Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 CEO BUCIN
SELAMAT MEMBACA !!!
Fira yang di rumah sendirian, ia mengambil hapenya ternyata mati, baterainya habis. Ia mengambil kabel cas miliknya yang berada di dalam kopernya.
Setelah di cas sebentar, hapenya dinyalakan banyak pesan masuk dari grub mereka berempat. Fira langsung melakukan panggilan video call dengan berempat sahabatnya.
"Assalamualaikum semua."
"Walaikumsalam, Fir. Kamu kenapa telepon berkali-kali semalam, maaf aku lagi diluar lupa bawa hape?" Tasya.
"Benar, Fir. Kamu juga telepon aku sampai beberapa kali. Ada apa, Fir?" Elena.
Sementara Zhafran, hanya diam menyimak obrolan sahabatnya itu.
"Hmmm...aku semalam sudah menikah..."
"APA?! Teriak mereka bertiga kaget.
"Kamu jangan aneh-aneh deh, Fir? Ceritakan semuanya dari awal!" seru Zhafran kaget dengan ucapannya Fira.
"Aku semalam diusir dari Kost-kostan, difitnah katanya aku sering godain laki-laki yang beristri. Apalagi aku kerjanya di restoran pasti sukanya tebar pesona gitu."
"Terus!"
"Mereka seakan-akan digerakan khusus untuk mengusirku dari Kostan. Mereka nggak mau menerima apapun alasan yang aku ucapkan maupun yang diucapkan Ibu-ibu tetangga kost. Mereka tetap mengusirku dari sana."
"Terus!"
"Saat mereka berteriak untuk berdemo di depan Kost suamiku datang, nggak tau dari mana datangnya. Melihat keadaan sudah nggak bisa diatasi, ia menyuruhku berkemas dan mengajaknya pergi."
"Terus!"
"Terus...terus...terus nabrak dong." goda Fira kepada ketiga sahabatnya.
"FIRA?!" tegur mereka di saat mereka penasaran tingkat dewa.
"Dia mengajakku pulang ke apartemannya, ya otomatis aku menolaknya dong. Memang aku gadis apaan. Aku mengajukan syarat niatnya untuk membuat ia berpikir ulang. Tapi aku ke makan ucapanku sendiri."
"Memangnya syarat apa yang kamu ajukan kepadanya?" tanya Elena.
"Aku nggak mau tinggal satu atap dengan laki-laki yang bukan muhrimku, apalagi dengan laki-laki yang bukan mahram nikahku. Aku bilang mau tinggal serumah asalkan nikah dulu."
"Terus!"
"Dia membelokan mobilnya ke halaman masjid, ia menelepon temannya dan datang-datang membawa emas kawin dan MUA untuk merias diriku dan terjadilah tadi malam aku sudah menikah. Sedih rasanya tak ada kalian disampingku."
"Kalau boleh tau siapa suamimu, Fir. Apa dia baik padamu atau kamu diperlakukan kurang baik?" tanya Zhafran.
Fira menatap wajah-wajah sahabatnya, bagaimana reaksinya kalau mereka tau siapa suaminya.
"Dia adalah Bryan Putra Danendra,"
Satu...dua...tiga.
"APA?!" teriak mereka bertiga.
"Kamu nggak lagi berkhayal kan, Fir. Mana mungkin kamu nikahnya dengan Bryan di kulkas dua belas pintu itu opppzztt!" teriak Elena.
"Ya, Fir. Kamu nggak lagi stress mikirin pengusiranmu semalam kan, Fir?" tanya Tasya, takut sahabatnya itu lagi mimpi.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memeluk tubuhnya Fira dari belakang, Fira langsung menoleh ke sebelah. Melihat siapa yang berani memeluk tubuhnya Fira.
Bryan sengaja melakukan itu karena ia mendengar obrolan Fira dengan sahabat-sahabatnya yang mengatakan istrinya lagi bermimpi.
"BRY...BRYAN?!" teriaknya bertiga kaget berarti yang diucapkan Fira tadi benar.
"Haloo...!" sapa Bryan masih memeluk tubuhnya Fira.
"Perkenalkan aku suaminya Zhafira."
"Kamu ingat kata-kataku ya Bry, awas kamu sakiti hati adikku. Aku nggak akan pernah memaafkan kamu seumur hidupku!" ancam Zhafran menatap tajam wajahnya Bryan.
"Aku nggak akan menyakiti hatinya Fira. Itu janjiku sama kalian bertiga. Ya sudah lanjutkan mengobrolnya, aku harus kembali ke perusahaan lagi," ucapnya sambil mencium keningnya Fira.
