Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETELAH KITA MENJADI SUAMI ISTRI
Pagi pertama setelah pernikahan mereka dimulai dengan sesuatu yang sangat sederhana.
Alarm.
Pukul 06.00.
Alya membuka mata dan menatap langit-langit kamar.
Beberapa detik dia hanya diam.
Kemudian menoleh ke samping.
Raka masih tidur.
Alya tersenyum.
Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi kata tunangan.
Tidak ada lagi kalimat, “nanti kalau kita menikah.”
Mereka sudah menikah.
Alya bangun perlahan dan berjalan ke dapur.
Dia membuat kopi.
Lima belas menit kemudian Raka muncul dengan rambut berantakan.
“Kamu sudah bangun?”
“Sudah.”
Raka duduk.
“Sekarang saya boleh panggil kamu istri?”
Alya tertawa.
“Jangan berlebihan.”
“Kenapa?”
“Masih aneh dengarnya.”
Raka tersenyum.
“Baik, Bu Istri.”
Alya melempar tisu ke arahnya.
“Berangkat kerja.”
“Masih pagi.”
“Kamu direktur.”
“Kamu juga direktur.”
Mereka saling menatap.
Kemudian tertawa.
Pernikahan mereka ternyata tidak mengubah siapa pun.
Dan itu justru yang mereka inginkan.
PUKUL 08.30
Alya tiba di kantornya.
Hari pertama setelah menikah.
Begitu masuk, seluruh tim langsung berdiri.
“Selamat pagi, Bu Alya!”
Alya tersenyum.
“Pagi.”
Salah satu staf mendekat.
“Bu, ada rapat jam sembilan dengan investor Singapura.”
Alya mengangguk.
“Siapkan semua data.”
“Siap.”
Dia masuk ke ruangannya.
Di atas meja sudah ada satu dokumen.
PROPOSAL EKSPANSI ASIA TENGGARA.
Alya membukanya.
Angkanya besar.
Sangat besar.
Perusahaan yang selama ini dia bangun di Bali mendapatkan tawaran untuk membuka operasi di:
Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok.
Namun ada satu syarat.
Mereka membutuhkan Alya sebagai pemimpin ekspansi.
Bukan satu minggu.
Bukan satu bulan.
Dua tahun.
Alya membaca proposal itu sekali lagi.
Dua tahun.
Artinya dia akan lebih sering berada di luar negeri daripada di Bali.
Artinya kehidupan pernikahannya akan langsung diuji.
Ponselnya berbunyi.
Raka.
Makan siang?
Alya menatap proposal tersebut.
Kemudian membalas:
Kita harus bicara.
MAKAN SIANG
Raka langsung tahu ada sesuatu yang serius ketika melihat wajah Alya.
“Apa yang terjadi?”
Alya menyerahkan proposal.
Raka membacanya.
Dia tidak langsung berbicara.
“Dua tahun?”
Alya mengangguk.
“Minimal.”
“Dan kamu?”
“Saya belum menjawab.”
Raka meletakkan dokumen.
“Kamu mau?”
Alya terdiam.
“Ya.”
Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Raka tersenyum kecil.
“Kalau begitu kenapa belum jawab?”
“Karena kita baru menikah.”
Raka menatapnya.
“Dan?”
“Saya tidak mau dua tahun pertama pernikahan kita dihabiskan dengan jarak.”
Raka bersandar.
“Kalau kamu menolak, kamu akan menyesal?”
Alya diam.
“Mungkin.”
“Berarti kita sudah tahu masalahnya.”
Alya mengerutkan kening.
“Apa?”
“Kamu bukan tidak mau pergi.”
Raka menunjuk proposal.
“Kamu takut pergi.”
Alya menunduk.
“Ya.”
Raka menggenggam tangannya.
“Saya tidak mau keputusan besar dalam kariermu dibuat karena takut kehilangan saya.”
Alya menatapnya.
“Tapi saya juga tidak mau pernikahan kita hanya jadi hubungan jarak jauh.”
Raka mengangguk.
“Saya juga.”
“Lalu?”
“Kita cari pilihan ketiga.”
Alya terdiam.
“Pilihan ketiga?”
“Kita tidak harus memilih antara karier kamu dan pernikahan kita.”
Raka mengambil pena.
Dia mencoret bagian dua tahun.
“Kita negosiasikan.”
Alya mulai memahami.
“Enam bulan pertama di Singapura?”
