas langsung berputar untuk menunjukan bahwa dia asli, agar mengurangi emosi boss nya
"Kalau kau bukan Bagas hasil kloning, seharusnya sudah tahu saya seperti apa."
"Maaf, boss. Saya tidak tahu boss sudah kembali. Bapak sengaja ledekin, kan? Tapi sekarang saya happy. Boss bersama Mama El'el." Bagas tersenyum lebar.
"Ini buat saya kan, boss." Bagas langsung mengambil kotak ole-ole yamg diletakan di atas meja sofa.
"Buat security..."
"Yaaa... Baiklah, boss. Biar air liurku mengalir seperti sungai."
"Mengalirnya di luar, nanti banjir di sini."
"Baru kembali sudah galak."
"Kau bilang apa?"
"Mulutku mingkem, Pak." Ucap Bagas sambil menunjuk mulutnya yang sedang tertutup lalu berbalik mau keluar ruangan.
"Mau kemana? Minta OB bikin minum dan makan di sini."
"Hahaha... Siiiiaaap." Bagas tertawa senang lalu memberi hormat seperti seorang prajurit lalu mengeluarkan ponselnya untuk telpon OB.
Bagas tahu, bossnya hanya mau mengganggunya, sehingga dia sengaja mau keluar sambil membawa kotak ole-ole. Sebab dia yakin, tidak mungkin boss nya tidak bawa ole-ole untuknya.
"Duduk di situ." Mathias berdiri dari kursi kerjanya ke sofa. Kau ngga laporin kalau Enni sudah ke tempat Ibu?" Mathias bertanya serius, tapi hatinya tersenyum melihat reaksi Bagas yang mau protes padanya.
"Yaaa... Kemarin mau lapor, tapi bapak yang reject panggilanku." Bagas mengutarakan niatnya menelpon boss nya.
"Sudah sampai mana status kasus Enni." Mathias mulai serius untuk mengetahui kondisi kasus Enni.
"Kami sudah lapor polisi dan kemarin dari tempat Ibu langsung lakukan penuntutan, Pak." Jawab Bagas yang sudah duduk di sofa.
"Kau sudah lakukan penuntutan? Tuntut siapa?" Tanya Mathias serius, sebab tidak menyangka Bagas sudah melangkah ke bagian itu.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...