"Kayak lagi lihat drakor Ceo bucin hahahaha," tawa dari Elena.
Mereka semua tersenyum, Zhafran juga bisa melihat jika Bryan sangat mencintai Fira sahabat yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
"Ya sudah selamat bersenang-senang kalian. Sampai ketemu satu minggu lagi ya. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam Besty...walaikumsalam Fira." jawab mereka bertiga.
Mereka mengakhiri panggilan videonya.
Fira membuka buku khusus membuat desain, ia ingin melanjutkan membuat desain baju yang akan dikirimkan ke Butik langganannya yang selalu memesan desain bajunya ke Fira.
Saking fokusnya menggambar, ia mendengar suara adzan dzuhur telah berkumandang. "Masya Allah waktu begitu cepat berlalu, perasaan baru juga mulai membuat satu desain sudah dzuhur saja," ucapnya lirih.
Ia beranjak dari duduknya menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Di Jakarta Mamanya Bryan marah-marah dengan suaminya, karena terlalu membiarkan Bryan bersikap seenaknya sendiri.
"Kamu harus tegas, Pa sama Bryan. Ini nggak boleh dibiarkan. Dia sudah menikah siri dengan gadis yatim piatu, Pa!" teriak Mamanya Bryan yang bernama Dinda.
Tuan Andrian hanya diam saja menatap istrinya seperti orang kesetanan itu. "Kamu itu lho, Ma. Bryan itu sudah besar, sudah bisa menentukan pilihannya sendiri. Kita sebagai orang tua itu harusnya mendukung dan kalau ada yang salah diluruskan. Bukan memaksakan kehendaknya sendiri. Jelek menurutmu belum tentu jelek buat Bryan!" tegur Tuan Andrian ikut kesal dengan tingkah istrinya itu.
"Nggak bisa, Pa. Dia harus menikah dengan Sintia anaknya Jeng Rita!" teriak Nyonya Dinda.
Tuan Andrian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, pusing melihat tingkah laku istrinya itu. Dia keluar dari kamar, malas menanggapi ocehan istrinya.
Nyonya Dinda semakin marah melihat suaminya pergi dari kamar mereka. "Dasar laki-laki sama saja, tak bisa diandalkan. Lihat saja nanti akan aku kasih pelajaran gadis itu. Enak saja ia ingin menjadi bagian keluarga Danendra," ucapnya dengan marah.
Darimana Mamanya Bryan tau tentang pernikahan sirinya dengan Bryan. Tanpa Bryan tau ternyata selama ini ia diawasi oleh orang suruhan Mamanya.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Sore harinya Fira setelah sholat asar, ia pergi ke dapur untuk membuat makan malam mereka.
"Hmmm...buat soto daging saja deh. Kayaknya seger banget dimakan dengan campuran jeruk nipis pasti tambah mantap," ucap Fira sambil mengeluarkan daging sapi dari dalam freezer.
Pukul empat sore Bryan sudah pulang dari Perusahaan, saat membuka pintu apartemennya, ia mencium bau semerbak wangi masakan istrinya.
Bryan tersenyum hari-harinya akan semakin berwarna dengan hadirnya Fira di dalam hidupnya.
"Assalamualaikum, Sayang!" sapa Bryan menuju ke dapur.
Fira menoleh ke belakang, "Walaikumsalam, Mas. Maaf nggak menyambut Mas," jawab Fira sambil berjalan menghampiri Bryan, lalu mencium tangannya.
"Mau aku buatkan minuman, Mas?" tanya Fira kepada suaminya.
"Nggak usah, Yang. Aku mau lanjut mandi saja, Maaf, Yang kayaknya hari ini aku belum bisa antar kamu ke rumahmu, Yang. Besok saja ya," jawab Bryan menatap wajah cantik istrinya.
Fira mengangguk dan tersenyum, "Iya nggak apa-apa, Mas. Kan masih ada waktu besok," jawab Fira.
Bryan segera menuju ke dalam kamarnya untuk mandi, sementara Fira kembali ke dekat kompornya untuk memastikan soto dagingnya sudah matang belum.
Ia menyiapkan perlengkapan makannya untuk tiga orang, siapa tau Bagas juga mau ikut makan lagi. Lagian juga masakannya nggak akan habis hanya makan berdua.
"Aku jadi lapar, Yang," ucap Bryan menghampiri Fira di dekat meja makan.
"Iya, Mas. Mau makan sekarang atau setelah sholat magrib? Sebentar lagi adzan magrib, Mas?" tanya Fira dengan lembut.