“Ya.”
“Kemudian evaluasi?”
“Ya.”
“Operasional lainnya bisa dijalankan tim lokal?”
“Bisa.”
“Dan kamu?”
“Saya bisa datang dua kali sebulan.”
Alya menatapnya.
“Kamu serius?”
“Sangat.”
Raka tersenyum.
“Kita baru menikah. Masa saya langsung membiarkan istri saya tinggal sendirian dua tahun?”
Alya tertawa.
“Jadi kamu mau ikut?”
“Bukan ikut.”
Raka mengangkat alis.
“Saya mau memastikan kita tetap punya kehidupan.”
NEGOSIASI
Keesokan harinya Alya bertemu investor.
Dia tidak langsung menerima.
“Saya bersedia memimpin ekspansi.”
Investor tersenyum.
“Bagus.”
“Tapi saya ingin mengubah struktur penugasannya.”
Mereka saling melihat.
“Saya tidak akan menetap dua tahun penuh di Singapura.”
Salah satu investor bertanya,
“Kenapa?”
“Karena saya ingin membangun sistem yang bisa berjalan tanpa ketergantungan pada satu orang.”
Alya membuka presentasi.
“Kalau ekspansi regional hanya bisa berjalan jika saya berada di sana setiap hari, berarti sistemnya gagal.”
Ruangan hening.
Dia melanjutkan,
“Saya akan memimpin enam bulan pertama secara langsung.”
“Setelah itu?”
“Setiap negara memiliki Managing Director lokal.”
“Dan Anda?”
“Regional Director.”
Salah satu investor bertanya,
“Jadi Anda akan mengawasi dari Bali?”
“Bali dan Singapura.”
Dia tersenyum.
“Teknologi memungkinkan itu.”
Investor saling berpandangan.
Kemudian salah satu dari mereka berkata,
“Baik.”
Alya tersenyum.
Masalah selesai.
Bukan dengan mengorbankan karier.
Bukan dengan mengorbankan pernikahan.
Tetapi dengan menciptakan sistem baru.
ENAM BULAN PERTAMA
Alya bekerja sangat keras.
Singapura.
Bali.
Kuala Lumpur.
Perjalanan hampir setiap minggu.
Raka juga sibuk dengan ekspansi Mahendra Group.
Mereka jarang memiliki waktu panjang bersama.
Namun ada satu aturan yang tidak pernah dilanggar.
Makan malam bersama setiap kali keduanya berada di kota yang sama.
Kadang hanya satu jam.
Kadang tiga puluh menit.
Namun mereka selalu menyempatkan.
Suatu malam Alya tiba di Bali pukul 21.30.
Dia langsung ke kantor Raka.
Raka masih bekerja.
Begitu pintu terbuka, Raka menatapnya.
“Kamu pulang.”
Alya tersenyum.
“Surprise.”
Raka berdiri dan langsung memeluknya.
“Capek?”
“Banget.”
“Makan?”
“Belum.”
“Berarti kita keluar.”
Alya tertawa.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Mereka pergi ke restoran kecil.
Tidak ada pembicaraan tentang investasi.
Tidak ada laporan.
Hanya makanan dan cerita tentang hari mereka.
ENAM BULAN KEMUDIAN
Ekspansi berhasil.
Pendapatan regional naik drastis.
Investor puas.
Alya mendapatkan tawaran baru.
Kali ini jauh lebih besar.
Posisi Chief Executive Officer untuk seluruh Asia Pasifik.
Alya membaca email itu dengan perasaan campur aduk.
Posisi tersebut adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah dia bayangkan.
Namun ada konsekuensi.
Dia harus tinggal di Singapura setidaknya tiga tahun.
Kali ini bukan enam bulan.
Bukan negosiasi sederhana.
Ini benar-benar keputusan hidup.
Malam itu Alya pulang.
Raka sedang di ruang kerja.
Dia melihat wajah Alya.
“Ada apa?”
Alya meletakkan laptop.
“Saya dapat tawaran.”
Raka menunggu.
“CEO Asia Pasifik.”
Raka tersenyum.
“Selamat.”
“Jangan bilang selamat dulu.”
“Kenapa?”
“Karena kali ini berbeda.”
Alya menyerahkan proposal.
Raka membaca.
Tiga tahun.
Singapura.
Pindah kantor.
Relokasi.
Raka menutup laptop.
“Berapa lama kamu punya waktu untuk menjawab?”
