Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 23
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden tipis di ruang VVIP 601 RS YPK Mandiri. Suasana kamar terasa begitu hangat, tenang, dan harum oleh aroma bunga lili segar yang berada di vas meja sudut.
Tsania perlahan melekutkan kelopak matanya yang terasa amat berat. Pandangannya yang sempat buram perlahan menyelaraskan fokus, menatap langit-langit kamar bernuansa krem yang terasa sangat asing. Di hidungnya, selang oksigen sudah dilepas, menyisakan rasa hangat di area pernapasannya.
"Tsania...?"
Sebuah suara lembut yang sangat familiar terdengar dari sisi ranjang. Maya, yang duduk di kursi samping tempat tidur dengan mata sembap dan rambut sedikit acak-acakan, langsung berdiri tegak saat melihat jemari Tsania bergerak pelan.
"Maya...?" bisik Tsania dengan suara yang sangat parau dan tipis. Tenggorokannya terasa gatal dan kering bagai padang pasir.
"Ya Tuhan, Tsania! Kamu sudah sadar sepenuhnya!" pekik Maya penuh kepelukan haru. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di dahi Tsania, mengecek suhu tubuh sahabatnya.
"Demammu sudah turun! Suhumu sudah normal, Nia!"
Maya dengan cekatan mengambil gelas berisi air hangat dengan sedotan yang sudah disiapkan di atas nakas. Dengan sangat hati-hati, ia menopang tengkuk Tsania dan mengarahkan sedotan itu ke bibir Tsania yang pucat dan pecah-pecah.
Tsania menyesap air hangat itu perlahan, membiarkan cairan itu membasahi tenggorokannya yang dahaga. Setelah tiga tegukan, ia menyandarkan kembali kepalanya pada tumpukan bantal yang empuk.
"Aku... aku ada di mana, Mbak Maya?" tanya Tsania seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sangat luas dan mewah itu. Ada sofa kulit panjang, televisi layar datar besar, serta fasilitas kelas atas yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Ini... bukan ruang HCU semalam, kan?"
Maya menarik napas panjang, merapikan selimut tebal yang menutupi dada Tsania. Raut wajahnya mendadak diwarnai rasa bimbang dan canggung. Dia sudah tahu kalau yang memindahkan Tsania adalah Arsen dan Raihan juga mengatakan kalau Arsen menitipkan Tsania kepada dirinya untuk beberapa waktu kedepan setelah semua masalah Arsen selesai. Maya juga akhirnya tahu kalau Tsania dan Arsen ternyata dulunya adalah sepaasang kekasih yang terpisah karena alasan yang belum ada kejelasannya, sehingga membuat mereka berdua sama-sama salah paham, terutama Arsen.
"Ini ruang perawatan VVIP, Tsania," jawab Maya pelan, mencoba memilih kata-kata yang aman.
"Dokter memindahkanmu dari HCU tadi malam setelah kondisimu dinyatakan stabil dan masa kritis pendarahan hidungmu berhasil diatasi."
Tsania mengerutkan dahinya. Rasa panik mendadak menyangkut di dadanya saat daya ingatnya berangsur pulih. Ia teringat wajah dingin Arsen, bentakan demi bentakan di kantor, serta bayangan menakutkan saat Arsen menyudutkannya di lorong sebelum ia pingsan.
"Mbak Maya..." Tsania mencengkeram lengan baju Maya dengan jemarinya yang kurus dan bergetar. Sorot matanya dipenuhi ketakutan yang nyata.
"Pak Arsen... Pak Arsen ada datang ke sini lagi? Dia... dia tidak ke sini, kan?"
Melihat ketakutan mendalam di mata sahabatnya, hati Maya terasa diiris-iris. Ia menggenggam erat tangan Tsania yang dingin.
"Tidak, Nia. Tidak ada yang boleh masuk ke sini tanpa izin," ujar Maya menenangkan, meski dalam hatinya ia tahu betapa besarnya peran Arsen di balik kamar mewah ini.
"Kamu aman di sini. Sungguh."
"Tapi... biaya ruangan serba mewah ini dari mana, May?" cecar Tsania, napasnya mulai sedikit memburu.
"Tabunganku bahkan tidak cukup untuk membayar ruang perawatan biasa di rumah sakit ini, apalagi VVIP! Kamu tidak memakai uang simpananmu sendiri untuk ini, kan?"
Maya menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia mengingat pesan ketat dari Raihan dan petunjuk terselubung dari Danu agar tidak membuka rahasia penjaminan Arsen demi menjaga stabilitas emosi dan fisik Tsania.
"Kamu tidak usah memikirkan soal biaya sekarang, Nia," bohong Maya seraya mengusap lembut punggung tangan sahabatnya.
"Pak Raihan yang membantu mengurus seluruh jaminan administrasi awal dengan pihak manajemen gedung kantor. Katanya ini termasuk santunan kecelakaan kerja resmi dari asosiasi arsitek karena kamu dipaksa lembur di luar batas kemanusiaan."
Tsania menghembuskan napas lega yang sangat panjang, membiarkan pegangan tangannya melonggar. "Pak Raihan... Dia baik sekali, May. Semalam dia yang membawaku ke sini, kan?"
"Iya, Nia. Pak Raihan dan aku yang menunggumu di lobi sampai kamu ditangani dokter UGD semalam," tutur Maya.
"Dia bahkan sempat berdebat keras dengan pihak administrasi demi memastikan kamu mendapat penanganan tercepat." Terpaksa Maya berbohong sebagian.
Tsania memejamkan matanya sejenak, meresapi rasa syukur karena masih dikelilingi orang-orang baik di tengah neraka pekerjaan yang baru saja ia lalui. Namun saat ia memiringkan kepalanya ke arah nakas untuk mengambil tisu, pandangannya tertegun pada sebuah benda kecil yang tergeletak di samping vas bunga.
Sebuah cincin perak polos yang tampak kusam dan sedikit tergores.
Jantung Tsania mendadak berhenti berdetak sejenak. Matanya membelalak lebar. Jemarinya yang bergetar hebat perlahan terulur meraih cincin tersebut.
Itu adalah cincin pasangan yang ia buat bersama Arsen tiga tahun lalu, cincin yang seharusnya sudah ia tinggalkan di apartemen lamanya sebelum ia melarikan diri dari ancaman Pak Bisma.
"Nia? Ada apa?" tanya Maya bingung saat melihat perubahan mendadak pada raut wajah Tsania yang kembali pucat pasi.
"Ini..." bisik Tsania, suaranya gemetar parah. Tangannya mencengkeram cincin itu erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Ini... dari mana asal cincin ini, May?!"
Maya terperanjat. Ia ikut menatap cincin di telapak tangan Tsania, lalu menyadarkan dirinya pada ingatan tadi pagi saat ia baru terbangun dari tidur. Cincin itu sudah ada di sana sejak pukul lima pagi, diletakkan dengan sangat rapi.
"Aku... aku tidak tahu, Nia," sahut Maya jujur, matanya membelalak kaget.
"Saat aku datang tadi, cincin itu sudah ada di atas nakas. Aku pikir itu milikmu yang terjatuh dari dalam kantong tas kerjamu..."
"Bukan!" potong Tsania seraya menggelengkan kepala dengan histeris, air mata mulai merebak di pelupuk matanya. "Ini bukan milikku! Ini cincin yang dipegang Arsen!"
Dada Tsania naik turun dengan cepat. Ketakutan yang amat sangat kembali melingkupi pikirannya.
"Dia ke sini, May..." rintih Tsania, tangisnya pecah seketika dalam ruangan yang hening itu.
"Arsen ada di sini saat aku tidur! Dia menyentuh barang-barangku! Kenapa dia tidak mau melepaskanku, May?! Kenapa dia harus mengejarku sampai ke sini?!"
"Nia! Tenang, Nia! Jangan emosi seperti ini, nanti pendarahanmu bisa kumat lagi!" pekik Maya panik, langsung memeluk tubuh Tsania yang berguncang hebat akibat tangisan ketakutan.
Klek.