“Dua minggu.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Alya menatapnya.
“Kamu tidak akan langsung bilang saya harus mengambilnya?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena ini bukan keputusan yang bisa saya buat untuk kamu.”
Alya duduk.
“Saya takut.”
“Karena saya?”
“Karena kita.”
Raka terdiam.
Alya melanjutkan,
“Saya baru menikah.”
“Saya tahu.”
“Dan sekarang saya ditawari sesuatu yang bisa mengubah seluruh hidup saya.”
Raka menggenggam tangannya.
“Kita punya dua minggu.”
Alya mengangguk.
“Kita pikirkan bersama.”
DUA MINGGU
Mereka tidak langsung memutuskan.
Mereka membuat daftar.
Jika Alya pergi:
Karier: luar biasa.
Penghasilan: meningkat besar.
Pengalaman: luar biasa.
Pernikahan: harus menjalani hubungan jarak jauh.
Jika Alya menolak:
Pernikahan: lebih mudah.
Karier: kehilangan kesempatan besar.
Perusahaan: masih bisa berkembang.
Tidak ada pilihan sempurna.
Akhirnya Raka berkata,
“Saya punya ide.”
“Apa?”
“Kita pindah.”
Alya menatapnya.
“Bersama?”
“Ya.”
“Tapi perusahaanmu?”
“Saya bisa mengubah sistem.”
Alya menggeleng.
“Jangan mengorbankan kariermu karena saya.”
Raka tersenyum.
“Saya tidak mengorbankan.”
“Lalu?”
“Saya memilih.”
Alya diam.
Raka melanjutkan,
“Selama bertahun-tahun saya membangun perusahaan supaya saya punya kendali atas waktu saya.”
“Sekarang saatnya saya menggunakan hasilnya.”
Alya menatapnya.
“Kamu mau tinggal di Singapura?”
“Untuk sementara.”
“Berapa lama?”
“Enam bulan pertama.”
“Lalu?”
“Kita evaluasi.”
Alya tersenyum.
“Jadi sekarang giliran kamu yang ikut saya?”
Raka tertawa.
“Sepertinya begitu.”
KEPUTUSAN
Alya menerima posisi tersebut.
Namun dengan satu syarat:
Raka ikut pindah sementara ke Singapura.
Mahendra Group akan tetap dipimpin oleh tim manajemen Indonesia.
Raka akan mengawasi dari Singapura.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan mereka—
mereka tidak memilih antara karier dan keluarga.
Mereka memilih keduanya.
MALAM TERAKHIR DI BALI
Koper sudah siap.
Rumah mereka hampir kosong.
Alya berdiri di ruang tengah.
“Siap?”
Raka mengangguk.
“Siap.”
Alya melihat rumah itu.
Rumah yang mereka bangun sebelum menikah.
Tempat mereka pertama kali membicarakan masa depan.
Tempat mereka bertengkar.
Tempat mereka berdamai.
Tempat mereka menikah secara sederhana sebagai pasangan yang ingin membangun hidup sendiri.
“Rasanya aneh meninggalkan rumah.”
Raka berdiri di sampingnya.
“Kita tidak meninggalkan.”
Alya menatapnya.
“Kita pergi sebentar.”
“Dan pulang lagi.”
Alya tersenyum.
Raka menggenggam tangannya.
Mereka menutup pintu.
Kali ini bukan untuk melarikan diri.
Bukan karena masalah.
Bukan karena konflik.
Tetapi karena mereka memilih untuk membuka babak baru bersama.
Pesawat mereka akan berangkat pagi-pagi sekali.
Tujuan mereka:
Singapura.
Alya akan memulai posisi terbesar dalam kariernya.
Raka akan meninggalkan kenyamanan posisi lamanya untuk membangun sistem baru.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, mereka akan tinggal di negara lain.
Namun mereka belum tahu bahwa keputusan itu akan menguji sesuatu yang berbeda.
Bukan cinta mereka.
Melainkan identitas mereka sebagai individu ketika tidak lagi berada di lingkungan yang selama ini membentuk mereka.
Karena di Singapura, Alya bukan lagi “istri Raka”.
Dan Raka bukan lagi “suami Alya”.
Mereka akan berdiri sendiri.
Dan kali ini, mereka harus membuktikan bahwa cinta mereka tetap kuat bahkan ketika keduanya tidak saling membutuhkan untuk berhasil.